Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 : Sebuah Kisah Misoginis
Judul buku : Kim Ji-yeong Lahir 1982
Penulis : Cho Nam-joo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 192
Tahun terbit : 2019
Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.
Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karir serta kebebasannya demi mengasuh anak.
Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.
Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.
Kim Ji-yeong adalah manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.
Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.
***
Sinopsis
Kim Ji-yeong, Jeong Dae-hyeon dan Jeong Ji-won, adalah sebuah keluarga kecil yang tinggal di sebuah apartemen dengan biaya sewa bulanan yang tidak bisa dikatakan murah. Ditambah, semenjak mereka memiliki Jeong Ji-won, Kim Ji-yeong diharuskan meninggalkan pekerjaan yang amat disukainya untuk merawat dan mengasuh Jeong Ji-won.
"Selain itu, praktik umum selama ini adalah suami bekerja dan istri membesarkan anak." - hlm 143
Meski menjadi ibu rumah tangga kelihatan menyenangkan karena tidak perlu bekerja banting tulang, Kim Ji-yeong justru merasa tertekan. Pada nyatanya, menjadi Ibu rumah tangga bukan berarti hanya akan bermain-main dengan anak dirumah. Melainkan mengganti popok, memandikan, memberi makan, menidurkan dan menyusui. Belum lagi ada banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan secara bersamaan seperti mencuci baju, mengepel, menyapu, mencuci piring, dan masih banyak lagi. Kim Ji-yeong sangat-sangat menyayangkan pekerjaannya sehingga semua yang ia lakukan sekarang nampak memberatkannya. Dari sanalah kemudian Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh. Ia seringkali berperilaku layaknya orang tua, anak kecil atau bahkan orang lain.
"Sejenak Jeong Dae-hyeon menatap istrinya dengan perasaan geli sekaligus heran, lalu ia menarik tangan istrinya, mengeluarkan jarinya dari mulut. Kim Ji-yeong mengecap-ngecapkan lidah seperti anak kecil, dan tetap tertidur pulas." -hlm 10
Pada puncaknya, yaitu pada saat perayaan chuseok, di rumah Jeong Dae-hyoen, Kim Ji-yeong kembali berperilaku aneh dan bahkan menyinggung orang tua Jeong Dae-hyoen dengan berkata kasar. Dari kejadian itu, Jeong Dae-hyeon pun kemudian meminta Kim Ji-yeong menemui psikiater dengan alasan bahwa ia kesulitan tidur. Kim Ji-yeong pun menyetujuinya.
Kemudian, dari sini kita akan langsung dibawa untuk menyelami masa lalu Kim Ji-yeong. Ayah Kim Ji-yeong adalah seorang pegawai PNS rendahan. Sedang Ibunya adalah ibu rumah tangga yang mengurus tiga orang anak, Kim Ji-yeong, kakak perempuannya, adik laki-lakinya, sekaligus juga ibu mertua alias nenek Kim Ji-yeong. Melalui kisah masa lalu ini kita akan diajak untuk menyadari bagaimana laki-laki selalu lebih diistimewakan ketimbang perempuan. Lebih mirisnya lagi, praktik ini seolah-olah telah terjadi secara turun temurun sehingga banyak para nenek yang pada dasarnya adalah bagian dari kaum perempuan juga ikut melakukan hal serupa.
“Sulit sekali menggambarkan nada suara, sorot mata, gerakan kepala, posisi bahu, dan tarikan napas nenek mereka menjadi satu kalimat, tetapi gambaran yang paling mendekati adalah nenek mereka seolah-olah menyatakan, Berani-beraninya kau mengambil barang milik cucu laki-laki kesayanganku?" - hlm 22
"Banyak guru yang memilih lima atau enam orang anak perempuan yang pintar untuk melakukan tugas-tugas tertentu, menilai, atau memeriksa PR semua orang ..., tetapi ketika mereka memilih ketua kelas, mereka selalu memilih anak laki-laki." - hlm 44
Selain itu, dalam buku ini pula kita akan diberitahu aspek-aspek lain seperti kondisi ekonomi, lingkungan sosial serta ranah pendidikan yang ditempuh Kim Ji-yeong. Bagaimana perjuangan Kim Ji-yeong sampai ia bisa diterima bekerja pada salah satu agensi humas. Dan bagaimana pada akhirnya Kim Ji-yeong harus melepas semuanya untuk menjadi Ibu rumah tangga dan merawat anaknya.
