Membaca novel Mas Aguk Irawan MN membuat saya kian insyaf akan pergolakan batin dan cinta seorang Kartini.
Betapa cemerlangnya pikiran Soekarno ketika menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, kemudian diubah menjadi Pahlawan Nasional di era Soeharto. Karena Kartini bukan sekadar pejuang emansipasi perempuan.
Surat-surat Kartini berkisah lebih luas lagi. Perihal sosial bahkan politik – otonomi, persamaan hukum dan pendidikan semesta sebagai jalan keluar membebaskan penderitaan pribumi. Kini saya semakin paham dari mana gagasan-gagasan Kartini yang melampaui zamannya itu mengakar.
Bersenjatakan pena dan kertas, Kartini mengembuskan badai di Eropa. Surat-surat Kartini dibukukan oleh Mr. J.H. Abendanon, ketika itu menjabat Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht - Dari Kegelapan Menuju Cahaya diterbitkan pada 1911, selepas Kartini wafat.
Jasad boleh terkubur, tetapi gagasan justru membuncah. Van Deventer, tokoh politik etis, terinspirasi oleh buku itu. Ia kemudian menggagas pendirian Sekolah Kartini. Mula-mula di Semarang pada 1912, kemudian menyebar ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.
Pena dan kertas itu pula yang meluluhkan Gubermen Hindia Belanda untuk mengalihkan beasiswa belajarnya ke Nederland kepada H. Agus Salim –pemuda miskin cerdas yang tidak dikenalnya secara fisik dan berasal dari Minangkabau yang tidak memiliki jejak sejarah dalam keseharian Kartini.
Belakangan sahabat H.O.S Cokroaminoto itu menapik rekomendasi Kartini. Alasannya demi menggugat diskriminasi Gubermen Hindia Belanda yang menganakemaskan keluarga bangsawan. Namun, nurani siapa yang bisa menyangkal ketulusan belas kasih Kartini?
“Tuhan kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani. Ketika kejahatan dilakukan, nurani kamilah yang menghukum kami. Ketika kebajikan dilakukan, nurani kami pulalah yang mengganjar kami.”-Kartini
Lewat novel ini, Mas Aguk Irawan MN juga bertutur tentang seorang perempuan yang dituduh antek-antek Yahudi, tetapi menginspirasi penerjemahan perdana Alquran di Nusantara oleh Kiai Soleh Darat.
Kisah rentetan pemberontakan  yang berpadu dengan semangat belajar meluap-luap seorang Kartini, yang justru dihantam “malang” akibat status kebangsawanannya. Mengapa perempuan Jawa berpola pikir Eropa malah rela dipoligami? Mengapa penjara pingitan justru membuat Kartini kian digdaya?
Saya membayangkan pada malam Natal  itu, 24 Desember 2010, Riyanto mengecup punggung tangan sang Ibu, Katinem. Mohon restu untuk bertugas menjaga malam perayaan natal gereja-gereja. Mengendarai vespa merah, Riyanto sampai di Gereja Eben Haezer, Mojokerto. Ia hendak bertugas bersama tiga rekannya sesama BanserNU
Menjelang tengah malam, seorang jemaat menemukan bungkusan tak bertuan di depan pintu masuk gereja. Di hadapan petugas keamanan, Riyanto membuka bingkisan itu. Sekonyong-konyong terbit percikan api. “Tiarap!,” teriaknya sigap.
Riyanto tergopoh-gopoh keluar. Ia mencampakan bungkusan bom itu ke tong sampah. Nahasnya, meleset. Bukannya menjauh, Riyanto malah kembali memungut bom itu. Ia menamengkan dirinya. Â Sekali lagi, hendak melemparkan bom itu jauh-jauh.
Tetapi apa mau dikata? Tuhan punya kuasa. Bom itu meledak dalam pelukan sulung dari 7 bersaudara  itu. Korban berjatuhan, tetapi khalayak maklum. Tanpa pengorbanan Riyanto jumlah korban akan lebih besar.
Butuh segunung keberanian untuk bertaruh nyawa, dan bertaruh nyawa untuk keselamatan kalangan yang bukan “siapa-siapa” boleh jadi adalah salah satu puncak keberanian. Riyanto sudah melintasi gunung toleransi. Ia bukan sekadar menghargai perbedaan, melainkan mengorbankan diri untuk memperjuangkan harmoni dan sinergi atas perbedaan itu.
