Jangan membuat seniman jatuh cinta kalau enggak mau abadi dalam karyanya.
- Sastrasa
seen from Singapore

seen from Japan
seen from Singapore
seen from United States
seen from Kyrgyzstan

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from Yemen
seen from Brazil
seen from Türkiye
seen from Brazil
seen from Germany
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from China
Jangan membuat seniman jatuh cinta kalau enggak mau abadi dalam karyanya.
- Sastrasa
Sebelum takdir habiskan nafasmu. pantang lewatkan salah satu manis kebahagiaan hidup dengan merasakan cintanya seorang seniman–penulis, penyair, pelukis, pemusik.
Jika kau pilihannya yang absolut, mereka 'kan jadikan kau abadi di tiap balut inspirasi karyanya.
Arief Aumar Purwanto
se.ni.man (n)
Seniman Murahan
Pertama-tama, aku mau berterimakasih pada @Kekeflipnote untuk video ini dan kata-kata yang ia sampaikan di twitternya. Aku enggak tahu dia siapa, tapi aku berharap ada lebih banyak orang baik seperti dia. Terimakasih.
Fakta bahwa ada banyak calon seniman di luar sana yang punya masalah dengan rasa percaya diri, membuatku lega sekaligus sedih.
Lega karena aku tidak sendirian, sedih karena—seperti yang Keke Annecy bilang—pembuatan sebuah karya mengalami proses panjang dan perasaan si seniman, dan karenanya ia sesungguhnya sangat pantas untuk dihargai lebih dari harga sepotong roti lapis.
Masalahnya sama. Kami takut harga yang kami pasang terlalu mahal dan orang lain mulai beranggapan, “apaan gitu doang mahal amat.” Kami tidak tahu kapan kami bisa mulai dipanggil profesional. Kami tidak merasa karya kami spesial, apalagi kalau membandingkan diri dengan karya orang lain yang jauh lebih bagus.
Kalau aku, masalahku bertambah satu: karena teman.
Selama 18 tahun mengenyam pendidikan—sejauh yang aku ingat—aku menggambar begitu banyak untuk teman-temanku dan tak ada satupun yang aku jual. Atau bisa juga dibilang, tidak ada yang mereka beli. Semua gambarku kuberi gratis.
Kata-kata “mau dong gambarin aku!” yang seringkali kudengar, enggak pernah aku anggap angin lalu. Kalau aku meng-iya-kan, maka aku lakukan. Lalu aku dihargai dengan satu kata “terimakasih” dan senyum manis mereka.
Sekarang entah mereka masih menyimpannya atau menganggap karyaku hanya angin lalu.
Kebiasaan seperti itu, dulu sama sekali tidak memberatkanku. Aku senang melakukannya. Aku senang lihat wajah mereka yang tampak bahagia menerima karyaku. Aku merasa dihargai dan diapresiasi.
Namun rupanya, itu adalah kebiasaan buruk. Kebiasaan yang akhirnya membuatku hanya bisa menjawab, “enggak tahu ha ha ha” setiap ditanya, “Nov, mau beli gambar kamu harganya berapa?”
---
Aku berhasil menjual dua gambar pertama ke bekas pacarku. Ia memintaku menggambar dua ilustrasi sebagai hadiah sidang sarjana untuk kekasihnya. Kujual Rp 20.000. Harga mantan, kataku. Awalnya dia mengomel karena harganya yang terlalu murah; kemudian dia menceramahiku soal caraku menghargai karyaku. Meski begitu, ego konsumennya ternyata lebih besar dari dugaanku dan akhirnya ia membayar seharga yang kutetapkan.
Karya selanjutnya yang aku jual adalah sebuah kerjasama dengan sebuah merk dagang usaha rintisan milik temanku. Kalau kau pikir harga Rp 20.000 untuk dua gambar itu terlalu murah, kali ini aku menjual sepuluh gambar seharga Rp 50.000. Iya. Satunya Rp 5.000 dan hak milik karyanya kulepas kepada si pembeli.
