حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Hasbuna Allah wa ni'amal wakeel
Allah is Sufficient for us, and He is the Best Disposer of affairs
ojovivo

izzy's playlists!
Keni
The Bowery Presents
Monterey Bay Aquarium

titsay
Cosmic Funnies

Jimmy Eat World
Doug Jones

PR's Tumblrdome
RMH
I'd rather be in outer space 🛸

Jar Jar Binks Fan Club
d e v o n
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
No title available
$LAYYYTER
Claire Keane
No title available
One Nice Bug Per Day

seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from India
seen from Ukraine
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Algeria
seen from United States

seen from Philippines

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Brazil
@syalarale-blog
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Hasbuna Allah wa ni'amal wakeel
Allah is Sufficient for us, and He is the Best Disposer of affairs
Sometimes you wish you never met certain people, then you grow and realize that they were a gift in disguise and contributed to making you the person you are.
Shaykh Omar Suleiman
Originally found on: islamicrays
(via islamic-art-and-quotes)
Alhamdulillah….
syukran Ya Rabb atas nikmat yang tidak terbatas yang selalu Engkau berikan kepada hambah-Mu selama hidup ini yang walaupun masih banyak yang belum pandai bersyukur….
Alhamdulillah…
Allahu Akbar, Maha Besar dan sebaik baik Pengatur yang terbaik, gini nih, kok masih ada yang ga percaya kalo Tuhan itu ada ya, -__- *tanya kenapa?*
Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pelindung
Allah Maha Besar
Tulisan : Tidak Mudah Menaklukan Dirimu
Berjalanlah pada jalan yang kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk itu, kamu cukup menjadi dirimu sendiri. Kalau kamu harus membandingkan-bandingkan, kamu cukup membandingkan dirimu hari ini dengan masa-masa yang sudah kamu lewati.
Kamu tidak membutuhkan penerimaan dari semua orang, apalagi mengorbankan dirimu untuk bisa diterima oleh semua orang sementara kamu tidak bisa menerima dirimu sendiri. Cukupkanlah bahwa kamulah yang memang harus yang paling pertama bisa menerima dirimu sendiri, bukan orang lain. Kamu sebagai kamu seutuhnya, masa lalu yang mungkin kelam, segala kekurangan dan kelebihanmu hari ini, segala ujian dan nikmat yang datang kepadamu, bentuk fisik dan keadaan yang ada padamu, bukankah hal yang paling sulit dilakukan adalah menerima itu semua kemudian mensyukurinya?
Kalau nanti diperjalanan kamu bertemu dengan orang-orang yang memandang sebelah mata kepadamu, kepada apa yang kamu miliki, kepada pekerjaanmu, kepada nasabmu, kepada fisikmu, kepada segala hal yang selama ini membuatmu merasa berbeda dengan orang lain. Teruslah berjalan. Karena semakin lama kamu mendengarkan perkataannya, semakin lama kamu menatap matanya, kamu mungkin akan berubah pikiran untuk kembali menolak dirimu dan tidak mau lagi menjadi dirimu sendiri.
Penolakan orang lain memang menyakitkan tapi sungguh tidak ada yang lebih berat dan menyakitkan selain penolakan dari dirimu sendiri. Padahal sampai mati nanti, kamu akan hidup dalam tubuh dan sebagai jiwa yang itu adalah kamu sendiri, tidak bisa ditolak dan diganti, sementara suatu ketika kamu harus mempertanggungjawabkan semua itu.
Bukankah berat, menjadi diri sendiri?
Yogyakarta, 28 April 2016 | ©kurniawangunadi
?
Setiap dari kita berhati lembut. Menjadi dingin ketika melintasi masa-masa sulit dengan gusar. Menjadi keras ketika merasa sering dikecewakan. Menjadi putus asa ketika jauh dari Sang Pencipta. Semoga hati selalu bisa kita jaga.
