MUNDUR NOW AVAILABLE IN STORES 🩷

seen from Poland
seen from China
seen from United States

seen from Singapore

seen from France

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from China
seen from China

seen from Finland

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Switzerland
seen from United States

seen from United States
seen from Italy

seen from United States
MUNDUR NOW AVAILABLE IN STORES 🩷
Dalam beberapa keadaan, berjuang tidak selalu berarti maju. Terkadang kita harus mundur sejenak untuk dapat memperbaiki keadaan..
ATRET
Ada sebuah kehangatan yang tumbuh tanpa izin. Sebuah kedekatan yang tak pernah tercatat dalam agenda, tahu-tahu sudah ada, bernapas di antara kami.
---
Tiba-tiba sebuah sentakan rantai menyeret sadarku. Pengingat akan jangkar yang sengaja kutanam dalam-dalam, untuk menahanku di tempat yang kurasa aman.
Maka, tanpa suara, aku mengambil kembali setiap jengkal diriku yang tak sengaja kuberikan. Melangkah mundur, ke semula yang tak pernah ada.
Roni. | 21 Juli 2025
Nienawidzę tego, ze całe życie marzylem, by pracować w mundurówce. Straż pozarna, wojsko, policja... to nie ma znaczenia. Chciałem mundurówke, a przez depresje nigdy nie będę miał na to żadnej szansy.
sekirane ra kenek diuber yo ojo diuber, nanti kamu kesandung terus njungkel
Saat kita marah kita perlu waktu untuk menepikan diri. Memberi jarak dari kemarahan kita.
Kita perlu waktu untuk merawat kemarahan kita, bukan justru meluapkannya saat itu juga.
Kita perlu menenangkan diri untuk merenungkannya. Untuk menyadari, dan mengakui jika kita memang sedang marah.
Kita perlu memberi waktu pada kemarahan kita untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Karena saat kita marah, kita berhadapan dengan diri kita sendiri. Kita bermasalah dengan kemarahan kita sendiri.
Peluk dan tenangkanlah. Tidak semua hal harus kita lawan, tidak semua hal harus kita selesaikan dengan keras kepala.
Terkadang kita hanya perlu mengalahkan diri kita sendiri untuk lebih meluaskan ruang sabarnya.
—ibnufir
Fase terakhir dalam sebuah kisah cinta adalah "mundur"
Setelah melihat postinganmu, rasanya aku sadar pada posisiku sekarang.
Terlebih setelah kau dengan suka ria melakukan "live Instagram" bersamanya.
Aku semakin yakin bahwa sudah selayaknya " mundur menjadi pilihan."
Perasaan dihatiku kiranya sudah saatnya untuk diistirahatkan dengan berhenti berharap padamu.
Ya, tugasku telah selesai.
Tugas kampus kiranya telah berakhir, itu tandanya tak ada canda lagi diantara kita.
Oh iya, aku lupa aku hanya teman sekelasmu, yang hanya kau cari ketika tugas kuliahmu menumpuk.
Mungkin sekarang kau telah bahagia dengannya, seorang lelaki tampan dan mapan.
Cukup kiranya ku tanggung semua keluh kesahmu dulu.
Mungkin benar, aku hanya buku harian yang selalu kau isi dengan keluh kesah mu tanpa perlu kau tanyakan bagaimana perasaanku.
Aku tak berpikir kau juga kehilanganku ketika sudah beberapa hari ini tak ada obrolan diantara kita.
Namun, entah karena kebetulan atau memang kau merasakan hal yang sama denganku, ketika ku hilangkan pp di WhatsApp ku kau melakukan hal yang sama.
Jika memang demikian, mari, kita sama sama belajar.
Kau belajar bahagia bersamanya dan aku belajar bahagia tanpamu disisiku.
Sekian, aku pergi, anggap saja perhatianku kemarin adalah jamuan atas pertemuan kita.
Oh iya, satu hal, tolong jangan berikan kembali harapan itu padaku, aku sudah cukup sakit untuk berharap padamu.
Jika pada akhirnya tuhan mempertemukan kita lagi dalam kisah yang berada, aku berharap kaulah yang jatuh cinta padaku.