"Thank you for giving me a feeling that I have never felt before."
seen from China
seen from Türkiye
seen from China
seen from Türkiye

seen from Mexico

seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from Sweden
seen from Romania
seen from Yemen
seen from Sweden
seen from Netherlands

seen from United States
seen from Yemen
seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from United States
"Thank you for giving me a feeling that I have never felt before."
Aku pernah mencintaimu sedalam orang-orang menenggelamkan doa pada malam yang sepi; diam, tulus, dan tanpa jaminan akan dijawab.
Barangkali kesalahanku bukan karena mencintaimu. Kesalahanku adalah membiarkan cinta itu tumbuh terlalu jauh, hingga melampaui batas yang mampu kau berikan. Aku menanam harapan di tanah yang tak pernah kau janjikan untuk kutempati, lalu heran mengapa yang tumbuh hanyalah penantian.
Aku mengenalmu seperti seseorang mengenal arah pulang, tetapi tak pernah benar-benar memiliki rumah itu.
Ada banyak hal yang kusesali. Bukan karena kau memilih jalan yang berbeda, melainkan karena aku pernah percaya bahwa ketulusan akan selalu menemukan tempatnya. Aku menghabiskan waktu memelihara kemungkinan-kemungkinan yang hanya hidup di kepalaku sendiri. Sementara kau, mungkin sejak awal, hanya sedang lewat.
Kini aku mengerti, mencintai seseorang terlalu dalam kadang membuat kita lupa bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan memiliki. Ada yang ditakdirkan menjadi pelajaran, bukan tujuan. Ada yang datang untuk mengajarkan luasnya rasa, lalu pergi sebelum sempat menjadi cerita yang utuh.
Dan yang paling menyakitkan bukan kehilanganmu.
Melainkan menyaksikan diriku perlahan kehilangan banyak hal demi mempertahankan seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar kumiliki.
Jika waktu dapat diputar kembali, mungkin aku tetap akan mencintaimu. Hanya saja, aku ingin melakukannya dengan lebih bijak. Tidak menjadikanmu pusat dari seluruh semesta, tidak menggantungkan bahagia pada kemungkinan yang rapuh.
Namun waktu tidak pernah berjalan mundur.
Maka biarlah penyesalan ini tinggal sebagai catatan kecil di antara lembar hidupku; pengingat bahwa pernah ada seseorang yang kucintai sedalam-dalamnya, tetapi tidak cukup dekat untuk kugenggam selamanya.
Dan di antara segala hal yang gagal kupunya, kaulah yang paling indah untuk dikenang, sekaligus paling sulit untuk dilupakan.
@gramabiru | Tentang Penyesalan yang tak pernah selesai
rumah dan tangga.
benar, ya. berumah tangga itu memang harus satu jalan. akan sangat membahagiakan bila keduanya berjalan pada satu tujuan yang sama. berjalan dengan sama ringannya, kalaupun berat akan paham bagaimana cara bersikap untuk terus memohon pertolongan Allaah. ada kalanya kapan harus berlari, berjalan ataupun berhenti sejenak. saling membersamai, saling bertumbuh, saling bersama-sama.
kapan harus memberi jeda, kapan harus saling menghibur, kapan harus saling menasehati, kapan harus berdiskusi, kapan harus memberinya waktu untuk sendiri, kapan harus menyelesaikan permasalahan. tidak terburu-buru, juga tidak dibiarkan berlarut-larut.
rumah tangga itu memang seharusnya satu jalan, bukan satunya belok kiri, satunya belok kanan. namun saling menunggu untuk menyamakan jalan agar bisa terus berjalan dijalan yang sama. mereka memahami perbedaan diantara keduanya tidak menjadikan jalan mereka berubah dan berpisah.
jalan itu adalah jalan keselamatan, ketika menemukan permasalahan ditengah jalan, bukan berpisah solusinya namun komitmen untuk terus membersamai dan mencari jalan keluar untuk terus bisa bersama-sama sehidup sesurga. ahh, jangan lupa untuk tidak meninggalkan rasa butuh kepada Allaah. rasa butuh untuk terus memohon pertolongan Allaah setiap waktu.
karena pada kenyataannya, hal-hal yang kita rumit dan tidak ada solusi dengan meminta pertolongan Allaah akan terselesaikan dengan baik tanpa rasa sakit. dan sebaliknya, hal-hal yang kita kira mudah dan ringan justru menguras airmata tanpa memohon pertolongan Allaah. tidak ada yang berat dan ringan dalam rumah tangga. semuanya ada rintangannya, dan sebaik-baik seseorang yang sedang diuji adalah tawakalnya ia kepada Allaah.
