Suara musim penghujan begini sebetulnya cocok jadi musik pengantar tidur. Namun sebelum tidur, aku ingin menulis.
Kali ini aku akan membahas soal waktu luang.
Semenjak aku berhenti kerja, otomatis jam seloku bertambah amat banyak, bahkan sangking banyaknya sampai meluber. Biasanya bangun tidur yang terfikir adalah “hari ini aku shift jam berapa” ---- karena harus mengatur waktu antara beberes rumah, nganter adek sekolah, dan supaya tidak telat pergi ke kantor. Namun setelah mengetahui bahwa aku sudah tidak bekerja lagi, perasaan lega menyusup begitu saja. Aku bangun dengan tenang dan tidak grusa-grusu. Memang benar sepertinya yang dikatakan oleh Reza Nufa “merawat kewarasan diri bisa dimulai dengan memisahkan diri dari ketergesa-gesaan”. Pagi-pagi terlewati dengan baik. Kopi bisa ku tenggak dikit demi sedkit tanpa harus takut terlambat pergi ke kantor. Sebagai bonus, aku bisa melihat kartun pagi.
Namun sayangnya euforia itu hanya bertahan selama 1-2 minggu (Aku menganggur sudah 1 bulan 7 hari). Selebihnya aku bingung musti ngapain. Lonjakan peralihan dari rutinitas pekerjaan yang maha sibuk menjadi (sangat) selo membuat aku kaget. Maklum dulu waktu selo ada sebuah hal yang mahal harganya, mengingat hari minggu tidak selalu libur. Kendati demikian ternyata terlalu banyak waktu selo juga tidak menyenangkan. Aku kebingungan mencari hal yang bisa aku kerjakan. Sambil berpikir apa hal yang harus aku kerjakan, aku isi kegiatan dengan menonton tv dan beberes rumah. Karena itu sudah seperti kebiasaan, waktuku masih terasa banyak yang kosong. Sampai akhirnya aku meminta bantuan google untuk membantuku mencari hal apa yang sebaiknya dilakukan oleh seorang pengangguran agar bisa menjalani masa pengangguran dengan berfaedah sambil menunggu panggilan kerjaan. Dari bermacam usulan, beberapa ada yang aku coba, diantaranya:
1. Menata ulang kamar. Tidak dipungkiri bahwa aku adalah orang yang gampang bosan. Melihat tatanan ruang yang begitu-begitu saja membuat pikiranku semakin jenuh. Akhirnya dengan berbekal semangat dari diri sendiri aku merapikan buku-buku, menata ulang barang-barang dan membuang barang yang tidak perlu supaya terlihat lebih lapang. Dan ternyata ini cukup membantu untuk memperbaiki mood.
2. Belajar masak. Bagiku masak itu bukan hanya soal enak atau tidak enaknya suatu makanan. Enak itu bonus. Justru yang menjadi hal yang menyenangkan ketika memasak adalah ketika membeli bahan masakan di pasar, memilih bahan terbaik, memilih bumbu-bumbu, mengiris bahan, serta menakar seberapa banyak bumbu yang diperlukan--- Keahlian tukang masak diuji ketika bumbu yang dia butuhkan tidak tersedia lengkap, dengan keterbatasan bumbu itu, apakah bisa menghasilkan masakan yang enak atau tidak. Dan menurutku belajar masak ini sangat penting mengingat usia orang tua yang sudah tidak muda lagi. Paling tidak dengan bisa memasak kita bisa menyediakan makanan untuk diri kita sendiri.
3. Membaca. Ternyata benar, kebutuhan bacaan berbanding lurus dengan waktu seloku. Agar sedikit berfaedah aku punya target untuk mengkhatamkan bacaan yang baru aku intip-intip sedikit. Walhasil selama kurang lebih sebulan lebih tujuh hari ini aku telah merampungkan sembilan buku. Diantaranya: Tuhan Maha Asyik, Sekolah Biasa Saja, Totochan Children, Breakfast at Tiffany, Atheis, 0 Kilometer, Pada Sebuah Kapal, dan Tuhan Tidak Makan Ikan. Banyak hal baik paska aku membaca buku, yang paling terasa membaca benar-benar menjadi pengaruh baik akan kebutuhan ruhniahku. Pesan moral yang yang disampaikan dalam sebuah cerita seringkali menjadi suntikan semangat untuk bertumbuh menjadi lebih baik lagi, sedang konfik yang terjadi mengajari bagaimana bersikap melihat permasalahan dari sudut pandang terbaik.
4. Jalan-jalan/ nongkrong dengan teman. Meski tidak jauh, jalan-jalan dan bertemu teman mampu menyegarkan pandang dan mengurangi kegelisahan (asal perginya tidak sama orang yang jadi toxic aja hehehe). Bahkan mungkin dengan bertemu teman-teman ada jalan rezeki yang terbuka dari sana.
5. Senam dan Yoga. Sudah tiga minggu terakhir ini aku mengikuti senam dan yoga di sanggar senam kotaku. Kegiatan yang didominasi bu-ibuk ini benar-benar kurasakan manfaatnya akhir-akhir ini, mulai dari pikiran yang tenang, tidak sulit tidur, dan di badan enteng. Bonus berat badan turun.
Tidak mesti senam atau yoga, tapi menurutku olahraga pada saat kita memiliki banyak waktu selo itu teramat sangat penting karena berdiam diri hanya akan menambah kinerja buruk badan dan juga pikiran. Dengan berolahraga aliran darah bisa lancar, dan beberapa waktu lalu aku membaca sebuah artikel bahwa olahraga mampu menghasilkan hormon yang membuat kita happy.
6. Ke Perpustakaan. Karena perpustakaan kotaku sudah tertata rapi dan designnya cenderung menarik minat, aku sering menghabiskan hari di sana. Selain untuk mengirim/mencari (lamaran) kerja juga untuk mencari tahu info gebetan terkini, tidak lupa menulis.
Nah, itu beberapa hal yang aku kerjakan ketika menjalani profesi sebagai pengangguran. Meski identik dengan tidak punya “gawean” aku berfikir bahwa menjadi pengangguran tidak boleh bermalas-malasan. Sambil mencari pekerjaan, waktu yang ada bisa gunakan waktu itu untuk menyayangi diri sendiri dengan terus bertumbuh dan mengupgrade diri.
Namun ternyata, menjadi pengagguran pun butuh persiapan. Nah agar profesi pengangguranmu berjalan dengan baik. Penting sekali mempertimbangkan isi tabungan sebelum memilih berhenti dari pekerjaan. Karena dengan memiliki tabungan yang cukup, kebutuhan yang bersifat pribadi tidak perlu minta orang tua lagi. Syukur-syukur dengan uang tabungan itu bisa digunakan untuk membuka usaha.
Hal lain yang perlu di pertimbangkan adalah langkah selanjutnya. Setelah ini mau kemana. Karena seenak-enaknya menganggur lebih enak lagi kalau kita bisa berguna. Tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain.
Dan yang terakhir, harus punya mental yang kuat yaa, soalnya dengan menganggur akan banyak persoalan yang harus di hadapi, lebih-lebih kalau lulusan perguruan tinggi *eh.
Sekian, semoga tulisan ini bermanfaat. Selamat bertumbuh. Jangan lupa minum air putih.