“Walaupun pekerjaannya tidak menghasilkan banyak uang, tidak mengubah dunia, dan tidak membuatnya berhasil mendapatkan apa pun yang diinginkannya, ia tetap merasa masa-masa itu adalah masa-masa yang menyenangkan” - hlm 145
Sedang pada bab terakhir buku ini, sudut pandang akan dialihkan pada sudut pandang sang penulis buku yang berprofesi sebagai psikiater yang menangani kasus Kim Ji-yeong. Bagaimanakah akhir dari cerita Kim Ji-yeong? Kalian harus membacanya dibuku ya teman-teman. XD
Tentang Penulis
Untuk bagian ini aku cukup ambil info di halaman akhir buku ya teman-teman. Jadi, Cho Nam-joo ini lahir pada tahun 1978 di Seoul. Setelah lulus dari fakultas sosiologi, Universitas Ewha, ia bekerja selama sepuluh tahun sebagai penulis program TV terkait isu-isu terkini seperti PD Note, Consumer Report (Complaint Zero), Live This Morning.
Cover
Satu hal yang bisa aku katakan saat pertama kali melihat sampul buku ini yaitu, lelah. Emosi yang ditunjukkan dalam sampul ini adalah emosi seolah kita telah melakukan pekerjaan berat, tapi tak satupun orang yang menghargai kerja keras kita. Garis mata yang redup dan garis bibir yang datar membuat kita ikut merasakan bagaimana rasanya kehilangan harapan. Lagi, menurutku, sampul buku ini sudah sangat relevan dengan isi buku. Gambar wanita pada sampul itu secara tidak langsung telah menggambarkan paras Kim Ji-yoeng. Sampul buku dengan gambar abstrak face women ini benar-benar seperti karya seni watercolor art yang sangat menawan dan penuh perasaan. Jika saja sampul ini ada pada pameran seni, mungkin aku akan menawarnya untuk dibeli.
Genre
Bagiku buku ini bukan sekedar buku fiksi dengan kisah menarik, tapi juga mengandung makna-makna mendalam serta topik-topik yang menarik. Bisa kukatakan genre dari buku ini adalah fiksi dengan sub genre kesehatan mental, feminisme, seksisme, misoginis dan partiarki. Namun, terkadang aku menganggap buku ini adalah biografi Kim Ji-yeong, karena buku ini sebagian besar mengisahkan perjalanan hidup Kim Ji-yeong dari saat ia kecil hingga saat ini.
Plot
Campuran, adalah plot yang digunakan penulis dalam menuliskan karya ini. Dalam bab awal kita akan langsung disuguhkan klimaks cerita mengenai kehidupan Kim Ji-yeong yang ia jalani saat ini. Namun kemudian, kita akan dibawa kembali ke masa lalu. Pada masa kecil Kim Ji-yeong dan bagaimana kehidupan Kim Ji-yeong sebelum ia menjadi Kim Ji-yeong yang sekarang ini. Kita akan diajak bernostalgia menapaki setiap perjalanan hidup yang dijalani Kim Ji-yeong atau bahkan keluarganya. Barulah, diakhir cerita kita akan kembali difokuskan pada konflik yang terjadi dan penyelesaiannya.
POV
Untuk sudut pandang, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga yang mana dalam buku ini penulis berperan sebagai psikiater yang menangani kasus Kim Ji-yeong. Jadi, secara keseluruhan, kita seolah mendengar kisah hidup Kim Ji-yeong dari cerita yang disampaikan oleh sang psikiater tersebut. Kim Ji-yeong yang menuruti suaminya untuk bertemu psikiater, meski tidak mudah untuk membuka kisah masa lalunya, tetap menceritakan hal tersebut kepada sang psikiater yang kemudian kita bisa mendengar kisah Kim Ji-yeong ini dari psikiater tersebut. Asyik sekali, kita merasa seolah-olah sedang membaca orang yang sedang menceritakan sebuah kisah. Apa kalian pernah melihat kontes story telling? Jika pernah, bayangkan saja seorang psikiater sedang mengikuti kontes itu dan berdiri diatas panggung seraya membawakan kisah Kim Ji-yeong. Apa kalian tertawa membayangkannya? Aku sih sedikit.
