
seen from United States
seen from United States
seen from Japan

seen from Canada

seen from Brazil
seen from Germany
seen from Türkiye

seen from Spain
seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from Malaysia
seen from Canada

seen from United Kingdom
seen from Belarus

seen from Germany
seen from China

seen from United States
seen from China

seen from Syria
Amigdala, former denizen of Elder Brain colony Malignity. They suffer from Partialsim and want more than anything to remember their body-host's true name. Their head shape is more akin to a cuttlefish than a squid and their skin is a diluted periwinkle. Amigdala "Dala" has an amicable personality but their persistence in pursuit of their goals comes across as rigid stubbornness. Malignity is a particularly cannibalistic and domineering Elder Brain, so Amigdala remains ever watchful of its attempts to reassert its ownership of the wayward flayer.
💙 Amigdala is the goddess of calmness from the world of "The Couch Analyst".
💙 Oh, what a woman
Ufffff~~~⭐️
⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
#Antikek #TheCouchAnalyst
#Amigdala
Karar verirken acele etmeyin, sabırlı olun.
Amigdala, beynimizin ilkel bir bölümü olarak, ilk tepkisini genellikle cahilce ve dogmatik bir şekilde verir; adeta hayvansı bir refleksle hareket eder.
Korkuyu körükleyen ve korkudan beslenen bu yapının esaretinden kurtulabilirseniz, işte o zaman akıl ve mantık devreye girer.
Karşılaştığınız ani bir olay ya da fikir karşısında ilk anda verdiğiniz tepki, önceden programlanmış bir yanıttır ve çoğu zaman yanıltıcı, hatta pişmanlık uyandırıcıdır.
Amigdalayı bir anlamda nefsi eğitmek, onu terbiye etmek ve sabır kıvamına ulaştırmak, oldukça zorlu ve çetin bir süreçtir.
Unutmayın, sabretmek yalnızca beklemek değildir; bu, bilinçli bir farkındalık ve özdenetim yolculuğudur.
Forgive & Heal
Sering kali, manusia sibuk merasa paling tersakiti. Paling dikhianati, paling punya alasan buat marah. Tapi dunia ini nggak berputar di satu sudut pandang. Bisa jadi, di sisi lain, ada yang sedang merasakan hal yang sama—karena kita.
Manusia nggak pernah luput dari salah. Kita menyakiti, kita disakiti. Tapi saat jadi korban, kita ingin dimengerti. Sementara saat jadi tersangka, kita ingin dimaafkan.
Dan di situlah ujian sebenarnya. Memaafkan bukan tentang membenarkan yang salah, tapi tentang memilih untuk nggak membawa luka ke mana-mana.
It’s not always easy, but maybe, we can start from somewhere. And this is how I forgive, one step at a time~
1️⃣ No One’s Perfect, Not Even Us
Kadang kita sibuk notice kesalahan orang lain, tapi lupa kalau di cerita lain, kita juga pernah di posisi mereka.
Pernah nggak sih, flashback ke momen di mana kita ngelakuin sesuatu yang nyakitin orang—dan saat itu kita merasa punya alasan yang valid? Tapi pas giliran kita yang disakitin, semua terasa unforgivable?
See? Kita tuh bukan makhluk suci. If we want to be understood for our mistakes, why is it so hard to give the same grace to others?
2️⃣ Forgiveness Takes Time, and That’s Okay
Jujur aja, forgiving someone itu nggak segampang “udah, lupain aja!” Kalau bisa semudah itu, dunia nggak akan penuh sama orang-orang yang masih kepikiran omongan nyakitin dari bertahun-tahun lalu.
Scientifically speaking, ada bagian otak yang berperan dalam hal ini—amigdala. Ini tuh bagian yang langsung kasih alarm ke tubuh kalau kita merasa threatened atau disakiti. Makanya, refleks pertama kita bukan “Oh, nggak papa, aku maafin.” Tapi lebih ke “Gila sih, ini orang nggak banget.”
Dan itu valid. Sometimes, our brain needs time to process pain before it can let go. So, no rush.
3️⃣ Seeing the Bigger Picture
Kadang kita terlalu fokus sama perasaan sendiri, sampai lupa kalau setiap orang punya sisi lain dari ceritanya.
Rasulullah SAW pernah dilempari batu sampai berdarah, tapi yang keluar dari mulut beliau bukan sumpah serapah, melainkan doa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, karena mereka tidak tahu.”
Kalau manusia paling mulia aja bisa see beyond the pain, masa kita nggak bisa coba sedikit aja buat lihat perspektif lain?
4️⃣ Choose Your Level of Forgiveness
Islam ngajarin bahwa forgiveness itu ada levelnya:
Shafh – Let it slide, nggak bales, tapi juga nggak fully forgive.
Afw – Memaafkan tanpa dendam, clean slate vibes.
Ihsan – Memaafkan sambil tetap berbuat baik ke orang yang nyakitin kita.