Keruan, heoisme ini mengingatkan saya pada wejangan K.H. Abdurahman Wahid.Â
“Tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”
Jika kejadian ini ditarik pada situsi-kondisi kekinian, tentu jadi pangling. Dua bulan terakhir ini, bangsa kita dihantam dengan isu Bhineka. Baik media mainstrem maupun sosial media  terus menggulirkan sintemen agama dan etnis.
Keteledoran-keteledoran kita merawat toleransi menjadi sasaran empuk untuk objek umpat-hujat. Bangsa ini mendadak menjadi begitu mahir mencari-cari kesalahan, tetapi seolah buta akan prestasi-prestasi toleransi dalam sejarah kita. Framing! Demi menghujat, informasi yang disebar sepotong-sepotong. Dan celakanya, sentimen ini mulai bergerak menjadi aksi baku bully; saling serang.
Bahkan cacing yang diinjak pun akan menggeliat. Permasalahannya, siapa yang jadi cacing? Siapa yang jadi sepatu bot? Jangan-jangan, kita malah menyandang standar ganda; menjadi korban sekaligus pelaku. Atau yang parah: berlagak menjadi korban, tetapi sebenarnya pelaku.
Atau jangan-jangan semua ini sejatinya berada di luar keinginan kita? Jangan-jangan ada operasi  intelejen yang dilakukan untuk membuat situasi-kondisi terus memanas? Terus-menerus membayurkan kegentingan amat sangat. Padahal levelnya masih di ambang batas yang bisa kita terima. Level di mana kita bisa bersikap bijak dengan berkata “biar polisi yang mengurus”, bukan malah terseret dalam aksi menyiramkan bensin ke api yang berkobar.
Amatilah baik-baik! Tiga isu yang belakang ini menyibukan ruang publik kita : PKI, Tiongkok dan Agama. Â Makin celaka, ketiga isu ini ditarik-tarik ke dalam aras politik.
Politik memang asyik, sampai-sampai kita kerap “kehilangan” diri kita sendiri. Dalam membalas kritik kebijakan pemerintah contohnya. Saya sempat menikmati aksi adu argumen di media sosial, termasuk di kolom-kolom kompasiana.
Belakangan kenikmatan ini lenyap akibat kehadiran kaum buzzer pejuang, yang kental aroma afiliasi politiknya, tetapi enggan beradu argumen secara beradab. Dulu, strategi mereka adalah mengalihkan subtansi tulisan ke arah ketiga isu ini; Â bahwa yang tidak sependapat dengan mereka artinya memberangus bhineka tunggal ika. Belakangan lebih parah, bukan argumentasi yang dibangun, melainkan strategi umpat-hujat.
Hukum aksi-reaksi terjadi. Mereka yang diserang, akhirnya balas menyerang.
Kembali ke laptop, menurut saya, kondisi Indonesia tidak segenting penampakan di media sosial. Mayoritas masyarakat Indonesia masih memiliki nalar yang cukup untuk memfilter segala keriuhan yang menghabiskan energi itu.
Tentu saja masih ada letupan-letupan. Tidak ada gading yang tak retak. Tetapi  segenapnya masih bisa diselesaikan secara pancasialis –musyawarah baru kemudian hukum positif. Kendatipun, perlu pula digarisbawahi : jangan pula dipanas-panasi.
Hal ini berpijak pada pengalaman saya menyambangi kawasan –kawasan non muslim, bahkan daerah bekas konflik. Jangankan tindakan, bahkan ucapan yang menyinggung SARA tidak pernah saya terima. Pada banyak tempat saya mendengar kisah-kisah keluarga besar yang para anggotanya memiliki agama yang beraneka, dan undang-mengundang pada perayaan hari besar masing-masing.
Yang paling dekat, ketika anak tetangga saya yang non muslim wafat, tidak ada tetangga-tetangga saya yang memrotes penyelengaraan peribadatan itu. Kendatipun dilakukan di rumah, dan berlangsung sampai malam hari pula. Bahkan kami bergotong-royong untuk menegakan tenda besar untuk menaungi para tamu.
Kalau gagasannya mau diperluas, kita bisa berpijak pada penghormatan kaum Islam pada sidang BPUPKI yang menerima Pancasila sebagai dasar negara. Lalu, pada sidang PPKI yang pertama, semua orang sepakat akan redaksional “Ketuhanan Yang Maha Esa” untuk sila pertama Pancasila. Belakangan, kita juga sepakat bahwa kalangan Tionghoa, baik secara etnis maupun agama Konghucu, menjadi bagian dari keragaman bangsa.
