Ketika Tarbiyah Tidak Lagi Menjawab Dahaga
Saya mengenal liqo dan tarbiyah sejak usia yang sangat muda. Kelas 1 SMP. Usia ketika sebagian anak masih sibuk mencari jati diri, saya sudah duduk melingkar, mendengar ayat-ayat tentang niat, ukhuwah, dan amanah dakwah. Tahun demi tahun berlalu. SMP, SMA, kuliah, bekerja, menikah, hingga memiliki anak, liqo tetap menjadi rutinitas yang nyaris tak pernah absen dari fase hidup saya.
Saya tidak sedang menyesali masa itu. Tarbiyah telah memberi banyak hal: kedisiplinan, rasa kebersamaan, kepedulian sosial, dan keberanian untuk terlibat dalam urusan umat. Ia membentuk karakter, menata kebiasaan, dan memberi rasa memiliki terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Namun seiring waktu, ada satu hal yang pelan-pelan tumbuh: rasa haus yang tidak terjawab.
Haus akan pemahaman Islam yang lebih dalam.
Haus akan tafsir yang tidak berhenti pada potongan ayat.
Haus akan fikih yang menjelaskan “mengapa”, bukan hanya “bagaimana”.
Haus akan sejarah Islam yang utuh, bukan sekadar kisah inspiratif.
Materi liqo terasa berulang. Tema-tema dasar terus diputar dengan bahasa yang hampir sama. Seolah-olah kedewasaan usia dan pengalaman hidup tidak menuntut kedewasaan materi. Seorang peserta yang telah mengikuti tarbiyah belasan tahun sering kali menerima sajian yang tak jauh berbeda dengan saat ia pertama kali masuk.
Di titik ini, kejenuhan bukan lahir dari malas, tetapi dari ketidakpuasan intelektual.
Ironisnya, ketika kegelisahan ini diungkapkan, baik secara lisan maupun isyarat sikap, respons yang muncul sering kali bukan refleksi, melainkan pembelaan.
“Materi itu sebenarnya sudah ada.”
“Antumnya saja yang belum paham.”
“Kalau serius, pasti dapat ilmunya.”
Kalimat-kalimat semacam ini terdengar familiar. Ia menutup ruang evaluasi dengan asumsi bahwa masalah selalu berada pada individu, bukan pada sistem. Seolah-olah tarbiyah sudah selesai dengan dirinya, dan tugas kader hanyalah menyesuaikan diri.
Padahal, bukankah tarbiyah sejak awal mengajarkan muhasabah?
Ada generasi Muslim hari ini yang tidak lagi puas hanya dengan slogan dan potongan nasihat. Mereka membaca kitab, mendengar ceramah lintas mazhab, mengakses kajian ulama dunia, dan berdialog dengan pemikiran Islam klasik maupun kontemporer. Mereka tidak mencari sensasi, tetapi kedalaman. Dan sayangnya, banyak dari mereka tidak menemukannya dalam ruang tarbiyah yang dulu begitu dibanggakan.
Tarbiyah pernah menjadi magnet. Kini, bagi sebagian orang, ia terasa stagnan. Bukan karena Islamnya kurang kaya, tetapi karena cara menyajikannya tidak berkembang.
Di titik ini, kegelisahan saya tidak berhenti pada keluhan, tetapi justru mengarah pada sebuah tawaran perbaikan. Barangkali liqo memang tidak harus dipaksa menjadi forum yang menanggung semua beban keilmuan. Ia bisa tetap berjalan sebagai tradisi, sebagai ruang intim untuk saling menjaga, saling mengingatkan, dan merawat kebersamaan ruhiyah. Namun pada saat yang sama, dahaga keilmuan tidak boleh dibiarkan kering. Kedalaman ilmu harus difasilitasi secara sadar dan sistematis. Tarbiyah perlu memberi ruang yang lebih luas bagi tasqif, forum keilmuan massal dengan spektrum tema yang beragam, baik berbasis turots klasik maupun kajian tematik kontemporer, yang digarap secara serius, mendalam, rutin dilakukan sebagaimana Liqo dan menantang daya pikir. Dengan begitu, liqo tidak ditinggalkan, tetapi dilengkapi; bukan digeser, melainkan ditopang.
Meskipun solusi di atas bisa saja memunculkan komentar: “Kalau mau ilmu yang lebih dalam, tasqif di luar saja. Belajar boleh ke siapa saja, tapi liqo tetap jalan.” Komentar ini seakan memberi ruang, seolah membuka pintu. Namun jika ditelaah lebih dalam, ada pesan implisit yang problematik: bahwa kedalaman ilmu bukan urusan tarbiyah, melainkan urusan pribadi kader.
Di titik ini, tarbiyah seperti berkata, “Kami cukup menjaga ritme dan barisan. Soal lapar atau kenyang secara keilmuan, silakan cari dapur lain.”
Padahal, jika liqo tetap menjadi poros pembinaan, sementara asupan intelektual utama justru datang dari luar, maka ada jarak yang pelan-pelan melebar. Liqo berjalan, tetapi tidak lagi menjadi ruang pertumbuhan utuh. Ia hadir sebagai kewajiban struktural, bukan sebagai kebutuhan batin.
Belajar “boleh dengan siapa saja” memang benar. Islam tidak pernah memonopoli ilmu. Tetapi membiarkan kader secara sistematis mencari kedalaman ke luar, tanpa upaya serius dari tarbiyah untuk menghadirkannya di dalam, bukanlah tanda keluasan, melainkan isyarat kelelahan dalam merawat substansi.
Masalahnya bukan pada boleh atau tidak belajar di luar. Masalahnya adalah ketika tarbiyah merasa cukup hanya dengan menjaga forum rutin, sementara dahaga keilmuan dianggap selesai dengan anjuran individual: “Silakan cari sendiri.”
Di situlah liqo berisiko kehilangan maknanya. Ia tetap ada, tetapi tidak lagi menjadi tempat bertumbuh. Ia berjalan, tetapi tidak lagi memimpin arah. Ia bertahan sebagai tradisi, namun perlahan ditinggalkan sebagai sumber makna.
Dan mungkin, inilah yang sebenarnya dirasakan banyak orang, bukan keinginan meninggalkan tarbiyah, melainkan keinginan agar tarbiyah kembali menjadi ruang yang hidup, yang ikut menemani pencarian ilmu, bukan sekadar mengawasinya dari jauh.
Jika tarbiyah ingin tetap relevan, ia perlu berani bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kita masih mendidik, atau sekadar mengulang?
Apakah kita membimbing pencarian ilmu, atau hanya menjaga ritme aktivitas?
Apakah kita mendampingi pertumbuhan intelektual kader, atau hanya memastikan kehadiran mereka?
Haus keilmuan tidak akan pernah hilang dengan imbauan untuk “sabar” atau “taat”. Ia hanya akan reda jika diberi air. Dan air itu bernama ilmu yang serius, mendalam, dan jujur.
Mungkin, sebagian orang akan membaca tulisan ini dan kembali berkata: “Semua itu sudah ada.”
Namun jika semakin banyak yang pergi mencari ke luar, itu pertanda bahwa yang ada belum cukup terasa.
Tarbiyah tidak kehilangan ruhnya.
Ia hanya perlu mengingat kembali bahwa Islam tidak pernah takut pada kedalaman ilmu.
Dan dahaga, jika terus diabaikan, akan membuat orang mencari mata air di tempat lain, bukan karena membenci ladang lama, tetapi karena ingin tetap hidup.