Edisi curhat : Arta 21 tahun seperti apa?
aku akan rindu, pasti, dan akhirnya menengok tulisan ini lagi, entah 5 tahun atau 10 tahun ke depan. Karena semua orang berubah, disadari atau tidak, pasti ada bagian dari kita yang akan tidak sama seperti sediakala. Tidak bicara soal itu baik atau buruk, hanya saja ya kita berubah, mau atau tidak mau.
Dan aku yang 21 tahun seperti apa?
Masih seperti Arta 16 tahun yang cinta mati sama serial andalan J.K. Rowling, Harry Potter. Menganggumi sosok Harry dan menobatkannya sebagai cinta pertama, masih pada usia segini, berpikir hal ini normal. Kita tidak bisa memilih jatuh cinta pada siapa, ingat?
Dipanggil Uni karena awalnya Arta susah diingat, menyukai panggilan itu karena tidak pernah didengar di rumah sendiri.
Masih memiliki buku yang sudah dibeli tapi tak pernah sempat untuk dibaca. Tertarik pada dunia fantasi dan sekali menyukai satu buku bisa kepikiran sebulan setelahnya, terbawa emosi hingga berharap tokoh tersebut berada di dunia nyata.
Masih menulis surat untuk Keenan, berharap bertemu dia suatu saat nanti. Lalu memberi setumpuk surat yang selama ini disimpan sebagai curahan hati.
Masih pemalas, sulit menentukan prioritas, tapi kekeuh mengenggam prinsip hidup yaitu hidup untuk bahagia dan bahagia itu tak penuh jika disimpan di dalam diri sendiri saja. Masih bisa tiba-tiba sedih tanpa tahu alasannya.
Masih suka bernyanyi dan melepas stress dengan itu. Sangat suka ide mengitari kota saat sore. Nonton bareng motogp bareng adek masih sambil teriak-teriak dan sumpah serapah.
Masih suka tiba-tiba merasa sedang jatuh cinta kalau bertemu langit biru apalagi langit senja. Masih suka cerita sambil bergerak konyol lalu membuat orang lain tertawa.
Masih sulit untuk bilang ini salah, ini benar. Masih tidak berani untuk bilang kamu salah, kamu benar. Masih sulit untuk berkata jangan begitu dong, harusnya begini dong. Masih belajar untuk bisa berani.
Masih berpikir bahwa setiap manusia di dunia ini serupa dua mata koin yang saling berseberangan tapi tetap dalam satu tubuh. Punya sisi positif dan juga negatif yang tak boleh dilewatkan begitu saja.
Lalu apa yang berubah dengan Arta 17 tahun?
Saya sadar saya tidak senaif dulu. Saya tidak sepositif dulu tentang hidup. Saya tidak bisa melewatkan kekuatiran begitu saja. Saya tidak bisa tenang tanpa berpikir suatu saat mungkin tidak akan tinggal satu rumah dengan orangtua. Saya mulai berpikir tentang hidup yang saya inginkan seperti apa. Saya mulai berpikir tentang tindakan dan konsekuensi.
Ya, manusia berubah, entah disadari atau tidak.