Tapi real talk, nggak semua orang bisa langsung sampai level ihsan. And that’s okay. Sometimes, just not retaliating is already a huge step forward.
5️⃣ Forgiving ≠ Forgetting
Ada yang bilang “Maafin aja biar lega.” Tapi realitanya, some wounds leave scars. Dan itu nggak apa-apa.
Memaafkan bukan berarti harus pura-pura nggak pernah sakit. It’s okay to set boundaries, to step back, to protect your peace. Memaafkan bukan tentang kembali seperti dulu, tapi tentang melepaskan beban yang nggak perlu dibawa-bawa.
6️⃣ We Need Forgiveness Too
Let’s be honest, seberapa sering kita berharap orang lain memaklumi kita? Seberapa sering kita minta Allah nutupin aib dan kesalahan kita?
Kalau kita pengen diampuni, shouldn’t we try to give that same chance to others?
●●●
At the end of the day, forgiveness is less about them, and more about us.
Tentang kita yang nggak mau stuck di masa lalu. Tentang kita yang milih untuk move forward.
Kadang berhasil, kadang masih belajar. But hey, at least we’re trying. 💫
:: 15 Ramadan 1446H
CALLING ALL MARKER FELT FANS
Make Contact, by Ryan Van Dongen, via ArtStation.
Prakata Amigdala
Otak merupakan bagian terpenting dalam hidup manusia. Ia mengatur jalan berpikir kita dalam kehidupan. Memberikan berbagai pertimbangan ketika kita mengambil keputusan. Di dalam otak ada bagian yang di sebut 'amigdala'. Amigdala adalah suatu tempat di dalam otak kita yang mengatur tentang respon takut, marah, dan bahagia.
Seseorang pernah berbicara,
Aku takut kehilangan kamu.
Aku marah ketika kamu merusak apa yang sudah saya buat.
Aku senang karena bisa bertemu dengan orang seperti kamu, aku bersyukur.
Banyak orang yang berkata demikian karena mereka sudah mengambil keputusan di dalam otak mereka. Mereka berani berbicara tersebut karena apa yang mereka katakan merupakan rangkaian pengambilan keputusan yang akan menciptakan sejarah hidup baru dalam kehidupan mereka.
Kita merasakan ketakutan ketika ada orang yang membuat kita merasa tertekan. Merasa ada yang membuat hati kita tidak tenang. Pasti, setiap orang punya rasa takut. Munculnya rasa takut karena respon di dalam amigdala. Wajar, manusia punya rasa takut akan sesuatu hal karena mereka mesti mengambil langkah yang baik untuk melindungi dirinya sendiri.
Kemarahan yang bersumber dari dalam diri adalah hasil respon dari pengolahan otak bagian amigdala. Kita marah pada orang lain bahwa kita mengambil keputusan yang sudah ditetapkan di bagian amigdala otak kita. Ketika segala sesuatu merusak apa yang sudah kita sajikan, tentu rasa marah itu akan muncul. Setiap orang akan merasakan marah karena apa yang mereka miliki terutama jiwa dirusak oleh orang lain. Tentunya, kita harus bisa menyeimbangkan jiwa kita kembali netral dengan cara sabar dan memaafkan dengan tulus.
Kita merasakan senang setiap hari. Bahkan di waktu tak terduga saja kita bisa senang. Sederhananya, kita kehilangan sesuatu namun kita juga harus paham bahwa yang benar-benar hilang harus belajar ikhlas. Dan, tak lama rasa senangnya datang bisa jadi digantikan dengan sesuatu hal yang lebih baik. Rasa senang bisa datang kapan saja dan kepada siapapun.
Semua memori yang kita punya di dalam kehidupan. Tentu akan kita ingat sepanjang kita masih diberikan waktu hidup. Kecuali setelah tua, kita akan benar-benar perlahan dipaksa lupa terhadap jutaan memori yang sempat tersimpan. Sungguh, kita tak bisa menghapus memori yang sudah ada di otak kita, kita tidak mampu namun hanya Tuhan kita yang mampu melakukan itu.
Kita merespon berbagai rasa lewat amigdala di otak kita. Terima kasih amigdala, kehadiranmu di dunia memberi pengaruh besar dalam kehidupan terutama saat pengambilan keputusan dan berbagai memori yang tersimpan.
Serupa angkasa yang luas maka ingatan kita juga sebenarnya luas. Luas karena akal kita bisa menciptakan berbagai banyak hal. Luas karena otak menyimpan semua memori kita secara utuh. Saat kita melakukan sesuatu untuk kali kedua, kita ingat bahwa kita pernah melakukan hal yang sama sebelumnya.
Adanya amigdala serupa rumah semua rasa
Rasa yang tercipta dari dalam otak
Ingatan yang bermuara dari hari ke hari
Rasa takut silih berganti
Rasa marah yang menyulut kondisi
Rasa bahagia yang terpatri
Semuanya merupakan bagian amigdala
Bagian yang kita lupa
Namun, kehadirannya menyadarkan kita
Berjaga diri lewat keputusan yang berarti.