Saya pikir semua itu sudah final. Â Dan kewajiban kita sebagai warga negara adalah menyinergikan segenap potensi yang terkandung dalam keragaman itu untuk membantu pemerintah mencapai tujuan Negara Indonesia, negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Bukan malah ribut perihal siapa yang paling paham kebhinekaan.
Sebagai penutup, izinkan saya mengingatkan konsep kepahlawanan baru yang beberapa waktu silam sempat menghinggapi sanubari kita. Semua orang bisa jadi pahlawan! Caranya dengan menebar manfaat sesuai dengan latarbelakang kita masing-masing. Produktif dalam berpikir dan bertindak dalam merawat toleransi dan membangun sinergi antar perbedaan itu. Dan saya amat yakin kalangan seperti ini amat banyak di negeri kita yang sayangnya belum tersentuh media.
Saya pikir ini cara yang paling terjangkau bagi kita untuk meneladani heroisme ala Riyanto. Tidak muluk-muluk, tetapi memiliki efek bola salju.
Akhir kata, izinkan saya mengucapkan selamat merayakan Natal  untuk kawan-kawan yang merayakannya. Salam!
Kali kedua bertemu Bang Harry, demikian sapaan saya untuk Harry Azhar Azis, ketika saya mendampingi Eko Sarjono Putro, anggota DPR dari Fraksi Golkar. Ruang kerja bos saya berada di dekat mulut koridor, bertetangga dengan Nurul Arifin. Sementara ruang kerja Bang Harry ada di sudut, berhadapan dengan ruang Nusron Wahid.
Waktu itu saya acap melihat Bang Harry mondar-mandir di koridor. Nyaris setiap hari.  “Sepuluh menit sebelum jam sidang, Pak Harry pasti sudah hadir di ruangan,” kata Simon, rekan TA yang sudah berkutat di gedung parlemen sejak tahun 1999.
Anggota DPR yang giat bersidang relatif jarang. Kebanyakan pakai prinsip ala Fahri Hamzah -kehadiran untuk voting right, hadir untuk mengambil keputusan. Barangkali pernyataan Fahri lebih untuk mendongkrak citra para koleganya di DPR. Dalam beberapa sidang di Komisi II, saya menemukan Fahri Hamzah diperbantukan oleh FPKS.
Yang jelas, Bang Harry jauh dari demikian. Sejak jadi anggota DPR biasa, ia ogah titip absen. Ia bersidang bukan untuk “dihitung” melainkan mewarnai, terlibat penuh dalam perumusan perundang-undangan. Sesuai dengan amanahnya sebagai anggota DPR..
Belakangan juga saya ketahui, Bang Harry adalah anggota DPR yang tidak pernah dipanggil KPK. Baik saat menjabat Wakil Ketua Komisi XI, atau ketika mengemban amanah sebagai Ketua Banggar DPR.
Ketika Bang Harry gagal terpilih pada pileg 2014, semua orang terkejut. Kepri adalah kampung halamannya. Perjuangan Bang Harry untuk membangun propinsi pemekaran Riau itu sudah dirintis sejak 2004, mungkin lebih jauh lagi.
Muncul desas-desus kalau gugatan Bang Harry akan dikabulkan MK. “Ada saksi kuat,” begitu kabar burung itu berembus. Tetapi Bang Harry tidak mau ambil pusing. Ketika para anggota DPR yang gagal terpilih kembali seolah raib dari gedung senayan, Bang Harry malah kian asyik menuntaskan masa akhir tugasnya. Amanah sampai akhir. Barangkali karena integritasnya ini, Tuhan kemudian memberikan Bang Harry amanah baru, Ketua BPK RI. Â
Jadi ketika Uda Indra J. Piliang mengajak saya untuk terlibat dalam tim penulisan biografi Bang Harry, bersama Revi Marta Dasta dan Ahan Syahrul, saya langsung membuka laptop. Saya teringat ungkapan Toni Morrison, perempuan kulit hitam pertama AS yang menerima Nobel  Sastra (1993). Ia  menyebut –jika tidak ada buku yang hendak kau baca, maka tulis sendiri. Barangkali ini yang memotivasi Uda Indra. Empat dekade menjadi aktivis, begitu Bang Harry selalu menyebut dirinya, belum ada buku khusus yang mendedah sisik-melik kehidupannya.
