Beberapa menit yang lalu adzan maghrib telah dikumandangkan di sebuah kota besar di Pulau Jawa, Yogyakarta. Aku dengan sepeda motorku berjalan tidak seperti biasanya. Ada yang berbeda, ya ban motorku gembos alias bocor. Katanya Jogjakarta adalah kota dengan tingkat ketoleransian yang paling tinggi di Indonesia, nyatanya iya. Bukan klakson sana sini yang didengar akibat berkendara dengan pelan dipinggiran aspal kota melainkan tanya sapa sesama pengendara.
Sesampainya disebuah bengkel mungil khas tambal ban, diparkirlah kendaraan yang mulai menua ini sembari memanggil si empunya jasa. Maghribpun terus berjalan menghampiri isya, tukang tambal ban tak jua ada. Dinaiki kembali si roda dua menuju selatan Jogja dari arah jakal utara. Melewatkan beberapa bengkel, seperti biasa. Aku hanya ingin mampir ke tempat yang ingin aku berhenti saja. Ketemulah bengkel kedua, bertanya lalu dijawab “maaf mas kami sudah mau tutup”. Tak mengapa, kamipun kembali melanjutkan perjalanan yang tak biasa ini semakin ke bawah.
Sebuah bengkel kecil yang selama ini tak pernah ku perhatikan bahwa dia ada. Oke, aku putuskan untuk memberhentikan motorku di tempat itu. Lokasinya berada di kiri jalan kalau dari Utara Jakal persis sebelum perempatan kentungan. Anak jogja pasti tahu itu kentungan.
Mas, ada ban bagus ukuran 80/80 selain yang saya pakai itu? Oh iya ada, ada 2 mas yang 200-an dan yang 300-an. Oke mas, perbedaannya dimana mas? Kualitas mas. Gimana itu mas maksudnya? Iya kalau ban yang mas pakai itu komposisinya lembut, makanya cepat habis. Nah kalau yang 300-an ini strukturnya lebih keras mas, lebih awet. Oke mas yang itu saja.
Sambil mengerjakan tugasnya, aku mengajaknya ngobrol. Mas, pilih kualitas atau yang penting ada? Ya kayak kisah ban motor ini mas. Saya pilih yang penting ada mas, sahut masnya sambil ngerjain kerjaannya. Alasannya mas? Semua pasti menginginkan yang terbaik bagi dirinya apapun itu. Cuma setiap orang memiliki keterbatasan. Saya mampunya hanya itu, ya selanjutnya bagi saya adalah menjaganya dengan penjagaan yang baik. Agar ban ini tidak cepat rusak, tidak cepat hancur, saya harus memperlakukannya dengan perlakuan yang ekstra. Karena apabila saya memperlakukannya biasa saja, maka akan cepat rusak mas.
Nah kalau masnya? Dia balik bertanya. Saya milih kualitas mas. Persis seperti saya memilih ban harga 300-an ini. Padahal sebenarnya saya hanya mampu untuk memiliki yang satunya, karena seperti yang mas bilang setiap orang memiliki keterbatasannya masing-masing. Tapi tidak semua orang juga memilih bertahan dengan keterbatasannya mas. Ada orang yang mencoba melewati keterbatasannya tersebut. Uang saya sebenarnya tidak cukup jika saya memilih yang ini, tapi saya bisa mengusahakannya agar saya bisa mendapatkannya. Ya dengan cara saya mengorbankan uang belanja saya selama beberapa hari kedepan. Artinya setiap menginginkan hal yang lebih, kita harus melakukan usaha yang lebih pula.
Mas kenapa pakai mesin untuk membuka dan memasang bannya? Padahalkan pakai dua besi itu saja bisa. Ini kan alatnya mahal mas. Udah berapa lama buka usaha ini mas? Sekitar 4 tahunan mas. Apa dari awal sudah bekerja seperti ini? Engga mas dulu saya montir di bengkel orang, ikut-ikut orang, tapi ya mau sampai kapan mas? Katanya padaku.
Tepat sekali mas, harga sewa tempat ini berapa mas? 24 juta/tahun. Mahal ya mas, iya. Kalau harga tanah disini mas? 20 juta / meter bahkan ada yang 30 juta. Wow akupun takjub. Terus kenapa mas membukanya disini? Padahalkan mahal, apa setiap hari ada orang yang membeli ban disini? Tidak mas tidak mesti. Kadang ada kadang tidak. Mesin itu punya sendiri mas? Iya mas. Wow kan itu mahal mas harganya. Ya nyicil mas.
Tanpa ia sadari bahwa dia pun sebenarnya memilih kualitas dan mengusahakan yang terbaik buat dirinya,
Mas sudah selesai ni motornya.
Oke mas terimakasih atas semuanya
Begitulah hidup. Jalani dan Syukuri !