Awalan
Akhirnya, tiba juga fase yang cukup kukenali bahwa fase ini akan menakutkan. Berbeda dengan mbakyuku yang begitu visioner, sejak kelas 5 SD dia menyadari bahwa menjadi orang dewasa itu penun tantangan. Aku, justru sangat menikmati setiap ulang tahunku. Hahaha. Terakhir menikmati ulang tahun adalah usia 23, sedang notifikasi perubahan usia 24 dan 25 cukup membuatku takut. Takut bila diri ini masih saja memikirkan dunia dunia dunia, tanpa mengaitkan dengan tujuan diciptakannya Valina. Takut bila diri ini masih galau (entah galau yang hanya diketahui diri sendiri atau galau yang terceceran di mana mana), seakan-akan amnesia dengan janji Allah, bahwa apa apa yang di'titipkan'Nya selalu tepat waktu. Manusia hanya butuh bersabar dan bersyukur. Seandainya diri ini peka, maka rasa syukur akan selalu menggelayut dalam hati. Sayangnya, hati ini tak selalu peka atas cintaNya. Aku takut, bila terlalu sibuk mengurusi 'kekata orang' : merasa tak enak karena seolah-olah bersalah di mata mereka, merasa kesal karena berbeda cara dalam menyikapi suatu masalah, merasa kepikiran berlebihan. Padahal, kalamNya jarang disentuh, apalagi dibaca.
Maka, jika waktu berkenan menjadi saksi di kemudian hari, izinkan aku memulai 'hidup' dengan cara yang lebih baik, di mata Allah.

















