[Ngobral] Chaos@work: Alasan nyaman menjadi karyawan (4)
Ini adalah Ngobral terakhir bareng Kerani. Setelah sebelumnya baca soal kegeraman Kerani terhadap Bossman, di sini kita diajak untuk sedikit serius. Sedikit doang.
Ini penting buat kita. Ya, kita sebagai kaum proletar, buruh, atau para pekerja di perusahaan. By the way, nggak salah kok menjadi proletar. Menjadi proletar punya kesempatan untuk mendapatkan pengalaman, teman, ilmu, dan jaringan untuk menghadapi tantangan di perusahaan berikutnya, loh. Hehehe.
Mosok semua orang mau jadi pengusaha? Ntar siapa yang jadi golongan proletariat? Siapa yang bakal kerja/jadi bagian operasional? Toh, setiap manusia kan punya kemampuan dan rencana hidup yang berbeda. Berbahagialah, hey para proletar! Bukan begitu, bu Kerani?
Apa sih arti ‘menjadi seorang karyawan’?
Security. Gue bukan tipe orang yang berani take risk dengan doing business. Nggak bisa juga take risk dengan selling something. Gue itu kerja dari (umur) 15 tahun. Jadi gue udah kerja selama 30 tahun. Ada yang bilang, “kok nggak capek sih kerja?”, “lo nggak mau bisnis?”, tapi dengan bekerja, gue merasa secure banget. Kalo kerja, lo bisa dapat duit bulanan, gaji. Kalo bisnis, lo harus bangun lebih awal, tidur lebih lambat dari yang lain, dan gue nggak mau. Gue sudah nggak punya visi dan misi untuk apa begitu ya…. Nah, dengan nulis, gue udah happy.
Lo merasa terjebak di comfort zone?
Ya, apalagi sekarang kan, gue udah nggak ada suami, anak-anak masih sekolah. By the way, di buku anak gue dua ya. Anak gue itu satu, yang kedua itu udah nggak ada. Tapi gue hidupkan lagi di buku and I feel good aja. Jadi anggap aja anak gue dua. Ya, gue terjebak di comfort zone and it’s okay.
Sekarang dunia digital semakin maju, kenapa nggak mengarah ke sana?
Gue sudah tidak punya room in my brain to think for that. Gue tidak mau memforsir. Kalo gue masih muda, oke. Contohnya Raditya Dika, dia cukup agresif, dia begini, begitu, karena dia bangun branding. Banyak yang bilang, “kok lo nggak bangun branding?”. Gue sih bukan nggak mau bangun branding, gue bukannya males atau apa gitu, cuma gue tidak punya room in my brain for that, kecuali ada yang mau ngurusin.
Gue udah terlalu lama, jauh dari Indonesia, apa yang lagi nge-trend, model seperti apa, bahkan gaya Gojek, gue baru tahu belakangan ini namanya startup bisnis. Ketidaktahuan itu karena gue kurang membaca, semakin ke sini semakin kurang, karena kerjaan gue itu memakan banyak waktu. Gue kerja di dua negara, Malaysia dan Australia, jadi gue bolak-balik. Pikiran gue udah kesedot. Gue terjebak di comfort zone, gue nggak mau keluar and I dont think I have to ya kan? Apalagi dengan anak yang kuliah, ya udah gue terusin aja. Kecuali ada yang mau ngurusin, ada yang mau kasih ide, ya why not?
Kondisi kantor sekarang se-menyebalkan yang dulu?
Nggak. Masalahnya beda-beda aja. Kalau dulu office politic-nya kelas kampungan banget, sekarang kelas tinggi. Karena ini kan perusahaan internasional, international skill, office politic-nya udah cross country, udah bukan lokal antara gue dan boss gue. Gue sama bos gue udah nggak ada masalah, saking nggak ada masalahnya gue nggak pernah lihat dia. Nggak pernah ketemu muka, nggak tahu dia itu yang mana. Jadi masalah kantor yang sekarang nggak sama dengan yang dulu. Tapi ada beberapa kejadian di kantor sekarang masuk buku.
