Semoga ngga bosan membaca tumblr saya yang mulai membahas soal pernikahan dan serba serbinya. hehe…
Selain karena challenge menulis, pernikahan memang selalu menjadi topik hangat untuk menemani kita menyesap hangatnya kopi di sore hari.
Kita sudah banyak mendengar tentang “gagalnya” pernikahan pasangan-pasangan muda. Entah itu di televisi, medsos, ataupun hal-hal yang mungkin terjadi di sekitar kita. Bukan hanya kisah ta’aruf selebgram yang sedang naik daun itu ya, tapi saya juga menemui hal semacam ini di sekitar saya.
Kebetulan saya bekerja di lingkungan Kementerian Agama, jadi sedikit banyak saya tahu angka perkawinan dan perceraian yang terjadi di kota ini. Data mengatakan bahwa ada angka sekitar empat ribu perkawinan yang tercatat dalam satu tahun. Ternyata bu ibuuu.. berdasarkan fakta dan realita yang ada di kantor catatan sipil (terakhir update 2017 dari penuturan seorang Hakim Madya Pengadilan Agama di kota saya) angka perceraian mencapai tujuh ribu kasus dalam setahun. Jadi bisa dibayangkan bahwa angka perceraian sekarang hampir menjadi dua kali lipat jumlahnya daripada angka perkawinan. Coba kita hitung, mungkin ada sekitar 20 atau lebih seorang istri yang menjanda karena cerai dalam sehari.
Kemudian saya tergelitik tiba-tiba untuk membahas lebih lanjut soal ini.
Banyak yang mengatakan bahwa angka perceraian terbanyak pada pasangan muda-mudi yang baru saja menikah tiga atau empat bulan. Kebanyakan yang mengajukan gugatan cerai adalah sang istri.
Setelah membaca informasi-informasi seperti itu saya kemudian segera berkaca pada diri sendiri. Ya Allaah, ternyata pernikahan tidak semudah ini ya.
Tidak semudah yang saya bayangkan selama ini. Meskipun kau sudah diberi kebebasan apapun oleh pasanganmu, atau betapa rupawan-nya pasanganmu, atau bahkan karunia permata hati yang tak ternilai tengah hadir dalam hidupmu, ada saja cara setan untuk masuk merusak semuanya. Naudzubillah. Semakin kesini, semakin banyak wanita (dan pria) yang tidak bersyukur atas apa yang mereka miliki, padahal itu pilihan mereka sendiri. Ini catatan untuk diri sendiri sih, agar saya selalu ingat akan kebaikan dan nikmat Allah lewat pasangan.
Kemudian tidak sedikit juga yang menyalahkan karena pernikahan muda yang rentan perceraian. Pernikahan muda yang nge-trend pake model ta’aruf/tanpa pacaran. Astaghfirullah. Saya suka heran sih dengan pendapat yang seperti ini. Logikanya kebalik. Bagaimana bisa ta’aruf yang disalahkan atas hancurnya sebuah ikatan pernikahan?
Kalo kata pepatah; Jangan salahkan lantai jika kamu tak pandai menari.
Maka jangan mencari pembenaran atas apa yang banyak muda-mudi lakukan saat ini, pacaran. Dengan mengkambing hitamkan ta’aruf yang entah salahnya dimana. Hehe..
Jika kita mau piknik lebih jauh, maka kita akan banyak menemukan pasangan muda yang kenal lewat ta’aruf dan kemudian rumah tangganya berhasil kok, paling tidak hingga saat ini, dan Insya Allah selamanya. Begitu juga dengan yang terjadi pada ayah dan ibu saya. Tentu role model paling baik adalah orang tua kita kan, maka saya tidak ambil contoh jauh-jauh deh.
Mereka sama sekali tidak pacaran. Ibu bilang, proses penyesuaian dengan ayah saja butuh waktu 10 tahun untuk mengerti ayah luar dalam. Jadi jangan dikira ta’aruf itu hanya proses islami yang tidak memikirkan jangka panjang langgengnya pernikahan. Sunnah Rasulullah selalu menuntun kita dalam kebaikan, kita meng-iman-i itu. Jangan dikira bahwa ta’aruf itu proses memilih yang ngawur berbekal istikharah tanpa melihat realitas. Hey, disinilah kekuatan iman kita diuji. Kalau belum apa-apa saja dia sudah under-estimate sama ta’aruf, atau bahkan (naudzubillah) membencinya, lalu bagaimana bisa kasih sayang Allah sampai padanya?
Meskipun pernikahan saya bukanlah pernikahan impian ciwi-ciwi zaman now, tapi saya selalu dikuatkan oleh nasihat-nasihat pernikahan yang sering saya dengar dimana-mana. Iman dan ketaqwaan adalah bekal terbaik untuk kita ketika meniti sebuah gerbang pernikahan.
Mengapa ada banyak pernikahan seumur jagung yang gagal? Karena salah satu diantaranya tidak berbekal iman.
Mengapa ada banyak pernikahan muda yang selalu dihempas dengan prahara orang ketiga seperti di sinetron? Karena keduanya, atau salah satunya tidak berbekal iman.
Kenapa banyak sekali pemberitaan istri membunuh suami atau sebaliknya? Karena tidak ada iman dalam hati mereka.
Kok iman mulu? Percuma dong iman tapi ngga cinta.
Saya pun memulai pernikahan dengan iman, cinta bertumbuh seiring dengannya. Saya pun yakin pasangan saya pasti juga tidak cinta awalnya.
Begitu juga dengan banyak pernikahan senada yang berawal dari iman.
Tapi udah terlanjur nih, gimana dong?
Tetap saja, bekalilah dengan iman. Apa yang menjadi masa lalu, biarlah masa lalu. Iringi dan bekali dengan iman dan doa. Karena iman dan doa adalah senjatanya orang mukmin yang tidak dimiliki oleh orang yang tidak meng-iman-i.
Karena imanlah, perbedaan yang sangat jauh antara saya dan pasangan saya bisa mendekat. Karena iman lah, segala permasalahan yang menimpa kami, akan kami kembalikan pada Allah dan menyerahkan segala urusan kami padaNya, karena iman lah kami yang hingga saat ini belum dikaruniai permata hati masih bisa bertahan diantara ramainya serangan syaithan untuk berpisah, karena iman lah kami dikuatkan dalam segala hal, karena iman lah dua keluarga yang berbeda sekali baik dari culture dan kebiasaan bisa saling berpegangan tangan. Kalaulah sang suami tidak beriman pasti dirinya sudah sibuk mencari yang lain agar bisa segera menggendong bayi. Atau kalaulah saya tidak beriman, pasti saya sudah dibuai oleh hawa nafsu untuk mengakhiri hubungan yang tidak berdasarkan dengan cinta. Karena imanlah cinta itu tumbuh dan mengakar, menjadi bentuk cinta sejati yang ingin kami lanjutkan kelak di surga Allah, tempat istirahat bagi kaum mukmin.
Semoga saya, kamu, kita semua diteguhkan imannya untuk selalu berada di jalanNya.
Mungkin masa lalu yang kelam membuat kita jadi takut untuk memulai sebuah kebaikan, tapi…
Betapapun kelamnya masa lalu, tidak akan menghalangi kita menjadi muslim/muslimah yang baik.
Karena yakinlah, lelaki yang baik untuk perempuan yang baik, begitu juga sebaliknya.
AnNur ayat 26
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Furqan 25:74)