jika melihat ujian rumah tangga ada pada orang lain, maka jangan lupa mendoakan untuk mereka jalan keluar yang terbaik dan berdoa agar Allaah melindungi rumah tangga kita. jika melihat kebahagiaan rumah tangga orang lain, maka jangan lupa turut berbahagia dan mendoakan atas kebahagiaannya. sebab doa-doa yang baik akan kembali kepada yang mendoakan.
selasar || 19.00
Kata untuk 2025;
Yang pergi semoga bahagia. Yang ditinggalkan, semoga kita terus baik-baik saja.
Untuk semua orang yang pernah datang, yang sempat singgah lalu menghilang dan untuk yang memilih tetap bertahan sampai sejauh ini. Terima kasih.
Kali ini 2025 usai bukan sekedar tahunnya tapi chapter beberapa orang didalamnya.
So people Come and Go. Bukan karna jahat, tapi hidup memang harus terus berjalan. Ada yang mengejar mimpinya. Ada yang menemukan rumah barunya dan ada yang memang cuman jadi kenangan baik seperti kita.
Dan aku? Lagi-lagi belajar ikhlas seraya menyampaikan: thank u for being a part of Me 2025
See u dilain waktu, di versi hidup yang lebih tenang lagi .
2026Comingsoon..
Kita ini seperti dua frekuensi yang saling mencari, tapi cuma nemu statis dan suara bising di tengahnya. Mencintaimu ternyata bukan soal seberapa keras aku berteriak, tapi tentang menyadari kalau sekat di antara kita memang terlalu tebal untuk ditembus kata-kata.
Aku lelah mencoba menerjemahkan diammu, pun kamu yang tak pernah paham maksud riuhku. Jadi, biarlah hening ini jadi cara paling jujur untuk kita saling melepaskan, sebab memaksa bicara dalam bahasa yang berbeda hanya akan membuat kita saling melukai lebih lama.
Perihal pertanyaan tentang hal apa yg paling kusukai, bolehkah kamu yg jadi jawabannya? Sebab, aku menyukai semua tentangmu.
Ujian (?)
Allah menguji kita lewat apa yang paling-paling-paling melekat dan yang paling kita cintai. Seolah Dia memang sedang menguji rasa cinta kita padaNya.
Tidak ada yang melarang manusia untuk mencintai dan saling mencinta,
Tapi hati-hatilah dalam mencintai dan meletakkan cinta.
Ketika ujian hidup terasa begitu berat, tinggal kita tengok, apa yang akhir-akhir ini paling kita cintai?. Apa yang sangat melekat dengan diri sehingga kita amat sangat takut kehilangan?.
Uang?
Jabatan?
Kekasih?
Keluarga?
Istri?
Suami?
Harga diri?
Reputasi?
Menjadi masuk akal ketika kita membandingkan, suatu hal atau sesuatu, yang kita tidak melekat padanya, menjadikannya seapa adanya tanpa ada lekat kepemilikan, lekat kontrol, ketika itu semua pergi, tidak akan terasa terlalu berat melaluinya. Bukan jadi sebuah ujian. Just, let it be.
Bayangkan kita tidak melekat pada apapun, sehingga, ketika masalah datang, itu tidak akan terasa berat, tidak berlarut.
Tak ada ujian.
Tapi apakah itu mungkin?
Terlalu melekat pada ketidakmelekatan pun bisa saja menyelinap.
Yah, lagipula, kita hanyalah manusia.
Mencintai menjadi fitrah manusia, apalagi, mencintai dunia.
Tapi, Allah juga ingin mengajarkan bagaimana melepas dunia dan ingin mengajarkan makna cinta yang lebih besar. Mengingatkan kita lewat apa yg paling melekat dan paling kita cintai, karena disitulah letak seluruh perhatian kita.
Ini hanya persinggahan, mampir saja, mendapat kesempatan nikmat dunia. Karena setelah ini kita semua akan kembali padaNya. Buat hidup sebermakna dan sebermanfaat mungkin untuk sekitar.
Seperti judul lagu,
'Jalan yang jauh, Jangan lupa pulang'
Kunci Sukses dan Kebaikan > Tidak Dengki, Iri dan Hasad
Kalau kenal sesama muslim dan mukmin yang lebih sukses entah dalam kehidupan dunianya maupun kesalehannya jangan ada rasa dengki pada mereka, dengki membuat rugi diibaratkan para Ulama, seperti kita minum racun sendiri tapi berharap orang lain yang mati.
Selalu percaya, mereka sampai di titik itu pasti telah melewati banyak hal, kalau saja kita tahu bagaimana perjuangan mereka tentu kita tidak akan iri .
Alih-alih hasad Cintailah mereka, bangun circle & koneksi dengan mereka, karena kebaikannya orang-orang baik itu menular, dan mereka yang soleh memiliki syafaat di hari kiamat. Kalau bisa sampai mencintai mereka itu lebih bagus, karena Rasulullah bersabda ‘'Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’'(HR . Bukhari)
Membangun koneksi dan relasi dengan orang2 yang menurut kita lebih baik itu bukan sebagai bahan perbandingan tapi sebagai bahan pelajaran. Maka, kita juga harus pandai memilih siapa yang mau kita bangun koneksi dan relasi tersebut, ikutilah hanya mereka yang punya visi misi mulia dalam hidupnya dan setelah matinya .