Takkan mampuku memendam rasa lebih lama jika berada dekat denganmu. Sebab sejak dulu, aku selalu ingin kamu menjadi milikku.
Aku, yang (masih) cinta.
seen from China

seen from Australia

seen from Germany
seen from Germany

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from China
seen from Japan

seen from Italy

seen from United States

seen from Russia
seen from Russia
seen from China

seen from Australia
seen from Canada
seen from China
seen from Iraq

seen from China
seen from France
Takkan mampuku memendam rasa lebih lama jika berada dekat denganmu. Sebab sejak dulu, aku selalu ingin kamu menjadi milikku.
Aku, yang (masih) cinta.
Dominasi hati mungkin bisa disebut sebagai cerpen cinta lama bersemi kembali meski ini berkisah tentang rujuknya suami - suami dan istri - istri
"Hadehhhh pada gak benar ni otak orang-orang di rumah ini. Gak nenek gak cucunya sama saja. Pokoknya minggu depan aku akan mengenalkan orang itu pada kalian dan terserah kalian mau menganggapnya apa." Usai berkata begitu sambil meraih sepotong sandwich dan kopi lalu kembali masuk kekamarnya
Baca : https://goo.gl/F3burb
Aku menyesal tidak egois
"Aku menyesal tidak egois" ini kata yang terpikir dengan cepat ketika kembali ke masa lalu. Saat itu jika saja aku tidak mementingkan perasaan teman mungkin akan berbeda jalan cerita ini. Terlalu polos atau bodoh mungkin diriku saat itu. Yang terlintas hanya "brotherhood". Tapi sekarang apakah ke brotherhood an ku membantu? Tidak!!!, mereka egois menikmati hidup mereka yang indah tanpa penyesalan. Hidupku yang sekarang seperti orang yang jalan ditempat dan sering melihat masa lalu yang penuh sesal. Aku kehilangan orang yang berharga. Menggantungkannya itu membuatku merasa menyesal. Andai saat itu aku bisa egois dan mengerti apa maksudnya. Mungkin hidupku sekarang masih bisa bersamanya. Dengan canda tawa sedih serta rencana demi rencana ke depan. Ahh,, sepertinya sudah tidak mungkin. Dia sudah menikmati hidupnya bersama keluarga kecilnya. Menghilangkan keegoisan dan berdoa semoga dia bahagia adalah pilihan tepat. Biarkan saja waktu yang sudah tidak bisa terulang berjalan. Jikalau aku bisa berteriak kepadaku saat putih abu abu. Aku akan berteriak dan berkata "ayo egoiskan dirimu, katakan padanya kau mencintainya!!" Tapi itu harapan palsu yang dengan cepat terbawa angin. Sekarang, Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukku kedepan. Aminnn... Berjuanglah diriku!!! 👊🏻😎
Orang asing
Bertemu dengannya setelah waktu yang lama itu seperti kebetulan. Melihatnya seperti tidak ada yang berubah masih seperti dulu saat terakhir bertemu. Wajahnya, senyumnya dan tatapan matanya masih sama, setajam dulu. Ah, aku sedikit kaget ketika bersalaman dengannya. Tapi, entah kenapa ada yang berbeda. Benar, itu adalah sikapnya, caranya dan tanggapannya. Seperti "orang asing" dia tersenyum dan berkata "hai". Kemudian duduk dan beberapa saat dia pergi tanpa mengucap pamit. Sebenarnya aku bersyukur karena bisa melihatnya dan "ah dia baik-baik saja". Sampai detik ini pun, aku tidak pernah tau kenapa sampai keadaan seperti ini. Dulu, berkirim pesan tiap hari, bertemu juga, saling curhat juga iya. Tapi, sekarang mau memulai sebuah perbincangan saja tidak, apalagi berkirim pesan, nomor saja tak punya. Sampai sekarang, hanya satu yang disesalkan, "kenapa tidak bisa menjadi seorang teman". Seperti teman yang sudah lama tak jumpa dan mengobrol satu sama lain tanpa ada rasa canggung. Ingin rasanya bisa bertegur sapa lagi seperti dulu awal pertemanan. Tapi sepertinya aku sudah menjadi "orang asing" di matanya maupun di hatinya.
