PETANG, KURCACI BERDIALOG
Hingga petang pukul 02.30 aku belum tertidur, menghabiskan malam dengan memainkan analog setik PS yang sudah dekil dan tak berbaju. Untung dia benda mati, coba dia benda hidup mungkin dia sudah masuk angin, bahkan dia akan merasa menjadi benda hidup yang harusnya paling dikasihani, gimana tidak, sudah dekil, bugil dimainkan lagi hahaha, sudahlah aku tak ingin berbincang tentang analog setik PS yang dekil dan bugil, nanti dia tambah sedih, sudah dekil, bugil, dimainkan, dibicarakan lagi hihihi.
Petang ini pukul 03.45 harusnya aku sudah ada di Stasiun Malang untuk menjemput teman, iya teman, temanya temanku yang juga ku kenal, Bibil namanya. Dia pulang liburan dari Jogja. Mungkin habis menyegarkan mata, atau mungkin menghilangkan kepenatan di Malang ini, atau mungkin melarikan diri dari kejaran polisi akibat kasus pencurian bolpoint temannya, hahaha aku hanya bercanda. Ah tak penting buatku. Seharusnya bukan aku yang menjemputnya, tapi Gendaga yang seharusnya menjemputnya karena janjinya setelah dia (Gendaga) tak jadi menyusul ke Jogja akibat tertidur pulas di kala gerimis tiba. Tapi tak mungkin kubiarkan seorang cewek berkeliaran sendiri di jalanan di petang seperti itu, takutnya dikira wanita apaan, atau mungkin di jahatin orang, jadi aku menawarkan diri untuk menjemputnya (Bibil). Sebelumnya aku sudah pernah bertemu denganya, walaupun hanya bertegur sapa, walaupun hanya terjadi sekali saja, sudah lama pula. Lewat chat Whatsapp sebelumya Bibil bilang sampai Stasiun Malang pukul 03.45, baiklah.
Pukul 03.15 aku cuci muka dan siap-siap menjemputnya. Ku ambil kunci Vespa, kunyalakan si Vespa, mengendarainya dengan jaket putih, celana jeans, dan sandal jepit di petang seperti ini rasanya tak biasa. Tapi tak apa, aku cukup menguasainya. Hingga tiba di stasiun buru-buru aku mencari toilet terdekat, udara yang begitu dingin mungkin yang membuatku pengen cepat-cepat kencing, akhirnya aku berhenti di sebuah pom bensin dan kencing. Kuintip jam di Hp jadul putih yang kubawa, masih pukul 03.35, sepertinya masih 10 menit lagi aku harus menunggu kereta, kuputuskan untuk menuju tempat kopian di depan stasiun, meskipun pas di kopian itu susu putih hangat yang ku pesan. Kutuang perlahan susu hangat dalam gelas ke lepek yang disediakan, sesekali aku meniupnya agar si susu cepat bisa kunikmati. Akhirnya setengah cangkir susu menari-nari di dalam perut ini, lumayanlah untuk menghangatkan tubuh dari rasa dingin yang benar-benar dingin ini. Kembali ku intip jam di handphone jadul putih, jam menunjukkan pukul 03.45, buru-buru aku cari nama Bibil di daftar kontak dengan nama “Nabilz” kemaren Gendaga menyimpanya, langsung ku televon dia tapi tak ada jawaban, mungkin dia masih sibuk turun dari kereta, pikirku. Tak lama setelah itu ada pesan masuk dari Nabilz.
“Aku belum sampe min”, ucapnya lewat text sms yang dia kirim ke HP jadul putihku
Oke aku nikmati saja dulu susu yang tersisa ini, hingga tetes terakhir. Memang favorite susu putih hangat di petang ini. Tiba-tiba terdengar terompet ketera api “Tooooooot, ting ting ting ting”, buru-buru ku telvon Bibil lagi “Tooot…toot…toot” (suara telpon menyambungakan).
“Hallo Assalamualaikum Bil”, ucapku mengawali obrolan petang itu lewat televon
“Waalaikumsalam Min”, jawabnya dengan nada pelan dan lelah sepertinya
“Kamu sudah sampek a Bil?”
“Belum Min, tapi ini sudah deket kok”
“O…ok Bil aku tunggu di kopian depan ya”
“Nanti kamu sms aja ya kalok udah sampek!”, seruku
“Iya Min, tadi smsku masuk kan?”
“Masuk kok Bil, yaudah tak tunggu sini ya Bil, Assalamualaikum”
“Hehe iya Min Waalaikumsalam”
Aku tersenyum sendiri pertama kali ngobrol dengan Bibil, mungkin karena dia habis tidur atau mungkin dia kecapean jadi suaranya lucu.
