Na Willa karya Ibu Reda Gaudiamo awalnya tayang di Facebook. Baru di tahun 2012 diterbitkan dengan crowdfunding system. Lima tahun setelahnya, diterbitkan kembali oleh POST Press.
Kisah Na Willa sebetulnya ditulis oleh Ibu Reda untuk bapak-bapak dan ibu-ibu, dengan kata lain untuk teman-teman beliau. Memang sengaja menggunakan tokoh anak-anak supaya bapak ibu yang baca ingat saat dulu kecil seperti apa. Karena tokohnya anak kecil, jadi banyak orang menyebutnya ini buku anak-anak. Sejak itulah buku ini menjadi buku anak-anak.
Informasi di atas aku dapat saat menyaksikan live streaming gelaran Nyanyian Na Willa di Hari-hari Ramai yang diselenggarakan oleh Museum MACAN berkolaborasi dengan POST Press.
Oiya, dari acara tersebut aku juga baru tahu lho, kalau ternyata nama Na Willa itu dari wilayah Indonesia timur, Pulau Sabu, NTT. Di sana ada kebiasaan memberikan nama anak sama dengan orang tua. Nah, nama Na Willa itu adalah nama manis ibunya Ibu Reda. Karena namanya sama Ibu Reda pikir Na Willa itu juga nama manisnya. Eh, ternyata bukan.
Unik ternyata kisah di balik Na Willa ini.
Aku jatuh suka dengan Na Willa sejak pertama kali membacanya. Aku lupa hal apa persisnya yang membawaku membeli serial Na Willa ini. Begitu membacanya aku tidak menyesal sama sekali memiliki buku ini. Bahkan aku hadiahkan untuk sahabat kecilku.
Na Willa kecil yang polos dan banyak bertanya ini membawa kembali memori ke masa kanak-kanak. Satu fase kehidupan yang rasanya ingin kembali lagi ke sana.
Kisah di buku Na Willa jilid pertama ini berupa cerita-cerita pendek. Satu judul cerita bisa hanya satu halaman saja. Betul-betul singkat. Ada tawa, air mata, dan amarah juga.
Kita akan berkenalan dengan Farida, tetangga seberang rumah; Dul, si jago main layangan dan kelereng; Bud, ingusan setiap saat; Ayam Kuning Kecil Sekali, hadiah dari Mak; dan banyak lagi.
Salah satu peristiwa nahas yang harus diketahui Na Willa kecil adalah saat Dul, kawan bermainnya, kehilangan salah satu kakinya. Momen itu sungguh membuat ngilu. Mak dan Na Willa tak bicara apapun juga tidak makan selepas peristiwa itu.
Mak juga termasuk ibu yang keras. Terlihat dari rasa takut Na Willa jikalau alis Mak sudah menyambung. Cubitan di pangkal paha, ahh, itu membacanya saja terasa perihnya. Mungkin di antara kita pun mengalami hal itu, dicubit atau disentil telinganya ketika nakal atau susah diatur.
Ada satu peristiwa mendebarkan yang menunjukkan Mak tegas dan keras, ketika Na Willa diejek oleh Warno, anak yang memiliki cacat kaki, dia balas memukul. Setelahnya Na Willa berdebar-debar, apalagi ketika ibu Warno datang ke rumah. Melabrak. Habislah sudah. Mak marah besar. Na Willa siap-siap menerima ayunan sapu atau cubitan di paha. Mak tidak suka Na Willa memukul orang yang tidak bisa apa-apa atau cacat fisik, meskipun orang itu salah. Kalau membalas justru Na Willa juga salah.
Dari peristiwa itu Mak menekankan agar Na Willa bisa mengendalikan emosi, tidak meluap-luap amarahnya. Diam bukan berarti salah atau kalah. Dan hal ini Mak lakukan supaya tidak lagi terulang di kemudian hari.
Terlepas dari itu, Mak betul-betul mendidik Na Willa menjadi anak yang kritis, banyak bertanya dan menggali rasa penasarannya dengan tepat. Na Willa selain bermain-main dengan boneka, ia juga bermain dengan buku bacaan. Tidak heran jika dia sudah lancar membaca padahal belum sekolah. Ini pun karena Mak dan Pak sejak dini mengenalkan Na Willa dengan buku.
Salah satu momen lucu adalah ketika Na Willa penasaran dengan radio. Apakah di dalam radio ada orang yang bicara-bicara? Bagaimana ya cara masuknya? Radio kan kecil? Saat kita masih anak-anak tentu pertanyaan itu pernah singgah dan bukan sembarang pertanyaan. Sebab orang dewasa akan memutar otak untuk menjelaskan kepada anak kecil yang penasaran ini, tentunya dengan kalimat yang mudah dipahami. Dan sangat wajar sekali muncul pertanyaan seperti itu.
Na Willa kan selalu penasaran. Kalau sudah penasaran, ia akan coba lakukan, sampai terpuaskan rasa penasarannya. Radio Erres menjadi korban pembongkaran oleh Na Willa. Demi menemukan orang yang bicara-bicara. Yang ada dia mendapat tatapan tajam dari Mak. Kan sudah dibilang radio bukan mainan, Na Willa. Selesai menginterogasi Na Willa, Mak mulai memberikan penjelasan sejelas-jelas. Haha. Na Willa... Na Willa....
Gara-gara membongkar radio, Na Willa harus bertanggung jawab mengembalikan seperti semula. Memasang bagian penutup yang ia lepas. Meski kesusahan, Na Willa tidak mau dibantu Mak. Aku yang buka, aku yang harus pasang. Kecil-kecil sudah muncul tanggung jawabnya, hmm ataukah gengsi (?)
Saat Na Willa mulai bersekolah itu merupakan cerita yang menarik. Ia tidak langsung cocok dengan satu sekolah. Di sekolah pertama ia tidak cocok dengan ibu gurunya dan teman-temannya. Dari awal perkenalan saja mereka sudah menertawakan namanya. Memangnya ada yang lucu?
(Aku juga punya nama yang terbilang unik. Sepanjang ingatanku, tidak ada yang tertawa mendengar namaku, yang ada orang-orang kesulitan mengucapkan dengan benar. Hihi.)
Barulah di sekolah kedua, TK Juwita, Na Willa langsung cocok dengan Bu Guru Juwita dan teman-temannya. Tidak satu pun menertawakan namanya. Ah, syukurlah. Bu Guru juga punya koleksi buku satu lemari kaca. Tentunya membuat Na Willa semakin betah di sekolah baru.
Ahh, perjalanan Na Willa menghibur hati. Sudah lama sekali beranjak jauh dari masa-masa itu. Lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan dua puluh lima tahun. Sudah lama sekali, ya. Sekarang rasanya hari-hari ramai menjadi oranh dewasa.
Dulu, saat kecil ingin segera jadi anak gede. Begitu sudah gede, mau kembali jadi anak kecil saja. Hahaha...hidup oh hidup.
Duh, hampir kelupaan. Na Willa meski masih anak kecil, lagu-lagu yang ia dengarkan justru lagu orang gede lho. Soalnya ia dengar lagu yang didengarkan oleh Mak dari radio. Contohnya, Hesti...oh hesti yang dinyanyikan Lilis Suryani. Cobalah dengarkan lagu-lagu lawas itu. Merdu. Syahdu.
Sekian dulu baca buku edisi Na Willa jilid pertama. Nanti aku ceritakan lagi baca buku jilid duanya.