Sebuah Akhir yang Berbeda
Hari Jum'at terakhir di tahun 2024 menandakan berakhirnya proses antara aku dengan AMZT. Aku menghubunginya untuk menanyakan langsung perihal keputusannya tentang keyakinan untuk melanjutkan proses atau tidak. Pun jika tidak, berapa lama lagi waktu tambahan yang dia butuhkan untuk berpikir.
Yang jawabannya adalah No dan I don't know.
Aku pun memilih untuk mengakhiri.
Tergesa-gesa? Kelihatannya tidak, karena aku sudah memikirkannya matang-matang selama sebulan penuh. Durasi waktu tunggu paling lama yang pernah aku berikan dalam menjalani proses dengan seseorang. Tapi ternyata, segala hal itu tetap saja relatif. Nanti aku jelaskan setelah ini.
Sedih? Tentu saja iya, terlebih karena ternyata AMZT sebenarnya sudah merasa mengakhiri proses ini sebulan lalu di saat aku hanya menganggapnya sebagai jeda, bukan akhir. Tapi ternyata, segala hal itu memang relatif, atau lebih tepatnya, segala hal itu sementara. Begitu pun rasa sedih.
Nangis? Alhamdulillah tidak. Kalaupun iya, alhamdulillah juga. Alhamdulillah ala kulli haal. Mungkin karena sudah lebih siap daripada aku di kisah-kisah sebelumnya. Lantas esoknya, Allah langsung siram hati ini dengan cahaya ilmu. Ternyata, suatu kondisi atau hal sama yang terjadi bisa dirasakan/dipahami/memiliki sebab yang berbeda. Seperti tangisanku kali ini.
Langsung move on seperti biasanya? Menariknya, patah hati yang satu ini tidak demikian. Bukannya langsung sibuk mencari pengganti dan memulai proses baru agar bisa segera lupa, kali ini aku memilih untuk menatap cermin. Memperhatikan diriku sendiri, menyelami apa yang sebenarnya tersimpan jauh di dalam hati. Apa sih yang aku cari? Yang ke-12 atau aku?
Yang terjadi kemarin adalah aku yang dengan yakin memutuskan untuk tidak melanjutkan proses. Meski harus diakui bahwa aku sedih, tapi air mataku sudah kering. Aku lelah. Aku hanya bisa menghibur diri dengan membuat daftar hal-hal yang tidak kusuka darinya setiap kali namanya terlintas di kepala. Walaupun poin di dalam daftar itu tidak banyak. Aku juga terus meyakinkan diri bahwa ini keputusan terbaik yang (dengan izin Allah) aku akan sanggup menerimanya. Bukankah aku juga tidak cukup yakin dan siap jika takdir malah berkata sebaliknya?
Lantas Allah memberikan jalan bagiku untuk meringankan sedih itu. Dengan cara yang unik, Allah ganti sesuatu yang hilang dengan rezeki lain berupa ilmu. Masih di hari yang sama, aku diajak seorang temanku untuk ikut kajian kemuslimahan besok pagi-pagi sekali (berangkat dari rumah pukul 7). Yang ternyata salah satu materinya membahas tentang kisah pernikahan Rasulullah dan Khadijah r.a.
Semua pesan-pesan kebaikan di hari itu benar-benar membuka mataku. Aku akhirnya menangis, bukan karena sedih, tapi karena haru. Aku terharu dan malu dengan kasih sayang Allah yang sebesar ini untuk menguatkan hatiku menyudahi proses dengan AMZT.
Aku mendapatkan satu kesadaran baru bahwa pelajaran terbesar yang bisa diambil dari berakhirnya proses dengan AMZT adalah aku yang fakir ilmu. Padahal, setiap keresahan dan kesulitan dalam diri, sejatinya bisa diobati dengan mendekat dan mengenal Allah lewat perantara ilmu.
Ilmu sebelum amal. Itulah kunci-kunci yang akan aku kumpulkan dan pintu-pintu yang akan aku ketuk setahun ke depan, insha Allah.
Seperti obrolanku dengan Far di Bulan Agustus lalu:
A: "What will you do if you couldn't find the one and not getting married?"
F: "I will dedicate myself to learn from scholars and travel around the world."
Jadi, apakah mengakhiri proses ini terhitung sebagai keputusan yang tergesa-gesa? Menyedihkan? Memicu tangis dan hantaman (shock) dalam jiwa sehingga (merasa perlu) untuk langsung move on tanpa berpikir jernih? Iya atau tidak, itu bukan lagi masalah. Yang aku tahu sekarang proses ini memang sudah diakhiri secara sadar dan Allah ingin aku juga paham bahwa diri ini masih harus terus belajar. Belajar menjadi manusia yang semakin beriman, memperbaiki diri, serta penuh kebaikan bagi dunia dan seisinya, insha Allah.
Semangat belajar lagi dan lagi, Bid! :)
Tulisan ini insha Allah bersambung ke Januari yaa...