Bila ditarik ke kisah hidupnya, siapa sangka Bang Harry pernah berjualan kue dan menjadi pengambil bola tenis untuk membantu beban hidup keluarga. Ketika itu ia masih berseragam merah-putih. Ia pun sempat beberapa kali memohon maaf kepada kondektur bis karena kehabisan ongkos saat pulang sekolah. Alumnus penjara kampus kuning di era Soeharto, yang penuh siasat menghadapi desakan agar HMI menerima asas tunggal Pancasila, ternyata takut ditolak cintanya oleh Amanah Abdulkadir, yang kini menjadi ibu dari ketiga anaknya.
Ketika sekolah di Amerika Serikat, sesuatu yang mewah dalam kacamata orang kebanyakan, Bang Harry sekeluarga malah hidup miskin. Ia pernah kelimpungan mencari biaya  persalinan sang istri. Siapa sangka, Doktor jebolan Oklahoma State University ini sempat hampir dicabut visa belajarnya, karena nilainya anjlok. Siapa pula yang menyangka Bang Harry pernah menggugat Pemerintah Oklahoma AS demi menegakan tradisi Islam yang diyakininya?
Banyak nian cerita seru yang meluncur dari mulutnya. Seorang aktivis yang ketika berusia 31 tahun menolak jadi caleg DPR nomor jadi demi belajar ke AS. Salah satu pemikiran Bang Harry yang mengena di hati saya : “Ilmu ekonomi sudah bisa menjawab pilihan rasional, tetapi belum mampu menjelaskan keserakahan, greedy.”
Keserakahan hanya bisa diatasi dengan penegakan hukum dalam suatu sistem, dengan nilai-nilai dalam budaya. Karenanya Bang Harry jika sudah bicara penegakan hukum dan pendidikan akan pecah semangatnya. Tidak boleh penegakan hukum pilih kasih. Pendidikan yang menerapkan peraturan dan nilai-nilai harus dijunjung tinggi. Keduanya harga mati.
Salah satu wujud komitmennya di bidang pendidikan adalah ketika menjabat Ketua Banggar DPR, ia melobby Kementerian Keuangan untuk mengalokasikan dana abadi pendidikan, sekarang dikelola Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP).
Omong-omong perihal greedy, salah satu yang berkesan adalah ketika saya mewawancai Bang Harry di Hotel Crown. Ia baru selesai meeting IDI-TPDMA. Kami bertemu di kamarnya, kamar kelas standar – tanpa sofa atau ruang menerima tamu. Jadi kami mengobrol di meja kerja kecil, dengan tiga kursi, tepat di depan ajudannya yang tegak di samping ranjang. Saya tidak tahu aturan protokoler pejabat negara, tetapi sebagai pemimpin lembaga tinggi negara –setara dengan Presiden dan Wapres, bukankah Bang Harry bisa mengambil kamar kelas suite room atau presidential room?
Bang Harry cuma terkekeh. “Rumah saya di seberang (Jl. Widya Chandra), ngapain negara harus bayar kamar mahal-mahal.” Saya tidak mengira ia akan menjawab sesederhana itu. Yang jelas, ketika ambil pamit, ponsel saya tertinggal.  Saya mengirim SMS, menanti  sembari bersholat magrib. Menjelang Isya, SMS saya berbalas. Bang Harry nyengir sembari berkata, “Maaf, saya shalat, jadi gak lihat HP.”
Belakangan saya baru tahu ritual khusus ini. Ia terbiasa berdzikir sehabis shalat magrib. Dan ketika itu, sebisa mungkin Bang Harry ingin berlepas dari titel keduniawiannya. Ketika itu ia ingin bersungguh-sungguh menghambakan diri kepada sang Khalik.
Hari ini usia Bang Harry genap 60 tahun. Saya membayangkan tengah malam tadi, Bang Harry terbangun, mengambil wudhu dan membentangkan sajadah, lalu berdoa: “Seiring bergantinya almanak, anugerahkanlah hamba kekuatan untuk terus memegang kunci ridho-Mu -amanah, keikhlasan dan kesabaran serta bisa mengambil benderang hikmah dari segala kejadian.”
