Suasana di lokasi syuting sudah ramai. Para kru tampak sibuk dengan alat kerja masing-masing. Sebenarnya masih terbilang pagi untuk memulai aktivitas. Dikejar waktu nggak bisa leha-leha, begitu kata Pak Sutradara.
Di ruang ganti yang biasa disebut basecamp oleh anak-anak, sudah ada Tety si make up artist. Tety, nama sebenarnya bukan nama samaran. Dia perempuan tulen yang jago merias wajah dan pastinya lumbung gosip.
"Hai, manis!" sapanya yang membuatku pingin muntah. Untungnya aku tahan.
"Hai, Tety!" balasku. Oiya, Tety paling tidak suka dipanggil Tet. Memangnya aku bel lomba cerdas cermat? katanya dengan nada sewot.
"Ternyata di sini masih sepi," kataku sambil duduk di salah satu sofa.
"Kamu aja yang terlalu rajin," Tety sibuk mengeluarkan alat tempurnya, yaitu peralatan make up yang tidak aku paham kenapa bisa sebanyak itu.
"Hari ini dapat scene padat ya? Kemarin aku dengar dari si astrada hari ini bakal panjang. Alamat pulang subuh lagi. Cape deh!" Tety sudah dalam mode cerewetnya dengan tangan yang sibuk bergerak mengeluarkan barang-barang dari kopernya.
"Iya, begitu. Demi cuan, apapun mesti dilakukan," aku menganggapinya dengan santai. "Kostum sudah ready semua?"
Tety mengacungkan jempolnya dan kemudian menyerahkan setumpuk pakaian kepadaku. Itu adalah kostum yang harus aku kenakan hari ini.
Tubuhku rasanya remuk. Aku rasa lenganku lebam akibat berguling-guling di aspal. Hari ini betul-betul tidak ada jeda sama sekali. Adegannya padat dan ekstrim.
"Are you okay?" tanya seseorang yang memakai kostum sama denganku. Tatanan rambutnya juga sama denganku. Bahkan postur tubuhnya pun sepertiku. Sekilas tampak dari belakang kita adalah orang yang sama.
"I'm fine. Pegal-pegal aja, sih. Kamu gimana?" jawabku balik bertanya.
"I'm good. Thank you, ya. Kamu totalitas banget jadi body double buat aku," ucapnya yang kusambut dengan senyum sumringah. Entah kenapa hatiku mendadak menjadi hangat. Mungkin karena hari ini adalah hari terakhir aku menjadi dia.
Pak Sutradara melambaikan tangan dan berseru memanggil namanya, "Bey!"
"Aku ke sana dulu, ya," Bey berlari menghampiri Pak Sutradara yang sedang serius mengamati layar monitornya dengan astrada duduk di sampingnya.
"Dapat ucapan terima kasih aja, Neng?" tanya Tety yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku. Ada nada mengejek dalam pertanyaannya.
"Dapat cuan juga, Tety. Aku di sini bukan sukarelawan ya, ingat itu. Aku kerja," jawabku dengan nada penekanan di kalimat terakhir. Memang begitu kenyataannya.
Kalian bisa menebak apa pekerjaanku, 'kan? Bey tadi sudah bilang, body double. Mungkin ada yang lebih familiar dengan stuntmant? Nah, itulah pekerjaanku saat ini.
Aku menjadi pemeran pengganti bagi Bey, si aktris muda yang baru saja naik daun, dalam film action pertamanya. Dia harus tampil maksimal dan memukau di layar kaca. Begitu pun aku harus tampil totalitas dalam adegan berbahaya yang melibatkan dirinya dalam film ini. Biar pun wajahku tidak muncul di layar bioskop nanti, hanya namaku saja di credit title, peranku cukup penting, 'kan?
Menjadi seorang stuntmant atau body double para aktris tidak membuatku berkecil hati. Meskipun pada awalnya aku merasa iri dengan mereka. Namun, lambat laun aku menyadari bahwa apapun peran kita itu bermakna. Aku belajar menjadi pribadi yang lebih bisa mensyukuri hidup dan menjalaninya dengan lapang dada.
Ada pemeran utama dan pemeran pengganti. Aku mungkin menjadi pemeran pengganti untuk Bey. Tetapi, aku tetap menjadi pemeran utama dalam kisah hidupku.