Karena MSB 1 keluar 2009 dan itu gue udah mau berhenti dari dia (Bossman). Gue total berhenti itu 2010. MSB 2, 3, 4 ada beberapa cerita dari situ (perusahaan yang sekarang) gue masukin. Contohnya Tung Wu On, dia itu pekerja Bossman. Bossman bilang, “si Tung Wu On ini budeg”, akhirnya dipanggil Bossman, “Tung Wu Oon”.
Dia bertahan tiga hari doang. Nggak ada yang sanggup. Mr. Chang, Mr. Kho itu keluar jauh sebelum gue keluar. Sikin (Norahsikin) masih di sana sampai sekarang, Adrian masih, Mr. Chia masih, semua yang Bangla-Bangla itu masih, yang nggak ada Samir. Mr. Kho, Mr. Chang tahu. Dia (Mr. Kho) kepengen banget nonton, tapi tiga hari sebelum premiere, dia meninggal. Si Bossman pengen banget dateng, tapi dia nggak boleh masuk lagi ke Malaysia. Karena dia utang, nggak bayar 1,7 juta ringgit. Hahaha.
Kerani saat meet and greet bersama die hard fans di bilangan Kuningan, Jakarta, Januari 2017.
Catatan:
Buat die hard fans Kerani --yang tentunya punya lima seri noda My Stupid Boss-- pasti pernah membaca kalimat bijaknya. Entah ini kalimat bijak atau pembenaran atau menenteramkan hati karena nggak bisa lolos dari kontrak kerja. Ini pernah saya tulis di sini plus review noda dan film. Kira-kira begini tulisannya:
Kita tak bisa keluar kerja begitu saja, karena kita harus bertanggung jawab dengan segala urusan yang dipercayakan ke kita ~ Kerani Chaos@work.
Jadi kalo mau resign, pikir-pikir dulu. Karena pekerjaan kita bersinggungan dengan banyak orang. Kalo resign, bagaimana mereka melakukan pekerjaannya? Kecuali Anda memang sudah nggak betah banget & sistem perusahaan sudah stabil, nggak masalah Anda resign as soon as possible.
Kalo merasa nggak pernah baca quote di atas, jangan ngaku die hard fans Kerani deh!
Baca juga: Ngobral pertama, kedua, dan ketiga yah. Mamacih teman-teman. :*
[Ngobral] Chaos@work: Larangan temui suami sakit dan tuduhan korupsi (3)
Percaya atau tidak, energi yang memancar dari seseorang (aura) itu menular ke orang lain. Hal itu terjadi pada Kerani dan Bossman. Ya, mereka ditakdirkan menjadi sahabat setia. Meski harus gontok-gontokan, teriak-teriak, sampai saliva nyembur ke buku laba-rugi.
Bossman memang kejam. Tetapi dia punya kebaikan. Kejam untuk kebaikan atau kejam karena nggak mau rugi karyawannya bolos kerja? Btw, dia juga sempat menuduh Kerani korupsi loh!
Oiya, bagian ketiga ini lumayan panjang. Jadi betah-betahin baca ngobral bagian ketiga ini yah, gaes. Kerani ngobral soal larangan menemui suami yang sedang sakit kritis, tuduhan korupsi, dan memutuskan resign dari international company wannabe tersebut.
Nular ya auranya?
Auranya nular. Aslinya, kalo gue udah mulai curhat soal Bossman, dia nggak suka.
[Percakapan Kerani dan suami]
“Kok lo yang tersinggung sih, emang lo ada apa sama dia? Gue kan bini lo, lo belain gue, lo tinggal sama gue, lo nggak tinggal sama dia, gue yang masak buat lo, bukan dia yang masak buat lo, kok lo bete kalo gue gossip?” omongan Kerani ini ibarat istri kesal setengah cemburu gitu.
“Saya kenal dia lebih lama dari kamu, dari dia umur 19, saya udah kenal.”
Karena S1 dan S2 mereka bareng terus kan. Jadi suami gue lulus kuliah, kerja, Bossman masih kuliah terus tuh, nggak kelar-kelar. Karena dia cuti, nggak lulus, skripsi gagal, master aja lima tahun, berkali-kali (wisuda) diundur loh, karena failed terus.