Barangkali penyerahan ini yang membuat Bang Harry selalu energik di sela-sela kesibukannya memastikan keuangan negara telah digunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat. Ia memelopori agar audit keuangan negara ke depan bukan sekadar di tahap implementasi, tetapi masuk ke ranah perencanaan.
Menjelang shubuh, tetapi bukankah bagi para aktivis hari selalu pagi? Seorang pengabdi tidak pernah melihat terbenamnya matahari. Tugas seorang aktivis adalah bergerak. Darma seorang pengabdi adalah berbuat. Dilema boleh datang tetapi keputusan wajib dijalankan. Biar hakim sejarah yang menilai. Biar para malaikat yang mencatat.
Akhir kata, selamat pagi Bang Harry! Selamat bertambah umur.
Hari itu, seorang pemuda yang baru setahun dapat KTP meradang karena ledakan petasan di luar jendela kamar. Pasalnya, sang ibu yang sedang sakit baru saja terpulas. Ia baru saja mengantarnya pulang dari berobat.Â
Maka, dengan keberanian seorang pemuda, ia keluar dari rumahnya di kawasan Kota Batu. Ia berteriak-teriak, melantangkan tantangan berjibaku. Nahasnya yang membakar petasan tidak seorang diri. Celakanya, karena ditantang oleh pemuda yang lebih kencur, mereka pun kalap. Terjadi pengeroyokan, 1 lawan 30 orang.
Waktu tahu apa yang terjadi, tindakan pertama si ibu adalah menyuruh adik si pemuda mengambil pentungan. “Kamu harus tanggungjawab, keluar kamu, berantem sana!” perintahnya kepada si pemuda.
Sejatinya, sang ibu amat membenci kekerasan. Tetapi prinsipnya tegas. Harus berani tanggung-jawab atas seganap tindakan yang telah dilakukan. Si pemuda maklum, maka ia pun keluar rumah lagi. Ia berjibaku lagi. Dan akhirnya, tentu saja, ia kalah lagi.
Demikian kira-kira satu kejadian yang membuat Munir bisa dengan asyik bercengkerama dengan teror. Didikan sang Ibu membuatnya teguh; bahwa setiap kali bertindak, ia sudah harus siap menanggung risiko. Jadi, kendati motornya pernah diserempet orang tak dikenal, kerap diancam via SMS, rumah dan kantornya mau dibom, kantornya diserbu massa, sampai ditodong senapan; Â Munir terus melangkah di jalan keyakinan yang telah dipilihnya.
Tetapi mendaulatnya sebagai seseorang yang urat takutnya sudah putus barangkali berlebihan. Munir pun kerap didera ketakutan. “Normal, sebagai orang, ya pasti ada takut, nggak ada orang yang nggak takut, cuma yang coba aku temukan adalah merasionalisasi rasa takut,” kata Munir.
Akibat hanya membungkukan punggung pada nilai dan prinsip, Munir harus rela jadi sansak tinju orang ramai. Ia penah dinisbatkan sebagai aktivis Islam sosialis, tetapi lain waktu ketika lingkar kekuasaan berganti, ia pun dituduh Yahudi, Kristen sampai komunis dan antek-antek Amerika.
Kontradiktif dan sulit diterima nalar, tetapi apa mau dikata, Munir sudah terlanjur jadi objek yang asyik buat dijadikan musuh nomor wahid. Saking masifnya propaganda intelejen itu, sampai-sampai ada tokoh-tokoh nasional yang keheranan ketika menemukan Munir bersalat Jumat di mesjid yang sama dengan mereka.
Tetapi, teror yang paling menyakitkan bagi Munir bukan ancaman hendak dijadikan sosis. Melainkan pada jam setengah satu siang ada seorang perempuan hamil yang mengadu kepada istrinya bahwa dirinya telah dihamili Munir. Untungnya, Suciwati yang saat itu sedang hamil, tidak terpancing. “Saya akan bela kamu supaya Munir bertanggungjawab. Tunggu sebentar,” pintanya. Tetapi ketika Suciwati kembali dari bersalin, perempuan itu sudah lenyap.
Munir dan Suciwati memang kompak. Barangkali soulmate. Saling memahami, saling kuat-menguatkan. Ketika ada dua aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang terkena pecahan bom Tanah Tinggi, dan Munir ngotot untuk tidak menyerahkan mereka kepada tentara. Karena berstatus buron, kedua aktivis itu tidak bisa dibawa ke dokter. Walhasil, selama tiga hari –deadline yang diberi para petinggi LBH waktu itu, Suciwati dan beberapa aktivis junior LBH yang sepaham dengan Munir, merawat mereka dibawah bayang-bayang penangkapan oleh Kopasssus.