Rintik Kecil
(via
rintikkecil
)
Dear my future, hanya orang yang berpuasa yang bisa merasakan nikmat dan manisnya berbuka. Barangkali begitu juga dengan puasanya hati dan sebuah rasa, bukankah layak untuk kita coba? Walaupun aku tau itu pasti akan berat terasa. Tak ada kata bukan berarti tidak ada doa, tak ada interaksi bukan berarti aku tidak sedang mempersiapkan diri. Mari berdoa dan berusaha semoga esok kita dipertemukan, dalam satu jiwa, satu hati, satu perjalanan, dalam surga sebelum surga. Sama-sama belajar jaga hati, jaga diri. Semoga yang menjaga bertemu dengan yang menjaga lagi terjaga.
©Quraners
Maap banget ini kalau malah jadi keseringan nulis dear my future. Akhir-akhir ini saya agak sering baca tentang marriage dan parenting. Apa yang tertulis dalam subject ‘Dear my future…’ adalah tentang reminder, ide, inspirasi yang tiba-tiba terlintas di pikiran atau bisa juga hasil ekstraksi dari buku yang pernah dibaca.
Maaf semisal tulisannya jadi tentang nikah-nikah atau rumah tangga. Semoga tetap bisa diambil pesannya dan tidak larut pada galau atau kengenesan anda, sekian~
(via quraners)
Talk with your daughters, Play with your sons. You need to be a better friend to them than anyone else. This society offers lots of evil friends. Before they make those kinds of friends, they need to find their best friend in you.
Nouman Ali Khan
Originally found on: theheedlessheart
(via islamic-art-and-quotes)
Budaya husnudzhon dan mengingat-ingat kebaikan, dua kunci sederhana terjaganya ukhuwah saudara seiman.
©Quraners (via quraners)
Cara tersimpel untuk jadi pengusaha, yakni berdoa. Doa nya juga simpel, gak panjang-panjang, gak banyak-banyak. Tapi tujuh waktu. Melalui iBuk “How To Nangkep Opportunity” kita akan belajar bersama Ustadz Yusuf Mansur untuk menangkap peluang buat jadi pengusaha atas izin Allah. Dapatkan iBuk nya melalui aplikasi Paytren. Untuk yg belum bergabung silakan hubungi mitra Paytren terdekat. Informasi: 0857 7071 3636
Allah dan Games
Dua hari yang lalu seorang ibu muda yang bekerja di sebuah salon yang kerap saya kunjungi bercerita pada saya sambil menuangkan shampoo dikepala saya.”Bu masak anak saya bu lagi main games yang sudah saya donlot,eh tiba tiba anak saya teriak sama saya :”Bu kok ada gambar kayak gini?”. Saya lari bu ambil hape ditangannya dan saya kaget setengah mati ternyata tiba tiba muncul gambar yang jelek itu loh bu. Saya otomatis bilang :”Loh abaang!,kok lihat gambar yang kayak gini sih?”.
Kemudian dia menjelaskan kepada saya bagaimana anaknya membela diri bahwa dia tidak tahu kok ada gambar itu. Kemudian ibu muda ini mengatakan pada anaknya lain kali gak boleh lihat dan kalau ada lagi kasih tahu ibu, bapak atau pembantu. Anaknya langsung menyergah penjelasan dan perintah ibunya dan bertanya:”Emangnya kenapa gak boleh bu?”. Ibu ini menjelaskan bahwa sesungguhnya dia bingung dan gak tahu harus jawab apa. Jadi dia jawab saja, bahwa hal seperti itu tidak baik dilihat sama anak anak, gak pantes. Anaknya yang saya perkirakan pintar itu, balik bertanya : Gak Pantesnya kenapa?. Ibunya menjawab :Gak pantes aja.” Benar gak bu ?” tanyanya pada saya, mengakhiri kisahnya.
Saya dengan cepat menjawab :”Kamu harusnya menambahkan sedikit lagi keteranganmu dengan kata:” Gak boleh menurut Allah kita menggunakan mata kita untuk melihat hal hal seperti itu!”. Tanpa saya duga ibu ini bertanya balik pada saya :”Kalau anak saya nanya tentang Allah, jawabnya gimana bu?”.