Balik lagi ke pertanyaan lo, kok gue nggak keluar aja? Itu karena kontrak. Kalo ada pertanyaan berikutnya, udah tahu begitu, kok lo tanda tangan lagi kontraknya? Itu karena suami gue udah nggak ada (meninggal). Saat itu gue nggak ada kerjaan, gue susah cari kerja waktu itu. Gue pikir, ya udah lah gue tanda tangan aja. Suami gue meninggalnya udah cukup lama, 2007.
[Percakapan Kerani-Bossman]
“Pak, saya cuma mau dua tahun.”
“Ya udah lah bu, kamu nggak usah ke mana-mana, saya akan jaga kamu,” ucapnya merajuk.
Lo tau kan kasusnya suami gue meninggal, dia nggak ngasih gue untuk jagain suami gue. “Kamu kerja”. Kejem banget sih, gue itu mau nungguin suami gue. One good thing about him, tanpa gue tahu, dia lah yang nungguin suami gue.
Tahunya dari mana?
Suster. Setelah (suami) meninggal, dia baru ngomong. Saat itu Bossman baru dateng sama gue dan susternya lebih banyak ngomong ke dia, nggak ngomong ke gue. Tapi susternya tahu, gue ini bininya, tapi laporannya ke Bossman. Dia yang bayar, dia yang jagain, setidaknya sehari itu empat jam, dia aktif. Sepertinya dia menyiksa pihak rumah sakit dengan gaya dia yang nanya-nanya. Hahaha. Tahu-tahu bilang….
[Percakapan Kerani-Bossman]
“Bu, ini kepala suami kamu harus dibor!”
Suami Kerani sempat mengalami pembengkakan otak.
“Dan saya sudah setuju,” kata Bossman dengan yakin, sure, pasti.
“Lho kenapa bapak yang setuju?”
“Percaya saja dengan saya, saya sudah pelajari penyakitnya.”
“Oh ya udah lah pak, terserah bapak.”
Dia yang ngurus, dia yang telepon jabatan kebajikan agama islam (mungkin maksudnya Jabatan Kemajuan Islam Malaysia), segala macam dia yang ngurus, dia bilang, “Udah kamu diam aja, semuanya saya yang urus.” Seminggu gue nggak kerja, dia telpon gue.
[Percakapan Kerani-Bossman]
“Kapan kamu mau masuk kerja?”
“Pak, saya lagi temenin anak-anak, jadi kasih waktu saya.”
“Kamu tahu nggak kenapa saya suruh kamu tetap kerja? There’s nothing you can do at the hospital, you can not help. Kalo kamu di sana, dia bisa apa? Yang ada kamu resah, lebih baik kamu di rumah, jaga anak-anak, kamu kerja karena dia tidak ada harapan lagi. So you need to care your life, move on. Karena dia sudah cripple, jadi tanggung jawab kamu bukan dia, tanggung jawab kamu itu anak-anakmu. Makanya saya ngotot kamu tetap kerja aja, kamu boleh berpikir saya kejam. I have to be cruel to be kind, saya harus kejam sama kamu, untuk kebaikanmu sendiri.”
Tapi bukan berarti penyiksaan dia berkurang. Tetep. Tapi gue lebih santai, karena udah tahu sifat dia. Jadi gue ambil dari sisi positif dia. Contohnya 1. selalu menghitung uang kembalian, gue tuh nggak pernah, 2. Kalo ke pasar nggak usah nawar lah, bayar aja, lo nggak nawar kok kalo ke mal-mal, 3. Dia pinter nawar, di mal pun nawar (kontradiktif dengan poin sebelumnya), 4. Jangan pernah mencoba sekali. Coba beberapa kali. Waktu gue bikin SIM, kan gue gagal. Gue minta ijin ke polisi buat tes keesokan harinya.
Kenapa memutuskan keluar? Karena ada yang baru?
Iya, ada yang baru.
[Percakapan Kerani-Bossman]
“Ini kamu mau berhenti kerja ya, bu?”
“Iya pak.”
“Ya udah, jadi kamu ngantornya Kamis-Jumat gitu?”
“Nggak pak. Saya udah nggak bisa.”
“Kamu udah nggak bisa ngantor lagi?”
“Ya nggak bisa dong pak, saya udah kerja di tempat lain,” jawab Kerani mulai kesal.
