"Kamu tahu surah Al Fath?" tanyamu pagi ini.
Tahun baru, tapi tak ada yang berbeda dari malam - malam sebelumnya. Diri ini bahkan susah tidur akibat ramainya mercon, kembang api, dan suara - suara knalpot berderu.
"Surah yang menceritakan saat - saat Nabi Muhammad hijrah dari Madinah ke Mekkah?" berusaha mengingat dan kau mengangguk.
"Tahu tidak surah yang berisi 29 ayat itu menceritakan tentang apa?" tanyamu lagi.
Ah ya, Cognitive Behaviour Therapy. Batinku.
Sepertinya aku harus terbiasa dengan kehadiranmu untuk membantu kesembuhanku. Sekadar membantu pikiran sadarku bekerja. Sebatas itu saja.
"Pada ayat - ayat awal, surah itu menceritakan janji Allah pada Nabi Muhammad tentang kehidupan dunia akhirat beliau yang dijaminNya. Bahwa Allah akan ada, membantu, dan memberi ketenangan. Bahwa Allah akan mengampuni dosa - dosa beliau dan memberikan surga." jawabku.
Aku mulai terbiasa tak menggunakan rasa.
Toh ini hanya formalitas untuk kesembuhan bukan?
"Ya... yang kemudian sahabat - sahabat beliau juga menanyakan, bagaimana dengan nasib mereka, hingga turunlah ayat - ayat selanjutnya yang menjelaskan balasan untuk orang - orang mukmin yang taat dan yang berpaling dariNya." lanjutmu.
Aku mengangguk. Rasanya kosong. Demotivasi ini begitu besar sedang diri ini sepenuhnya sadar bahwa besok akan ada ujian yang menunggu, yang harus dijalani dan diselesaikan.
"Saat Nabi Muhammad berusaha memasuki Mekkah, kaum Quraisy menghalangi beliau dan menyuruh rombongan itu kembali ke Madinah."
"Lalu terjadi perselisihan. Terjadi perjanjian Hudaibiyah dan terjadi peperangan." sahutku.
Kamu tersenyum, mengangguk.
"Dan Allah menurunkan ayat - ayat selanjutnya untuk meneguhkan hati umat muslim kala itu. Untuk menenangkan hati mereka. Untuk menguatkan mereka. Bahwa Allah bersama mereka dalam peperangan itu dan akan memberi mereka kemenangan. Bahwa kemenangan yang diberikan kepada mereka adalah salah satu bukti bahwa janji Allah itu pasti." nasihatmu.
Aku mendengarkan dengan kepala yang mulai berdenyut. Sakit.
"Hari ini surah itu terbuka untukmu." kau memandangku, lekat.
"Untuk jadi pelajaran untukku?" tanyaku.
"Untuk menjadi pengingatmu. Bahwa Allah bersamamu. Untuk menjadi penenang bagimu bahwa Allah menjanjikan surga untuk mukmin yang taat dan tak berpaling darinya. Untuk menguatkanmu bahwa janji Allah itu pasti." jelasmu.
Air mataku meleleh. Lagi. Perasaan gundah yang berubah menjadi tenang.
Bagaimana bisa diri ini mempertanyakan keberadaanNya saat Ia selalu dekat? Bagaimana bisa diri ini berhenti mencintaiNya saat Ia selalu ada?
Semoga selalu terjaga, dalam iman, untuk mencintaNya, selalu.