Character
Titik fokus dari buku ini jelas saja Kim Ji-yeong sendiri. Semua tokoh yang ada didalamnya merupakan orang-orang yang berada di lingkaran hidup Kim Ji-yeong sendiri. Keluarganya, teman-temannya, suaminya, anaknya, dan orang-orang lain yang Kim Ji-yeong pernah temui. Di buku ini, karakter Kim Ji-yeong digambarkan sangat umum sehingga pembaca bisa menyamakan diri mereka dengan watak yang dicerminkan Kim Ji-yeong.
Sedangkan tokoh laki-laki dalam buku ini dikisahkan memiliki watak yang buruk, meskipun dalam waktu tertentu mereka nampak baik. Tentu saja hal ini relevan dengan topik yang dibahas dalam buku ini. Keadaan dibuat sedemikian rupa sehingga laki-laki selalu dibuat lebih unggul dan perempuan selalu disalahkan atau diremehkan.
"Hati-hati dengan ucapanmu, karena itu bisa menjadi kenyataan. Tidur saja. Jangan berkata tidak-tidak" -hlm 26
Ucap Ayah Kim Ji-Yeong saat Ibu Kim Ji-yeong bertanya tentang bagaimana jika anak ke empat mereka tetap perempuan.
Juga, ketika perusahaan tempat Kim Ji-yeong dulu bekerja terkena masalah pemasangan kamera dikamar mandi wanita, seorang karyawan wanita menegur sang direktur untuk meminta keadilan dan supaya pekerja lelaki yang melakukan pelecehan tersebut dilaporkan. Sang direktur yang adalah seorang pria mengatakan,
"Apa yang akan terjadi pada perusahaan ini kalau semua orang sampai tahu? Semua karyawan pria memiliki keluarga dan orang tua. Kita tidak mungkin merusak kehidupan mereka, bukan? Bagaimanapun, kalian para wanita juga akan dirugikan apabila semua orang tahu foto-foto klian tersebar luas." -hlm 156
Saat Kim Ji-yeong duduk menikmati waktu luangnya sambil menunggui Jeong Ji-won yang tidur di kereta dorong sambil minum kopi, seorang pria duduk tidak jauh dan mengatakan,
"Aku juga mau punya suami yang bekerja sehingga aku bisa berjalan-jalan santai sambil minum kopi" - hlm 164
Tokoh lain yang menjadi sorotan adalah nenek Kim Ji-yeong. Dalam buku ini nenek digambarkan sebagai sosok yang konservartif dan masih berpegangan pada budaya lama, termasuk lebih mengunggulkan kaum laki-laki dibanding kaumnya sendiri.
"Aku punya empat anak laki-laki, karena itu aku bisa makan makanan yang diberikan anakku dan bisa tidur di rumah yang disediakan anakku. Walaupun anakku mungkin tidak kaya, aku tetap bisa mendapatkan semua itu karena aku punya empat putra." - hlm 25 (padahal anak perempuannyalah yang bekerja banting tulang membiayai pendidikan putra-putranya)
Sedang tokoh perempuan lain dalam buku ini menjadi tokoh yang paling bermasalah dan banyak dirugikan. Saat itu, ketika Kim Ji-yeong pulang dari kursus dan diikuti oleh seorang lelaki yang tidak dikenalnya, Kim Ji-yeong justru dimarahi ayahnya.
