Aku Dewasa Tanpa Ingin #2
“Bye Abang, hati-hati berangkat kerjanya” aku melambai kearah abangku sebelum mobil terbangnya mulai tidak terlihat akibat tertutup awan. Lokasi boarding classku terletak antara lapisan stratosfer dan mesosfer bumi.
“Hati-hati Bang Zidan” tiba-tiba Raffan sudah berdiri dibelakangku.
“Kamu udah izin ibumu kalau minggu depan kita berencana tamasya ke Taman Bizari?”
“Udah, ibuku langsung setuju, Tante Zasha gimana? Kamu jadi ikut ngga?”
“Ikut dong, kalau ngga ikut, nanti siapa yang jagain kamu” dia mulai menggodaku.
“Dih, aku bisa jaga diri sendiri ya, kamu ikut atau engga juga ngga ngaruh” aku mengelak, walau sebenarnya aku lega karena ia ikut.
“Weh, Raf, Ra. Udah sampe aja kalian, berangkat barengan ya ?” Ibad menghampiri kami sambil menggerakkan sayapnya. Ia sahabat kami dari golongan peri. Kadang aku berangan-angan ingin seperti Ibad dan Seril, mereka tidak perlu capek berlari atau berenang untuk melintasi sungai. Mereka hanya perlu menggerakkan sayapnya dan terbang melintasi sungai.
“Raffan yang duluan sampe, tadi aku belakangan dianter Bang Zidan” aku segera menjawab, sebelum Raffan memancing kedongkolanku berikutnya.
“Wkwk, okedeh, sampai jumpa dikelas nanti yaa” Ibad melirik kearah Raffan, kemudian mereka berdua meninggalkanku yang masih berdiri di depan gerbang asrama.
Aku menunggu Seril, Yasmin dan Delphine sahabatku. Tiba-tiba sebuah cemilan coklat jatuh diatas kepalaku, saat kupegang cemilan tersebut berubah menjadi asap yang membentuk tulisan “CIEEEEE”. Saat kudongakkan kepalaku, ternyata para sahabatku sudah cekikikan dari atas jendela kamar kami. Ini pasti ulah Yasmin yang melempar cemilan coklat kearahku lalu merubahnya menjadi asap. Yasmin adalah sahabarku dari golongan penyihir, dia bisa merubah bentuk apapun sesuai keinginannya. Menyebalkan bukan! Dan aku baru sadar kalau sebenarnya mereka sudah mengetahui kedatanganku, mereka sengaja tidak memanggilku supaya aku dan Raffan berbincang lebih lama. Dasaar! Seril kemudian menghampiriku untuk menjemput naik keatas menggunakan sayapnya.
Di kamar, sahabat-sahabatku tenyata sudah menyiapkan mini pesta yang dipenuhi dengan cemilan dan coklat. Ini adalah rutinitas kami setiap selesai liburan, hal ini jadi salah satu yang membuatku selalu merindukan asrama dan sahabatku, walau mereka kadang menyebalkan 😊.
“Ssst! Jangan terlalu nyaring ges, nanti Nyonya Quel akan menghampiri kamar kita dan membuat kita harus membersihkan lapangan lagi seperti minggu lalu” Delphine mengingatkan kami, ia sahabatku dari golongan lyra. Ia memiliki kemampuan mendengar ultrasonik seperti lumba-lumba. Ia mampu mendengar hingga ratusan kilometer. Namun kemampuannya akan melemah ketika sebagian tubuhnya terkena air.
“Oh iya! Oke oke. Gimana ges? Minggu depan kita jadi Tamasya ke Taman Bizari kan” Yasmin mengonfirmasi rencana liburan kami.
“Jadii dong!” kami semua menjawabnya hampir berbarengan.
“Aku udah ngga sabar banget, ingin berkunjung ke istana Dewi Kretiva, ibuku langsung menyetujuinya saat aku izin ingin tamasya ke Taman Bizari.
“Sama Ra, aku juga. Aku dan Roger juga langsung mendapat izin dari Ayah kami” Seril menimpali. Roger adalah kembarannya, dan sahabatku juga. Meskipun Seril seorang peri, namun Roger termasuk golongan lyra. Orang tua mereka dari golongan yang berbeda, sama seperti orang tua Raffan. Ibu mereka dari golongan lyra, dan ayahnya dari golongan peri.
