Ramadhan ke-3 | 26 April 2020
Kelaparan
Datanglah seorang pria berpakaian hitam lusuh, wajahnya layu, bicara nya gemetar. Saat itu kami sedang menyantap hidangan buka puasa, tiga tegukan air, 2 biji kurma dan 1 gorengn risol.
“Bu, misi buu...”
saya beranjak dari tempat duduk, menengok kearah toko kami yang sedang dibuka,
“Bu maaf bu, saya boleh minta makan ngga ya bu? Saya belum makan seharian, sudah sebulan diberhentiin dari tempat kerja”
suara nya gemetar.
Saya panikan orangnya.
Akhirnya yang ada dihidangan rumah saat itu diberilah kepadanya,
“Makasih ya bu..”
Suara nya masih gemetar, seperti bahagia yang tak terbendung. Ia melahapnya di teras depan toko kami.
Tampaknya, baru kali ini saya melihat langsung keberanian seorang pemuda yang rela mengubur rasa malu nya, agar bisa bertahan hidup.
Tampaknya, mungkin ini hanya satu contoh dari banyaknya orang-orang yang kehilangan mata pencahariannya, pekerjaannya, penghasilannya. Dampak dari Wabah Covid19 ini. Tak di rasa wabah yang berasal dari negara china, berimbas pula kenegara kita, indonesia.
Berimbas pula kesegala aspek kehidupan kita.
Maka seharusnya yang masih punya penghasilan, masih punya pijakan untuk bertahan hidup, disela-sela masalah yang bertubi-tubi, harusnya tetap bersyukur karena masih bertahan untuk hidup.
Dan seharusnya juga bisa menyedekahkan sebagian penghasilannya untuk orang yang tidak mampu.
Karena kami sebagai hamba Allaah, layaknya sebatang pohon yang saling menebar kebaikan, kebermanfaatan kepada sekitarnya.
Pastikan setiap hari ada sedekah yang keluar minimal sedikit saja bisa membantu mereka yang kesusahan, kalau tidak bisa pula, banyak-banyaklah berdoa untuk orang banyak. Karena kita tidak pernah tau doa siapa yang akan dikabulkan.
Yumi sastriyansah















