Kurang-kurangilah Kepomu, Kawan
Berhentilah memupuk rasa ingin tahu yang berlebihan tentang keinginan atau urusan orang lain (kepo dalam KBBI).
"Barangsiapa yang melihat ke dalam rumah seseorang tanpa izin, maka dia halal dicongkel matanya." (HR Muslim)
Orang kepo biasanya belum selesai atau tidak bisa selesai dengan dirinya sendiri. Dimulai dari pertanyaan sederhana macam 'udah nikah belum?'. Habis itu lanjut dengan prasangka mengira-ngira, lalu menggunjing tak bergeming, ghibah berakhir fitnah.
Yang peduli tidak sama dengan yang kepo-kepo ini. Percayalah intuisi dan mata akan memberitahumu bagaimana membedakannya. Tak perlu menerka sebab itu juga akan menjerumuskan kita dalam prasangka.
yang peduli tentu akan (1) paham batasn, (2) tidak memaksa dan (3) mendengarkan untuk memahami bukan menghakimi.
Di sisi lain, setiap orang juga harus bisa memilih dan memilah apa yang pantas keluar dari bibir karena tidak semua hal perlu didengar. Yang tidak layak didengar, sudah pasti tidak perlu juga diperdengarkan (disebarluaskan).
Sometimes you block your own belssings by telling everyone your own business. The less people know hat you are up to, the more successful you can be. Remember, oversharing is killing and private life is a happy life.
When you ask someone, but all you get is silence, listen. Silence is also an answer.
"jauhilah prasangka buruk karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta dan janganlah kalian saling mendiamkan, saling mencari kejelekan, saling menipu dalam jual beli, saling mendengki,s aling memusuhi dan janganlah saling membelakangi dan jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR Bukhari)
Pun dalam bertanya, kendalikan pertanyaanmu. Jangan sampai keingintahuanmu justru membuka aib masa lalu orang lain.
Bukannya lu yang dulu 'ini' ya? Kamu pernah 'itu' kan? Gimana, situ udah ga mau kaya 'gitu' lagi?
Allah melarang mencari perkara yang tersembunyi dari orang lain dan melarang mencari-cari aib mereka (Tafsir Al-Baghowi WA Al-Hujurat: 12)
Ada ebnarnya ungkapan 'manusia butuh waktu dua tahun untuk belajar bicara, tetapi butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar diam'. Diam sampai diminta untuk berbicara lebih baik daripada terus berbicara - dan bertanya - sampai diminta untuk diam.
"Hidup ini singkat sedang kewajiban kita amat banyak," pesan Imam Ahmad bin Hanbal. Fokuslah pada apa yang bermanfaat.
Ada hal-hal yang lebih baik tidak kita ketahui.
Ada hal-hal yang memang bukan rahasia, tapi bukan juga urusan kita. Pahami bedanya.
"Kelak di akhir zaman akan muncul sekelompok orang yang pekerjaan utama mereka adalah saling mencerca dan itu mereka sebut bekerja." (Nasihat Ibnu Mas'ud)
Meskipun malu bertanya bsia sesat di jalan, terlalu banyak bertanya akan membuat orang lain kreepotan. Kita terlalu berkutat dengan pertanyaan. Ada nasihat lain yang tak kalah penting tentang jawaban.
Menjawab ketika tidak ditanya? Jangan menjawab pertanyaan orang yang tidak bertanya kepadamu. Abu Umar bin Al 'Alaa berkata, "Bukan termasuk adab yang baik adalah engaku mejawab pertanyaan orang yang tidak bertanya kepadamu." (Siyar A'lam An-Nubala 6/409)
Termasuk ketika tidak tahu. Sampaikanlah ketidaktahuanmu. Jujurlah. tetapi kalau ada orang yang bertanya tentang sesuatu dan kalian mengetahuinya, maka jawablah. Tetapi jika tidak tahu, maka katakan, saya tidak tahu." (Umar bin Khattab)
Lain halnya dengan menutup aib. Tentang bagaiman orang-orang yang baik hatinya saling menutup aib sahabatnya hanya dengan mengatakan 'aku tidak tahu'.
Kawan 1: "Ada yang naya begini..."
Kawan 2: "Kamu jawab apa?"
Kawan 1: "Aku bilang ga tahu."
Kawan 2: "Thanks."
And the kepo (kaypoh) immediately stops.
Dan ketika Allah sudah menutup aibmu, jangan kau bongkar lagi tanpa urat malu.
Sekali lagi pengingat paripurna:
"Saya menjadi lebih tenang ketika saya tidak mengurusi yang bukan menjadi urusan saya."
(Ali bin Abi Thalib)