"Kenapa ia harus kursus ditempat sejauh itu? Kenapa ia berbicara kepada sembarang orang? Kenapa ia memakai rok sependek itu? Ia harus banyak belajar. Ia harus berhati-hati, harus berpakaian pantas, harus bersikap pantas. Ia harus menghindari jalan yang berbahaya, waktu yang berbahaya, dan orang yang berbahaya. Kalau ia sampai tidak sadar dan tidak menghindar, maka ia sendiri yang salah." -hlm 65
Gaya bahasa
Buku ini menggunakan gaya bahasa semi formal yang nyaman dibaca. Karena tema buku yang bisa dinilai agak berat dan memiliki banyak penjelasan dengan sumber tertulis, membuat pemilihan bahasa semi formal cocok untuk diaplikasin pada buku ini. Sejauh ini, aku sama sekali tidak menemukan adanya typo atau kalimat yang membuatku bingung. Andai ada typo, kurasa itu sama sekali tidak mengganggu karena aku bahkan tidak menyadarinya selama membaca buku ini. Oh ya, dan kupikir aku juga harus berterimakasih kepada penerjemah yang menerjemahkan buku ini. Aku sedikit punya pengalaman membaca buku terjemahan lain yang terjemahan bahasanya susah kumengerti.
Feeling
Suasana yang dipancarkan ketika kita membaca tiap lembar buku ini adalah suasana yang menurutku selalu suram meski pada kenyataannya ada beberapa keberhasilan yang dicapai oleh tokoh dalam buku tersebut. Meski para tokoh mendapat apa yang mereka inginkan, pembaca akan tetap dibuat tidak yakin dengan hal itu dan terus-menerus bertanya dan menunggu apakah ada hal lain lagi yang yang bisa menghancurkan impian itu. Menurutku, hal ini bukanlah sebuah kekurangan, tapi ini adalah sebuah bentuk kepandaian penulis dalam memberi kesan pada buku ini. Pantas saja suram, bukankah penulis memang sedang menelusuri masa kelam Kim Ji-yeong? Tentu saja ini adalah wajah dari buku ini.
Ending
Demi apapun ending kisah Kim Ji-yeong sangat tidak bisa di percaya. Menurutku ada sedikit plot twist diakhir yang bisa membuat pembaca ingin mengumpat, termasuk aku. Saking epiknya pembawaan sang penulis, pembaca akan dibuat tercengang ketika membaca kalimat terakhir buku ini. Overall, endingnya sangat mencerminkan realitas dan membuat kita menampar diri sendiri untuk kembali menyadari hal yang sempat kita lewatkan dan lupakan.
Similarity
Aku tidak akan mengatakan jika cerita ini sama dengan cerita tertentu. Tentu saja cerita ini sangat orisinil. Namun, keserupaan cerita ini dengan beberapa cerita yang pernah kubaca tidak bisa aku lewatkan begitu saja. Pada bab awal buku, saat Kim Ji-yeong digambarkan bisa berubah kepribadian, terkadang menjadi orang tua, anak kecil, atau bahkan orang lain, aku sempat memikirkan buku lain dengan judul "24 Wajah Billy" atau "24 Billy's face". Dalam kedua buku itu sama- sama digambarkan bagaimana kepribadian seseorang bisa sangat berubah dalam waktu sekejap tanpa disadari orang itu sendiri. Jujur saja Aku sangat terkesan dengan pemaparan kasus ini, Aku merasa mendapat pencerahan setelah membaca buku teori psikologi yang sedikit banyak membuatku kesulitan memberi gambaran dalam kasus psikologi kepribadian ganda atau sejenisnya. Meskipun di buku Kim Ji-yeong disampaikan bahwa hal yang dihadapi Kim Ji-yeong adalah depresi pascamelahirkan yang berubah menjadi depresi pengasuhan anak, akan tetapi kasus kepribadian yang berubah-ubah itu selalu mengingatkanku pada kedua buku ini. Bedanya, 24 Wajah Billy lebih menitik beratkan pada kasus multiple personality yang mengacu pada kriminalitasnya, sedang Kim Ji-yeong pada pengalaman misoginisnya. Selain itu, perubahan personality yang dimiliki Billy cenderung tetap dan memiliki identitasnya masing-masing. Sedangkan Kim Ji-yeong hanya sekedar berubah secara general seperti menjadi anak kecil, orang tua atau meniru orang lain.
