Ruang: Seperempat Abad
Betapa waktu begitu cepat melesat. Tahu-tahu mendapati diri sudah menginjak seperempat abad. Seperempat abad! Tahu-tahu mendapati tulisan yang kutulis pada hampir 12 tahun silam di selembar kertas putih.
"..ingin rasanya aku sukses menggapai S1 di universitas tertentu dan dapat membahagiakan orang tua."
Duh.
Jika aku yang saat itu masih berada di bangku sekolah dasar mampu menuliskan hal-hal yang ingin kuraih di masa depanku yang masih jauh kala itu, seharusnya aku yang kini seperempat abad harusnya lebih mampu lagi memikirkan tahun-tahun jauh yang akan datang, memikirkan kematian seperti apa yang kuinginkan di akhir hidupku.
Capaian-capaian duniawi selalu membuat kita sibuk dan cita-cita kita dari tahun ke tahun berubah, mengalami peningkatan, dan lain-lain. Namun, apakah kita pernah merenung sudah sejauh apa peningkatan ibadah-ibadah kita?
Pernahkah bertanya dalam diri, "Aku sudah seperempat abad, tetapi selama itu pula aku hanya membaca Qur'an satu halaman perharinya."
"Selama aku hidup, aku selalu shalat lima waktu, tetapi tak pernah kucicip lengkap shalat sunnah rawatib dalam hari-hariku."
Tak ada yang berubah sama sekali, selain bulan Ramadhan barangkali.
Sementara itu cita-cita dunia kian melejit, makin mempersempit waktu-waktu ibadah kita. Cita-cita yang melejit itu, semoga selalu ditata niatnya dalam setiap pijakannya.
Ada seorang mualaf yang baru masuk islam di usianya yang kepala empat. Ia berkata, "pokoknya dalam satu hari harus ada ayat Qur'an yang saya hafal." Ia bertekad seperti itu, sebab ia merasa sudah jauh tertinggal dengan orang-orang yang memang sudah Muslim sejak dulu. Tidakkah penuturannya tersebut membuat kita malu?
Mari banyak-banyak berdialog dengan diri sendiri. Akan ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari dalam hati. Atas keresahan tentang diri yang selalu mengejar-ngejar kefanaan yang tak abadi.
_
Bdg, 2 Jan 2022 | 23.26













