Begitu kau dipanggil olehnya. Sebab katanya dari matamu cahaya surga itu tampak. Bening kilau terpancar darinya begitu meneduhkan. Katanya, kau seperti hadiah dari kumpulan keindahan.
Ia mencoba menyakinkanmu dan menyanggupi untuk menjadi sosok terbaik buatmu. Memuliakanmu, mencintaimu dan melakukan hal-hal yang tentu akan kau ridhoi.
Tapi, bening matamu menyimpan ragu. Dari pantulan keduanya terlihat ada ketakutan yang terpancar. Seolah kebaikan yang dimilikinya tak cukup utuh untuk membuatmu yakin. Padahal bukan sebab itu kau ragu. Ini bukan tentangnya, bukan karena ia yang terlalu baik untukmu. Tapi, apakah kau cukup baik untuknya.
Kau bertanya pada cermin kala itu. Dari pantulan matamu kau melihat sendiri sinar keraguan yang acap kali terlihat ketika kau mengingatnya. Seakan dia hanya bisa menempuh batas mimpimu. Dia, hanya bisa merengkuh jarak khayalanmu. Dia yang terlalu jauh dalam jarak realitamu.
Padahal, sejak dulu baginya kau adalah hadiah yang dikirim dari langit sana. Bening matamu adalah pancaran surga. Shalihah dirimu itulah harapan jiwa. Sejuk wajahmu selalu siratkan ketenangan. Baginya di dunia ini,kau tak ada yang menandingi.
Lantas, apa kau mau percaya jika kata-kata bukan gombal itu tertuju untukmu?
Kau menggeleng. Katamu, "aku tidak sebaik itu."
Mereka benar, kau akan tetap begitu. Lupa bahwasanya kau begitu berharga. Hanya saja jangan terlalu lama menyimpan cahaya sendirian, kau perlu teman dalam perjalanan agar cahayamu tetap berpijar dalam kebaikan.
Kadang ragumu itu perlu dituntaskan dengan jawaban. Ya, jawaban yang konkrit mungkin, bukan hal abstrak yang kadang menyerang ragumu.
Aku berpesan padamu, semua bidadari bermata bening di seluruh penjuru, jadikanlah dirimu hadiah terbaik untuk siapapun yang mengenalmu. Bagikan cahayamu, tapi jangan bakar dirimu. Jika kau merasa belum menjadi baik, maka itulah saatnya kau harus terus berada dalam kebaikan. Rengkuhlah sebanyak mungkin kebaikan, teruslah berada di sana.
Yakinlah, orang-orang baik, akan selalu berusaha dalam kebaikan dan akan membersamai orang baik pula.
Terinspirasi dari Ayna, bidadari tangguh seperti Ummu Khadijah. diceritakan di novel Bidadari bermata Bening-nya Habiburrahman.