“Jdaaarrrr!” pertanyaannya membuat saya lagsung terdiam, bukan karena saya tidak tahu apa jawabannya, tapi pertanyaan itu menghenyakkan saya pada sebuah kesadaran lain :”Iya yah, bagaimana anak ini dan anak anak lainnya akan takut pada larangan Allah ya, kalau Allah saja dia atau mereka tidak mengenalNya ?”. Kapan orang tuanya sempat memperkenalkan Allah pada anak anak mereka?. Kalau pun sempat, dalam waktu yang pendek dan tergesa gesa, gambaran Allah yang bagaimana yang tersampaikan dan yang kemudian disimpan sebagai kefahaman oleh anaknya?’.
Dengan penuh kesadaran,setelah diam untuk beberapa saat saya melanjutkan percakapan :”Iya ya Min, bagaimana anakmu takut sama Allah, kenal saja tidak..”Hmm iya bu. Anak saya suka nanya, saya gak tahu bagimana jawabnya.
Mengenalkan Allah secara Konkrit.
Anak anak yang berusia dibawah 7 tahun masih berfikir konkrit karena syaraf syaraf diotak mereka belum sempurna bersambungan. Tapi bukannya dengan begitu Allah tidak diperkenalkan pada anak. Mulailah saya berbagi dengan Min, dan siapa tahu ada gunanya bagi anda, bagaimana dia bisa memperkenalkan Allah pada anaknya secara konkrit.
1. Mulailah dengan dirinya . Ceritakan bahwa semua manusia adalah hasil ciptaan Allah. Allah Maha Kuasa dalam menciptakan sesuatu. Misalnya mata. Minta anak menatap kita lalu menatap dirinya sendiri di depan kaca . Katakan padanya: Allah menciptakan mata mama dan matamu, bayangkan kalau kita tidak dikasih penglihatan apa yang akan terjadi ?.Minta dia memicingkan matanya, atau kita tutup dengan tangan kita. Tanyakan apakah kamu kenal bagaimana wajah mama?. Apakah kau kenal bagaimana wajahmu? Simpulkan bagaimana besarnya dan penuh kasih sayang nya Allah memberikan kita mata untuk melihat dan memandang, kuping untuk mendengar, lidah untuk mengecap dan organ organ tubuh lainnya. Pada lain kesempatan ciptakan lagi cara untuk mengenali kebesaran Allah dalam menciptakan organ tubuh dan fungsinya dalam kehidupan.
2. Membandingkan ciptaan Allah dan ciptaan manusia. Hidung buatan siapa, kalau kursi? Mobil ciptaan siapa, pohon? d dstnya..
3. Mengamati alam sekitar. Bawalah sebuah kantong plastik dan ajaklah anak kehalaman depan, belakang atau samping rumah dimana ada berbagai jenis tanaman,walau didalam pot. Berceritalah lebih dahulu bahwa Allah menciptakan berbagai tumbuh2an di seluruh dunia. Dihalaman rumah, di sekolah, di hutan di gunung dsbnya. Tanaman2 ini tak terhitung jumlahnya. Sekarang yuk kita ambil contoh contoh daun ini. Lalu kita ajarkan bagaimana anak meminta izin pada pohon ciptaan Allah untuk minta selembar daunnya.Daun daun tersebut anda kumpulkan dalam kantong plastik, kemudian bawa masuk kedalam rumah dan beberkan di lantai. Minta anak untuk memperhatikan bahwa dari :segi betuk, warna, bahkan tulang tulang daun tersebut berbeda, ada yang bertemu ada yang tidak. Siapa yang menciptakan semua ini?.. Kalau anak sudah lebih besar dari 7 tahun anda bisa menceritakan proses tumbuhnya bunga dan buah.. Banyak sekali dialam sekitar rumah yang bisa anda gunakan untuk menceritakan Kebesaran Allah pada anak . Apalagi kalau sempat mengikuti proses ulat menjadi kupu kupu…
Berbaring dihalaman dan memandang bintang malam hari lalu menggunakan buku atau internet untuk melengkapi pemahaman mereka, merupakan keasyikan sendiri.