Tetapi sebagai pekerja HAM, Munir juga bukan tanpa cacat. Waktu bergiat di LBH, ia pernah mempermak orang sampai masuk rumah sakit. Kali lain, ia juga pernah melempar gelas ke muka orang. Ia tahu bahwa kedua tindakannya itu tidak benar, tetapi emosi terkadang mengalahkan nalar. Uniknya, ketika Kontras diserbu preman, dan pemuda penggiat Kontras sudah bertekad tidak ada istilah mengalah, Munir malah berpikir untuk berdamai saja; agar penyerang itu dilepaskan dari jerat hukum. “Kupikir, biarin ajalah preman dilepas, musuhku toh yang lain,” katanya.
Segenap cerita ini, saya dapatkan dari buku Keberanian bersama Munir karangan Meicky Shoreamanis Panggabean. Sungguh buku yang menarik, karena darinya saya menemukan sosok Munir dari sisi manusia normal.
Betapa Munir yang besar itu ternyata baru mengenal kebijakan pengiriman tentara ke Aceh sewaktu ia nyaris tamat kuliah di jurusan hukum Universitas Brawijaya. Melalui perkawanan dengan Bambang Sugianto, seorang aktivis jalanan di kampusnya. Perdebatan mereka yang membawa Munir membaca buku-buku di luar mainstream, sampai akhirnya menemukan buku Cile, Revolusi Buruh-nya Arief Budiman. karakternya kian terbentuk setelah menelisik Nilai Identitas Kader-nya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang menurutnya cerdas radikal dan militan. Dari proses inilah Munir kemudian menemukan kembali ideologi anti penindasan.
Bagi mereka yang semasa kuliah gandrung berunjukrasa pasti akan menyebut betapa tidak istimewanya. Faktanya, banyak di antara mereka yang mengalami proses ini pada akhirnya terjebak pada ideologi mainstream.Lantas apa yang membedakan?Abdurahman Wahid menjawab bahwa dalam berjuang diperlukan penyatuan antara prinsip perjuangan dan tekad pribadi. Agaknya, Munir memiliki penyatuan itu.
Penyatuan prinsip dan tekad ini yang membuat Gus Dur hanya bisa termangu ketika Munir berencana menulis disertasi di negeri Belanda yang akan memaparkan sejumlah orang yang diduganya menjadi otak pelanggaran HAM berat di Indonesia. Gus Dur paham tak ada gunanya melarang, bagaimanapun Munir tetap akan melaksanakan niatnya itu. Dan sebagaimana yang kita ketahui, pada 7 September 2004, Munir tewas diracun dalam penerbangannya ke Belanda.
Kendati sama-sama berurusan dengan arsenik, penanganan kasus Munir tidak secepat dan semeriah persidangan Jessica Wongso. Sampai sekarang, setelah 12 tahun lamanya, aktor intelektual kasus  Munir masih misterius. Konon ia masih melenggang bebas dan menikmati gelimang kekuasaan.
Kendatipun begitu, saya amat yakin sang aktor tetap hidup dalam kegelisahan. Karena kepergian Munir tidak lantas membuat nilai dan prinsip lantas mati. Salah satunya adalah Aksi Kamisan, di mana sejak 18 Januari 2007, setiap Kamis sore, sekelompok orang berpayung hitam tegak mematung berjarak sepelemparan batu dari Istana Negara. Selama satu jam mereka berteriak dalam diam untuk menolak lupa; untuk mengingatkan pada pemimpin puncak negeri ini bahwa ada pekerjaan rumah  yang diwariskan dari presiden ke presiden yang belum lagi tuntas sampai hari ini.
Hari ini adalah Kamis yang ke-470 kalinya, Aksi Kamisan akan digelar. Tanggal dan bulan yang sama dengan waktu Munir dilahirkan, 52 tahun silam. Saya sungguh berharap berharap hari ini Jokowi mau meluangkan waktu untuk menyambangi Aksi Kamisan. Lantas di bawah naungan payung hitam yang ia pegang sendiri, Jokowi berucap, “Selamat Ulang Tahun Cak Munir! Hari ini atas nama pemerintah saya berjanji kasus Saudara dan kasus-kasus pelanggaran HAM berat lainnya akan diusut tuntas. Dan mereka yang bersalah akan dihukum seadil-adilnya.” Lalu Presiden, minimal, memerintahkan jajarannya untuk berpuasa selfie sampai urusannya ini beres, dan memberi sanksi kepada mereka yang lelet apalagi sengaja menghambat. Dan publik akan mengawasi janji itu.
