About Me: Beginilah yang terjadi (Part.1)
Aku paling tidak suka menangis di depan orang lain, apa lagi menangisi hal-hal yang menyangkut diri sendiri. Mengenai kelemahanku dan hal-hal yang terkadang membuatku kesal dengan diriku sendiri. Tapi tadi malam sudah tidak bisa ditahan.
Benar adanya bahwa beberapa orang mengatakan bahwa kesan pertama mereka terhadapku adalah “jutek” dan aku terlihat “tidak peduli dengan sekitar”. Namanya juga kesan pertama, sesuatu yang orang lain nilai terhadap diri kita saat mereka pertama kali bertemu dengan kita. Orang-orang melihatku jutek dan tidak peduli, mereka tidak tahu sebenarnya pergolakan batin apa yang sedang aku rasakan saat itu.
Dari dulu aku sudah sadar dan tahu betul bahwa aku benar-benar tidak menyukai lingkungan baru. Mungkin beberapa orang merasa sangat senang dan bersemangat jika akan berada di suatu lingkungan yang baru, tapi berbeda denganku. Aku takut, sangat takut, dan percakapanku dengan beberapa sahabat tadi malam semakin menyadarkanku betapa takut dan tidak berdayanya aku jika berhadapan dengan lingkungan baru. Aku takut tidak akan bisa menyesuaikan diri, aku takut tidak akan mempunyai teman, aku takut aku tidak bisa bertahan, dan benar adanya aku sangat kesulitan dalam hal itu. Dan rasa takut dan kebingungan yang aku rasakan muncul dan terlihat oleh orang lain sebagai suatu ketidakpedulian, mereka mengira aku tidak peduli dengan keadaan sekitarku dimana kenyataannya aku sangat sangat peduli dan hal itu benar-benar membuatku takut.
Aku masih ingat dengan ketakutanku saat akan memulai pendidikanku di sekolah menengah pertama. Aku, saat itu, tidak takut akan hal-hal yang berhubungan dengan akademis semisal apakah aku akan bisa memahami pelajaran di sekolah nantinya, toh itu bisa dipelajari nanti. Melainkan, yang aku takutkan adalah “akankah aku bisa mempunyai teman”, karena aku tahu aku sangatlah buruk dalam hal sosial, dalam hal “memulai”.
Aku juga masih ingat saat dimana aku menangis karena aku merasa aku tidak mempunyai teman disaat kenaikan kelas 11 beberapa tahun yang lalu. Aku sampai menangis ke mamaku karena aku merasa aku tidak mampu. Aku tidak tahu bagaimana cara memulainya. Banyak sekali hal yang aku takutkan. Terutama, aku takut untuk memulai. Aku takut orang lain akan terganggu dengan kehadiranku. Aku takut orang lain tidak menerimaku.
Aku sepertinya begitu terlena dengan komentar, “Ah suci mah tahu semuanya,” “suci mah deket sama semuanya,” “kayaknya suci gaada masalah sama siapa-siapa” “suci mah gampang kalau mau ngobrol sama siapa juga” dan komentar positif lainnya yang membuatku percaya bahwa aku berhasil. Bahwa aku berhasil dalam sosialku, bahwa aku mempunyai banyak teman dan mereka mengakui keberadaanku. Mereka mungkin tidak tahu betapa senangnya aku saat mendengarkan hal itu. Aku benar-benar merasa bangga dengan diriku saat itu karena aku merasa “tuh suc, siapa bilang kamu sosialnya jelek, toh buktinya kamu punya sahabat seperti mereka yang menganggap kamu ada.”
Padahal.... mereka mungkin tidak tahu seperti apa pikiran-pikiran negatif di dalam diriku berputar-putar selalu memikirkan “apakah benar aku berguna, apakah benar keberadaanku diinginkan oleh mereka, apakah kehadiranku tidak mengganggu” dan hal-hal lainnya. Betapa kata-kata “kangen kamu suc” sungguh berarti untuk diriku yang tingkat insecure-nya sangatlah tinggi. Sangat sangat tinggi. Yang harus selalu diingatkan bahwa “kamu itu berharga kok”. Aku yang mungkin terlihat baik-baik saja sesungguhnya tidaklah sebaik-baik itu. Aku selalu mencoba meyakinkan diriku bahwa “you are worth it, you are precious, you are awesome.”
