sayap sayap merpati putih kini begitu lebar. putihnya mampu menutupi bayangan gelap yang dimiliki banyak orang. aku tak tahu harus memulainya darimana. aku pun juga tak mengerti sebenarnya apa yang saat ini sedang kurasakan. sakitkah? bencikah? atau cemburu?
mengapa hal ini terjadi begitu cepat. aku baru saja mengenalmu dan kamu baru saja berhasil membuatku terbang layaknya merpati putih. untuk…
Nama Hamka atau Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (lahir di Maninjau, Minangkabau, Sumatera Barat 16 Februari 1908) tentu tidak asing lagi. Sastrawan terkemuka, mantan pemimpin organisasi Islam modern Muhammadiyah dan sekaligus pernah menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang terkenal dengan keteguhan pendiriannya, ternyata merupakan ikhwan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah. Perjalanan panjang intelektualismenya diakhiri dengan berlabuh di samudra tarekat. Kembara intelektual seperti itu juga dialami cendekia yang kerap disebut-sebut sebagai pengusung neomuktazilah, yaitu Prof. Harun Nasution dan juga Prof. Abu Bakar Atjeh.
Buya Hamka ditalqin Pangersa Abah Anom sekitar awal 1981-an. Seorang ikhwan Singapura, H. Saleh Khan, menuturkan kesaksiannya bahwa ketika proses talqin hendak dilakukan, Abah Anom mengajak Buya Hamka memasuki ruang keluarga untuk memuliakan Buya Hamka sebagai ulama besar yang sangat berpengaruh agar proses talqin tidak dilihat orang banyak.
Dalam penjelasan yang disampaikan Buya Hamka sendiri, ketika di Mekkah ia mimpi bertemu Nabi SAW yang memberinya petunjuk untuk selekasnya menemui seorang hamba yang ikhlas setibanya di tanah air. Tiba di Indonesia, tanpa ragu ia mendatangi pesantren yang ada di pelosok Suryalaya, Ponpes Suryalaya. Nama pesantren itu sudah sering didengarnya karena kerap diberitakan media massa, tetapi belum pernah dikunjunginya. Sampai di madrasah, Buya Hamka mendapati sosok mursyid yang jauh dari bayangannya. Semula ia membayangkan, sang mursyid adalah seorang alim yang bertubuh gemuk, berjanggut panjang, dengan cambang lebat, jubah besar, serban membelit kepalanya, dan tangan yang tak lepas dari tasbih. Namun, keadannya jauh dari bayangannya. Sosok Abah Anom sangat bersahaja. Tubuhnya yang ramping hanya dibalut pakaian dan sarung yang sederhana, tanpa jubah, tidak berjenggot, dan juga tidak bercambang. Kendati demikian, wibawa dan kebijakan menyemburat dari sosok yang sederhana itu.
Pangersa menyabut kedatangan Buya Hamka dengan gembira. Kedatangan Buya Hamka, seorang kiai dan akademisi besar, "dimanfaatkan" Abah Anom dengan memintanya berceramah. Buya pun memenuhi permintaan Pangersa dan ia menyampaikan ceramah yang sangat berbobot tentang tradisi tasawuf. Setelah bercengkerama dengan Abah Anom dan beberapa santri Suryalaya, Buya Hamka pamitan pulang. Pangersa memeluk dan berkata, "Jutaan terima kasih kami haturkan atas banyak ilmu yang telah dicurahkan. Namun, Abah mohon agar Buya mau mengatakan kepada Abah, bagaimana mengamalkan semua ilmu yang sangat banyak itu. Abah sendiri juga tidak mampu, apatah lagi para santri. Mohon petunjuk, Buya."
Tentu saja Buya terkesiap. Ia tersentak mendengar ucapakan Pangersa yang sangat menohok. Seakan-akan ia baru tersadar bahwa lautan ilmu yang melimpah tidak cukup memberi faedah bila tidak diamalkan. Kemudian, Buya malah minta ditunjukkan sebaik-baik amalan sehingga akhirnya ditalqinkan kalimat agung Lâ ilâha illa Allâh.
Sebelum akhir hayat, Buya Hamka sempat bersilaturahim kembali secara khusus kepada Pangersa. Saat itu Pangersa memberikan pesan sebelum Buya pulang untuk menyelesaikan segera urusan keluarga, baik warisan ataupun wasiat, dan agar lebih larut dalam tawajjuh sepenuh hati. Pangersa juga menyatakan bahwa "masa kepastian" itu akan datang setelah shalat Jumat. Atas kekuasaan Allah, tepat setelah shalat Jumat, Buya kembali ke haribaan Sang Kuasa.
