Hari yang diam-diam selalu kita tunggu,
karena ia hanya datang sekali dalam setahun,
seperti jeda kecil dari semesta
untuk mengingatkan bahwa kita masih ada, masih bertumbuh.
Namun, ia juga hari yang kadang kita hindari,
sebab angka usia sering membawa beban tak kasat mata,
ekspektasi yang meninggi,
dan tanggung jawab yang seolah ikut bertambah seiring waktu.
Dulu, sebelum usiaku menyentuh kepala tiga,
setiap menjelang hari ini tubuhku selalu memberi tanda , demam ringan, batuk, pilek, atau sekadar sakit kepala. Seolah ada sesuatu yang bergejolak di dalam diri, meski kala itu aku menganggapnya biasa saja…
atau mungkin sekadar kebetulan.
Kini, setelah melewati kepala tiga,
tubuhku tak lagi berbicara dengan cara yang sama.
Tak ada lagi sakit yang datang diam-diam.
Dan akhirnya aku mengerti, yang berubah bukan hanya waktu, tapi cara aku memperlakukan diriku sendiri.
Aku tak lagi menumpuk harapan setinggi langit,
tak lagi menulis daftar panjang yang menyesakkan.
Kini hanya ada target yang masuk akal, langkah yang lebih lembut, dan penerimaan bahwa aku tidak harus menjadi siapa-siapa, selain diriku sendiri.
Tanggal 5 April,
tetap menjadi ruang sunyi untukku pulang ke dalam diri, menyusun ulang cerita setahun ke belakang,
mengevaluasi baik dan buruk, lalu perlahan merancang versi diri yang ingin kutumbuhkan.
Begitulah anak perempuan pertama ini tumbuh..
Terlihat tegar, kadang terlalu keras pada diri sendiri,
demi menjadi sosok yang bisa diandalkan, menjadi tempat bersandar, meski sering lupa… bahwa ia juga butuh dipeluk.
Tahun ini… catatanku terasa lebih kosong.
Bukan karena tak ada cerita, tapi mungkin karena aku mulai belajar menerima bahwa tidak semua hal harus selalu dipenuhi makna.
Kalimat yang tahun ini aku ingin ucapkan pada diriku...
Terima kasih, karena telah bertahan sejauh ini.
Di dunia yang sering kali tak ramah, yang punya caranya sendiri untuk mengaduk perasaanmu,
kamu tetap berdiri, meski kadang goyah.
Ingatlah, di antara segala yang kamu miliki hari ini, bisa jadi adalah doa-doa orang lain yang belum sempat Tuhan kabulkan.
Maka jangan lupa bersyukur, meski pelan, meski sederhana.
Maafkan dirimu…
atas luka yang mungkin kamu ciptakan sendiri,
atas harapan-harapan yang terlalu kamu gantungkan
pada orang lain.
Dan sekarang,
izinkan dirimu tumbuh, bukan menjadi sempurna,
tapi menjadi kuat seperti pohon yang berakar dalam, yang tetap berdiri meski diterpa angin.
Selamat ulang tahun, untukku...
yang terus belajar,
yang terus berjalan,
dan yang akhirnya… mulai berdamai 🌿