Adzan subuh berkumandang dan waktu menunjukkan pukul 04.05, segera kuhabiskan susu putih yang masih tersisa, lalu kubayar dan segera ku bergegas ke depan stasiun menunggu Bibil. Tik tok tik tok, beberapa menit berlalu di depan setasiun di petang ku menunggu.
”Mas, di sini tempat menunggu penumpang kereta turun?”,
Tanya bapak-bapak paruh baya dengan jaket hijau badan kekar dan seluntung Koran yang sudah agak lecek digenggaman tangan kanannya, namun mukanya masih segar tak selecek Koran yang ia genggam, mungkin bapak itu sudah lama menunggu di sini, pikirku.
“Oh iya pak”, jawabku dengan menganggukkan kepdala dan nada sopan
“Iya pak ini juga lagi nunggu, jemput teman”
“Kereta apa mas temanya?”, tanyanya lagi padaku
“Saya nggak tau pak kereta apa”
Memang aku gatau Bibil naik kereta apa, karena sebelumnya juga aku nggak tanya dia banyak-banyak, yang penting aku tahu jemput jam berapa dan di stasiun mana beres deh.
“Jurusan mana mas?”, tanya lagi si bapak
“Maaf pak saya kurang tau”
Dengan rasa malu dan layaknya orang tergoblok saya menjawab pertanyaan bapak itu yang sebenarnya mudah pertanyaan yang ia suguhkan, tapi mau gimana aku memang tak tau Bibil naik kereta apa dan jurusan apa. Kemudian si bapak melangkahkan kakinya menuju orang lain yang mungkin lebih pintar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanya. Aku pun sebenarnya ragu apakah ini benar tempat menunggu penumpang turun dari kereta, karena ini memang pertama kalinya aku jemput teman di stasiun, biasanya aku jemput teman di terminal bus, dan ini pertama kalinya juga aku menginjakkan kaki di stasiun Malang, jadi maklumlah.
Jarum jam di stasiun menunjukkan pukul 04.15, “sampe mana ya Bibil?” gertak hatiku, kemudian kuberanikan menelvonya lagi, sebenarnya sih gaenak telvon terus, takut Bibil mikir kalau aku sudah capek nunggu dia, atau gimana yang pasti gaenak sebenernya, tapi tak apa, untuk memastikanya sudah sampek mana aku harus segera hubungi dia. “Toot…toot…toot…” (suara telvon menyambungkan).
“Hallo Bil, belum sampek a?”, tanyaku dengan rasa sungkan
“Belum Min, ini masih berhenti di stasiun kota lama, maaf ya lama”, jawabnya dengan nada sungkan juga, mungkin dia sudah mikir kalok aku lama nunggu, jadi dia sungkan juga
“O… iya bil santai, tak tunggu di depan stasiun ya”
Lima menit kemudian terdengar si operator layanan informasi menyuguhkan suara seraknya yang mungkin belum nimun wedang jahe petang ini ataupun karena si bapak operator kecapean makanya suaranya jadi serak.
“Perhatian-perhatian, kereta eksekutif jurusan Malioboro akan segera tiba di jalur perlintasan, harap yang berada di dekat jalur perlintasan untuk menjauh”, seperti itu kiranya yang di informasikan si operator layanan informasi, dan aku baru tau ternyata Bibil naik kereta eksekutif jurusan Malioboro, saat itu juga aku baru tau kalau aku salah tempat tunggu, ternyata ini pintu masuk penumpang kereta, dan pintu penumpang turun ada di sebelah kiri pintu masuk, ku kira tadi toilet, malulah aku dengan bapak-bapak paruh baya yang ku jawab iya tadi bahwa ini tempat menunggu penumpang kereta turun, mungkin kalok bapak-bapak tadi masih berada di depanku dan ngobrol denganku memerahlah mukaku karena merasa malu, mungkin merah juga muka si bapak karena kesal dengan peretanyaan-pertanyaanya yang tak bisa kujawab dengan baik dan bisa memuaskan hatinya. Bergegaslah aku ke pintu keluar menunggu Bibil, mungkin sekedar menawarkan barang bawaanya jika memang perlu. Ku lirik cewek yang berpapasan deganku, cewek bermasker dengan jaket parka coklat dan tas ransel yang sepertinya berat untuk cewek sekecil dia, segera kulepaskan pandangan darinya karena aku harus memperhatikan wajah demi wajah yang keluar dari stasiun, tapi tak kulihat si Bibil. Handphone jadul putih berdering dalam saku celana, kemudian kuraih dan ku angkat ternyata telvon dari si Nabilz.
