[Ngobral] Chaos@work: Alasan nyaman menjadi karyawan (4)
Ini adalah Ngobral terakhir bareng Kerani. Setelah sebelumnya baca soal kegeraman Kerani terhadap Bossman, di sini kita diajak untuk sedikit serius. Sedikit doang.
Ini penting buat kita. Ya, kita sebagai kaum proletar, buruh, atau para pekerja di perusahaan. By the way, nggak salah kok menjadi proletar. Menjadi proletar punya kesempatan untuk mendapatkan pengalaman, teman, ilmu, dan jaringan untuk menghadapi tantangan di perusahaan berikutnya, loh. Hehehe.
Mosok semua orang mau jadi pengusaha? Ntar siapa yang jadi golongan proletariat? Siapa yang bakal kerja/jadi bagian operasional? Toh, setiap manusia kan punya kemampuan dan rencana hidup yang berbeda. Berbahagialah, hey para proletar! Bukan begitu, bu Kerani?
Apa sih arti ‘menjadi seorang karyawan’?
Security. Gue bukan tipe orang yang berani take risk dengan doing business. Nggak bisa juga take risk dengan selling something. Gue itu kerja dari (umur) 15 tahun. Jadi gue udah kerja selama 30 tahun. Ada yang bilang, “kok nggak capek sih kerja?”, “lo nggak mau bisnis?”, tapi dengan bekerja, gue merasa secure banget. Kalo kerja, lo bisa dapat duit bulanan, gaji. Kalo bisnis, lo harus bangun lebih awal, tidur lebih lambat dari yang lain, dan gue nggak mau. Gue sudah nggak punya visi dan misi untuk apa begitu ya…. Nah, dengan nulis, gue udah happy.
Lo merasa terjebak di comfort zone?
Ya, apalagi sekarang kan, gue udah nggak ada suami, anak-anak masih sekolah. By the way, di buku anak gue dua ya. Anak gue itu satu, yang kedua itu udah nggak ada. Tapi gue hidupkan lagi di buku and I feel good aja. Jadi anggap aja anak gue dua. Ya, gue terjebak di comfort zone and it’s okay.
Sekarang dunia digital semakin maju, kenapa nggak mengarah ke sana?
Gue sudah tidak punya room in my brain to think for that. Gue tidak mau memforsir. Kalo gue masih muda, oke. Contohnya Raditya Dika, dia cukup agresif, dia begini, begitu, karena dia bangun branding. Banyak yang bilang, “kok lo nggak bangun branding?”. Gue sih bukan nggak mau bangun branding, gue bukannya males atau apa gitu, cuma gue tidak punya room in my brain for that, kecuali ada yang mau ngurusin.
Gue udah terlalu lama, jauh dari Indonesia, apa yang lagi nge-trend, model seperti apa, bahkan gaya Gojek, gue baru tahu belakangan ini namanya startup bisnis. Ketidaktahuan itu karena gue kurang membaca, semakin ke sini semakin kurang, karena kerjaan gue itu memakan banyak waktu. Gue kerja di dua negara, Malaysia dan Australia, jadi gue bolak-balik. Pikiran gue udah kesedot. Gue terjebak di comfort zone, gue nggak mau keluar and I dont think I have to ya kan? Apalagi dengan anak yang kuliah, ya udah gue terusin aja. Kecuali ada yang mau ngurusin, ada yang mau kasih ide, ya why not?
Kondisi kantor sekarang se-menyebalkan yang dulu?
Nggak. Masalahnya beda-beda aja. Kalau dulu office politic-nya kelas kampungan banget, sekarang kelas tinggi. Karena ini kan perusahaan internasional, international skill, office politic-nya udah cross country, udah bukan lokal antara gue dan boss gue. Gue sama bos gue udah nggak ada masalah, saking nggak ada masalahnya gue nggak pernah lihat dia. Nggak pernah ketemu muka, nggak tahu dia itu yang mana. Jadi masalah kantor yang sekarang nggak sama dengan yang dulu. Tapi ada beberapa kejadian di kantor sekarang masuk buku.
Karena MSB 1 keluar 2009 dan itu gue udah mau berhenti dari dia (Bossman). Gue total berhenti itu 2010. MSB 2, 3, 4 ada beberapa cerita dari situ (perusahaan yang sekarang) gue masukin. Contohnya Tung Wu On, dia itu pekerja Bossman. Bossman bilang, “si Tung Wu On ini budeg”, akhirnya dipanggil Bossman, “Tung Wu Oon”.