Pembeli selanjutnya adalah seorang asing untukku, tapi tidak asing untuk temanku. Penawaran yang ia berikan menyenangkan. Membuat ilustrasi untuk buku cerita anak-anak. Ceritanya pendek, ilustrasi yang ia butuhkan tidak banyak dan ia bersedia membayar Rp 300.000 untuk 9 ilustrasi termasuk desain sampul. Jumlah tersebut (mungkin) akan terasa cukup, kalau saja tenggat waktunya manusiawi. Ia memberiku waktu tiga hari untuk menyelesaikan gambarnya, berikut menata letak bukunya hingga siap cetak. Karena pengerjaannya yang terburu-buru, terlepas dari apakah ia senang dengan karyaku, aku sendiri akhirnya merasa enggak puas.
Semenjak dicerca oleh seorang teman soal harga diriku yang murah ini, aku enggak lagi mau cerita pada siapa pun soal betapa bangganya aku telah berhasil mengkomersilkan sebuah karya yang asalnya hanya hobi. Apalagi memberi tahu mereka nominal yang aku dapatkan. Karena pada akhirnya, semua orang tidak melihat itu sebagai prestasi, tapi sikap rendah diri yang sudah kelewat batas.
Aku enggak ingin siapapun yang membaca ini, nantinya malah menghakimi mereka yang telah membeli karyaku. Jangan ya. Karena aku sangat berterimakasih pada mereka. Mereka adalah orang-orang pertama yang membukakan pintu kesempatan serta memberiku harapan, bahwasannya aku mungkin mampu menghidupi diri dari berkarya.
Mereka tidak salah, memang hanya diriku yang terlalu murah.
---
Kemewahan Bernama Rasa Percaya Diri
Aku juga menyadarinya. Sikap rendah diriku ini sangat keterlaluan. Tapi, kalau melihat ke belakang, ke masa dimana untuk pertama kalinya aku menemukan kesenangan dari menggurat pensil dan menjadikannya sebuah gambar, rasa percaya diri memang selalu jadi barang mewah untukku. Kemewahan yang aku ingin sekali punya dan nikmati.
Enggak terhitung berapa kali aku mengutuk soal betapa buruknya gambarku, betapa apa yang kubuat tidaklah berharga. Sekarang berbeda tentunya. Persentase kata pujian mulai menunjukkan peningkatan, meskipun kata hujatan tidak mengalami penurunan. Tapi ‘kan perubahan sikap tidak bisa serta merta mengubah kebiasaan.
Kalau sikap rendah diriku tercipta karena aku yang tidak punya percaya diri selama 24 tahun, maka rasa percaya diri yang baru kupunya setahun belakangan ini belum bisa menciptakan sikap apa-apa. Apalagi sikap yang bertentangan dengan rendah diri.
Lagi, aku juga menyadarinya. Memelihara sikap kayak gini, sangat tidak baik. Karenanya, aku merasa tertampar sekali ketika membaca apa yang Pandji Pragiwaksono tulis di websitenya, soal menjual karya. Dia bilang,
“Saya antusias akan karya saya sendiri, makanya saya terus bercerita.
Dan..
Saya tahu kalau saya tidak komunikasikan, yang benar benar mau nonton / membeli karya kita tidak akan bisa tahu.
Di luar sana ada orang orang yang mau beli karya kita, tapi mereka harus dibantu.
Dibantu diberi informasi tentang karya kita. Tentang harganya. Tentang tanggal rilisnya. Mereka menunggu info itu dari kita. Yang kalau kita malu berbagi informasi, mereka tidak akan tahu. Apalagi mempersiapkan dirinya untuk membeli karya kita”
—Pragiwaksono, 2017 (dalam tulisan berjudul Untuk yang Penasaran)
Setelah membaca itu, aku merasa dituduh tidak antusias terhadap karyaku dan apa pun yang aku buat. Padahal aku juga antusias, kok! Selalu ada perasaan ingin cepat ‘memasarkan’, tiap kali aku berada dalam proses pembuatan sebuah karya. Masalahnya, aku beranggapan kalau apa yang bagus untukku, belum tentu bagus untuk orang lain—begitupun sebaliknya. Aku bukan malu bercerita, tapi aku tidak percaya kalau di luar sana ada orang yang menikmati dan mau membeli karyaku.