Itu dia baru diem. Dia kayak shocked, dia diem aja.
[Percakapan Kerani-Bossman]
“Ya udah.”
“Jadi kontrak saya sudah selesai pak.”
“Emang kamu dapet gaji berapa?”
“Kenapa mau tahu?”
“Nggak, serius saya mau tanya ini. Kalo gaji kamu di sana lebih bagus, saya bahagia. Kalo gaji kamu kurang, gimana kamu lanjutin hidup?”
“Emang sih kenapa pak?”
“Ya kalo gaji kamu kurang di situ, sebaiknya kamu kerja sama saya, kan saya bisa gaji kamu dengan baik.”
“Tapi kan tiap bulan selalu kurang 30%, 40%, bapak masih ada utang sama saya 22 ribu loh!”
“Ya udah, kamu selalu bahagia di tempat yang baru.”
Mendadak lupa. Karena menurut dia, gaji gue terlalu gede, dia bilang, “Saya gaji kamu segitu karena saya mandang suami kamu aja, karena dia temen saya padahal kamu nggak pantes dapet gaji segitu!”.
Tapi setelah itu, Kerani masih bantu si Bossman?
Ya karena gue masih mandang suami gue juga. Gue tiap bulan masih ngitungin berapa gaji, berapa lemburan, berapa petty cash mereka.
Belum pakai sistem komputer?
Nggak ada. Dia tidak percaya. Kalo pake sistem komputer, lo bisa delete, nggak ada buktinya. Jadi masih manual. Kalo lo mau tip-ex, mau coret, ada buktinya. “Kenapa kamu edit?”, maksudnya ini kenapa. Dia nggak pernah percaya. Seperti gue bilang, trust no one suspect everyone.
Dia lagi meeting sama adik-adiknya. Ada gue di situ, gue notulen.
“Kita tidak percaya siapapun di dunia ini, semua di dunia ini kecuali kita adalah maling!”
“Hheemm, saya di sini pak, saya juga denger. Emangnya gue mesin fotokopi?”
“Semuanya maling kecuali kita!”
Dia nggak peduli. Dia jelas-jelas menuduh gue maling, tapi dia nggak peduli. Lo bayangin yah, gue kan ganti mobil nih. Nggak usah ditanya gimana dia mata-matain gue. Dia dateng diem-diem ke rumah gue, lihat-lihat, gue tahu, anak gue juga tahu.
Dia pikir Kerani korupsi?
Dikira gue korupsi. Jadi dia nuduh gue ada main dengan supplier. Kan supplier dia yang pilih, dari mana gue bisa main sama supplier. Karena dia nggak percaya supplier pilihan gue, dia sendiri yang nentuin supplier, dia yang nentuin harganya. Korupsinya dari mane? Padahal semua itu, mobil baru, ya karena Gradien, karena kamu-kamu.
Ngobral akan berlanjut sekaligus berakhir pada bagian keempat. Tapi kalo ingin baca ngobral sebelumnya, hanya di sini dan di sini nih.
[Ngobral] Chaos@work: Terjebak kontrak kerja Bossman (2)
Terjebak kontrak kerja. Itulah yang dialami oleh Kerani a.k.a Chaos@work. Dia sempat protes kenapa kontrak kerja mengikat lima tahun. Tapi hal itu dianggap wajar bagi orang asing bekerja di Malaysia. Nggak cuma masalah kontrak kerja, dia juga harus menghadapi ujian Bossman.
Mulai dari skill tawar menawar hingga emosi nggak stabil dan masalah hormon. Hahaha. Keahlian Kerani sedikit-sedikit mulai teruji.
Kontraknya berapa tahun?
Kontraknya pertama lima tahun. Jadi kenapa terjadi perang ini, terus-menerus, gila-gilaan? Dia berusaha membuat gue resign, gue berusaha buat dia pecat gue. Siapa yang menghentikan kontrak, dia membayar sisa bulan kerja.