Dia bertahan tiga hari doang. Nggak ada yang sanggup. Mr. Chang, Mr. Kho itu keluar jauh sebelum gue keluar. Sikin (Norahsikin) masih di sana sampai sekarang, Adrian masih, Mr. Chia masih, semua yang Bangla-Bangla itu masih, yang nggak ada Samir. Mr. Kho, Mr. Chang tahu. Dia (Mr. Kho) kepengen banget nonton, tapi tiga hari sebelum premiere, dia meninggal. Si Bossman pengen banget dateng, tapi dia nggak boleh masuk lagi ke Malaysia. Karena dia utang, nggak bayar 1,7 juta ringgit. Hahaha.
Kerani saat meet and greet bersama die hard fans di bilangan Kuningan, Jakarta, Januari 2017.
Catatan:
Buat die hard fans Kerani --yang tentunya punya lima seri noda My Stupid Boss-- pasti pernah membaca kalimat bijaknya. Entah ini kalimat bijak atau pembenaran atau menenteramkan hati karena nggak bisa lolos dari kontrak kerja. Ini pernah saya tulis di sini plus review noda dan film. Kira-kira begini tulisannya:
Kita tak bisa keluar kerja begitu saja, karena kita harus bertanggung jawab dengan segala urusan yang dipercayakan ke kita ~ Kerani Chaos@work.
Jadi kalo mau resign, pikir-pikir dulu. Karena pekerjaan kita bersinggungan dengan banyak orang. Kalo resign, bagaimana mereka melakukan pekerjaannya? Kecuali Anda memang sudah nggak betah banget & sistem perusahaan sudah stabil, nggak masalah Anda resign as soon as possible.
Kalo merasa nggak pernah baca quote di atas, jangan ngaku die hard fans Kerani deh!
Baca juga: Ngobral pertama, kedua, dan ketiga yah. Mamacih teman-teman. :*
[Ngobral] Chaos@work: Tujuh tahun “tertindas” Bossman (1)
Ngobral edisi perdana! Seperti janji saya minggu lalu, Ngobral pertama akan menampilkan obrolan saya dengan seseorang yang cantik, jelita, muda, mirip Megan Fox, multitalenta, berprestasi, bertenaga besi, hingga mampu memantik api. Dia juga penulis noda (novel canda) yang saat ini sudah memasuki seri kelima. Best seller.
Seperti umumnya buku best seller, rumah produksi mengangkat kehidupan sang penulis ke layar lebar.
Meski ceritanya tak terlalu menarik --menurut saya-- tapi sambutan penonton sangat fantastis loh. Alhasil film meraup tiga juta penonton. Tiga juta penonton, bro, sis! Tahu dong, siapa dia? She’s, the one and only, Chaos@work!
Yes, saya beruntung dapat berbincang dengan Chaos@work a.k.a Kerani. Pertama kali bertemu Kerani, ketika acara premier My Stupid Boss the movie. Atas prakarsa tim Gradien Mediatama (pak Tri, pak Lukito, dkk), die hard hars Kerani berjumpa dengan idolanya.
Kerani (markah biru) jumpa fans pertama kali saat premier My Stupid Boss the movie, Grand Indonesia, Jakarta, 2016.
Sesama kaum proletar, saya --mungkin juga Anda-- terwakili dengan membaca kisah-kisahnya di My Stupid Boss (MSB). Akhir Januari lalu, dia banyak cerita tentang kehidupan sebelum dan setelah “abused” and/or “oppressed” by Bossman. Dia juga ahli menghadapi sifat Bossman yang culas nan licik. Namun, ada beberapa kalimat yang telah diedit dalam artikel. Tapi nggak mengurangi obrolan. Begitu pula dengan foto, saya akan menutup wajah Kerani dan para fans-nya. Hal ini menghindari ketidaknyamanan pihak-pihak tertentu plus tidak etis.
Artikel cerita Chaos@work akan terbagi beberapa bagian. Karena ceritanya panjang lebar, multidimensi, ngalor-ngidul. Okay. Let’s take a look her torture turns into our happiness.
Secara legal, berapa tahun kerja di kantor Bossman?
Tujuh tahun, mulainya akhir tahun 2002 lah. 2010, gue udah berhenti. Sebenarnya gue, begitu pindah ke Malaysia nggak langsung kerja (di tempat dia), sebelumnya gue kerja di tempat lain.
“Bini lo buat kerja sama gue deh,” pinta Bossman dengan bibir manyun komat-kamit kepada suami Kerani. Maklum Bossman dan suami Kerani adalah sahabat saat remaja hingga dewasa.
Di MSB, Kerani sering nulis dirinya teraniaya, tertekan. Apa yang Kerani lakukan?
