Desember: Abidah yang Perlahan-lahan Berubah
Baik, ini adalah catatan bulanan terakhir di tahun 2024. Alhamdulillah. Sejak awal tahun, aku memang bertekad untuk menulis setidaknya satu kali dalam sebulan dan tulisan ini adalah penghujungnya. Apakah itu berarti proyek mencari yang ke-12 juga sudah berakhir? Sayangnya, tidak. Eh, mungkin lebih tepatnya belum.
Karena ini adalah tulisan terakhir di tahun 2024, aku akan menulis soal refleksi perjalanan dalam mencari yang ke-12 sejauh ini, senilai puluhan purnama. Jadi, harap bersabar jika tulisannya cukup panjang ya. Lagipula, kamu juga tidak perlu terburu-buru, tidak harus selesai membacanya dalam satu kali duduk.
Baik, bicara tentang berubah, aku ingat betul saat SMP dulu, guruku pernah bilang bahwa berubah itu adalah hal yang pasti terjadi dalam kehidupan. Manusia itu bergerak dan bertumbuh. Tapi paradoksnya, manusia juga menyukai kestabilan dan ketenangan. Jadi, apapun yang berubah dalam hidup itu adalah suatu hal yang wajar sekaligus menantang bagi kita untuk hadir dan memberikan respon terbaik.
Seperti Abidah yang perlahan-lahan berubah. Abidah sebelas bulan yang lalu, tentu berbeda dengan Abidah yang sekarang. Perbedaan itu juga terjadi entah dengan proses yang perlahan-lahan, maupun seketika karena adanya kejadian luar biasa.
Dalam proses mencari yang ke-12 sejak akhir tahun 2020 lalu, dan diakselerasi sejak awal tahun ini, aku mencatat empat poin yang dirasa telah berubah secara perlahan-lahan, namun pasti.
Pertama, aku dulu tidak suka dipanggil dengan sebutan Ibu. Aku lebih suka dipanggil dengan sebutan Mbak, Kak, atau langsung panggil nama saja karena menurutku, memang begitulah adanya, aku bukanlah seorang ibu dari siapapun. Namun, entah sejak kapan, beberapa orang yang kutemui di tempat umum mulai memanggilku dengan sebutan 'Bu'.
Saat awal-awal dulu, responku lebih sering baper atau ngedumel dalam hati. "Memangnya aku setua itu? Ibu darimana wong nikah aja belum," ucapku dalam hati setiap kali aku dipanggil Bu Abidah. Meski aku pun tahu bahwa mereka memanggilku dengan sebutan itu hanya demi memberikan kesan respek, tidak lebih, tidak kurang.
Bedanya saat ini, setiap kali namaku dipanggil dengan sebutan 'Bu', aku aminkan kencang-kencang dalam hati. Bahkan terkadang terbisik dalam lisan sambil berdoa, "Aamiin, semoga aku beneran jadi Ibu, ibunya anak-anak yang shalih dan shalihah" hehe. Ternyata, dengan begitu efeknya jauh lebih menenangkan dan menyenangkan.
Tentu saja, Abidah yang dulu dan Abidah yang sekarang hingga bisa merespon dengan cara yang berbeda bukan tercipta dalam satu malam, melainkan proses yang terjadi secara perlahan-lahan dan terbentuk menjadi suatu kebiasaan baru. Terlebih, aku memang setiap harinya jadi semakin cinta dan ngefans sama Ibuk, jadi aku bercita-cita bisa menjadi ibu yang baik juga kelak di masa depan.
Mari aminkan bareng-bareng yuk, hehe. Aamin yaa Rabbal'alamin.
Kedua, aku dulu alergi setiap kali ditanya kapan nikah? Sebenarnya sekarang juga masih agak alergi sih hehe, terutama kalau pertanyaannya cuma untuk basa-basi. Semacam mau tegas bilang, "I wish I also knew when" or "That's not your business, neither mine, only Allah knows".
Tapi setidaknya, alih-alih melengos dan pasang muka jutek lantas kepikiran berhari-hari, Abidah yang sekarang bisa meresponnya dengan lebih santai dan berimbang. Sederhananya, aku tinggal lempar senyum manis dan bilang, "Tahun ini, doakan saja ya" atau kalau yang bertanya adalah orang yang sudah cukup kukenal, aku bisa dengan santai bilang, "Aku juga penasaran kapan ya? Kamu ada calon yang bagus gak buat aku?"