Petang hari bulan Juni, penghuni mayapada menikmati ekor cahaya matahari. Mereka enggan tahu bulan Juni adalah bulan yang dingin. Bumi berada pada titik terjatuh dengan matahari. Semesta khusu’ bertawaf takzim bersama penduduk angkasa, tawaf raksasa dalam waktu yang terlampau lama. Apa kabarmu? Ilalang menabuh musik sepi dalam setiap helai jeda waktu, menunggu setengah jiwa yang mengangkasa.
______________________________________________________________
Bibir cangkir kedua menyapaku, resah. Sepasang mataku tak lepas dari pintu. Aku tetap disini, coffee shop tepi jalan yang menghubungkan tempat kerjaku dan tempat kerjamu. Satu jam, dan kau tak juga datang. Apa yang begitu menahanmu?
Seperti yang ku katakan berkali-kali padamu, aku sangat percaya pertemuan kita bukan kebetulan! Kecuali kau bisa menjelaskan pertemuan-pertemuan setelah yang pertama dulu. Dan hari ini aku meminta waktumu untuk bertemu. Ada hal yang harus ku bicarakan, tentang kau. Tentang kita.
Mendung menghiasi petang hari ini. Tapi yang kulihat awan hitam itu juga memayungimu, tepat di dadamu. Terlebih hatimu. Memaksa air mukamu turun, murung tak terbantahkan. Sejak kau datang beberapa menit yang lalu, tanpa adanya pembicaraan, aku bisa menghitung berapa kali kau memaksa kemeja abu-abumu sampai siku. Lalu mendadak kau rajin memeriksa detik-detik jam pada arloji perak yang selalu kau kenakan. Jadi, apa yang membuatmu kini begitu terburu?
“Kamu sendirian?”, tanyamu memecah kebekuan.
“Keliatannya gimana?”
“Hm.”, kau mengangguk. Hanya itu.
“Kau tau, menjadi titik terjauh darimu bukan sesuatu yang ku inginkan…”
“Aku tau.”, jawabmu pendek. Seperti ada yang pekat di pikiranmu.
“Menurutmu, cinta macam apa yang kau tawarkan padaku? Doaku untukmu sudah ku langitkan. Jangan buat aku seakan tak punya lagi doa untukmu. Untuk kita.”
“Maafkan aku.”
“Kau mau bicara? Aku harus bagaimana?”, sambungku lagi. Kau tau bahwa aku paling tidak bisa menunggu sebuah penjelasan. Bicaralah, maka aku akan tau harus seperti apa kita detik selanjutnya.
Hening.
“Mau aku membantumu? Kau ingin bicara? Atau aku harus pergi?”, kataku lirih.
Kau terburu menatap mataku, beralih dari gerimis yang sejak tadi menyita perhatianmu. Sendu, seperti biasa. Seperti yang ku suka darimu.
“Ini bukan hanya tentang kita…”,katamu membahasakan ketidaksetujuan. Semacam protes? “Coba berpikir logis, kau tau aku dan dia…”
“Kau suruh aku membahasakan cinta dengan logika?”, protesku. Aku tak habis pikir, entah aku yang egois atau kau yang tak sama sekali peka. Aku cemburu,oi!
“Maafkan aku kalau kehadirannya menjadi masalah di tengah kita yang sudah sejauh ini. Tapi kau harus tau bahwa ketetapan hatiku tetap padamu…”, jawabmu gamang.
Aku diam.
Kadang emosi dan rasa penasaran bisa menangkupkan kelopak matamu, menahan bah yang seharusnya kuat kau bendung. Hari tak sedang dingin, tapi dia yang datang padamu, dia yang pernah ada di masa lalumu itu membekukan hatiku. Merajam tanpa permisi. Aku diam. Menggulung tissue, menggulung kepenatan. Sungguh, kali ini mendadak aku membenci hujan di kota ini. Aku butuh sepotong sore yang dihiasi horizon jingga. Saat dimana aku dan kau menghabiskan waktu dalam diam sementara bahumu adalah sandaran paling nyaman yang penuh perlindungan.
“Dia datang disaat tak seharusnya.”, deras hujan menyamarkan bicaraku.
Kau menghela nafas berat.
