Seni Memahami Orang Lain
Ken pernah bilang begini, "Orang lain gak akan ada yang benar-benar faham apa yang kita rasakan atau yang orang lainnya rasakan. Setiap kita hanya bisa berspekulasi dan bersimpati atas apa yang orang lain rasakan, entah bagaimana itu sakitnya dia atau pun senangnya dia."
Kita pernah merasakan rasa sangat sakit dan rasa sangat senang pula, tapi perasaan itu tidak bisa dibandingkan dengan yang orang lain rasakan, setiap orang punya standar, ukuran, dan tingkatan batasan perasaannya masing-masing.
Kita tidak berhak dengan mudahnya menjudge orang lain lemah, cengeng, rapuh, dsb ketika dia merasa down. Kita tidak akan pernah tahu, bisa saja kata-kata itu justru yang semakin membuatnya patah dan rapuh, lalu membuatnya lari pada pilihan yang lebih buruk.
Alangkah lebih baiknya kita menggunakan empati hati kita terlebih dahulu atas perasaan apa yg menimpa orang lain, mendengarkan curahan hati atas kesakitan yg ia rasakan, begitu pun jika itu ungkapan rasa senang. Mungkin menurut kita itu adalah hal yang biasa saja atau bukan hal yg patut dirasakan sedemikian dalamnya. Tapi, itu bagi kita, tidak bagi dia.
Meski kita bukan dokter yang mampu menyembuhkan, tapi dengan berempati nya kita, berada disampingnya, cukup dengan mendengarkan keluh kesah dan bagaimana perasaannya, mungkin itu akan lebih menenangkan hatinya, membuatnya lega dan sedikit merasa terobati.
Tidak kah kita bahagia ketika seseorang ikut berbahagia dan kembali pulih dari rasa sakit yg ia derita. Atau mungkin saja kita yang di posisi itu, tidakkah kita merasa bahagia dan bersyukur karena masih ada orang yg peduli, masih ada orang lain yang menguatkan, memberikan dukungan dan karenanya kita tidak merasa sendirian dan terasing di tengah badai yang menimpa.