Jadi, kalau gak mau dapat PR/beban hidup tambahan buat bantu nyariin kandidat yang bagus, kamu bisa berhenti menanyakan hal itu dan lebih baik fokus mendoakan saja, hehe. Aku pun berdoa, ayah ibukku lebih lagi, tanpa henti.
Menariknya, dibandingkan dengan orang-orang yang sibuk menanyakan pertanyaan keramat itu, Abidah (yang dulu) sendiri-lah yang lebih sering bertanya. Kapan ya aku nikah?
Dengan jujur aku beri tahu, pertanyaan kapan ya aku nikah sangat jauh lebih sulit untuk dihadapi dibanding pertanyaan kapan nikah dari orang lain. Aku pernah sampai di titik, apa iya jodohku sudah tiada jadi aku memang tidak akan bertemu dia di dunia? Atau pertanyaan lain yang lebih menyakitkan, mungkin aku memang tidak pantas/tidak cukup layak menikah dengan siapapun di muka bumi ini? Mengingat sudah puluhan kegagalan yang terjadi dalam lima tahun perjalanan mencari yang ke-12.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan (bisikan) syaitan yang terkutuk.
Sungguh, wahai diri, dengan jujur dan rendah hati aku beri tahu, Allah Yang Maha Tahu itu juga Maha Bijaksana dan Maha Penyayang dari segala yang penyayang. Lebih dari rasa sayang seorang ibu kepada anaknya, lebih dari sekadar tingginya ego manusia untuk mencintai/membenci dirinya sendiri.
Maka dengan kasih sayang Allah, sejak awal 2024, aku pun mulai fokus pada apa yang bisa kulakukan daripada sibuk bertanya kapan. Aku mulai membuka diri untuk belajar dan menerima kekurangan daripada fokus mencari kesempurnaan dan validasi dari siapapun selain Allah. Semoga istiqomah dan Allah selalu rida.
Aku juga doakan, semoga kamu menemukan dan selalu bersama Allah dalam setiap langkah hidupmu. Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang, bukan?
Ketiga, aku dulu selalu takut dan khawatir tidak akan menemukan yang lebih baik dari seseorang yang aku temui saat ini.
Mungkin kamu pernah dengar kisah pencari kayu bakar, dia masuk ke dalam hutan untuk menemukan kayu bakar terbaik yang akan digunakan untuk menghangatkan diri malam hari nanti. Ada banyak pilihan kayu bakar yang ada di dalam hutan, sayangnya dari sekian banyak kayu yang ditemui sepanjang perjalanan, tidak ada yang sempurna sesuai dengan harapan si pencari kayu bakar. Mulai dari ukuran kayunya yang terlalu besar atau kecil, asal pohonnya yang mudah terbakar atau tidak, atau kayunya yang tidak cukup kering. Hingga malam pun tiba dan si pencari kayu bakar pun keluar dari hutan tanpa membawa apa-apa.
Bukannya menempatkan kisah itu pada tempat yang seharusnya yaitu memberikan semangat untuk berani mengambil keputusan, aku malah menangkapnya dengan cara yang berbeda dan mengubahnya menjadi ketakutan bahwa akulah si pencari kayu bakar itu. Pulang tanpa membawa apa-apa.
Meski setiap kisah 'gagal' yang terjadi selama proses mencari yang ke-12 berhasil membuat hatiku makin terbiasa dengan penolakan, entah itu aku yang menolak atau ditolak, saat Allah (melalui takdir terbaiknya) menyudahi proses dengan seseorang yang menurutku baik, Abidah yang dulu akan selalu diliputi rasa khawatir dan terus bertanya "Mengapa aku harus dipertemukan dengan orang baik ini, jika memang pada akhirnya tidak disatukan?" dan "Bagaimana jika nanti tidak ada lagi yang lebih baik dari orang ini?"
Dengan izin dari Allah, aku memilih untuk berjalan sedikit lebih jauh lagi dan menemukan jawabannya. Kini Abidah akan bilang, tidak semua orang baik yang Allah hadirkan dalam hidup kita itu membersamai kita selamanya, bisa jadi dia hadir hanya sebagai pelajaran. Lalu, untuk pertanyaan kedua yang selalu muncul, Abidah yang sekarang akan dengan yakin bilang, "Tentu saja! Dengan izin Allah, dari 8 miliar manusia di bumi, kamu hanya perlu 1 saja dan akan Allah kirimkan padamu, entah bagaimana pun caranya."
Dan memang itulah yang Allah buktikan padaku di awal Bulan Oktober lalu.
Meski lagi-lagi, jika memang dia harus pergi, aku ikhlas insha Allah, asalkan bukan Allah yang pergi.
