Titip Rindu Ke Tanah Suci, 78.000 jadi 68.000. Dikirim dari Jogja. Pemesanan chat kami di bit.ly/085933138891 #agukirawanmn #haji #bukularis #bestseller #jualbukularis #jualbukudiskon #mekkah #madinah (di Toko Buku Hamdalah)
seen from China
seen from China

seen from United States

seen from Singapore

seen from Switzerland
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Sweden
seen from Germany
seen from Malaysia

seen from Switzerland
seen from Switzerland

seen from Singapore
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Iraq
seen from Switzerland
seen from Malaysia
seen from Hong Kong SAR China
seen from China
Titip Rindu Ke Tanah Suci, 78.000 jadi 68.000. Dikirim dari Jogja. Pemesanan chat kami di bit.ly/085933138891 #agukirawanmn #haji #bukularis #bestseller #jualbukularis #jualbukudiskon #mekkah #madinah (di Toko Buku Hamdalah)
Senandung Bisu, 85.000 jadi 74.000. Dikirim dari Jogja. Pemesanan chat kami di bit.ly/085933138891 #agukirawanmn #jualbukularis #jualbukudiskon (di Toko Buku Hamdalah)
Senandung Bisu, 85.000 jadi 74.000. Dikirim dari Jogja. Pemesanan chat kami di bit.ly/085933138891 #agukirawanmn #jualbukularis #jualbukudiskon (di Toko Buku Hamdalah) https://www.instagram.com/p/BmzZ0ybhUjE/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=jm6yjwpicxbi
#repost @mrridho01 Jangan diungkit-ungkit, itulah inti kebahagiaan jiwa dari dua insan yang telah menikah. Masa lalu adalah masa lalu, masa yang telah lewat. Terhadap masa lalu, suka maupun duka, sengsara maupun bahagia, cerita cinta maupun patahnya hati, meski tak mungkin mudah dilupakan, tetapi harus direlakan. (halaman 53) Sakitnya hati karena cinta yang patah di tengah jalan, lambat laun membuatnya tersadar bahwa apa yang dialaminya haruslah ia terima. (halaman 68) Seandainya seseorang tahu akibat dari perbuatan buruk yang dilakukannya, bisa jadi itu akan mencegahnya untuk melakukan perbuatan tersebut. (halaman 71) Namun fakta adalah sesuatu, sedangkan isu adalah sesuatu yang lain. Isu seringkali tak sesuai dengan fakta (halaman 87). Begitulah. Sesungguhnya yang diperlukan hanyalah mengatasi keraguan. Keraguan itu terkadang perkara yang ringan: segera lakukan suatu perbuatan, maka keraguan itu akan hilang. Semakin lama dipikir, semakin kuat keraguan mencetak, akhirnya perbuatan tak juga dilakukan (halaman 132) Jika kita selalu mendengar apa kata orang tentang kita, maka kita tak akan pernah maju (halaman 167) Tak jarang angin membawa jauh buah itu dari pohonnya (halaman 217) O, ini mungkin dahsyatnya menjenguk orang yang sakit. Di sinilah, mungkin, hikmah mengapa baginda Rasulullah ShallaAllahu 'Alaihi Wa Sallam mewajibkan umatnya untuk menjenguk orang yang sakit. Obat sakit memang tergantung jenis penyakitnya, tetapi jiwa orang yang sakit akan memburatkan semangat dan kebahagiaan bila orang-orang datang menjenguknya (halaman 217) Kutipan-kutipan dari buku Titip Rindu Ke Tanah Suci karya Mas Ustadz @agukirawanmn terbitan @bukurepublika. Ohya, untuk yang di Bondowoso sekitarnya, buku ini bisa dibaca di @rumahbukutamancahaya ya 🙏🙂 * Dapatkan info lebih banyak tentang buku lainnya, review, quotes dan info kuis atau giveaway berhadiah buku silakan bergabung ke channel telegram Buka Buku Buka Dunia bit.ly/bukabukubukadunia #ngabukuread #ayobacabuku #literasi #tamanbaca #pustakabergerak #bondowosorepublikkopi #bondowosomembaca #agukirawanmn #bukurepublika #penerbitrepublika #bookstagram #bookreviewer #bloggerbuku #bookaddict #bookindo (di Toko Buku Hamdalah)
Kartini : Kisah Yang Tersembunyi
Membaca novel Mas Aguk Irawan MN membuat saya kian insyaf akan pergolakan batin dan cinta seorang Kartini.
Betapa cemerlangnya pikiran Soekarno ketika menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, kemudian diubah menjadi Pahlawan Nasional di era Soeharto. Karena Kartini bukan sekadar pejuang emansipasi perempuan.
Surat-surat Kartini berkisah lebih luas lagi. Perihal sosial bahkan politik – otonomi, persamaan hukum dan pendidikan semesta sebagai jalan keluar membebaskan penderitaan pribumi. Kini saya semakin paham dari mana gagasan-gagasan Kartini yang melampaui zamannya itu mengakar.
Bersenjatakan pena dan kertas, Kartini mengembuskan badai di Eropa. Surat-surat Kartini dibukukan oleh Mr. J.H. Abendanon, ketika itu menjabat Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht - Dari Kegelapan Menuju Cahaya diterbitkan pada 1911, selepas Kartini wafat.
Jasad boleh terkubur, tetapi gagasan justru membuncah. Van Deventer, tokoh politik etis, terinspirasi oleh buku itu. Ia kemudian menggagas pendirian Sekolah Kartini. Mula-mula di Semarang pada 1912, kemudian menyebar ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.
Pena dan kertas itu pula yang meluluhkan Gubermen Hindia Belanda untuk mengalihkan beasiswa belajarnya ke Nederland kepada H. Agus Salim –pemuda miskin cerdas yang tidak dikenalnya secara fisik dan berasal dari Minangkabau yang tidak memiliki jejak sejarah dalam keseharian Kartini.
Belakangan sahabat H.O.S Cokroaminoto itu menapik rekomendasi Kartini. Alasannya demi menggugat diskriminasi Gubermen Hindia Belanda yang menganakemaskan keluarga bangsawan. Namun, nurani siapa yang bisa menyangkal ketulusan belas kasih Kartini?
“Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Ketika kejahatan dilakukan, nurani kamilah yang menghukum kami. Ketika kebajikan dilakukan, nurani kami pulalah yang mengganjar kami.”-Kartini
Lewat novel ini, Mas Aguk Irawan MN juga bertutur tentang seorang perempuan yang dituduh antek-antek Yahudi, tetapi menginspirasi penerjemahan perdana Alquran di Nusantara oleh Kiai Soleh Darat.
Kisah rentetan pemberontakan yang berpadu dengan semangat belajar meluap-luap seorang Kartini, yang justru dihantam “malang” akibat status kebangsawanannya. Mengapa perempuan Jawa berpola pikir Eropa malah rela dipoligami? Mengapa penjara pingitan justru membuat Kartini kian digdaya?