Lo bayangin ya, kalo gue baru kerja satu tahun. Kontraknya kan lima tahun, jadi gue harus membayar 4 x 12 gaji. Terus gue mikir, kok gue bego’ banget ya mau tanda tangan kayak gitu? Ternyata itu normal di Malaysia. Kata suami gue, “Lho itu normal, that’s why I can encourage you to just say yes”. Cuma Bossman itu orangnya kayak gini, “Ngapain kata-kata gue bikin lo tersinggung. Lo ngomong apa aja, gue nggak pernah tersinggung.” Emang dia nggak tersinggungan orangnya. Kita mau ngomong apa, dia palingan juga misuh-misuh, tapi nggak pernah dimasukin ke hati. Dia menganggap, semua orang seperti dia.
Satu-satunya cara adalah gue nggak mau mikirin dia ngomong apa. Sifat dia kan, dia nggak percaya sama gue, jadi apapun yang gue propose, dia nggak akan percaya. Misalkan harga aslinya satu barang RM 100, gue nggak akan bilang RM 100, gue bilang RM 150, karena gue tahu dia akan suruh gue nawar. Nanti gue nggak nawar, harganya udah 100. Ya ngapain gue pusing-pusing kan.
[Percakapan Kerani-Bossman]
“Harganya 150 pak.”
“Tawar dong!”
“Iya,” kata Kerani dengan tatapan licik. Beberapa menit kemudian, dia ngomong ke Bossman.
“Udah pak, udah turun, 130.”
“Oh nggak bisa! Tawar lagi!” ujar Bossman dengan oktaf tinggi bak Celine Dion.
“Sampe berapa?”
“Sampe 110 kek, 120 kek!”
Beberapa jam kemudian….
“Pak, nih saya udah dapet harganya, 100.”
“Wah kamu pinter banget nawarnya.”
Kerani dan die hard fans di gala premier My Stupid Boss the movie sekaligus meet and greet sekadarnya, Jakarta, 2016.
Cuman yang masih nggak bisa nglawan dia itu… (Kerani sambil menerawang jauh, sepertinya dia kangen sabahat setianya > Bossman).
Jadi awalnya gini, gue kan office manager saja. Satu keluar, kerjaannya buat gue, yang satu keluar, kerjaannya buat gue, gue protes dong.
“Kok mereka-mereka kerjaannya jatuhin ke saya, pak?”
“Iya, karena saya melihat kamu mampu”.
Tapi dia ngomong ke Mr. Kho.
“Saya nyesel gaji gede ke dia!”
Nah, karena gue mental kuli, gue berpikir kerjaan gue itu terlalu mudah untuk gaji segede itu. Sehingga gue terima terus kerjaan yang dibebankan dia ke gue. Kok gue mau diperbudak terus sama dia? Gue nggak bisa jadi mental kuli kayak gini. Dan akhirnya selesai tuh lima tahun. Untuk ngeluarin unek-unek gue nge-blog dong.
Kerani nge-blog setelah kerja berapa tahun?
Setelah dua tahun kerja. Dan suami gue nggak tahu. Suami gue itu orangnya lembut, dia paling nggak suka kalo gue mulai meledak-ledak. Gue aslinya spontan ya, impresif. Kalo urusan kerja, gue nggak pernah meledak-ledak, emosi gue stabil. Setelah gue kerja sama dia (Bossman) tuh, emosi gue gimana gitu.
[Percakapan Kerani dan suami]
“Kayaknya kamu ada masalah hormon deh,” ucap sang suami dengan tenang.
“Gue dapet pasokan hormon dari temen lo!”
Ngobral berlanjut ke bagian ketiga. Di sana, Kerani cerita bahwa Bossman sungguh amat-teramat kejam! Bahkan ketika suami Kerani sakit, dia masih kejam terhadap karyawannya. Padahal suami karyawan Kerani adalah sahabat kuliahnya! Sahabat, loh. Sahabat.
[Ngobral] Chaos@work: Tujuh tahun “tertindas” Bossman (1)
Ngobral edisi perdana! Seperti janji saya minggu lalu, Ngobral pertama akan menampilkan obrolan saya dengan seseorang yang cantik, jelita, muda, mirip Megan Fox, multitalenta, berprestasi, bertenaga besi, hingga mampu memantik api. Dia juga penulis noda (novel canda) yang saat ini sudah memasuki seri kelima. Best seller.
Seperti umumnya buku best seller, rumah produksi mengangkat kehidupan sang penulis ke layar lebar.