Gue itu sebenarnya mental karyawan. Bos-nya selama ini bener-bener aja. Jadi si Kerani ini selama di Indonesia kerjanya pasti di perusahaan internasional. Satu-satunya perusahaan yang tidak internasional, (tidak) multinasional itu cuma di Bossman. Nah karena (perusahaan sebelumnya) bos-nya bener, dia mental karyawan, mental budak Belanda banget, saat ketemu sama Bossman yang kayak gini, dia masih nggak mau ngelawan sebenarnya. Jadi dia mikir, tiap dia bangun, tidur itu rasanya udah nggak mau kerja.
Gue nggak pernah mengalami kayak gitu seumur hidup gue. Nggak nyaman banget. Mau tidur nggak nyaman, tiap hari Minggu udah nggak nyaman. Gue bilang, “Nggak bisa begini terus.” Ya terus gue mulai atur.”
Jadi, banyak yang bilang di MSB 1 (MSB the movie 2016, by the way akan ada MSB 2 loh) ini BCL (Bunga Citra Lestari) kurang galak. Ya karena Kerani begitu awalnya. Kan MSB pertama dia nggak galak. Di My Stupid Boss berikutnya dia nggak peduli, dia mengharap dia akan buat sesuatu, yang penting lo pecat gue. Nah Bossman berpikir, “Gue akan siksa lo, sampai lo ngundurin diri.”
Di buku kayaknya udah give up, kenapa Kerani nggak resign?
Kontrak.
Nah, kontrak rumah atau kontrak kerja? Yang pasti kontrak tersebut bikin mual-muntah-begah. Nggak cuma setahun, tapi langsung lima tahun! Curang? Ya gitu deh. Ikuti Ngobral bagian kedua. Oiya, nantikan pula petuah-petuah bijak Kerani yang wajib-kudu-mesti dibaca, direnungkan, dan dijalankan. Terima kasih buat Kerani Chaos@work, tim Gradien Mediatama, dan Gank Somplak atas terlaksana meet and greet ini. Ketjup!
"Eh, aku waktu itu ketemu intel siah," itu tuh pernyataan dari si Om tadi siang pas makan siang di kantor yang dia bilang dengan kebanggaan super penuh. Gue sendiri jujur bingung maksud dia apaan.
Semua berawal dari makan siang sama bihun babi. Gini lah kurang lebih percakapannya,
Om: "Wah, ini mah pasti beli di tukang nasi goreng babi yang di belakang BIP tuh."
Gue: "Sok tau."
Om: "Ih, iya bener, sok geura beli nasgor babi yang disitu, enak pisan siah. Ini mah pasti sisa kemaren, da buka nya juga sore."
ci Cecil: "Tuh, kamu tuh kayak gini aja, sore pas pulang beli makan, sisanya buat sarapan."
Om: "Mbung, da buka na ge jam 6."
ci Yani: "Ya udah, kamu pulang dari kantornya jam 6 aja, atau jam 5 tapi nunggu di sana, nongkrong we tungguin buka."
Om: "Mbung."
Hening dulu bentar, lalu tiba-tiba si Om bilang,
Om: "Eh, basa eta urang kadinya nemu INTEL siah." *muka bangga banget*
Gue: "Indomie telor maksudnya?"
ci Yani: "Heueuh, indomie telor mah urang apal."
Om: "Ih, lain, jelma, seriusan intel. Waktu urang lagi jalan kaki, ada bapak-bapak nyamperin rapi pisan pake jas, trus dia bilang, 'Eh, saya intel loh, jangan bilang-bilang ya' gitu cenah."
Gue, ci Yani, ci Cecil: "Trus kamu percaya?"
Om: "Nya heueuh atuh, dia pake jas gitu." *muka bangga nya mulai redup*
Gue, ci Yani, sama ci Cecil ketawa puas banget. Gila, ga percaya ada orang yang segitu percayanya sama orang yang ngedatengin trus tiba-tiba bisik-bisik, "Saya intel loh." aduh Gusti, itu lugu apa bego -.-
Belum cukup sampai situ, si Om bilang juga, dulu ko Firman, cowonya ci Cecil yang adalah temen kecilnya juga, bilang ke si Om, "Eh, nyaho teu, adi urang power ranger siah," dan si Om percaya. *ngelus pantat, eh, dada*
Kalo gitu, kalo gue bisik-bisik sama si Om, "Om, tau ga, aku cantik loh, tapi jangan bilang-bilang ya, soalnya ga ada yang tau," pun dia bakal jawab, "Oke sip, aku bisa jaga rahasia kamu," dengan muka percaya diri tingkat kecamatan.
Sebenernya ga tega juga ngeliat muka bangga dia berubah jadi muka kekecewaan, tapi da gimana atuh, dia cerita yang kayak gitu, atulah itu mah ga ada alesan segede upil sekalipun buat gue ga ketawa ngakak sampai cantik.