"Kitapun Pernah Berada Di Posisi Yang Sama"
Setiap kita pasti pernah berada di posisi jahil (bodoh dalam urusan agama), tidak mengetahui apa itu hukum-hukum syariat, dan tidak mengetahui hakikat tentang hidup, yaitu untuk beribadah kepada Allah Ta'ala. Sehingga ketidaktahuan ini menyebabkan kita lebih dekat pada perbuatan dosa. Dan Allah lah yang memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Sungguh kesyukuran yang paling tinggi didunia adalah ketika Allah Ta'ala memberikan rahmatNya dengan nikmat Iman dan nikmat Islam.
Dan hanya orang yang bersungguh-sungguh lah yang mendapatkan hidayah (petunjuk).
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjuang) di jalan Kami, sungguh akan Kami berikan petunjuk (hidayah) kepada mereka untuk istiqamah di jalan Kami. (QS. Al-Ankabut: 69).
Setiap orang yang berusaha meninggalkan perbuatan dosa menuju apa yang Allah cintai masih dikatakan dalam proses hijrah, selama kita masih hidup. Proses hijrah setiap kita berbeda-beda, dan kita diperintahkan untuk saling tolong menolong dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa (wata'aawanuu 'alal birri wattaqwa). Saling membantu dan saling dukung dalam proses hijrah masing-masing.
Ditengah kuatnya "serangan" pemahaman liberalisme, pluralisme, dan sekulerisme kepada generasi muda ummat, dimana pemahaman-pemahaman ini telah "meracuni" sebagian kita. Racun-racun pemikiran itu tidak menginginkan syariat Islam menjadi solusi atas segala permasalahan, bahkan agama saja sudah di karantina sebagai urusan privasi, yang tidak membiarkan Islam mengatur urusan publik, karena sudah pasti akan menggeser posisi ideologi mereka.
Amar ma'ruf nahi munkar adalah salah satu jenis ibadah yang pahalanya besar, yang merupakan kekhususan dan keistimewaan umat Islam yang akan mempengaruhi kemulian umat Islam. Sehingga Allah kedepankan penyebutannya dari iman dalam surah Ali Imran ayat 110.
Demikian pula, Allah membedakan kaum mukminin dari kaum munafikin dengan hal ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana“. (QS. At-Taubah:71)
Amar ma'ruf nahi munkar berkaitan dengan "mengurusi urusan orang lain", tapi syariat Islam memberikan kita batasan, apa yang perlu diurus dan apa yang tidak perlu kita urus, batasannya adalah jelas.. yaitu halal/haram.
Salah satu contohnya, ketika ada seorang muslimah muda yang baru dalam "proses hijrah" dari kehidupan lamanya yang sangat gaul dan hampir tidak kenal batas. Ia yang sekarang sudah belajar menutup auratnya dengan memakai kerudung yang menutupi rambut dan lehernya, memakai pakaian yang kadang masih cukup ketat, masih suka mempublish fofo selfienya yang membuat laki-laki terfitnah sehingga "membahayakan" dirinya, masih suka berbaur dan bercampur antara laki-laki dan perempuan yang hampir tak ada batasan, tetapi sudah sekaligus menggandrungi kajian-kajian Islam, terutama kajian-kajian ala anak muda.
Bagaimana menyikapi keadaannya yang seperti itu? Di satu sisi, ia masih jauh dari cara berpakaian dan bergaul secara Islami. Namun di sisi lain, keadaannya saat ini sudah jauh lebih baik dari keadaannya sebelumnya.
Ada dua sikap yang perlu kita tunjukkan pada kondisi seperti ini. Dan harus keduanya. Jika salah satu saja, dan menafikan sikap yang lain, maka kita akan terjatuh pada kesalahan.
Sikap pertama: Memberikan apresiasi diiringi doa keberkahan untuknya dan dukungan atas perubahannya yang sekarang, dari kondisi sebelum hijrah, menjadi lebih baik saat ini.
Sikap kedua: Memahamkan dengan adab yang baik (dilakukan empat mata oleh sesama muslimah), bahwa keadaannya sekarang belum ideal, dukunglah ia untuk terus berproses menjadi lebih baik dan lebih sesuai tuntunan syariat. Ajaklah untuk bersama-sama belajar menjadi lebih baik, diimbangi dengan belajar Islam kepada orang-orang yang tepat (lurus pemahamannya). Sehingga proses hijrahnya tidak sekadar tampilan luar, agar semakin menguatkan iman.
Jika hanya sikap pertama saja yang diambil, dan menafikan sikap kedua, dikhawatirkan yang terwujud malah sikap merasa puas dengan keadaannya saat ini, dan ia sudah mengangggap kondisinya sudah baik dan ideal, dan tak perlu ada yang diubah lagi. Sekaligus, bisa jadi ia akan bersikap defensif terhadap orang-orang yang memahamkan ekspresi keberislamannya yang masih jauh dari kondisi ideal.
Sebaliknya, jika sikap kedua yang diambil, dengan menafikan sikap pertama, maka bisa jadi itu membuatnya putus asa, merasa perjuangan beratnya selama ini tidak dianggap sama sekali, dan dikhawatirkan berujung, ia kembali ke kehidupan masa lalunya yang jauh lebih buruk.
Sikap yang benar tentu, kita memberikan apresiasi atas perjuangan berat yang telah ia lakukan. Anak gaul (bahkan hampir tanpa batas) berubah menjadi sedikit tertutup, bukan hal mudah. Ia harus mengalahkan hawa nafsunya, kekhawatirannya dijauhi orang-orang dekat, dicibir, dan semisalnya.
Apresiasi sewajarnya dan datang dari hati serta ilmu yang benar. Bahwa, berubahnya seseorang menjadi lebih baik, meski belum ideal, adalah kebaikan, sehingga perlu diapresiasi dan "dirangkul" bukan malah dimusuhi dan dicaci. Dan tanamkan ke diri sendiri, kitapun tengah sama-sama berjuang.
Sekaligus, kita berusaha bertanggung jawab, memahamkan bahwa proses yang ia lalui masih panjang, kitapun sama. Dalam "proses hijrah" ini, kita perlu belajar agama secara lebih serius. Kita harus mengubah dan/atau memperbaiki tauhidnya kita, cara berpakaian kita, sikap kita, amalan kita, memahami batasan pergaulan dan muamalah kita, cara pandang kita terhadap dunia, dan hal-hal penting lainnya.
Jangan sampai menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki pemahaman bahwa menutup aurat adalah pilihan bukan kewajiban, ini jelas pemahaman yang keliru, bahkan bisa pada tahap menyesatkan jika ini di "kampanyekan", sehingga orang lain mengikuti pemahaman ini. Sungguh berat pertanggungjawabab di hadapan Allah Ta'ala nantinya.
Yang benar, menutup aurat adalah kewajiban, baik bagi muslim maupun muslimah. Dan bagi muslimah adalah dengan jilbab syar'i. Jangan sampai menjadi orang-orang yang secara tidak sadar menjalankan rencana-rencana busuk musuh-musuh Islam dan kaum munafiqin, mereka yang ingin menghancurkan syariat Islam dengan menjadikan Islam agama yang hanya sekadar mengatur persoalan ruhiyah, padahal Islam lebih daripada persoalan ritual, melainkan "way of life".
Fenomena di akhir zaman ini, yang haq dan bathil akan terus saling bersinggungan. Bahkan kita bisa melihat bagaimana orang dengan mudahnya mentoleransi hal yang tidak seharusnya ditoleransi.
Laa hawla wala quwwata illa billah.