“Halo Bil, kamu di mana?”, tanyaku dengan kepala clingak-clinguk memperhatikan orang-orang di sekelilingku
“Iya Min, kamu di mana?”, tanya balik si Bibil
“Ini aku nunggu kamu di depan Bil”
“Aku juga di depan ini Min”
“Kamu di depan mana Bil? Ko ga ada? Padahal aku dari tadi nunggu kamu di depan pintu keluar”
“Hehehe, aku di depan pintu masuk”, jawabnya dengan nada tertawa khasnya
“O… goblok, yaudah tunggu situ!”, seruku dengan bercanda
Kumatikan telvon dan segera aku menuju pintu masuk untuk nyamperin dia. Aku curiga dengan cewek pendek tadi itu si Bibil, lalu kupusatkan mata ini mencari cewek pendek tadi, di depan pintu masuk di tepi jalan kutemukan dia.
“Bil”, kupanggilnya dengan memberanikan diri dan melambaikan tangan kearahnya
“Hehe iya Min”, jawabnya dengan ketawa khasnya
Ternyata benar si cewek pendek bermasker dengan jaket parka warna coklat dan tas ransel penuh dan berat itu si Bibil, seruku dalam hati.
“Goblok, tadi tu aku liat kamu papasan sama aku pas aku mau ke depan pintu keluar, aku liat kamu tapi kamu maskeran jadi aku gatau kalok itu kamu, kamu gatau aku Bil?”, tanyaku percaya diri mungkin dia tau aku tapi malu mau manggil
“Gatau, kenapa kamu ga panggil aku?”
“Ya aku takut nanti salah orang, soalnya kamu pendek banget si sebenernya”, jawabku dengan bercanda
“Hehehe, ya gapapa nanti kamu sok-sokan gatau aja kalau salah orang”
“Yaudah ayo! di situ motornya”, seruku sambil menunjuk si Vespa yang terparkir di depan stasiun
Kuajak si Bibil menuju motor yang kuparkir tak jauh dari tempat kita berbincang, mungkin 5 meter dari situ, tapi tak berani kutawarkan membawakan ranselnya yang terlihat cukup berat itu, karena memang dekat dengan motor pikirku. Sampai motor kulihat dia mengekspresikan bahwa dia kedinginan.
“Brrrr”, ekspresinya dengan menggetarkan bibir dan tubuhnya
Bergegas ku ambilkan helm yang sudah kusediakan dari kontrakan untuk dia pakai, karena aku tau dia pasti ga bawa helm pergi ke Jogja.
“Ini pakek helm nya!”, seruku dengan menyodorkan helm kepadanya
“Ini helm siapa?”, tanyanya padaku
“Helm temenku, sini tasnya taruh depan”, seruku sambil kusodorkan tanganku biar aku bisa menaruh tasnyadi depan
Kutawarkan tasnya ditaruh depan agar dia gak keberatan, takutnya nanti dia susah juga naik motornya, tapi sebenernya hati ini gak enak menawarkan itu, takut dia berfikir aku modus, pas nanti di jalan tiba-tiba aku rem mendadak supaya payudaranyanya menempel di punggungku dan tanganya merangkul erat tubuhku, untungnya dia langsung mau memberikan tasnya untuk di taruh depan, mungkin karena dia memang benar-benar keberatan. Kulihat dia agak susah menaikkan tubuhnya ke atasa motor walaupun tas ransel besarnya sudah di taruh depan, mungkin karena dia tak berani memegang pundakku untuk memudahkan dia naik di atas motor, tapi alhasil berhasil sih meskipun agak susah dilihatnya.
“Udah Bil?”, tanyaku memastikanya sudah naik dan siap untuk jalan menuju kosnya
Kembali dia mengekspresikan rasa dinginnya, lalu kuberanikan menawarkan untuk ngopi dulu, mungkin dengan secangkir kopi bisa sedikit menghangatkan tubuhnya, pikirku.
“Kamu kedinginan Bil? Mau ngopi dulu a biar agak hangat?”
“Iya Min dingin banget, gausah aku udah ngantuk”, jawabnya dengan lemas dan menggigil
Segera kunyalakan si Vespa dan bergegas membawanya menuju kosnya yang mungkin sudah ia tunggu-tunggu untuk segera sampai dan berbaring membalut tubuhnya dengan selimut kesayanganya.