Keempat, aku dulu sangat tergesa-gesa. Hampir dalam segala hal: sekolah, pekerjaan, menyelesaikan setiap tugas, mengambil keputusan, dan lain sebagainya.
Tidak terkecuali dalam mencari yang ke-12.
Beberapa proses hanya bertahan dalam hitungan pekan, bahkan ada yang hari atau jam saja. Ketemu, ngobrol, menemukan ketidakcocokkan, coret. Ditawari calon dari kenalan ayah, lihat detail tentang orangnya, gak sreg, tolak. Bahkan di saat orangnya belum kulihat dan kutemui secara langsung. Ada beberapa juga yang aku memang sudah merasa kurang klik dari awal, tapi orangnya baik, langsung saja kualihkan ke ayah, biar ayah yang menilai. Dan seperti yang dapat diprediksi, hasil akhirnya adalah kami tidak melanjutkan proses.
Hingga awal tahun 2024, setelah membuka diri untuk serius ikut kelas pra-nikah, Abidah yang sekarang mengusahakan untuk rutin istikharah, sehingga tidak ada satupun keputusan yang diambil tanpa melibatkan Allah di dalamnya. Entah singkat atau lama prosesnya, entah dengan perasaan yakin atau ragu saat pertama kali memulainya. Tapi ternyata ujiannya tetap saja ada.
Dari sekian banyak keputusan Allah untuk menyudahi proses, selesai dengan Cahaya yang Baik misalnya, menjadi pukulan yang cukup membekas di dalam memori. Aku merasa Cahaya yang Baik adalah seseorang yang terbaik setelah empat setengah tahun aku mencari. Tapi qadarullah, prosesnya harus diakhiri dengan alasan yang syar'i meski pemicu utamanya berkaitan dengan sifat manusia yang cenderung suka tergesa-gesa.
Saat itu, Abidah sudah lelah dan hampir menyerah. Tapi Allah Yang Maha Penyayang hanya ingin Abidah mengambil jeda dan belajar satu hal baru.
Ternyata, sifat tergesa-gesa tidak hanya bisa diobati dengan bersabar (menahan diri), tetapi juga dengan bersyukur (mengapresiasi apapun yang Allah beri). Abidah yang sekarang belajar hal baru tentang mendidik diri untuk lebih banyak bersyukur. "Kamu itu, Da, punya banyak teman yang baik-baik, lingkungan suportif dan positif, gak semua orang lho punya itu. Jadi, jangan lupa bersyukur," kata Ibuk saat aku bercerita tentang aktivitasku bersama teman-teman. Mulai dari teman SMP sampai teman S2, termasuk rekan-rekan di kantor.
Ya, ketergesaan untuk segera menemukan yang ke-12 membuatku lupa bahwa sepanjang dua puluh sembilan tahun aku hidup, karunia Allah itu berlimpah dan tidak terhingga nilainya, bahkan hampir semua tanpa aku minta. Allah berikan begitu saja. Masha Allah.
Mungkin, Allah ingin aku tahu, bahwa bukan level kesabaran yang saat ini Allah uji lewat proses lima tahun pencarian, tetapi level rasa syukur yang aku lupa untuk memupuknya dengan baik. Ya Allah, maafkan hamba.
Terlebih, bersyukur pun bisa diterapkan bukan hanya saat kita menerima nikmat, tetapi juga saat diuji oleh Allah untuk mendekat. Seperti seorang temanku di Bulan Oktober lalu yang lututnya dislokasi saat sedang bermain bola, respon pertama yang dia ucapkan adalah Alhamdulillah. Aku dibuat bingung karenanya. Bukankah sakit itu musibah? Bukankah ucapan yang paling tepat adalah Innalillahi atau Astaghfirullah?
Tapi, setelah ikut kajian di pertengahan Desember, Abidah yang perlahan-lahan berubah pun mengerti bahwa apapun yang terjadi di dunia ini entah itu tangis, luka, sedih, sakit, tawa, maupun bahagia, selama itu mendekatkan diri kita pada Allah, itu berarti kebaikan. Jadi, segala perkara, bagaimana kondisi kita saat ini atau kejadian apapun yang menimpa kita, semuanya Allah tahu dan selalu baik di mata Allah.
Karena yang mengatur dan memelihara segala apa yang ada di langit dan di bumi serta yang ada diantara keduanya adalah Dia, Allah Yang Maha Pemelihara, Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Alhamdulillaahirabbil'alamin.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir, semoga Allah mudahkan kita agar menjadi hamba yang pandai bersyukur.