Perempuan, Masa Depan, dan Cinta
Hari ini ada sedikit cerita tentang saudara jauhku yang baru saja melangsungkan pernikahannya.
Mbak Ri, selamat atas pernikahannya.
Disini aku akan menceritakan sebuah ketidakrelaan ku atas pilihan hidup yang mbak Ri pilih. Tentu saja, ini dari sudut pandang ku ya.
Cerita ini dimulai dari mbak Ri yang merupakan seorang dokter lulusan UGM, Hm? yang spesialnya lagi, mbak Ri ini lulus sarjana kedokteran (S.Ked) dengan nilai IPK 4 (bulat)! Perempuan cerdas, tentu saja. Ditambah lagi, mbak Ri ini mempunyai hati yang tulus banget yang dibuktikan dengan cerita bahwa dia diputuskan oleh mantan kekasihnya hanya karena mantannya itu kecelakaan dan mengalami cacat di kaki. Ya, kamu tidak salah baca kok. Dia yang diputuskan. Hanya karena si laki-laki itu minder setelah kecelakaan, padahal mbak Ri sendiri tidak masalah dengan hal itu (pada saat mereka masih menjalin hubungan). Perempuan tulus, tentu saja.
Mbak Ri saat ini berstatuskan isteri dari suami seorang anggota TNI AU. Cukup itu saja aku menceritakan tentang suaminya. Kenapa aku tidak rela mbak Ri memilih pilihan hidupnya sekarang? Apa yang kurang dari suami mbak Ri? Mungkin kamu akan berpikir tidak ada yang kurang dari pilihan mbak Ri. Tapi tunggu dulu, sebelum mbak Ri menikah, dirinya telah ditawari oleh senior kampusnya dan dari kampus untuk melanjutkan studi menjadi spesialis Jantung. Dan jika melihat beban biaya menjadi spesialis Jantung, angka 500 juta keluar dari mulut pakdhe ku yang baru saja menceritakan pada ku. Belum lagi, saking cerdasnya mbak Ri, dirinya telah ditawari seniornya untuk kembali ke kampus mengajar. Namun, karena tawaran itu terjadi setelah mbak Ri dilamar kakandanya yang bertugas di kota B. Tawaran itu lenyap begitu saja, suaminya meminta mbak Ri untuk mengikuti kemanapun dia bertugas, dan mbak Ri diminta untuk masuk menjadi dokter di RS AU tempat suaminya bekerja.
Itulah yang menjadi topik obrolan ku dengan bapak sore ini, dikala Jogja diguyur gerimis mendung.
Aku sempatkan bertanya kepada bapak, “Bapak, kalau bapak diposisi jadi bapaknya mbak Ri. Apa harapan bapak atas pilihan mbak Ri?”
Bapak tertawa sedikit “Bapak itu sebagai orang tua dari anak-anak jaman sekarang, ya cuma memberikan pandangan. Tapi keputusan mau lanjut sekolah apa nikah ya diserahin ke anaknya”. Dengan cepat aku menyahut, “Hla pak, anak jaman sekarang itu pemikirannya kurang panjang dan cenderung membuat sedikit menyesal atas pilihannya. Kalau dari hati yang terdalam apa sebenarnya harapan bapak?”. “Ya, kalau bapak pengen anaknya lanjut sekolah, wong anaknya juga pinter, dibiayai. Lagian juga kalau itu (cerita mbak Ri) belum tentu bisa lolos masuk RS AU, dan ujung-ujungnya kalo perempuan ya nganggur dirumah”.
(tapi sebelum kesimpulan akhir dari percakapan bapak diatas, bapak sempat mengatakan bahwa cari pekerjaan itu mengikuti setelah mendapatkan jodoh. Dan aku menolak pernyataan itu, karena mbak Ri adalah seorang dokter cerdas yang usianya masih dibawah 30 tahun, dan dia tidak seburuk fisiknya untuk seorang perempuan. Jadi, tidak akan terlalu sulit bukan untuk mendapatkan jodoh? Akhirnya bapak setuju dengan pernyataan ku). “Iya ding ya, tapi yaudah rezeki dan jodoh itu memang sudah ada yang mengatur”.