Karena, “lebih mudah untuk berdiam diri dalam keyakinan yang menyakitkan bahwa tidak ada seorang pun yang menghargai talenta kita, daripada benar-benar menguji keyakinan tersebut dan menemukan jawaban yang paling tepat.” (Mark Manson, 2018: 138-139)
Aku enggak bisa bilang dengan percaya diri tanpa bergidik merinding disko, bahwa aku ini seorang Author Komik, seorang Illustrator, seorang Seniman. Karena meski telah dua kali menerbitkan komik di Webtoon Challenge; menggambar beberapa ilustrasi yang di monetisasi, aku tetap merasa aku belum melakukan banyak yang cukup untuk bisa memberi diriku sendiri titel itu.
Tapi kalaupun aku ditanya, “terus kapan dong, Nov? Kamu merasa pantas disebut seniman, ilustrator, author?” Jawabanku masih, “enggak tahu, ha ha ha.”
---
Menjadi Murah(an)
Ketidakpunyaanku akan si barang mewah yang namanya ‘percaya diri’ ini, berdampak lebih besar dari apa yang aku duga. Karena meskipun kita sendiri dan mengurus diri kita sendiri, kita tetaplah bagian dari kelompok masyarakat yang kita representasikan. Sebagai individual, aku memang seniman amatir, tapi kata ‘amatir’ tidak menjadikan aku bukan seniman dan tidak memisahkan aku dari kelompok seniman yang isinya super banyak di luar sana.
Dampak buruk dari menjadi seniman murahan adalah, harga seniman menjadi murah.
Masalah harga diri (dalam materiil) seorang seniman dan karyanya adalah keresahan yang bahkan dirasakan oleh mereka yang profesional dan sudah membuat ratusan karya. Penyebabnya? Ya kami-kami yang amatiran dan memurahkan diri ini.
Ika Natassa pernah membuat thread di Twitter soal “Mungkinkah Seorang Penulis Bisa Hidup Layak Hanya dari Menulis?” yang setelah ia dengan panjang lebar menjelaskan, jawabannya adalah tidak. Royalti 15% dari setiap buku yang terjual di pasaran tentunya bukan penghasilan yang tinggi mengingat sebuah buku Novel Fiksi rata-rata dibawah Rp 100.000
Bukan hanya itu.
Empat dari lima seniman asal London menyatakan bahwa hal yang paling membuat mereka frustasi sebagai ilustrator adalah uang atau upah karya mereka. Dimuat di sebuah artikel dalam Working Not Working Magazines, Sara Andreasson, Alice Hartley, Annu Kilpeläinen, Hattie Stewart, & Lynnie Z dari sebuah Studio Spaces for Artist di London menyepakati bahwa sebuah institusi dan brand besar menurunkan harga seorang seniman karena adanya bonus exposure untuk si seniman yang otomatis diberikan oleh si merk dagang.
“People expecting you to work for free or with very low budget. It really keeps getting worse and worse. The attitude of providing wages far below industry standards as “there is always someone who will do the job for exposure” seems to be so widespread and really harms the industry as a whole.” (Annu Kilpeläinen, 2019: dalam artikel Behind the Curtain of Creativity: A London Studio Discusses Camaraderie, Transparency, & Dream Projects)
Aku sungguh tertampar lagi.
Karena tampaknya, harga murahan yang aku pasang untuk karyaku, yang ditukar dengan eksistensi dan harapan akan pengakuan—secara sosial—sebagai seorang seniman; adalah apa yang menjadikan seniman secara umum dipandang murahan, tidak berarti, dan tidak dihargai; Adalah apa yang menjadikan seniman bukanlah profesi yang menjanjikan—hingga orang tua menyarankan anak-anaknya untuk jadi dokter, akuntan, manajer perusahaan, dan pegawai negeri.
“And if you always put people first, you taught them you’ve come second.”
Aku—dan mungkin banyak seniman amatir di luar sana—yang memasang harga murah adalah penyebab seniman dianggap murahan.
---
Mari Berhenti
Mungkin banyak orang yang tidak pernah berkarya, tidak tahu modal apa saja yang harus seniman keluarkan untuk berkarya. Modal yang membuat kami begitu pantas untuk diberi insentif material untuk keberlangsungan hidup. Modal yang cukup banyak dan sangat mahal.