Sebagaimana diceritakan Sri Mulyati, yang disertasinya di Mc Gill University, Montreal Canada, mengambil tema The Educational Role of the Tariqa Qodiriyya Naqsabandiyya with Special Reference to Suryalaya, Buya Hamka sendiri pernah berujar bahwa ia bukanlah Hamka, tetapi "Hampa". Katanya, "Saya tahu ilmunya, sejarahnya, sudah di luar kepala, saya paham para tokoh dan pemikirannya, yang saya tuliskan dalam buku-buku saya. Namun, saya tidak termasuk di dalamnya, karena itu saya mau masuk. Akhirnya Buya Hamka masuk ke dalam TQN karena merasakan kehampaan spiritual. Buya Hamka juga menyatakan, "Di antara makhluk dan Khalik itu ada perjalanan yang harus ditempuh. Inilah yang kita katakan tarekat." []
Google menjelaskan bahwa artikel jurnal ilmiah dan teknis mengacu pada jumlah artikel ilmiah dan teknik yang diterbitkan dalam bidang fisika, biologi, kimia, matematika, kedokteran klinis, penelitian biomedis, teknik dan teknologi, dan ilmu bumi dan ruang angkasa.
Berikut grafik perbandingan tersebut. Kita, Indonesia, kalah jauh dibandingkan Singapura dan Malaysia.[]
Jadilah presentasinya seperti berikut, sengaja saya buat pernuh warna tanpa banyak teks.
Dalam pandangan saya, remaja sekarang adalah generasi yang terdigitalisasi dan penuh keterbukaan. Lihat saja, menggengam ponsel pintar bagi siswa SMP atau bagi sebagian siswa SD kini telah menjadi pemandangan yang lumrah. Pertanyaannya, sudahkah ada kontrol yang baik dari orangtua?
Sebagai (calon) orangtua, kita perlu peka zaman dan mengingat pesan Sayyidina Ali KW: didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka adalah anak zaman. []
Bagi kita yang masih hidup, mungkin akan menganggap itu keputusan bodoh. Atau bagi yang beriman, bunuh diri adalah semacam tanda kufur. Tapi kalau mau jujur, kita tak pernah betul-betul tahu: apakah melanjutkan hidup adalah pilihan terbaik, terutama ketika semua serasa terlampau muskil. Lagipula, kita juga tak bisa menanyai mereka yang sudah mati. Pada titik ini, anggapan atas tindakan bunuh diri kebanyakan cuma sampai pada keyakinan pribadi. Tak lebih.
Saya bilang ia sedang bermain dadu, mencoba kemungkinan-kemungkinan. Memang tak pasti, namun adakah yang sempurna pasti jika selalu saja ada anomali? Barangkali begitu.
Hidup pada akhirnya laksana perjudian. Tapi bukan untuk mencari kalah dan menang, seperti yang Suminto A. Sayuti lukiskan dalam petikan puisi Syair Perjudian.
kalaulah hidup adalah perjudian
jangan pikir arti kalah dan menang
kita butuh bertahan hingga malam larut
dan fajar mencapai tepian tanpa luput
Kalaulah hidup adalah perjudian. Jika memang hidup dan kehidupan adalah tempat ketidakpastian. Jangan pikir arti kalah dan menang. Jangan berpikir kita akan dapat kesenangan atau kebalikan, sebab semua itu tak ubahnya bunga rampai kehidupan. Kita butuh bertahan hingga larut, dan fajar mencapai tepian tanpa luput. Kita hanya perlu menjalani hidup hingga ajal menjemput.
Adalah hak bagi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan yang layak. Demikian isi salah satu pasal UUD 1945.
Tampaknya aspirasi dari kalangan pro lingkungan tersebut tak ada yang janggal, bahkan cenderung mulia karena mereka juga mengatakan bahwa hal itu dilakukan demi terjaganya lingkungan yang baik bagi generasi selanjutnya.
Di tempat lain. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berniat memasukkan pendidikan antikorupsi ke dalam sistem pendidikan nasional. Suatu ide yang patut diapresiasi karena juga bertujuan mulia: pemberantasan korupsi.
Sementara itu, sebelum membuat tulisan ini, saya mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara dengan seorang praktisi Human Resource Development (HRD). Menurutnya, harus ada orientasi pendidikan yang jelas, apakah sebuah sekolah misalnya, akan diperlakukan sebagai lembaga pendidikan atau industri pendidikan. Jika orientasinya adalah lembaga pendidikan, maka ia tak ada kewajiban untuk tunduk pada kepentingan "pasar", bahkan menciptakan segmen pasarpun dapat diusahakan. Sebaliknya jika orientasinya adalah industri pendidikan, maka institusi pendidikan wajib untuk mengikuti pola-pola dan kecenderungan "pasar". Pendapat ini ada benarnya jika mengamati atmosfer pendidikan kita.
Barangkali, pada titik tertentu, dorongan kelompok pro lingkungan dan KPK tersebut dapat dimaknai sebagai pola-pola dan kecenderungan "pasar" untuk merealisasikan kepentingannya sekaligus menekan institusi pendidikan.
Tanpa bermaksud mengecilkan usaha dari institusi atau kelompok manapun, saya ingin menanggapinya dari sudut pandang yang berbeda.
Jika semua kelompok, institusi, dan lembaga tertentu ingin merealisasikan kepentingannya melalui lembaga yang disebut sekolah atau institusi pendidikan lain, mau dibawa kemana formula sistem pendidikan kita? Karena tidak semua hal perlu dimasukkan secara tegas ke dalam institusi pendidikan.