Sesebutan Budayawan itu Dari Pak Muidin
Dulu, ketika wartawan wawancara dengan seseorang, akan menulis narasumber beserta atribut yang dilekatkan (bukan yang melekat) pada diri narasumber atau yang oleh kalangan wartawan (trmasuk Kalangan koresponden, contributor atau thuyul/stringer).
Atribut yang menandai ‘kekompetensian’ narasumber itu antara lain dosen/pengajar, guru besar, komandan, kepala dan sebagainya.
Namun juga ada yang nonformal (tidak usah ribet, nonformal ini maksudnya bukan tokoh yang duduk di pemerintahan), semisal pelukis yang kemudian banyak disebut sebagai perupa, sastrawan, tokoh spiritual, tokoh masyarakat setempat, kyai, pendeta atau lainnya.
Ada yang sempat menjadi unik. Sebutan atau atribut itu adalah Gus di kalangan ulama. Sebutan Gus ini sempat dipertanyakan oleh KH Mustofa Bisri atau Gus Mus.
Sebab menurut beliau, sebutan Gus itu melekat pada anak kyai yang ikut menangani pondok pesantren namun ‘belum pantas’ disebut Kyai. Meski sampai saat ini Kyai Mustofa Bisri tetap banyak yang menyebut Gus Mus.
Lanjut, di pertengahan 1980-an, muncul tokoh-tokoh yang menekuni dunia kebudayaan baik sebagai sastrawan, penulis, esaiis (penulis esai) dan sebagainya yang membuat ‘kebingungan’ di kalangan wartawan untuk melekatkan atributnya.
Banyak diantara mereka yang kemudian menjadi penulis tetap atau kolumnis di surat kabar harian atau mingguan atau majalah dan sebagainya.
Nah ketika penulis-penulis ini semangkin kondang dan kemudian diwawancara sebagai narasumber, bingunglah wartawan atau jurnalis itu mau menuliskan atribut yang menempel di nama narasumber.
“Yo wis, budayawan ngono wae,” kata Redaktur Harian Masa Kini, Muidin (almarhum) dan pernah menjabat sebagai Redaktur Eksekutif II Harian Umum Yogya Post (versi Jalan Taman Siswa) ketika seorang wartawan bertanya apa sebutan yang tepat.
Karena era pertengahan 1980-an hingga 1990-an, banyak kegiatan seperti seminar, workshop, sarsasehan dan sebagainya yang mengundang narasumber tidak hanya kalangan akademisi.
Jadilah kemudian sesebutan budayawan itu sering dilekatkan pada orang-orang yang menjadi narasumber, bukan karena jabatan pemerintahan Sipil dan ABRI – istilah waktu itu, bukan dari kalangan akademisi, bukan tokoh masyarakat dan bukan pula kalangan seniman yang pengkotakannya sudah jelas seperti pelukis, pematung, dramawan, penyair, pantomimer, dalang, wiyaga, sinden penyanyi, gitaris, penari, drummer, pianis, musisi, koreografer dan lain sebagainya.
Kalau seseorang tokoh yang memiliki kemampuan olah seni budaya yang beragam, jarang disebut sebagai budayawan, tetapi “seniman serba bisa” atau “seniman besar” atau disebut dua atau tiga kepiawaiannya. Misalnya Bagong Kussudiardjo. Jarang menemukan tulisan yang menyebut beliau sebagai Budayawan tetapi sebutannya antara lain Seniman Besar, atau koreografer atau penari.