Seekor ulat bulu berjalan dengan cara sebagaimana ditetapkan semesta; tubuhnya yang muda dan berbulu menggeliat dan menggelombang dengan ritmis. Ia, sebagaimana segala hal yang muda dan remaja di kolong langit ini, adalah elemen kecil yang--kurasa--tengah menapaki proses selanjutnya untuk menjadi seekor serangga bersayap yang bebas menjelajahi seluruh ruang.
Sejengkal perjalanannya ke depan, ia mendapati sehelai rumput hijau yang terputus dari rumpunnya. Ia berhenti sejenak, dan menempelkan mulutnya di ujung rumput itu. Ia mengingatkanku pada seorang bocah yang tengah menggerogoti dan mengisap manis sebatang tebu. Hanya saja, suatu hal yang tidak pernah bisa kita duga bisa saja muncul dari delapan penjuru mata angin: dari kolong pot tanaman yang teronggok beberapa jengkal dari ulat muda itu, seekor cecak tua dengan sekujur tubuh yang bermotif keluar dan mendekati si ulat bulu dengan gerakannya yang gapah patah-patah.
Ulat, kau tahu, adalah binatang yang paling santai saat bermuka-muka dengan maut. Mungkin karena ia ulat yang muda dan lugu sehingga tidak memahami apa itu bahaya.
Si cecak menyambar si ulat bulu dengan cekat dan itu mengingatkanku pada euforia buaya-buaya Gembira Loka saat berkilo-kilo daging dilemparkan ke arah mereka.
Tubuh si ulat bulu pecah dan menyisakan jejak-jejak cair di tempatnya, sebelum si cecak tua membawa buruannya kembali ke kolong pot. Aku tidak pernah tahu apakah mulut si cecak tua menderita gatal-gatal setelahnya.