Tetapi, menurut saya mengenang Munir tidak cukup sebatas itu. Mengenang Munir bukan cuma urusan pemerintah dan aktivis Aksi Kamisan. Mengenang Munir juga harus dilakukan melalui gerakan internalisasi HAM dalam sendi-sendiri kehidupan, dan ini menjadi urusan kita bersama.
Bertekad menjadi Munir, kendati niscaya, tetapi amat ambisius. Maka, yang paling gampang adalah meneladani Munir sesuai dengan peran kita masing-masing. Seorang guru yang mengajarkan anak-anak didiknya tentang toleransi. Seorang tukang ojek yang tidak mengumpat-maki kepada mereka yang berbeda pandangan. Seorang buzzer pilkada yang tidak main fitnah. Seorang jurnalis yang menuliskan berita secara benar dan berimbang. Seorang atasan yang tidak bertindak diskriminatif kepada karyawannya karena soal SARA.
Tentu saja semakin tinggi posisi dan sumberdaya yang kita miliki akan semakin besar pula prinsip dan tekad Munir yang bisa kita teladani. Barangkali akan ada pengorbanan, tetapi setidaknya kita tidak perlu kuatir akan di-Munir-kan.Â
(*) sumber foto:Â anakgundar.com, dikutip dari Selamat Ulang Tahun, Cak Munir
Pada pengujung 1998, untuk perdana saya berkenalan dengan Tan Malaka. Zenwen Pador, seorang Mamak yang bergiat di LBH, datang ke rumah membawa fotokopi Madilog.Â
Saya sempat mencuri-curi baca. Otak saya, yang belum genap setahun mengecap pendidikan putih-abu-abu, tidak mampu memahaminya. Termasuk ketika si Mamak berkisah, bahwa Tan Malaka adalah seorang Minang, pahlawan besar yang terlupakan oleh bangsanya sendiri. Sejarah adalah salah satu pelajaran favorit saya, dan seingat saya belum pernah menemukan nama itu dalam buku-buku sejarah yang diajarkan kepada saya sejak SD.
Sewaktu kuliah di ranah Minangkabau, kondisi yang mirip saya temukan. Alih-alih bertemu di perpustakaan kampus, saya malah bertatapan dengan Tan lewat t-shirt pengunjuk rasa –Bapak Republik berwajah diamuk sepi. Saya tanya kepada mereka, siapa dia? Jawabannya, tetap sama seperti yang dikemukan mamak saya tiga tahun sebelumnya – sesosok misterius, cerdas tidak ketulungan, tukang recok zaman sampai kematian yang tragis, serta rangkaian aksi-aksi heroik lainnya.
Bagaimanakah proses kehidupan Tan sehingga bisa membuat gubermen jenderal Hindia Belanda dan kemudian tritunggal – Soekarno, Hatta dan Syahrir, menaruh hormat sekaligus terjangkit sakit gigi tidak terkisahkan. Seolah-olah putera Nagari Pandam Gadang ini sudah keren semenjak lahir. Sudah given menjadi bintang di langit.
Penokohan Tan sebagai legenda, justru menghambat penerjemahan gagasan-gagasan brilian Tan dalam tata kehidupan. Sebagai bintang di langit, ada impotensi gerakan anak bangsa untuk mengikuti jejak langkahnya. Sebagai sosok sakti mandraguna, Tan diposisikan selayak si Jampang dan si Pitung –sekadar untuk dikagumi. Padahal banyak nian mutiara dalam kehidupan dan gagasan Tan yang masih sangat layak untuk diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Contoh sederhananya adalah gerakan Indonesia Mengajar dan sarjana penggerak desa yang sejatinya sejalan dengan pemikiran Tan tentang pendidikan.
