[6] . . Duh gelisah. Iya kopi bikin gelisah kan? Jangan sok sok an makanya; nongkrong di Café-café, order manual brew, lah emang paham kopi? . . Nah gelisahnya bukan karena kadar kafeinnya saja kan? Tapi lebih karena kau tak paham apa-apa tentang kopi. Itu juga yang jadi alasan kau memutar bola mata saat baristanya bertanya, "mau order apa kak? Manual brew, kita punya beans ini ini dan blaaaaah" Eh tadi baristanya ngomong apa sih dan akhirnya kau cuma bilang "ya ya aku order latte ya, vanila latte" . . Tapi gelisahku lebih kompleks. Aku tak paham kopi, sejujurnya. Aku bukan tipikal remaja yang berani ke tempat umum sendirian. Karena? Skip, paranoia. . . Tapi anehnya setahun terakhir aku keranjingan datang, dengan berbagai jenis orang: keluarga, teman dekat, kakak tingkat, teman jurusan, teman organisasi, sendirian, atau dengannya. . . Makanya saat berkunjung aku suka secara khusus meminta barista untuk memutarkan satu lalu. Setelah berapa kali sering datang baristanya bak sudah kenal aku berpuluh tahun, langsung memutarkan satu lagu khusus itu untukku. . . Ya setahun ini aku jarang absen dari kedai kopi. Disela kegelisahan tentang pemahaman kopiku yang minim, atau karena efek kafein yang bikin dadaku deg-deg an tak karuan tiap tengah malam, atau karena aku gelisah dianggap aneh duduk sendirian, satu kegelisahan lainnya yang lebih kompleks mulai menyapa. Hal terakhir itu yang mungkin membuatku merogoh kantong lebih dalam tiap kali datang. . . Aku hanya ingin berlama-lama di sana. Mendengarkan lagu Landon Pigg yang bercerita tentang seseorang yang jatuh cinta di kedai kopi. . . "halo Kak. Kau tersesat lagi di sini?" sapa barista untuk kesekian kalinya, sambil mulai memutarkan lagu itu khusus untukku. Aku mengedarkan pandangan, apakah dia kali ini juga datang? Baiklah mungkin aku sedang tak beruntung. . . Ya tapi, di sela-sela kegelisahanku, aku akan selalu menikmati saat tersesat berlama-lama di sini. . . @30haribercerita #30hbc1806 - - NP: Landon Pigg, falling in love at coffee shop.