Ini semua untuk anak anak, bagi yang remaja tentu anda harus berbekal ilmu dan kemampuan berfikir tingkat tinggi. Anda dulu membaca buku, mereka sekarang langsung bertanya: OK Google!, dan dapat apa yang mereka mau.
Sambil menikmati proses “facial” yang sangat jarang/ sempat saya lakukan, saya menyadari sepenuhnya betapa banyak orang tua yang tidak mampu menyampaikan ayat ayat Allah guna membatasi dan melarang anak anak mereka untuk melihat yang tidak patut yang dikaitkan dengan keharusan bagi seorang mukmin atau mukminat untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluan mereka ( An Nur :30 & 31), karena memang sejak kecil tak sempat mengenalkan Allah pada anak anaknya. Kini anak tersebut tak terasa, beranjak atau sudah remaja.Ia memiliki nyaris segalanya : Rumah wifi,TV berbayar, Games tersedia, HP canggih ditangan.Kalaupun hanya sekelas anaknya Min, kan bisa pinjam Hape ibu dan bapak atau dengan uang Rp.3000 – 5000 bisa menikmati apa saja di Warnet, dari games sampai internet P. iya khan?.
Dari cerita singkat ini, saya harapkan kita tersadar, semua berpulang pada kita: Orang tua. Semoga gak banyak banget bolong bolongnya.
Elly Risman Bekasi 17 April 2016.
Bila dirasa tulisan ini ada manfaatnya,silahkan share!.
Gak perlu minta izin asal sebut sumbernya
khilaf
“A mistake is always forgivable, rarely excusable and always unacceptable”
Waktu iseng berselancar di linimasa Facebook pekan lalu, saya nemu tautan video menarik yang tengah ramai diperbincangkan. Kolom deskripsinya menceritakan seorang siswi di Medan yang mengancam aparat berwajib dengan mengaku sebagai anak pejabat saat ditilang karena berkonvoi untuk merayakan kelulusan SMA. Gertaknya, “Siap-siap kena sanksi turun jabatan ya. Aku pun punya deking. Kutandai ibu, Aku ini anak Arman Depari”.
Dari beberapa pemberitaan, diketahui bahwa remaja perempuan yang jadi sorotan utama video bernama Sonya Depari. Kelanjutannya seolah mudah ditebak. Seiring tersebarluasnya video, banyak netizen yang mencela habis-habisan perilakunya. Enggak lama berselang, meme dengan latar belakang wajahnya pun sontak tersiar. Rasanya enggak afdol kalau ada kehebohan perbincangan dunia maya tanpa kemunculan meme-nya sebagai penyemarak.
Celaan itu masih terdengar nyaring di keesokan harinya. Bedanya, kali ini isinya berbaur dengan ungkapan belasungkawa. Di luar dugaan, ayah dari remaja tersebut berpulang ke hadirat-Nya. Surat kabar menyebutkan bahwa ayah Sonya yang bernama Makmur Depari meninggal akibat serangan jantung setelah mendengar informasi tentang perilaku anaknya yang kurang mengenakkan sehingga membuat pihak keluarga didatangi polisi.
…
Kita akrab dengan pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Hikmah pepatah itu tuntas diresapi Sonya. Cobaan yang menghampirinya datang dalam bentuk penghakiman dari seantero negeri dan kepergian sang ayah untuk selamanya. Kegembiraan berupa kelulusan SMA-nya langsung terasa hambar. Somebody said, empathy is about finding echoes of another person in yourself. Sesederhana menempatkan diri pada kondisi pelik yang dihadapi Sonya, sanggupkah kita menelan dua kenyataan pahit itu sekaligus?
Sekali lagi, media sosial membuktikan keunggulan penyebaran informasinya. Seperti halnya karakter semua perangkat, ia selalu bisa menjadi alat untuk mencapai tujuan penggunanya. Betapa beratnya “hukuman” yang diperlihatkan pada sesosok remaja berusia belasan taun. Untuk rekaman peristiwa beberapa menit yang tersebar cepat lewat internet, ribuan pasang tangan turun dengan tangkas untuk menjatuhkan dakwaan. Banyak yang ngerasa paling layak mengadili. Seketika, jagat virtual berubah jadi ruang persidangan yang enggak berbatas tempat dan waktu.
