Hallo, selamat malam. Aku mau share ilmu yang didapat dari Diskusi Bulan April tanggal 22 pembicara Mas Aga di Line Kelas Puisi. Yuk kita simak puisinya dulu sebelum membahas satu-satu hihi Mod-dhyar Aku yang menyusuinya hingga tiada Kualami sore yang paling diam ini berdua saja Tak kusangka oleh-Nya kau diambil paksa Jiwaku berontak seketika. Berteriak keras,"aku tak terima!" Gelepar hati resah bak tak tahu arah Aku inang yang berjalan di atas pasir bersimbah dendam dan darah Bersandingkan teriakan-teriakan humaniora remaja jas merah Aku inang yang sedang marah Kutenggelamkan saja duka dan kecewa kedalam gelap jiwa yang terkabung Menempuh sakit yang bisu, kemudian nadiku terhenti tepat di hulu Ternyata benar, kini surga di hadapanku Namun sayang pedih terlanjur menjalar di sekujur kalbu Nak, kubawakan bunga untukmu dan sebilah belati untuk-Nya Gimana puisinya? Keren bukan emosinya? Hihi Nah kita masuk ke sesi pertama dulu yuk, buat bahas makna dan jenis puisi. Kita bahas jenis puisinya dulu, menurut kamu ini puisi jenis apa? Hayo tebak, yang benar dapat ucapan "selamat" hehe Kalau menurut pembahasan di kelas puisi, berbagai pendapat muncul nih. Ada yang bilang ini satire, ada juga yang bilang ini elegi. Menurutmu, apa? Oke, sebelum kita jawab sebenernya puisi yang judulnya sangat eye catching ini masuk ke jenis apa, kita bahas dulu apa itu elegi yaa, biar semua paham terlebih dulu daripada menerka-nerka. Elegi sendiri berarti puisi baru yang berisi tentang ratap tangis, dan objek yang digambarkan di dalam elegi biasanya berupa pengalaman-pengalaman pahit atas hal yang pernah dialami, atau bisa juga berupa penyesalan atau sesuatu yang pernah dilakukan di masa lalu. Nah setelah dijabarin apa elegi itu, kamu berpihak ke mana? Elegi atau Satire? :D Kalau kataku sih ini jenis elegi, karena puisinya mencoba menceritakan sosok seorang ibu yang pilu, merasa sangat sedih kehilangan anaknya yang telah ia rawat dengan baik. Cara kematiannya begitu pahit, hingga membuat ibu ini tidak bisa menerima takdir yang telah Tuhan tentukan. Ketidak relaannya terlihat jelas di setiap baitnya, dan dendamnya pada takdir dibawa hingga ia menjemput ajal tuk menemui kebanggaan hati beserta kemarahan pada takdir Tuhan. Baik, kita lanjut ke sesi dua ya. Menanggapi majas. Kalau dilihat-lihat mas Aga ini kebanyakan menggunakan majas metafora dan simile. Untuk majas metafora bisa dilihat di bait pertama dan simile di bait ke dua larik pertama. Kalau menurut kamu gimana? Ada pendapat majas lain gak? Yuk mari langsung lanjut ke sesi tiga, menanggapi gaya bahasa, typografi, kesesuaian antar bait. Gaya penulisan mas aga ini emang unik menurut pribadiku hehe cerita yang diangkat dalam puisi selalu keren dan mendalam. Menurut si penulis sendiri, "Ada yg pernah bilang ke aku mbak rana, puisi itu harusnya keluar dari dogsa dan usahakan memiliki tujuan." Itulah mengapa mas Aga ini selalu memiliki arah yang jelas dalam setiap dendang puisinya hehe Kalau untuk typo sendiri, dalam puisi ini sangat minim karena hanya ditemukan satu kesalahan di mana tulisan "kedalam" yang seharusnya dipisah (ke dalam) ini menjadi disambung. Dan untuk tanda bacanya juga dirasa letaknya begitu pas, membantu pembaca mengikuti intonasi seperti apa yang penulis inginkan, dan ini juga memudahkan pembaca untuk menikmati setiap lariknya tanpa harus kesusahan mencari bagaimana cara membaca dengan benarnya. Mas aga juga menulis setiap baitnya sangat senada, ia memilih dengan bijak, jadi pembaca tidak menemukan celah di mana kalimatnya menggantung dengan kalimat lainnya. Sebelum aku tutup, kita bahas puisinya dulu perbait yaa dari mas Aga, nah ini masuk sesi 4 ya kawan-kawan :)) Mod-dhyar Aku yang menyusuinya hingga tiada Kualami sore yang paling diam ini berdua saja Tak kusangka oleh-Nya kau diambil paksa Jiwaku berontak seketika. Berteriak keras,"aku tak terima!" /1/ Dibait ini yg ingin aku sampaikan adalah rasa kaget dan hening ketika seseorang mengalami kehilangan. Diakhiri dengan hentakan, rasa dendam/tak terima Gelepar hati resah bak tak tahu arah Aku inang yang berjalan di atas pasir bersimbah dendam dan darah Bersandingkan teriakan-teriakan humaniora remaja jas merah Aku inang yang sedang marah /2/ Bait ini ingin menggambarkan dendam seperti apa yg sedang dialami oleh tokoh ibu. Marah-pasrah-dendam-tak terima-merasa tidak adil atas kematian anaknya Kutenggelamkan saja duka dan kecewa kedalam gelap jiwa yang terkabung Menempuh sakit yang bisu, kemudian nadiku terhenti tepat di hulu Ternyata benar, kini surga di hadapanku Namun sayang pedih terlanjur menjalar di sekujur kalbu Nak, kubawakan bunga untukmu dan sebilah belati untuk-Nya /3/ Akhirnya tokoh memutuskan untuk bunuh diri, pergi ke surga untuk bertemu anak dan membalaskan dendam atas segala sesuatunya kepada tuhan Oke, sekian rangkuman diskusi puisi dari aku, semoga bermanfaat ya :))) Yogyakarta, 29 April 16. Cc: @kelaspuisi @rintikkecil