Ridho orangtua Ridho Allah
Beberapa hari yang lalu saya berbincang dengan salah satu orangtua asuh saya, selepas mama meninggal, papa kerja diluar kota, merekalah yang jadi orangtua kedua saya.
Persoalan pasangan, papa kandung saya memberikan 100% kebebasan pada saya, tapi tidak dengan orangtua asuh saya, berbincang menyoal pasangan bukan perkara mudah yang bisa dilakukan seorang anak pada orangtuanya.
1 tahun lalu seorang laki-laki yang saya ridhoi agama dan akhlaknya datang melamar, tapi karena alasan finansial orangtua asuh saya belum mengizinkan untuk menikah dengan orang itu maklum kami ini orang jawa yang sudah kelamaan hidup di sulawesi jadi ada persoalan uang panaik yang menjadi kerikil dan serumit permasalahan lainnya, yang tidak bisa saya sampaikan detail.
Singkat cerita bunda saya cuma bilang : Bunda enggak mau kamu menikah hanya seperti itu, bersabarlah dulu, kamu tahu bagaimana kondisi silaturahim keluarga kita.
Lalu saya komunikasikan ini dengan pihak laki-laki dan dia memilih untuk mundur daripada berjuang, yasudahlah pikir saya.
Sedih? jelas, sedihnya itu kek kenapa sih hanya karena masalah duit harus kek gini, padahal ortu udah dipahamin soal nikah sesuai syariat dst, tapi ya begitu jadinya, belum lagi setelah kejadian itu, tidak jarang disinggung soalan jodohnya mana, kadang kesel cuma bisa gumam dalam hati ‘ kemaren ada yang datang udah sama-sama ridho tapi malah gak direstuin ini malah ditanyain soal pasangan mulu hadeuh’ sampe pada satu titik saya cuma ngomong ke bunda saya ‘ saya dicariin aja yang sesuai papa & bunda mau, selama dia masuk kriteria saya, insyaaAllah sy terima walaupun itu pilihan bunda dan papa, jadi saya gak perlu capek-capek nyari sendiri’
saya bukan tipe anak yang bisa membantah kedua orangtua saya, sekesel-keselnya saya cuma bisa diem, mau maksain kehendak takut menyakiti hati orangtua apalagi ini sebenarnya gak masuk perkara halal/haram ngambang aja.
jadi gak ada gunanya harus berbedat sama orangtua untuk makhluk yang saya sendiri gak yakin apakah dia worth untuk jadi alasan perdebatan takut menyesal berdebat dengan orangtua hanya karena ingin menikah bahagianya belum pasti dosa karena berdebat sama orangtua udah jelas, dipertimbangan saya saat itu kenapa saya gak bersikeras selain cuma diem dan manut wae dengan keputusan mereka adalah mereka bagaimanapun orangtua saya, yang merawat saya dan banyak membantu saya, saya punya kewajiban berbuat baik pada mereka.
Hari-hari dijalanin dengan tetep manut ae sama keputusan orangtua, sampai beberapa hari lalu saat saya rebahan diruang keluarga sambil nonton TV selepas pulang kerja, bunda saya bilang : suruh si … datang aja kerumah untuk bicarain resepsi pernikahan kalian, tapi tunggu pengumuman kerjamu keluar dulu. Nanti kalau uangnya masih kurang, biar papa dan bunda tambahin untuk biaya resepsi.
saya langsung melongo keheranan, sesuatu yang saya sama sekali tidak pernah prediksi akan terjadi, 1 tahun lalu bunda saya yang menolak dengan keras sekarang bisa melunak bahkan tidak segan-segan akan mengeluarkan harta sendiri.
Walaupun sejatinya si laki-laki udah punya calon lain, tapi saya tetap terharu dengan melunaknya hati bunda saya, saya gak sampaikan apa-apa soal si laki-laki itu sudah punya calon, cuma diem aja dengerin apa yang bunda saya sampaikan sambil mikir betapa mudahnya Allah membolak balikkan hati manusia.
Dimoment ini saya entah kenapa ada rasa haru bahagia sekaligus senang dan bersyukur dengan melunaknya hati bunda saya, setidaknya perjuangan saya untuk memahamkan keluarga saya menyoal urusan finansial laki-laki yang menjadi nomor sekian sudah ada tunasnya, sekalipun dia yang dulu datang tidak berjodoh dengan saya, setidaknya pandangan orangtua saya soal uang panaik bisa sedikit diperbaharui. MasyaaAllah Alhamdulillah.
Hikmah yang saya ambil kalau itu bukan pada kejelasan halal/haram, patuh aja sama orangtua, kalau kita benar-benar menginginkan sesuatu maka pakai cara yang ahsan dengan tidak merajuk, ngambek atau apapun yang menunjukkan ketidak dewasaan sikap, tetap jalani kehidupan sebagaimana biasanya, jika diperintahkan pada perkara haram diem aja, dan jangan lakuin, mungkin saya salah satu anak yang Allah kasih nikmat orangtua yang tidak neko-neko dengan syariat Islam, kalau syariat Islam bilang A, orangtua dipermudah menjalankan ketaatan hanya memang butuh waktu sedikit agar mereka mau menerima.
Ridho orangtua itu ridho Allah, sebenar-benarnya kita dalam memegang dalil, mereka tidaklah pantas dikasari, tidak pantas didebat, cukup kita tetap bersikap lemah lembut sekalipun mereka marah ke kita, kalau mereka marah diem aja udah.
Lagian nikah untuk apa sih? ridho Allah kan? beribadah kan? kalau orangtua belum izinin sekalipun kamu sudah berumur, berarti memang ada pertimbangan yang mereka takutkan menimpa kita, dan semua atas dasar rasa sayang mereka pada kita anaknya lebih baik kita introspeksi diri dan buktikan apa yang mereka takutkan tidak akan menjadi masalah dikemudian hari bagi kita.
Pakailah akal yang Allah kasihkan ke kita untuk mencari 1000 jalan, agar mereka mau menerima keputusan kita, doakan orangtua kita, karena orangtua kita itu milik Allah, segalak-galaknya bapak kita, tetap saja bapak kita itu milik Allah, tentu saja ketidak setujuan kita dengan sikap mereka tidak perlu pake acara merajuk, ngambek, tidak mau makan/minum.
Ketika mereka sudah menerima keputusan kita, bersabarlah kalau kadang diungkit haha, yah namanya juga orangtua, apalagi emak-emak.