Ironisnya, makin derasnya arus informasi di era modern malah makin ngedorong kita untuk gampang menggugat kekhilafan orang lain. Bukankah perluasan ilmu harusnya turut memperluas sudut pandang kita? Ketidakberuntungan Sonya disebabkan karena ia berada di tempat dan waktu yang salah. Kealpaannya terbilang sederhana dan mungkin pernah dilakukan segelintir orang juga. Cuma karena ada pihak yang kebetulan merekam dan mengunggahnya ke internet, meledaklah popularitasnya secara instan. Satu kesalahannya pun kemudian membekaskan kesan yang jauh lebih mendalam ketimbang seratus kebaikan. She had such a bad days.
…
Dalam sebuah kajian, seorang ustadz bercerita tentang hakikat kesalahan. Bahwa semulia apapun kepribadian seseorang, potensi untuk berbuat khilafnya sama dengan semua orang tanpa terkecuali. Bahkan para nabi yang dipandang sebagai kaum yang dekat dengan-Nya, juga pernah lengah. Kaum Muhajirin yang diistimewakan dalam sejarah karena keunggulan akhlaknya, pernah tergelincir untuk berkonflik akibat memperebutkan dan meributkan harta selepas Perang Badar.
Tanpa bermaksud menyandingkan karakter manusia unggulan di masa lalu dengan muda-mudi masa kini, kenyataan paling mendasarnya adalah manusia mana pun enggak mungkin terlepas dari perbuatan luput. Maka, empat langkah bijak yang sebaiknya dilakukan saat memergoki kesalahan orang lain adalah menutup aibnya, menasihati, memaafkan dan berlapang dada atas tindakannya. Apakah kasus-kasus bully di internet yang sering kita simak mencerminkan empat poin itu?
Saya terhenyak tiap membaca tanggapan pedas atas peristiwa yang melibatkan kekeliruan orang lain dan masuk pemberitaan media. Saya merasa kembali diingatkan tiap ngeliat gimana sebuah kekeliruan bisa melahirkan upaya main hakim sendiri secara masif. Salah-salah, khilaf di zaman sekarang bisa berimbas sama konsekuensi yang terlampau mengerikan untuk kejiwaan.
Kalau kesalahan orang lain diibaratkan sebagai genangan lumpur, menghakiminya hanya akan membuat kita terguling ke dalam kubangan yang sama. Cukuplah menjadikannya sebagai cerminan supaya kita enggak berperilaku serupa. Bukankah kita tengah berlomba-lomba menuju kebaikan?
Hobi, bakat dan passion itu 3 hal yang berbeda. Hobi, jika kau ‘suka’ melakukannya. Bakat, jika kau ‘mampu’ melakukannya tanpa susah payah. Passion, jika kau tetap ‘gigih’ berupaya sekalipun seolah tak mungkin untuk dilakukan.
Berbagai sumber. (via nnndaru)
Mother’s Legacy
Cinta seorang ibu kepada buah hatinya tak bisa diurai dengan keindahan kata-kata, tidak pula bisa dirangkai dalam definisi makna. Cinta seorang ibu kepada buah hatinya adalah manifestasi sifat Rahman wa Rahim Allah Swt yang ada pada dirinya.
Cinta seorang ibu adalah “cinta yang tidak bersyarat”, unconditional love. Namun, apakah kita juga mengetahui bahwa seorang ibu ternyata mewariskan keistimewaan luar biasa bagi buah hatinya? Penelitian biologi molekuler terbaru membuktikan bahwa seorang ibu mewariskan 75 persen unsur genetika nya kepada anak. Oleh karena itu, sifat baik, kecerdasan serta kesalehan seorang anak sangat ditentukan oleh karakteristik ibunya.