Karya lain yang serupa namun tak sama adalah The Handmaid's Tale, sebuah buku yang kemudian diangkat menjadi drama series dengan judul yang sama. The Handmaid's Tale ini mengisahkan tentang bagaimana para wanita yang subur akan kehilangan semua identitasnya kecuali melayani tuannya dalam hal 'beranak'. Para perempuan ini akan selalu hidup layaknya barang yang dimiliki oleh tuannya. Dalam buku ini, setiap perempuan yang menjadi handmaid pasti akan kehilangan seluruh kebebasan dan haknya sebagai perempuan. Baik handmaid dan Kim Ji-yeong, keduanya menceritakan tema yang sama yaitu diskriminasi terhadap kaum perempuan.
Film
Selain buku, Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 ini juga telah difilmkan. Film ini dibintangi oleh Goo Yoo sebagai Jeong Dae-hyeon dan Jung Yu-mi sebagai Kim Ji-yeong. Film ini rilis pada 23 Oktober 2019 di bioskop Korea Selatan. Sedang di Indonesia, film ini dirilis pada 20 November 2019. Aku sendiri sebenarnya telah menonton film Kim Ji-yeong terlebih dahulu sebelum membaca bukunya. Aku tertarik membaca buku Kim Ji-yeong setelah menonton filmnya. Baik buku atau film, keduanya sama-sama bagus, nuansa keduanya benar-benar sama. Acting para pemain juga baik sekali sehingga bisa membawakan peran sesuai karakter tokoh yang diperagakan. Bahkan aku berkali-kali berdecak kagum pada Jung Yu-mi yang begitu mendalami peran Kim Ji-yeong. Aku masih ingat sekali bagaimana aku bisa langsung menangkap kondisi psikologis yang dialami Kim Ji-yeong saat menatap Jung Yu-mi pada adegan pertama film. Meski begitu, tentu saja, pemaparan di film tidak akan sebanyak dan sedetail di buku. Jika kalian membaca buku lalu menonton film, mungkin kalian akan sedikit merasa hampa karena banyak part-part yang akan di potong. Hal seperti itu memang lumrah terjadi. Tidak mungkin film berdurasi 1-2 jam bisa memuat seluruh isi buku. Tapi, karena aku menonton film lalu membaca buku, aku bukannya merasa hampa tapi merasa terlengkapi. Hal-hal yang aku bingungkan di film bisa kumengerti saat aku membaca bukunya.
Controversy
Dilansir dalam salah satu blog gramedia.com, buku Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 ini juga sempat menuai kontroversi lantaran membahas topik feminisme yang dianggap tabu di Korea Selatan. Beberapa Idol K-pop yang membaca buku ini seperti Irene Red Velvet juga sempat dikecam. Selain itu, pemeran utama film, yaitu Jung Yu-mi juga mendapat protes karena dinilai membela gerakan feminisme yang bertolak belakang dengan konsep patriarki yang selama ini berlaku. Bahkan Setelah buku itu terbit, kaum pria di sana membuat sebuah projek crowdfunding untuk memproduksi buku tandingan dengan judul Kim Ji Hoon Born 1990. Namun pada akhirnya, projek tersebut ditarik. Belum lagi aksi #MeToo atau di Korea Selatan dikenal dengan #WithYou yang meresahkan kaum pria Korea Selatan.
Meski sempat menggemparkan, pada nyatanya buku ini menjadi salah satu buku paling best seller mengalahkan buku karya Shin Kyung Sook yang berjudul Please Look After Mom, yang rilis pada 2009. Buku Kim Ji-yeong ini telah diterjemahkan dalam 16 bahasa dan terjual lebih dari satu juta kopi. Lagi, terlepas dari segalanya, bagiku buku ini sangatlah menginspirasi, buku ini seolah sebuah pintu yang yang menuntun kita pada dunia dengan perspektif yang berbeda yang menyadarkan kita akan nilai-nilai kehidupan yang sempat kita sisihkan. Jadi, bagaimana teman-teman, apa kalian tertarik membaca buku ini? Aku berharap kalian termasuk dalam satu juta lebih orang yang membaca buku ini. See you.
