Untukku sendiri, dari sekian banyak modal mahal yang telah aku keluarkan setiap berkarya, yang paling beharga adalah waktu. Selanjutnya adalah ide. Waktu menjadi mahal karena ia tidak bisa diretur. Ide menjadi mahal karena ia disajikan dalam edisi terbatas; tidak dijual bebas; dan tidak bisa sembarang didapat dari sembarang orang.
Dalam sebuah percakapan panjang soal harga sebuah karya dengan seorang teman—teman baikku, pengapresiasi karya profesional, yang aku sayangi dan banggakan mwah—ia mengatakan padaku, “Walau bagaimanapun kamu juga merasa ‘kan, Nov? Bahwa ketika menggambar, karya kamu itu pantas dihargai?”
Iya dong. Setelah keluar banyak waktu dan ide, mana mungkin aku merasa diriku tidak pantas dihargai?
Dan bukan cuma aku. Semua seniman yang ada di dunia ini, semua pekarya, baik amatir maupun profesional, mereka pantas dihargai. Dihargai dengan lebih dari sekedar terimakasih dan senyum manis di bibir.
Melihat ada orang yang begitu menyukai karya kita itu tentunya menyenangkan. Tapi senyum dan kata “terimakasih” tidak bisa membiayai hidup dan membalikkan modal kami—para seniman.
Sadarnya aku akan hal ini, dan sejak tulisan ini aku publikasikan, aku bertekad untuk mulai mengubah sikap. Aku percaya, perubahan apa pun yang mau kita buat di dunia ini, segalanya harus dimulai dari yang paling mudah yaitu diri sendiri.
Karenanya, aku mungkin akan mulai menolak permintaan-permintaan karya tanpa harga; berhenti membagi karya dengan bebas; menaikkan harga ilustrasi; memperjelas kepemilikkan dan hak cipta karya; dan mulai bersikap layaknya pekarya profesional.
Berat tentunya. Banget. Karena prinsip manusia yang harus saling bantu dan bahu membahu yang selama ini aku pegang jadi tampak bertentangan dengan sikap yang mau aku tegakkan ini.
Jadi boleh enggak kalau kalian saja yang mulai berhenti memintaku menggambar dan desain dibalik kedok minta pertolongan? Hehe
Kalau aku—dan seniman amatir lain—tidak mulai bersikap seakan kami berharga, nantinya tidak akan ada yang menganggap kami berharga.
Aku mau menyelamatkan industri ini. Aku mau semua pekarya dihargai. Karena aku juga pekarya dan ingin sekali hidup dari berkarya.
“Karena surga duniawi adalah ketika kita bisa hidup dari apa yang kita cintai.” – (Pandji Pragiwaksono, 2019)
@nfrealmusic #drawing #art #realism #pencil #sketch #graphite #desenho #artistsoninstagram #artsy #worldofpencil #sekitarkudus #artspotlight #artshelp #nf #nfrealmusic #lukiswajah #seniman #Indonesia
Pantun Jancuk
Sebuah angan berakhir di titik Aku besar, tapi tak ada yang punya Dasar bacot lu sok puitis Bahasnya lagi lagi cinta lagi lagi cinta
Entah darimana, rindu ini harus ku jelaskan. Namun aku paham. Kau pun merasakan apa yang diri ini rasakan. Begitu mendalam tak tercurahkan. Hei, Terlelaplah tuan, Tak perlu kau risau dengan rindu yang tertanam. Sungguh, Semua akan terselesaikan, dengan temu yang sedang kita rencanakan. Bersabarlah, meski memang sedikit sulit jarak ini kita taklukkan. Bersabarlah, hingga langit kembali terang. Malam tak akan lama yang dengan gelapnya--Percayalah. Ah iya, jangan tanya sampai kapan kita menunggu malam menjadi siang dan siang menjadi malam. Karena sejatinya sabar itu harus kita tanamkan. Apa kau bosan tuan? Atau rindu telah perlahan menenggelamkanmu? Dan apakah jarak telah mengubur rasamu? Semoga 'tidak' menjadi jawaban terbaik atas pertanyaanku. Semoga penantian kita ini diridhoi oleh sang pemilik hati. Semoga segera kembali dipertemukan yang dengan ikrar suci di depan para wali dan saksi. Aamiin Aamiin Yaa Rabbal alaamiin.❤️ ----- Selamat malam-- Dariku yang tak pernah usai merindukan dan menjagamu dengan do'aku--Dita KD ------