“Kan kamu tadi udah tidur 6 jam, eh 7 jam si Bil di kereta?”, seruku merespon jawabanya
“Hehe iya”, tetap dengan ketawa khasnya
“Tadi aku ngopi di sini Bil”
Sambil ku tunjukkan tempat kopian di depan stasiun yang sepertinya dia sudah bersahabat dengan tempat itu, karena aku pernah dengar dari Gendaga kalau Bibil dulu sering ngopi sama pacarnya di situ, gatau awalnya bahas apa sama Gendaga hingga akhirnya dia cerita Bibil pernah juga ngopi di situ sama pacarnya.
“Kamu nda tidur Min?”, tanyanya menjauh dari pembahasan tempat kopian tadi
“Engga Bil, tadi PSan sama anak-anak sampe jam setengah 3 habis itu siap-siap jemput kamu terus ngopi dulu di tempat tadi sambil nunggu keretamu tiba”
“Sama temen-temenmu?”, tanyanya
“Ya sendiri blok”, jawabku dengan sebut dia blok yang biasanya kusebut untuk temen-temen yang memang sudah akrab saja, tapi sepertinya Bibil tak masalah dengan sebutan itu, mungkin dia anaknya sepertiku, seperti Gendaga juga pikirku.
“O… kirain sama temen-temenmu hehe”, jawabnya dengan ketawa khasnya
“Eh tadi pas nunggu kamu aku ditanya bapak-bapak Bil, aku nunggu kamu naik kereta apa dan jurusan mana, tapi aku gatau jadi aku malu jawab gatau mulu”
“Kamu sih kenapa gatanya aku naik kereta apa jurusan mana”, ujarnya
“Yaudah yang penting udah ketemu kamu”, jawabku singkat
Obrolan sejenak berhenti, sepertinya alam menawarkan suasanya yang begitu membuatku merasa nyaman, dengan udara sejuk, angin yang berhembus cukup nikmat, melintasi jalan aspal hitam bergaris tengah putih dengan perasaan yang tak sama dengan perasaan pas berangkat tadi, sepertinya kali ini lebih asyik, mungkin karena tak sendiri. Kembali si Bibil berceloteh.
“Taulah Bil, kamu gausah tunjukin jalan ke kosmu ya”, jawabku dengan sombong karena sudah 2 kali sepertinya aku menjemput Gendaga di kos Bibil, walaupun tak pernah ketemu si Bibil waktu ke kosnya menjemput Gendaga
“Hehe iya, Min pasti Gendaga ga jadi berangkat ke Jogja gara-gara kamu”, ujarnya menyalahkanku dengan bercanda
“Loh, kok aku si Bil?”, jawabku kaget
“Iyalah, kenapa kamu nda bangunin dia?”
“Orang dia ngak sama aku kok, dia kan sama Ayub Bil di kontrakan Ayub, sebenernya kan aku di suruh nganter dia ke stasiun, aku udah mau terus aku bilang nanti kita berangkat jam 5 Gend ya biar kita lihat MTD (Malang Tempoe Doloe) habis itu baru kita ke stasiun, katanya iya, habis tu pulang kuliah dia minta anter ke kontrakan Ayub dulu, habis itu kata dia mau minta anter Ayub aja nanti, yaudah aku pulang dari kontrakan Ayub”
“O… berarti Ayub ni, biar nanti ku getok kepala Ayub”, jawabnya dengan nada bercandanya dan kurespon dengan tertawa.
“Maaf ya Min merepotkan kamu”, ucapnya lagi
“Santailah Bil, Gendaga kan temenku, jadi kamu temenku juga”
“Min, kenapa pintu angkotnya di tutup?”
Celotehnya ketika melihat angkot yang biasanya pintunya terbuka tapi petang itu tertutup padahal ada beberapa penumpang di dalamnya, mungkin kedinginan pikirku, tapi kujawab saja dengan bercanda.
“Iya soalnya ada orang berak di dalam angkotnya”
“Hehe tapi itu kan banyak penumpangnya Min?”, dengan tertawa khasnya bibil merespon bercandaku
“Iya berarti penumpangnya berak semua Bil” kujawab dengan tersenyum lebar, dan kutanya balik dia.
“Bil, kamu sudah berak?”, tanyaku dengan nada serius
“Belum hari ini, tapi kemaren sudah hehe”, jawabnya dengan ketawa khasnya
Terlihat di depan ada bapak-bapak di tepi jalan yang mungkin lagi jogging, tapi tak terlihat seperti orang jogging, atau mungkin si bapak sedang menikmati pagi yang sejuk ini, karena waktu menunjukkan pukul 04.58 yang memang waktu yang tepat untuk menikmati udara pagi bagi manusia-manusia yang mempunyai jiwa sehat layaknya bapak-bapak itu, dengan iseng aku klakson bapak-bapak di tepi jalan itu sambil menyapanya.
