Awalnya liat trailer di sebuah stasiun televisi. And I think, “wah keren nih”
Ya coba-coba nyuruh kakak untuk beli dvdnya sebelum dia main di tv. Karena kebetulan film ini main ketika lebaran, dan kalau lebaran itu identik dengan silaturahim ke keluarga, jadi takut ga bisa nonton film ini.
Setelah ditonton, MasyaAllah! Film pertama yang bikin aku semangat menulis! Asma! Nama favorit bagiku setelah menonton film ini!
Kalau bicara akting, Revalina ga bisa diraguin. Aktingnya yang keren dengan pembawaan Morgan yang juga keren, bikin bahagia ketika nonton, apalagi karakter Asma ini adalah penulis yang luar biasa cerdas. Film ini ditulis oleh novelis yang juga terkenal dan merupakan salah seorang novelis yang best selling dalam setiap karyanya. Yups, Asma Nadia.
Asma, merupakan seorang jurnalis yang menurut aku sendiri keren. Asma yang cantik dan teguh prinsip. Layaknya Ashima, tokoh wanita dalam cerita rakyat Tiongkok yang digambarkan oleh Zhang Wen sebagai gadis yang tidak hanya cantik rupanya, tetapi juga mulia hatinya.
Dan Zhong Wen, sosok laki-laki yang berprofesi sebagai Tour Guide Asmara selama di China. Zhong Wen digambarkan sebagai sosok pemuda yang Protagonis. Didalam film ini Zhong Wen Masih Belum Percaya dengan adanya agama.
Bagi saya, film ini juga sangat berwarna berkat peran seorang Laudya Chintya Bella yang berperan sebagai Sekar. Gadis extrovert yang luar biasa dalam menampilakan emosinya. Sekar adalah Tokoh yang menjadi Sahabat Asmara. Karakter sekar film sangat lah kuat, karna dia adalah sosok yang bawel, periang, dan wanita yang suka dengan K-pop. Menikah dengan seorang lelaki yang baik agamanya, Mas Ridwan.
Ridwan adalah tokoh yang menjadi Suami Sekar. Ridwan dalam film memiliki sifat yang bertolak berlakang dari Sekar, Ridwan cendrung kaku namun memiliki latar Agama yang kuat. Di dalam npvel sendiri, Mas Ridwan digambarkan sebagai seorang suami yang sangat menjaga dirinya, dan akting dari Deddy Mahendra Desta patut di acungi jempol!
Di dalam film ini, ada beberapa perbedaan namun tidak mengurangi esensi dari novelnya.
Zhong Wen :”Tapi kenyataanyakan perang selalu mengatasnamakan Agama.” Asmara:”itu manusia nya, bukan Agamanya”
Asmara : “kalau kamu membayangkan dunia akan damai tanpa agama, kamu justru salah besar Zhong Wen. Karna yang terjadi akan sebaliknya, perang akan jauh lebih dahsyat
Kalimat ini yang buat aku sadar, jurnalistik dan kawan-kawannya itu keren. Bisa membuka pengetahuan dan intelektualitas yang luar biasa. Asma menjelaskan mengenai dunia bila tanpa adanya agama. Dunia akan kacau dan terjadi perang yang dahsyat. Dan Zhong Wen pun menerima penjelasan itu dengan berkata kepada Asmara dengan ucapan Cerdas.
Intinya, Film ini mengajarkan bahwa hidayah itu bisa datang dari mana saja dan kapan saja lewat perantara yan telah Allah izinkan.
Banyak lagi sih ibrahnya, tapi lebih baik baca novelnya, visualisasi yang akan kita rasakan jelas berbeda.