Di dalam sel-sel manusia, terdapat mitokondria, sebuah organela yang memiliki fungsi sangat strategis. Organela ini berongga berbentuk lonjong, selaputnya terdiri dari dua lapis membran, bagian dalamnya bertonjolan ke dalam rongga (matriks), dan mengandung banyak enzim pernapasan.
Tugas utamanya memproduksi bahan kimia tubuh bernama adenosin tri phosphat (ATP). Energi yang dihasilkan dari reaksi ATP inilah yang menjadi sumber energi bagi manusia. Mitokondria ini hanya diwariskan oleh ibu karena berasal dari sel telur. Inilah organela cinta seorang ibu yang menghubungkan buah hatinya dengan Allah dan kesemestaan.
Tanpa kehadiran mitokondria, hidup menjadi hampa, tidak ada energi yang mampu menggelorakan semangat, hingga kita tidak bisa membaca, mencerna, dan merasa. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kontak batin antara ibu dan buah hatinya sangat kuat dan intens. Keberadaan energi cinta yang mampu menembus dimensi: ruang dan waktu. sumber : grup Halal Salman ITB. always love you mamaaaaah :* no matter what!
pulang
“Indeed, the death from which you flee - indeed, it will meet you”
Untuk pertama kalinya, saya dianugerahi kesempatan ngeliat proses kematian berlangsung ketika nenek wafat minggu lalu. Kami terpukul dengan kepergian figur yang begitu kami hormati. Suasana kumpul keluarga enggak akan pernah terasa sama lagi nanti. Hilanglah sosok yang biasanya hadir di tengah-tengah kami untuk menonton para penerusnya berbagi canda.
Di sisi lain, saya ngerasa beruntung bisa mendampingi beliau di saat-saat terakhirnya. Enggak pernah saya ngerasa sedeket itu sama kematian seseorang. Saking pendeknya jarak, saya berpikir bahwa orang yang akan dicabut nyawa berikutnya ialah saya. Pengalaman langka itu meyakinkan saya bahwa dua diantara banyak momen berharga dalam hidup yang layak disebut life-changing adalah menyaksikan kepergian lewat kematian dan kedatangan lewat kelahiran.
…
Beberapa pekan sebelum meninggal, nenek menderita gangguan pernapasan yang disebabkan pembengkakan jantung. Dua hari setelah kondisinya dinyatakan positif oleh tim dokter rumah sakit, rasa sesak yang lebih hebat kembali menyerang. Kami berkejaran dengan waktu untuk mengupayakan kesembuhan beliau di kondisi yang naik-turunnya terjadi dengan cepat.
Sewaktu saya dan Citra menjenguk, nenek masih siuman dan menanggapi kemunculan kami dengan memberi nasihat dalam Bahasa Sunda. Semoga persiapan kalian lancar, nak. Semoga semakin berkecukupan, soleh dan sayang keluarga. Saya aminkan permohonannya dengan suara pelan sembari mengelus punggung tangan yang kurus itu. Enggak ada yang nyangka kalau ternyata kami berdua menjadi anggota keluarga yang diberi petuah penutup.
Tiba-tiba nenek mengaduh berulang kali. Kami kaget dan memutuskan untuk memboyong beliau ke rumah sakit terdekat demi keselamatannya. Sesaat sebelum dibopong, ia mendadak tidak sadarkan diri. Menurut pengamatan seorang sepupu yang pernah ngeliat proses kematian sang istri, kondisi kritis nenek menampakkan ciri-ciri singgahnya ajal. Diantaranya, tubuh yang selalu merosot dengan sendirinya dari pembaringan dan bola mata yang membelalak ke atas secara drastis.
Ayat-ayat suci dilantunkan seksama. Seisi rumah mengerumuni nenek dengan beraneka upaya sekuat tenaga. Ada yang membimbing beliau untuk mengingat-Nya, mengipasi badannya, mengabari sanak saudara, membetulkan pakaiannya, memijat tangan serta kakinya atau melangitkan doa-doa. Harapan kami sederhana, nenek pulih seperti sediakala. Namun, sesuatu yang ganjil mulai terjadi. Perlahan, fisik nenek terus menerus menampakkan pergantian.