Membumikan Tan bermakna dua hal : mengoyak-moyak legenda, dan berorientasi pada proses. Menurut saya, Tan tidak butuh pemujaan, sebagaimana ia menyebut “revolusi bukanlah… atas perintah seorang manusia yang luar biasa.” Bukan para superhero yang menjadi kunci, melainkan kesadaran orang-orang biasa yang terorganisir dan kemudian melancarkan aksi luar biasa. Di sinilah rangkaian proses mengambil peran. “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk”, ungkap Tan –yang mengingatkan saya pada hadist rasullullah itu, “Ibumu, Ibumu, Ibumu, Ayahmu”.  Terbentur lebih penting dari terbentuk.
Karena itulah TAN: Sebuah Novel, mulanya berjudul Memoar Alang-alang, ditulis. TAN adalah antitesa salah satu fiksi favorit saya -Patjar Merah Indonesia karya Matu Mona. Sisi legendaris Tan dalam Patjar Merah Indonesia sangat tepat untuk membangun harapan masyarakat, sesuai dengan semangat zaman merebut kemerdekaan yang memerlukan tokoh-tokoh utama untuk dipuja. Sebaliknya, TAN ditulis untuk menanggapi fenomena Indonesia kekinian –masyarakat yang seharusnya tidak lagi sekadar menumpangkan harapan kepada segelintir orang, tetapi bangkit untuk mewujudkan harapan tersebut.
Karena itu TAN tidak berkutat pada Tan Malaka yang legendaris, melainkan rangkaian proses Ibrahim menjadi Tan Malaka, yang hal ini pun bahkan belum tuntas. Bahwa Tan sejatinya bermula dari bocah kampung di pelosok negeri. Tan sebagai sosok peragu, minder bahkan mengaduh oleh duri cinta, yang kemudian terbentur, terbentur, terbentur dan akhirnya terbentuk menjadi tokoh penggerak zaman. Bahwa setiap anak bangsa, dengan tempaan zaman dan keberanian bersikap, memiliki ruang untuk meneladani jejak langkah Tan dalam keseharian. Bahwa gagasan-gagasan Tan bukan berada di ruang hampa yang mustahil maujud.
TAN tidak bermaksud mengolok-olok Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia karangan Harry Poeze apalagi  Dari Penjara ke Penjara. TAN hanya suatu pancingan bagi anak muda khususnya, hidangan pembuka menuju literatur Tan Malaka yang lebih berat, yang barangkali kian jarang dibaca di era media sosial.  Pemikiran ini yang membuat saya menolak lirik Internasionale atau Genjer-genjer, yang diusulkan para sahabat, dan menukilkan penggalan Sunset di Tanah Anarki-nya Superman Is Dead pada halaman pembuka TAN.
Di luar itu semua, TAN juga merupakan upaya saya untuk mengerus salah kaprah tentang komunis. Bahwa bagaimanapun rezim di masa silam mencoba menghapusnya, bangsa Indonesia berutang jasa kepada kalangan komunis dalam pencapaian kemerdekaannya. Jauh sebelum kalangan nasionalis dan Islamis mengembor-ngemborkan upaya untuk kemerdekaan Indonesia, kalangan komunis sudah menisbatkannya sebagai tujuan gerakan mereka.
Bahwa komunis tidak bisa dipukul rata sebagai atheis. Perlu digarisbawahi bahwa pemberontakan rakyat 1925-1926 melawan kolonial Belanda dipelopori oleh kalangan ulama. Ambil contoh Haji Misbach di Surakarta. Ada pula KH. Tubagus Achmad Chatib bersama dengan Haji Hasan, Kiai Moestapha, Haji Saleh, Entol Enoh, Kiai Moekri, Kiai Ilyas, dan Haji Entjeh yang berperan penting dalam pemberontakan di Banten. Di Sumatera Barat ada Datuak Batuah dan Djamaluddin Tamim pengajar Sumatera Thawalib.
Datuak Batuah  adalah teman seperguruan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan Hasyim Ashari, pendiri Nahdlatul Ulama. Ketiganya adalah murid Syech Ahmad Chatib Al-Minangkabawi, guru besar sekaligus imam Masjidil Haram, Mekkah. Tan sendiri secara tegas menekankan pentingnya persatuan antara segenap kalangan di Indonesia -nasionalis, Islam dan komunis -untuk menjungkalkan pemerintah kolonial Belanda.
Akhir kata, selamat membaca TAN. Semoga karya kecil ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Salam Alang-alang!
dikutip dari Tan: Kisah tentang Terbentur dan Terbentuk