Aku menolak melanjutkan percakapan, yang penting aku sendiri sudah tahu salah satu harapan bapak ke anaknya kelak.
Sebenernya ingin meneruskan percakapan dengan bapak soal atur mengatur takdir sih, bahwasanya memang Allah SWT sudah mengatur untuk urusan rezeki dan jodoh, tapi kita sebagai makhluk-Nya masih dapat mengubah takdir tersebut. Dengan apa? Dengan DOA. Coba saja selalu libatkan Allah dalam urusan kamu, urusan sekecil mu seperti hari ini berdoa minta diberi petunjuk berpegian lewat jalan A atau jalan B agar selamat sampai tujuan. Hmm mungkin gak ya mbak Ri berdoa terlebih dahulu antara menerima lamaran atau menunggu pengumuman beasiswa spesialisnya? Jika iya, apakah jawaban dari Allah itu mbak Ri menikah, atau lanjut sekolah? Entahlah…
Tapi jika aku diposisi mbak Ri, sudah tentu dengan tegas aku menjawab lanjut spesialis. Maaf ini sebenarnya pemikiran anak umur 22 tahun, belum saja merasakan umur 25 tahun yang dimana-mana kawannya sudah pada menikah dan punya anak. Hahahaha.
Kenapa ya aku selalu mempunyai pemikiran seperti itu? Padahal jika aku berkenalan dengan seseorang aku selalu sok-sok an terlihat ingin menikah, kenyataannya yang dipikiran ku hanyalah aku selesai studi sarjana ini, aku ingin melanjutkan jenjang sekolah ku lagi. Ya, aku mengakui bahwa diriku ini masih mempunyai kepribadian labil sebagai anak yang berumur 22 tahun. Belum terlalu kuat untuk memiliki alasan atas semua urusan cita-cita dan cinta ku.
Jawabannya, karena aku belum selesai dengan urusan ku sendiri. Yap, aku belum selesai dengan urusan skripsi ku, hingga aku belum ada alasan kuat akan melanjutkan studi S2 Kebidanan yang rempong banget buat mendapatkan pengalam kerja 2 tahunnya. Belum lagi memikirkan studi di dalam negeri atau tergoda coba-coba lanjut ke luar negeri? (alasan ini, karena saya menemukan 3 dosen stikes mendapat gelar Magister Midwifery di luar negeri. Prinsip “orang lain bisa, masa aku enggak” seketika menggebu untuk urusan gelar M. Mid ini!)
Bagaimana tidak luar biasa? Disaat teman-teman perempuannya sudah bergandeng mesra dengan pasangannya masing-masing, si dia perempuan istimewa masih sibuk mengasyikkan diri dengan buku dan segenap pengetahuan didalamnya - Anonim
Urusan cinta? Jangan ditanya lagi deh kenapa belum juga memiliki alasan yang kuat untuk menikah seperti dia si teman kuliah ku yang sudah woro-woro bakal menikah setelah wisuda, atau lebih hebatnya lagi si dia teman kuliah ku yang saat ini tinggal menunggu HPL anaknya?
Huwah!! Entahlah yang penting aku sudah menuliskan dalam buku perjalanan pribadi ku untuk urusan yang satu ini.
Tapi yang pasti, sebagian perempuan dengan segala rancangan masa depannya pasti akan kalah dengan yang namanya cinta. Jika tak kalah dengan cinta, mungkin ada alasan rahasia dia dan Allah yang tahu.
Sekalipun untuk menjadi ibu itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, namun seorang perempuan yang berpendidikan itu tentu bisa menjadi calon ibu yang terbuka pengetahuannya. Rasanya begitu cocok untuk menjadi calon ibu untuk anak-anak kita nanti - Anonim
p.s: Seperti tulisan-tulisan ku biasa, ini hanyalah rangkaian kata yang tak berpesan diawal maupun diakhir kalimat. Selamat membaca :)