Enggak ada satupun yang mau memercayai hasil pengamatan sepupu saya. Tapi firasat itu terasa semakin nyata.
Berawal dari kaki yang sebelumnya bergerak aktif, sontak berubah melunglai. Perubahan warna setiap anggota tubuh diikuti dengan perubahan suhu di bagian tersebut. Sepasang kaki lemah itu berubah pucat dan dingin. Pandangan kami menjadi saksi atas merambat naiknya pencabutan ruh ke arah kepala. Sehabis tungkai, giliran kedua tangan beliau yang memucat dan membeku. Saya terus meraba pergelangan tangannya. Denyut nadi mulai terasa melambat, melambat dan beringsut pergi.
Dada yang tadinya kembang-kempis seiring masuknya udara, berangsur mematung. Sepupu saya berujar, “nyawa nenek tinggal di kerongkongan”. Beliau menunjukkan hembusan napas pamungkas yang tersengal-sengal. Katupan bibirnya jadi penanda akhir hadirnya seberkas kehidupan. Dalam hitungan menit, tubuh itu terbujur kaku sepenuhnya. Senyap. Enggak mungkin. Jangan sekarang, ya Allah. Dengan panik, cermin kecil kami dekatkan pada kedua lubang hidung beliau dan enggak ada sedikitpun uap air di permukaan kaca. Malaikat maut baru aja menuntaskan tugasnya.
Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un. Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali. Kami tenggelam dalam isak tangis sendu. Sampai jumpa lagi, nek. Insya Allah kami ikhlas. Kami sayang sekali sama nenek.
…
Bukankah kita semua tengah menunggu giliran untuk pulang ke hadirat-Nya? Sebelum mudik ke kampung halaman, kita begitu apik mempersiapkan barang bawaan dengan matang. Sematang apakah persiapan mudik ke kampung keabadian? Untuk perjalanan yang satu itu harta, tahta, keluarga bahkan raga enggak bisa dibawaserta.
Jatah hidup kita terus berkurang. Habisnya entah kapan. Durasinya enggak mengenal tambahan. Mungkin dua dekade lagi atau malah besok sore umur kita selesai. Maka, hidupilah hidup dengan kebermanfaatan yang melimpahruah. Gunakan kesempatan yang datang. Hargai orang lain. Jangan sampai ada sedetik pun waktu yang terbuang untuk larut dalam ketidakbersyukuran.
Kematian adalah fitrah yang enggak terhindarkan. Jangan ditakutkan karena bagaimanapun ia pasti menghampiri. Persiapkanlah.
Kadang-kadang Tuhan memberikan kita jalan yang tidak dapat kita mengerti. Kita jadi ragu kepada-Nya karena menurut kita ada cara yang lebih baik daripada cara yang dipilihkan-Nya saat ini, but believe me everything someday will make sense! :)
Mas Chiro pernah bilang, mungkin sekarang kita meragukan jalan yang dipilihkan Tuhan untuk kita, tapi kalau seandainya kita diberi lorong waktu untuk melihat konsekuensi dari setiap pilihan dalam hidup kita, bukan tidak mungkin kita akan tetap memilih jalan yang sudah dipilihkan Tuhan ini, karena ternyata memang itulah yang terbaik! :)
Have faith! :)
BerSEMANGAT!!
Kata orang-orang bijak pandai, jika : 1. Ingin bahagia. - Sembahyang awal waktu 2. Ingin sihat - Berpuasa 3. Ingin dipermudahkan urusan - Bacalah Al-Quran 4. Ingin wajah berseri - Jaga sembahyang Tahjud 5. Ingin kaya - Sembahyang Dhuha 6. Dihimpit masalah - Beristghfarlah 7. Berdukacita. - Berdoalah 8. Mahukan keberkatan - Berselawatlah Amalkan Dan sebarkan: Yang membaca, tak untung Yang bercakap, pun tak untung Yang mendengar, pun tak untung Yang untung, orang yang mempratikkannya
Raja Shamri (via rozizarina)