Meski ceritanya tak terlalu menarik --menurut saya-- tapi sambutan penonton sangat fantastis loh. Alhasil film meraup tiga juta penonton. Tiga juta penonton, bro, sis! Tahu dong, siapa dia? She’s, the one and only, Chaos@work!
Yes, saya beruntung dapat berbincang dengan Chaos@work a.k.a Kerani. Pertama kali bertemu Kerani, ketika acara premier My Stupid Boss the movie. Atas prakarsa tim Gradien Mediatama (pak Tri, pak Lukito, dkk), die hard hars Kerani berjumpa dengan idolanya.
Kerani (markah biru) jumpa fans pertama kali saat premier My Stupid Boss the movie, Grand Indonesia, Jakarta, 2016.
Sesama kaum proletar, saya --mungkin juga Anda-- terwakili dengan membaca kisah-kisahnya di My Stupid Boss (MSB). Akhir Januari lalu, dia banyak cerita tentang kehidupan sebelum dan setelah “abused” and/or “oppressed” by Bossman. Dia juga ahli menghadapi sifat Bossman yang culas nan licik. Namun, ada beberapa kalimat yang telah diedit dalam artikel. Tapi nggak mengurangi obrolan. Begitu pula dengan foto, saya akan menutup wajah Kerani dan para fans-nya. Hal ini menghindari ketidaknyamanan pihak-pihak tertentu plus tidak etis.
Artikel cerita Chaos@work akan terbagi beberapa bagian. Karena ceritanya panjang lebar, multidimensi, ngalor-ngidul. Okay. Let’s take a look her torture turns into our happiness.
Secara legal, berapa tahun kerja di kantor Bossman?
Tujuh tahun, mulainya akhir tahun 2002 lah. 2010, gue udah berhenti. Sebenarnya gue, begitu pindah ke Malaysia nggak langsung kerja (di tempat dia), sebelumnya gue kerja di tempat lain.
“Bini lo buat kerja sama gue deh,” pinta Bossman dengan bibir manyun komat-kamit kepada suami Kerani. Maklum Bossman dan suami Kerani adalah sahabat saat remaja hingga dewasa.
Di MSB, Kerani sering nulis dirinya teraniaya, tertekan. Apa yang Kerani lakukan?
Gue itu sebenarnya mental karyawan. Bos-nya selama ini bener-bener aja. Jadi si Kerani ini selama di Indonesia kerjanya pasti di perusahaan internasional. Satu-satunya perusahaan yang tidak internasional, (tidak) multinasional itu cuma di Bossman. Nah karena (perusahaan sebelumnya) bos-nya bener, dia mental karyawan, mental budak Belanda banget, saat ketemu sama Bossman yang kayak gini, dia masih nggak mau ngelawan sebenarnya. Jadi dia mikir, tiap dia bangun, tidur itu rasanya udah nggak mau kerja.
Gue nggak pernah mengalami kayak gitu seumur hidup gue. Nggak nyaman banget. Mau tidur nggak nyaman, tiap hari Minggu udah nggak nyaman. Gue bilang, “Nggak bisa begini terus.” Ya terus gue mulai atur.”
Jadi, banyak yang bilang di MSB 1 (MSB the movie 2016, by the way akan ada MSB 2 loh) ini BCL (Bunga Citra Lestari) kurang galak. Ya karena Kerani begitu awalnya. Kan MSB pertama dia nggak galak. Di My Stupid Boss berikutnya dia nggak peduli, dia mengharap dia akan buat sesuatu, yang penting lo pecat gue. Nah Bossman berpikir, “Gue akan siksa lo, sampai lo ngundurin diri.”
Di buku kayaknya udah give up, kenapa Kerani nggak resign?
Kontrak.
Nah, kontrak rumah atau kontrak kerja? Yang pasti kontrak tersebut bikin mual-muntah-begah. Nggak cuma setahun, tapi langsung lima tahun! Curang? Ya gitu deh. Ikuti Ngobral bagian kedua. Oiya, nantikan pula petuah-petuah bijak Kerani yang wajib-kudu-mesti dibaca, direnungkan, dan dijalankan. Terima kasih buat Kerani Chaos@work, tim Gradien Mediatama, dan Gank Somplak atas terlaksana meet and greet ini. Ketjup!