“Oke, kita akhiri saja ini.”, sambungku. Sekali lagi, aku tak mau membuang waktu kita. “Aku tak peduli, apakah dia cintamu yang sekarang atau cinta masa mudamu. Kalau kau mau kembali padanya, saya persilakan. Dia hebat, masih bisa membuatmu bertahan padanya sejauh ini. Bahkan saat kau sudah bersamaku. Well, kita memang bukan sepasang kekasih, tapi kau sudah membuatku berkata YA. Maaf bila saya egois, tapi kau tau bahwa cinta yang ku bawa adalah yang paling egois. Tak akan pernah mau berbagi… Aku tak pernah menyerah tentangmu, tapi kalau kau membuatnya harus, sepertinya aku tak butuh 3 hari untuk berpikir.”, kataku. Sungguh, aku mengakhirinya dengan balutan emosi.
“Kau hanya butuh mendengar…”, ucapmu lirih.
“Oke, kabari aku kalau kau sudah punya sesuatu masuk akal yang harus saya dengar. Ajari saya membahasakan cinta semacam itu. Aku pulang dulu, jangan lupa sholat maghrib ya…”, kataku beranjak darimu, menghadiahi kamu dengan senyuman yang ku yakin tak seperti biasanya.
____
Ketika jiwamu masih utuh, belum terbelah, kebersamaan masih begitu mudah kan? Tapi sekali waktu kau harus yakin bahwa kebersamaan yang akan membuatmu kuat justru setelah kalian pernah berpisah begitu lama. Ujung Juni yang ditunggu-tunggu, penghuni mayapada bergerombol menunggu yang kembali. Setelah Tuhan, dialah yang akan kembali membawa pelangimu.
“Aku pikir cukup ada kamu ketika aku membutuhkan sebuah keberanian. Aku merasa menjadi teramat kaya setiap kali merasa memilikimu. Sekarang aku yang akan menjadi titik terdekatmu, setiap pagi dimulai.”, katamu pagi ini. "Maaf, aku butuh semalaman berfikir...dan aku meminjam depan pintumu.", sambungmu membuatku semakin terdiam. Kalau sudah begini, alasan apa yang harus ku katakan untuk tidak memaafkanmu?
Ah, kau :)
Bisikan masa lalu
Diantara sekian banyak lelaki yg datang dan singgah di hati ini, sejujurnya kamu berbeda. Entah kenapa sepertinya tuhan menciptakanmu sebagai oase bagiku. Selalu saja datang dengan kesejukan katamu yg mendinginkan hatiku. Kamu laki-laki asing pertama yg pernah mendengarkan ku menangis.. menangisi laki-laki lain yg kupilih setelah membandingkanya denganmu. Kamu istimewa mas, kamu selalu dalam ingatan mama setiap aku kecewa pada laki-laki lain. Kamu, satu-satunya laki-laki yg tidak dibiarkan Tuhan untuk menyakitiku. Hari ini kamu muncul lagi mas... dengan kesejukan katamu. Menggiring ku kembali pada memory 10 tahun lalu, ketika akhirnya hubungan kita perlahan menjauh. Menyadarkan betapa bodohnya aku waktu itu yg memilih dia daripada kamu. Menyadarkan betapa naif nya aku yg dengan polosnya mencari yg lain karena sedikit kecewa. Menyadarkan aku, kalau selama ini kamu selalu muncul di setiap titik terberatku. Apa kamu datang untuk pergi lagi mas? Seperti yang sudah-sudah, kamu datang menenangkan hatiku lalu menghilang tanpa jejak sampai akhirnya kudengar kabar kamu dengan yg lain. Seperti terakhir kali mas? Sewaktu aku pikir kamu memang datang mencariku, tapi nyatanya kamu hanya diam layaknua orang asing. Ada banyak tanya tentangmu yg ingin kucari jawabnya mas.. maukah kamu ijinkan aku kembali? Seperti dulu... menyapamu setiap malam, bercanda dengan mu di sela kesibukan, mendengarkan pikiran mu tentang banyak hal dan berdebat denganmu karena keegoisanku. Tuhan, beri jalan untuk kami bertemu lagi. Tapi... dia terlalu berharga untuk kelepasan dalam kecewa.. jadi.. tolong jaga dia selalu untuk tetap jadi yg terbaik untukku.. yg hanya Kau ijinkan untuk membuatku tersenyum setiap saat.