“Yeay asik! Sepertinya tamasya kali ini akan sangat seru” Delphine setengah berteriak, sambil melirik kearah Yasmin kemudian kearahku dan Seril.
Setelah selesai kelas, kami langsung menuju kantin untuk makan siang, sekaligus berdiskusi project kelas yang baru saja disampaikan oleh Tuan Trutha tadi.
“Ges, gimana kalau renacana kita ke Taman Bizari kita jadikan sebagai tugas project kita?” Ahkaf memulai pembicaraan sambil merubah sumpit yang dipegangnya menjadi sebuah garpu, lalu ia melahap potongan melon dihadapannya. Ahkaf, Roger, Ibad, dan Raffan, mereka satu kamar di asrama. Jadi sudah tidak heran lagi, mengapa mereka saling akrab sebelum dipertemukan di ruang kelas.
“Menarik tuh, kita coba analisis masalah apa saja yang dialami oleh penduduk di Taman Bizari. Kemarin Ayahku bilang, katanya Dewi Kretiva sedang kewalahan mengatasi masalah-masalah yang terjadi disana” Roger menyampaikan argumennya. Ayah Roger dan Seril adalah seorang detektif terkenal dan ternama di negeri kami.
“Aku juga setuju, akan lebih bermanfaat jika tamasya kita dijadikan sebagai kegiatan untuk membantu orang lain” Ibad menimpali.
“Boleh, ayok kita susun rencana lebih detail dan tersrtuktur lagi daripada sekedar rencana tamasya. Mungkin ini juga akan sedikit lebih menantang dan menguji kemampuan kita” Delphine datang sambil membawa 2 piring cookies keju, dan langsung memberikan usulan. Ia sudah mendengar percakapan kami dari sejak ia mengantri cookies.
“Ayok, aku jadi tidak sabar nih, apalagi tadi Tuan Trutha juga menyampaikan kalau minggu depan masa liburan kita diperpanjang menjadi 21 hari” Raffan mulai bersuara.
Kemudian mereka semua menoleh kearahku, yang dari tadi hanya menyimak sambil berfikir. Juju sebenarnya aku masih ragu, aku merasa tidak memiliki kemampuan unik seperti teman-temanku, aku takut jika nanti bukannya malah membantu tapi malah menyusahkan.
“Mulai deh overthinkingnya” Yasmin menggodaku seakan sudah membaca semua isi kepalaku.
“Ayolah Ra, dengan kemampuanmu, pasti akan sangat membantu project ini nantinya” Seril berkata sambil memegang tanganku.
“Hmm, baiklah, kita coba ya, tapi aku ingin mengajukan beberapa syarat yang harus dipatuhi oleh kita semua” Akhirnya aku menyetujuinya dengan bersyarat.
“Eira banget deh, suka nih kita, apa aja tuh syaratnya” Ahkaf penasaran dengan syarat yang akan kuajukan.
“Baiklah, syaratnya ada 3, pertama: apapun yang terjadi nanti, kita tidak akan bertengkar dan meninggalkan, kedua: kalau ada yang merasa sakit atau tubunya capek, harus langsung diutarakan dan tidak boleh menahan sendirian, ketiga: kita disini sama-sama belajar, jadi tidak ada yang lebih pintar atau lebih bodoh, apakah kalian setuju”
Kulihat Raffan tersenyum kearahku dengan tatapan yang sangat tulus.
“SETUJU !!” mereka menjawab dengan sangat kompak
“Untung kita punya Eira, dia sudah jauh lebih memikirkan apa saja kemungkinan yang akan terjadi nanti” Delphine mencubit gemas pipiku. Aku memang dikenal memiliki bakat sebagai detektif dan ahli syaraf.
“Oke baik, sekarang kita habiskan dulu yuk makanan kita, sebelum nanti bel masuk bunyi, kan tidak lucu kalau nanti dikelas malah kelaparan, kelas berikutnya sampai malem ya ges”
Karena ia yang memulai, Ahkaf merasa ia perlu menutup diskusi kami siang ini, atau mungkin dia juga sudah tidak sanggup berfikir karena menahan lapar.