Ada yang baru pada awal tahun baru 2017. Meski sudah satu-bulan-lebih-satu-minggu berlalu, tapi masih dalam suasana pergantian tahun lah ini. Dan, yang baru itu adalah NGOBRAL a.k.a. Ngobrol Bareng Ahli.
Akronimnya terdengar maksa? Ya sudahlah, nggak masalah. Yang penting bisa Ngobral. Bukan ngobral janji seperti politisi atau calon pemimpin daerah loh. Ini adalah rubrik --dih, ngikutin media banget sih, padahal cuma pake Tumblr-- ngobrol/interview/tanya jawab antara saya dan seseorang yang ahli di bidangnya.
Anda jangan berpikir, saya bakal ngobrol bareng ilmuwan, dosen, atau pengusaha multinasional. Orang ahli yang dimaksud adalah orang yang mahir atau piawai di bidanganya. Misalnya jago buat kerajinan tangan, ahli jualan, piawai menulis, mahir meracik jamu, paham sekali soal olahraga, atau ahli menghadapi office politics. Pokoknya, sang ahli yang akan dihadirkan dalam artikel ini datang dari berbagai latar belakang, tanpa melihat suku, agama, ras, dan orientasi seksual. Topik obrolannya pun bisa bermacam-macam.
Nah, artikel pertama Ngobral akan menampilkan hasil tanya jawab dengan seseorang yang cantik, jelita, muda --ya hampir mirip Megan Fox lah-- dan yang pasti dia ahli soal administrasi kantor, office politics, dan menguasai bahasa Inggris berbagai aksen. Oiya dia juga penulis novel canda (noda) nge-hits di Indonesia. Bahkan hasil noda-nya pernah di-film-kan dan meraup tiga juta penonton! Siapa dia?
Buat penggemar noda, pasti sudah tahu lah siapa sang ahli ini. Kalo belum nangkep siapa dia, simpan saja rasa penasaran Anda. Karena artikel akan tayang pada minggu depan. Tepatnya pada Senin, 13 Februari 2017, atau dua hari jelang Pilkada 2017 tingkat provinsi, kabupaten, dan kota di beberapa wilayah di Indonesia. Fyi, Pilkada tingkat provinsi akan berlangsung di D.I. Aceh, Bangka Belitung, D.K.I. Jakarta, Banten, Gorontalo, Sulawesi Barat, dan Papua Barat.
Dari pada perang urat syaraf soal calon pemimpin di medsos, lebih baik baca Ngobral. Tapi satu hal yang pasti, Anda wajib memilih demi jalannya demokrasi dan berperan aktif dalam membangun daerah. Tjakep!
Oks, tunggu NGOBRAL edisi perdana minggu depan yah!
‘Start Your Business with Social Media’ Tema NGOBRAL di UMJ
‘Start Your Business with Social Media’ Tema NGOBRAL di UMJ
Jakarta, Selular.ID – Melanjutkan rangkaian talkshow di kampus-kampus seputaran Jabodetabek, pada kesempatan Ngobrol Bareng Selular (Ngobral) hari ini (25/10) diadakan di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Ciputat, Jakarta. Pada Ngobral di UMJ akan dibahas sebuah tema bertajuk ‘Start Your Business with Social Media’ yang akan…
Jakarta, Selular.ID – Belanja via internet memang mudah dan praktis. Pilih barang yang diminati di layar smartphone atau desktop, selesaikan proses transaksi, dan tinggal tunggu barang dikirim sesuai alamat yang diberikan. Meski mekanisme metode pembelian di atas sudah menjadi tren, namun masih banyak orang yang memilih memakai Cash On Delivery (COD) sebagai cara transaksi untuk menghindari…
Jakarta, Selular.ID – Saat ini mengunggah video di YouTube menjadi salah satu cara yang paling sederhana untuk mencetak banyak uang. Sejak penetrasi internet meningkat di Indonesia, saat itu pula media sosial beralih fungsi selain untuk sarana menjalin komunikasi tapi di sisi lain juga dimanfaatkan untuk mengeruk pundi-pundi uang bagi para pelaku bisnis. Tak kalah pamor dengan Facebook dan…