“Tiiiin”, Bunyi klakson Vespa
“Monggo pak”, sapaku dengan menundukkan kepala layaknya orang jawa yang sopan
“Itu siapa min?”, tanya Bibil yang mungkin dia kaget aku sapa bapak-bapak itu
“Itu pak Tarmin Bil tetanggaku”
Jawabku iseng, padahal aku tak tau bapak-bapak itu siapa, tertawalah Bibil dengan ketawa khasnya yang sepertinya sudah kuhafal dari pertama ia tertawa tadi. Tak jauh di depan ada bapak-bapak mendorong gerobak sampah warna kuning di seberang jalan, tapi aku tak menyapanya, seketika Bibil bertanaya.
“Kok kamu ngak sapa bapak itu Min?”, aku tau dia merespon bercandaku tadi
“Enggak Bil, soalnya bapak itu suka marah-marah, jadi aku takut sapa dia”, jawabku bercanda
Kulihat kanan jalan, di depan Alfamart itu biasanya jam 22.00-00.00 ada ibu-ibu jualan sayap setan mantab, kutanya si Bibil.
“Bil kamu pernah makan sayap setan di situ?”, tanyaku sambil mengarahkan telunjukku ke tempatnya
“Kamu harus coba Bil itu enak banget!”, seruku
“Kenapa dia jualan di situ Min?”
“Mungkin karena ibuknya hanya jualan di situ Min hehehe”, jawabnya bercanda dengan ketawa khasnya
“Min di Jogja gerah”, celotehnya lagi
“Tapi kamu suka di Jogja?”, tanyaku penasaran
“Engga, hal yang paling nggak aku sukai di dunia ini itu gerah Min”
“Berarti kamu suka di Malang? Kan di Malang dingin”
“Iya suka, tapi di Malang aku pipis terus, karena dingin jadi aku pipis terus”
“Memang di Kalimantan gimana?”
“Di Kalimantan tu gerah juga Min”
“Jadi selama bertahun-tahun kamu hidup di Kalimantan kamu nda suka Bil?”, tanyaku memastikan
“Hehehe”, tertawalah dia dengar pertanyaanku
“Wih awannya bagus ya Bil, biru banget, cerah”
Kataku saat melihat awan di pagi hari yang sepertinya sudah lama aku tak menyaksikan pagi seperti sekarang ini.
“Emang kenapa?”, tanyanya cuek
“Aku sudah lama nggak tau suasana pagi Bil”, seruku
Akhirnya sampai juga di depan kos si Bibil yang mungkin 20-30 menit dari stasiun Malang.
Kemudian dengan lincah dia turun dari motor, mungkin karena dia begitu semangat agar cepat-cepat bisa berbaring di tempat tidurnya daan memakai selimut kesayanganya, atau mungkin dia sudah bosan duduk di atas motor ngobrolin hal yang tak penting dan tak jelas denganku selama perjalanan 20-30 menit tadi.
“Makasih ya Min, ini helmnya suruh nyuci temenmu”, ucapnya sambil menyodorkan helm kepadaku
“Emang helmnya bau?”, tanyaku dengan wajah malu
“Iya bau coba cium!”, serunya
“Goblok, gamauklah aku cium helm bauk”
Kemudian aku ambilakan tas ranselnya yang ku taruh di bawah jok yang sebenarnya tempat berpijaknya kaki saat mengendarai motor, kutarik tas ransel berat itu eh tiba-tiba peganganya patah.
“Ehhh…. Bil tasmu patah hehe”
Kulihat dia dengan tersenyum karena merasa nggak enak sudah mematahkan tasnya.
“Lho kamu, hayo”, jawabnya
Dengan nada rendah dan malu kujawab, kemudian aku berpamitan pulang agar dia bisa cepat-cepat istirahat, dan aku pun bisa cepat-cepat istirahat mungkin 2-3 jam untuk tertidur lelap, karena rencana hari ini aku pulang kampung ke Lamongan dan belum tidur malam tadi sampe saat ini.
“Ok Bil aku balik ya Assalamualaikum”
“Iya Min makasih ya Waalaikumsalam”
Beranjak dari kos si Bibil aku kembali memandangi awan yang biru cerah, aku suka pagi ini,aku suka pagi cerah, aku suka teman baru yang juga indah. Iya indah, indah aja rasanya hehehe.