Mungkin terlihatnya, diantara teman-teman dekatku yang lain akulah yang terlihat paling santai dan baik-baik saja dan sangat sosial dan tidak awkward ke siapa juga dan lain sebagainya. Aku sempat beberapa kali mendengarkan kata-kata, “suci mah deketnya sama yeni” “suci sering banget bareng-bareng sama dida” “suci kalau sama vera tuh deket banget” dan kata-kata lainnya. Alhamdulillah. Usahaku selama ini berhasil. Mungkin benar aku terlihat sangat terbuka dan dengan santainya bercerita apa saja bahkan hal-hal sepele sekalipun. Tapi percaya kah bahwa itu semua aku adalah hasil usaha kerasku. Tidak mudah loh bisa terbuka dengan orang lain. Aku pun merasakan hal itu. Tapi aku percaya bahwa keterbukaan merupakan salah satu hal yang dibutuhkan dalam menjalin suatu keakraban, maka dari itu aku berusaha untuk terbuka. Di dalam diri aku juga sangat sering berpikir, “apakah ini benar? Apakah mereka akan suka? Apakah mereka tidak akan bosan? Apakah mereka tidak akan terganggu? Apakah mereka tidak akan kesal dengan diriku yang selalu saja bercerita?” dan hal-hal lainnya. Aku tidak tahu jawaban dari semua pertanyaan itu, aku tidak pernah mendengarkan jawabannya secara eksplisit melalui kata-kata yang meyakinkan. Tapi setidaknya dengan masih adanya keberadaan mereka disampingku, mereka yang masih selalu berada bersamaku sampai saat ini, setidaknya merupakan bukti bahwa mereka menerima keadaanku yang seperti ini. Kalau mereka tidak suka ya pasti sudah dari dulu pergi dan menjauh dari sosok orang yang tidak mereka sukai, bukankah begitu?
Jadi pertanyaannya adalah apakah benar aku adalah orang yang jutek dan tidak peduli?
Dengan segala pembelaan yang bisa aku berikan, aku “terlihat” seperti itu karena aku takut dan bingung harus melakukan apa. Aku tidak bisa memulai, aku takut untuk memulai, aku takut tidak akan diterima.
Akan tetapi sekalinya aku melihat bahwa kesempatan itu ada, maka aku tidak akan menyia-nyiakannya dan akan mempertahankannya agar berada tidak jauh dariku. Iya, aku adalah orang yang posesif dan egois jika sudah berhubungan dengan sesuatu atau seseorang yang aku sukai. Dan boleh ditambahkan bahwa aku adalah orang yang loyal. Dont you think so?
“Personal space-nya suci tuh gede” Iya, disaat aku masih belum merasa nyaman dengan lingkungan dimana aku berada saat itu. Jika aku merasa belum nyaman dan sepertinya lingkungan itu tidak aman, maka aku akan diam dan menutup diri. Contoh konkritnya, sibuk dengan gadget dan ‘terlihat’ tidak memperhatikan sekitarku. Mengapa? Karena aku takut dan itulah bentuk pertahanan diriku.
Akan tetapi sekalinya aku sudah merasa nyaman dengan sesuatu atau seseorang, maka aku akan mengeluarkan semuanya. Bahkan personal space-ku bisa sampai 0 jika aku sudah benar-benar merasa nyaman dengan hal itu. Aku akan menceritakan semuanya, aku akan menunjukkan sifat asliku seperti apa, aku akan berubah menjadi orang yang blak-blakkan dan all out. Semuanya akan keluar. Gampangnya, jika seseorang mengatakan bahwa aku ‘jutek, pendiam, dingin, tidak pedulian’, bisa dikatakan bahwa dia belum bisa membuatku nyaman untuk menunjukkan sisiku yang sebenarnya. In the end of the day, aku adalah orang yang cerewet dan sangat sensitif. Aku sangat berhati-hati jika suasana di sekitarku belum membuatku nyaman akan tetapi akan sengat blak-blakkan dan tanpa pikir panjang jika suasana di sekitarku sudah bisa membuatku nyaman.
Satu lagi. Aku membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarku apalagi lingkungan yang menurutku “belum nyaman”. Aku benar-benar sudah sangat tersadarkan akan hal itu. Akan tetapi jika aku berada disuatu lingkungan yang baru dan lingkungan itu sudah langsung bisa membuatku nyaman, maka aku akan sangat mudah dalam beradaptasi.
Definisi lingkungan yang nyaman untukku adalah lingkungan yang dimana aku merasa bahwa aku diterima disana. Iya, dalam hal sosialnya.
Oke. Ini sudah cukup panjang. Sekian dulu. Ehe. Bye~