aku pernah membaca entah tulisan siapa, semoga Allah merahmatinya. kurang lebih isinya begini "sungguh beruntung seorang istri yang mendapatkan suami yang sholeh, ia telah merasakan surga bahkan sebelum ia meninggal"
ya, aku sangat setuju dengan kalimat tersebut. bagaimana bisa kita merasa tidak beruntung jika ditakdirkan bersuami sholeh? tapi, perasaan "beruntung" itu hanya dirasakan oleh yang sholehah juga, kan?
bayangkan, jika suamimu melarangmu berhias jika keluar rumah, jika kau tidak paham atas sholehnya suamimu, kau akan beranggapan suamimu egois.
bayangkan, jika suamimu melarangmu keluar rumah tanpa seizinnya atau menerima tamu tanpa persetujuannya, jika kau tidak sholehah, kau mungkin akan mengatakan "dih, kaku"
bayangkan, jika suamimu mengajarkanmu untuk qonaah, tinggal di tempat sederhana, dengan barang yang seadanya, pakaian secukupnya, makanan yang biasa-biasa saja, jika kau paham atas sholehnya suamimu, kau akan berterima kasih, bukan menghardiknya dengan kata pelit.
bayangkan, jika suamimu ingin kau menunaikan kewajibanmu sebagai istri, jika suamimu meminta haknya, membersihkan rumah, menjaga anak-anak, memasak, mengurusi segala keperluannya, jika kau sholehah, kau tidak akan mengeluh akan kerjaanmu yang terlihat seperti pembantu, justru kau bersyukur, ladang pahalamu luas, silakan kau tanam apapun yang bisa kau panen dan bermanfaat kelak.
jadi, sampai sini paham kan wahai diri? yok berbenah lagi.