Selalu ada yang pertama untuk semua hal. Meski yang pertama belum tentu yang terbaik, meski yang pertama belum tentu untuk selamanya. Semua dimulai dari langkah pertama. Berjalan saja pertamanya harus mengubah terlentang menjadi tengkurep, setelah itu bangkit. Tidak serta merta langsung bisa berjalan, harus merangkak dulu. Belajar berdiri di kaki sendiri, pegang sana pegang sini agar tak tersungkur. Memulai ayunan pertama yang penuh kebimbangan, ayunan kedua mulai percaya diri, ayunan ketiga terasa cepat, ayunan keempat badan tak seimbang, belum sampai ayunan kaki kelima eh, sudah jatuh. Tapi lihat! Jatuhnya tak lama, kembali berdiri dan berlatih lagi, sampai bisa berjalan sendiri, kemudian berlari. Begitupun dengan banyak momen dalam hidup; menulis, makan, sekolah, bekerja, mencintai seseorang, berteman, menciptakan pembicaraan yang menyenangkan, berkarya, bahkan patah hati pun pasti ada yang pertama kali, walaupun kini sudah ahli dalam hal disakiti. Seperti Meimei, ini pertama kali toko sembakonya tutup untuk waktu yang lama, kemungkinan akan selamanya. Karena ia akan lebih sibuk dari hari-hari sebelumnya--yang biasanya melayani pelanggan berbelanja atau sekadar memelas untuk berhutang. Kini ia harus lebih fokus untuk melayani suaminya, pasalnya setiap hari Meimei harus menyeka tubuh suaminya yang sudah tidak bisa beraktifitas seperti biasa, kapur barus di sekitar tempat tidurnya harus setiap hari diganti, lilin-lilin yang mengandung wewangian di sekeliling kamar harus ia redup-matikan per enam jam sekali, tidak lupa sisa kelopak bunga mawar kemarin harus ia bersihkan dan menaburkan yang baru setiap pagi, ia pun harus memasak dan menyiapkan makanan meski tak disentuh sama sekali, keseharian dan kesibukan Meimei hanya untuk suaminya seorang. "Gapapa, ini baru pertama. Lama-lama terbiasa." Meimei mengelus dahi suaminya yang dingin dan mulai membiru. #30haribercerita @30haribercerita #aksarannyta #30hbc2029 https://www.instagram.com/p/B74tL6jAes3/?igshid=f9d1kwajen83



















