Jangan, Selamat Tinggal
Masih teringat jelas perihal beberapa hari yang lalu. Sebuah pertengkaran hebat mengisi ruang pertemuan terakhir, saat kita mulai melemparkan argumen dan saling membenarkan opini masing-masing. Apalagi perdebatan itu dimulai mengenai waktu yang kita miliki untuk sekadar bertemu. Jujur saja, aku lelah jika harus berdebat denganmu perihal waktu, perihal jarak. Tak mampu sudah aku menghadapi perdebatan panjang sebab hal-hal itu. Hingga, hanya kata cukup sudah, menjadi kata terakhir sebelum aku pergi tanpa menoleh ke arahmu.
Hari-hari setelah kejadian itu, tak lagi ada kabarmu mengisi ruang percakapan kita. Kita saling bungkam, saling gengsi, saling tak ingin memaafkan satu sama lain. Lalu aku seolah merayakan sepi tanpa lagi ada sosokmu yang menemani. Hingga aku sadar, tak ada yang benar-benar aku inginkan selain dirimu. Sejak saat itu aku mulai kembali mencari kabarmu tanpa harus kau tahu.
Sampai datanglah hari ini. Kita duduk berhadapan. Kau datang membawaku pada pertemuan yang tak pernah aku duga akan terjadi secepat ini. Dengan gelisah, kau jelaskan banyak hal tentang keluh kesahmu saat kita tak lagi saling berkabar. Saat itu juga, hatiku was-was, aku berharap, agar kalimat "baiklah mari kita berpisah" tidak menjadi kalimat terakhir untuk hubungan kita. Aku mulai dirundung ketakutan.
Kau jujurkan segalanya, terutama perihal aku yang selalu kau rindu. Sebab aku adalah rindu yang selalu kau tangisi ketika waktu tak lagi berpihak padamu.
Hingga akhir dari segala penjelasanmu, adalah keras kepalamu yang tetap ingin bersamaku meski dalam kondisi apapun. Sebab hadirku menjadi jawab atas segala inginmu selama ini. Sebab komitmen yang telah saling menyatukan kita tak ingin begitu saja berakhir. Sebab aku adalah sosok yang kau cintai tanpa pernah terpikir akan sebuah kehilangan.
Tangis haruku pecah ketika mendengarkan penjelasanmu, tak lagi bisa terbendung. Aku tak bisa berkata-kata. Takutku memudar, seketika itu pun bahagia melanda pikiranku. Tak pernah ku sangka kau akan sekeras kepala ini untuk hubungan kita. Lalu genggaman dan pelukan eratmu merengkuh tubuhku. Dengan lembut kau tenangkan hatiku. Kau bisikkan perihal betapa kau sangat menyayangi aku sebagaimana aku.
Sayang, terima kasih. Tak ada yang bisa aku jelaskan lagi padamu selain sungguh beruntung memiliki kamu hingga detik ini, sungguh luar biasa yang Tuhan hadiahkan padaku atas pertemuanku denganmu. Terima kasih karena telah mengajarkan arti bertahan, terima kasih juga atas segala cinta yang kau berikan padaku, aku pun mencintai dan menyayangimu jua dengan teramat sangat.




















