Membuka youtube dan melihat unggahan video Mei 2018 saat perjalanan ke Jogja. Entah terbuat dari apa, setahun sehabis menamatkan sarjana, Jogja menuntunku dan Dewi untuk kesana. Meski tidak direkam dengan kamera proper, saat dilihat lagi tetap membekas rasanya. Rasanya, baru tahun kemarin wisuda S1 di Sabuga, ternyata sudah 5 tahun lamanya.
Jogja memang layak untuk disinggahi sebab punya 'sesuatu' didalamnya. Jogja menjadi saksi bagaimana aku akhirnya menjadi biasa pulang pergi sehari untuk tes beasiswa. Berangkat jam 11 malam sendirian supaya pagi tiba disana. Lalu, langsung pulang karena esoknya harus bekerja.
Melalui sudut pandang seorang pendatang, Jogja memang istimewa. Keramahannya tergelar lugas di jalan-jalan pusat kota. Cukup "bawa aku jalan, jalan kaki saja menyusuri kota", maka akan ada jawaban untuk tiap tanya yang selalu dibawa ke Jogja.
Jogja layak dirindukan banyak pasang mata. Yang entah sedang patah-patahnya atau jatuh terbalut romansa. Atas segala hal yang membekas karena Jogja, segala kisah yang dituliskan oleh Jogja, segala rasa yang dibentuk melalui keriuhan kotanya, sudah seharusnya Jogja tetap terawat seperti seharusnya. Baik kotanya maupun perasaan yang menyelimutinya.










