Melatih Daya Juang
Belakangan ini membuat resolusi untuk melatih daya juang. Supaya bisa berteman dengan ketabahan seburuk apapun situasinya. Karena begitu banyak mimpi kebaikan yang ingin diperjuangkan.
Sepanjang perjalanan mewujudkan mimpi, ternyata tidak mudah melatih daya juang. Banyak musuh yang harus ditakhlukkan. Musuhnya tidak hanya ekspektasi sosial. Yang terberat malah datang dari dalam diri. Perasaan rendah diri, tidak sabar ingin melihat hasil, haus pujian dan pengakuan. Padahal baru merangkak belajar.
Pada persimpangan perjalanan selalu bertanya, bagaimana meningkatkan daya juang? Apakah dengan langkah-langkah kecil setiap hari? Apakah dengan berkorban sebanyak-banyaknya? Bila berkorban, apa yang perlu dikorbankan supaya belajar? Apa yang harus dirawat supaya api semangat tetap berpijar? apa yang harus dilepas supaya tidak menghambat langkah? Segenap pertanyaan ini selalu muncul dalam benak. Jawabannya pun belum menyeruak.
Saat dirasa daya juang mulai menipis, aku sering merapalkan ini pada diri sendiri: ambil waktumu. Terdengar klise memang. Namun cukup menguatkan. Karena perjalanan melatih daya juang tidak akan sama bagi setiap orang. Kita hanya bisa belajar dari cerita perjuangan orang lain. Tapi, tidak bisa memahami secara utuh sebelum mengalami. Seringnya, cerita yang dipelajari itu tidak bekerja pada situasi kita. Namun darimana kita tahu bahwa itu bekerja atau tidak sebelum mencoba? Maka tetaplah mencoba agar bisa mengalaminya sendiri. Beri waktu diri sendiri untuk mencoba.
Mungkin dalam perjalanan mencoba akan menemui banyak kegagalan, melakukan kesalahan, mendapatkan penolakan, bahkan cacian. Barangkali dari sana daya juang akan terbentuk? Sebab kita berani mengecap berbagai macam rasa pahit dan sakit itu sepanjang perjalanan berjuang. Rasa pahit dan sakit itulah yang mengajarkan kita arti ketabahan, menjadikan kita pribadi yang lebih tangguh.
Sampai kapan harus berjuang? Sampai impiannya terwujud. Sampai habis masa di dunia dan dipanggilNya kembali. Sampai kita merasa bahwa di akhir hidup, kita telah mengerahkan seluruh daya dan upaya. Supaya tidak menyesal bila perjalanan ini tetiba usai.
Walau sering merasa belum layak untuk impian yang akan diwujudkan. Aku tidak mau menilai diri sendiri terlalu cepat, hanya dengan melihat kondisiku sekarang yang belum bisa menghasilkan apa-apa.
Semoga, dengan langkah kecil yang terseok-seok ini. Meski harus mengambil jalan memutar sekalipun. Harus mengalami kepayahan dalam perihnya belajar, tidak apa-apa. Nanti juga pantas. Nanti juga berdaya. Walau tidak ada yang tahu kapan waktu itu tiba. Tapi semoga kita dikuatkan.
Selalu percaya bahwa ada Tuhan maha adil. Tuhan selalu melihat proses perjuangan hambaNya ini secara adil. Seberapa banyak pengorbanan yang diberikan untuk menjadi berdaya dan mewujudkan kebaikan.
Kalau hasil belum berada di pihak kita, setidaknya semoga ketabahan dan daya juang berada di sisi kita. Memastikan agar kita tidak berhenti memperjuangkan mimpi. Sejauh apapun perjalanan yang ditempuh.
Surabaya, 12 Oktober 2020

















