[Book Review] Novelet Madre
Tahun: 2015 (cetakan pertama)
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Aplikasi: Google Play Books
Halo - halo.. welcome to my first fiction book review. Before we get into the review, let me make a humble confession! Madre adalah buku fiksi kedua yang gw baca setelah 30+ tahun lahir ke dunia. Hal itu karena gw tim non-fiksi. Bukannya tidak menikmati buku fiksi, tapi entah mengapa, suka banget menunda baca kalau baca buku fiksi. Beda kalau baca buku non-fiksi, rasa - rasanya satu hari beratus - ratus halaman bisa gw lahap dengan mudah.
Pas ditugaskan untuk mereview buku fiksi oleh Mas Gun dan Mbak Dhewi sebagai bagian dari Writing & Publishing Workshop Career Class 2023, langsung senang! Iya, karena akhirnya gw "dipaksa" untuk membaca another buku fiksi.
Jujur aja, I enjoy reading fictions! Novel pertama yang gw baca itu Gadis Kretek, dan suka banget dengan alur cerita, jalan cerita, cara berceritanya. Tapi ya itu dia, seperti yang gw bilang di atas, otak ini rasanya sulit melanjutkan membaca buku fiksi, lambat dan berlarut - larut. Hari ini aja baca buku Madre yang se"tebal" 193 halaman, I needed more than 6 hours time reading! Mulai dari pagi, terus dilanjutkan siang, terus sore. Cape!
But anyway, let's get back to business! Haha.. Marilah kita mulai mereview Novelet Madre karya Dee Lestari. Oya, I also need to make another confession! Buku yang gw beli sebenarnya bukan Novelet Madre, tapi Madre: Kumpulan Cerita. Jadi di buku itu, ada 12 cerita lain selain Madre. Tapi karena tugas sepertinya membedah cerita, jadi aku milih untuk mereview Novelet Madre, yang memang ceritanya hanya 1 cerita saja, Madre.
Cerita Madre ini sebenarnya cerita pendek dengan alur yang panjang, menceritakan bagaimana seorang bernama Tansen yang hidupnya berubah 180 derajat karena satu warisan yang diperoleh dari orang yang awalnya tidak dikenal. Warisannya bukan aset properti ataupun uang kas atau tabungan atau deposito atau aset - aset warisan pada umumnya. Tapi suatu biang yang hidup dan disimpan rapi dalam stoples kaca berukuran besar.
Apa itu biang? Biang itu sama dengan ragi, untuk membuat roti. Saat ini, ragi yang digunakan kebanyakan ragi instan. Tapi Madre ini biang yang sudah dibuat sejak tahun 1970an, oleh neneknya Tansen, yang meninggal tak lama setelah ibunya Tansen lahir, dan ibunya Tansen meninggal tak lama setelah Tansen lahir. Jadi cerita yang diketahui Tansen mengenai Neneknya ataupun Ibunya, tak banyak. Ayahnya adalah seorang berjiwa bebas yang melepas Tansen tanpa memeliharanya. Jadi Tansen ini tidak tahu apa - apa mengenai silsilah keluarganya.
Biang ini diwariskan oleh Kakek aslinya Tansen yang baru saja meninggal, yang sebenarnya sempat pacaran dengan Neneknya Tansen si pembuat biang Madre. Tapi karena tidak disetujui, mereka pisah dan dari biang yang dibuat Neneknya Tansen yang disimpan, Kakeknya Tansen membuka toko roti bernama Tan der Bakker yang sukses berpuluh - puluh tahun. Kakek ini memiliki keturunan lain, tapi karena biang ini ingin diwariskan kepada keturunan Neneknya Tansen, jadilah diwariskan ke Tansen.
So, bagaimana cerita Tansen setelah mewarisi biang Madre? Apa saja konfliknya? Hidup Tansen yang sebelumnya lepas bebas sebagai pekerja serabutan (minjem istilah Pak Hadi), berubah juga ketika diserahi tanggung jawab mewarisi Madre, karena Madre ini hidup dan bisa mati jika tidak diurus. Juga apakah ada kisah cinta dengan Mei, gadis yang memiliki toko bakery The Fairy Baker yang terkenal? Nahhhh.. itulah.. gw anjurin untuk baca, karena iyes seru!
Untuk Point of View ceritanya, bercerita dari PoV orang pertama, aku yang adalah Tansen.
All in all, ide cerita mengenai warisan biang, buat gw adalah ide yang menarik dan rasanya jarang dieksplor. Tulisan Mbak Dee juga istimewa di novelet Madre. Setiap karakter, mulai dari tokoh utama, Tansen, dan tokoh pendukung utama seperti Pak Hadi dan Mei, juga tokoh pendukung lainnya, para pekerja yang sudah lama bekerja di toko roti Tan der Bakker, diceritakan dengan kaya, kaya deskripsi, kaya karakter, memudahkan imajinasi gw mampu membayangkan lokasi, tempat, situasi saat itu, adegan per adegan, bahkan bau yang kecium dari toko roti juga bisa gw cium! Yang bikin menarik sebagai tim fiksi, sedikit banyak novelet ini berkonten sains, membuat gw yakin bahwa novelet ini dibuat tidak hanya mengandalkan perasaan, tapi juga pengetahuan atau riset Mbak Dee Lestari.
Jujur, selama tugas menulis kelas Writing & Publishing Workshop, gw hanya mengandalkan imajinasi dan perasaan untuk menulis. Tapi Mbak Dee Lestari, menggabungkan riset atau mungkin pengetahuannya yang mumpuni mengenai ilmu bakery dan mengolahnya menjadi cerita Madre. Novelet seperti inilah yang bisa pelan - pelan menghantarkan gw untuk menambah pengetahuan berbalut cerita.
Untuk rekomendasi, gw kasih rekomendasi untuk baca Madre ini! Juga untuk novel Gadis Kretek! Novel fiksi pertama yang gw baca.
Hmmm.. jadi penasaran untuk karya Mbak Dee Lestari lainnya.. Ada rekomendasi teman - teman kah what next fiction should I read and review? Please leave comment below yaaa...
Until then, stay blessed and be blessings!