Mereka bilang jatuh cinta menjadikanmu ahli puisi, tetapi mengapa yang bisa kutulis hanya rangkaian curhatan malu-malu ☺ ------------------------------- #cintaplatonis

seen from United States
seen from China

seen from Estonia
seen from United States

seen from United States
seen from France

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States
seen from France

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Spain
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from Australia
Mereka bilang jatuh cinta menjadikanmu ahli puisi, tetapi mengapa yang bisa kutulis hanya rangkaian curhatan malu-malu ☺ ------------------------------- #cintaplatonis
Untuk Laki-Laki yang Pandai Menggambar
Semalam, aku bermimpi tentang kamu. Kurasa mimpi itu terjadi pada waktu keramat. Mimpi itu terasa nyata. Aku sudah lupa bagaimana ceritanya, namun terasa sekali ketika di dalam mimpi itu aku terbangun dari ‘tidur darurat’ kita karena kamu menorehkan tanda salib di keningku dan kamu mengutarakan maksudmu untuk membuat ikatan kita berdua sebagai kekasih. Tentu saja aku tak butuh negasi. Kemudian kita berdua berjalan sambil bergandengan tangan, meninggalkan satu teman kita yang masih tertidur di ruang pertemuan.
Sampai malam ini, ketika aku dalam perjalanan pulang dari Kota Seribu Tilang, aku tak pernah berhenti memikirkannya.
Jadi, apakah mimpi itu adalah wangsit dariNya ataukah hanya bunga tidur? Apakah aku harus percaya bahwa mimpi itu nyata, ataukah aku cukup membiarkannya? Apakah kau juga merasakannya, ataukah ini hanya platonis belaka?
Menyoal Konsep Cinta Platonis
Seorang “penggila” Plato yang pertama kali mengenalkan saya dengan istilah Cinta Platonis. Adalah jenis cinta yang dianggap paling tinggi derajatnya, suci dan murni. Cinta yang membebaskan, tanpa rasa cemburu apalagi kelekatan untuk memiliki karena memang tidak diungkapkan. Mengacu pada konsep Ideal versi Plato dimana dunia ideal hanya ada dalam pikiran tanpa diwujudkan dalam realitas. Pun sama halnya dengan cinta ketika diungkapkan maka ia bukan lagi cinta sejati atau murni.
Saya yang pengetahuan filsafatnya memang masih sebutiran debu ini dulu berpendapat bahwa penganut cinta jenis ini hampir tidak mungkin eksis di dunia nyata. Jika memang tidak diungkapkan maka minimal muncul rasa galau, bagaimana mungkin bisa membebaskan?? Kisah cinta seperti ini mungkin hanya tersaji dalam kisah-kisah cerpen atau Novel. Salah satu yang poluler dan di-klaim sebagai parade kisah cinta platonis kekinian adalah Rectoverso karya Dewi Lestari. Ada pula Kahlil Gibran yang karya-karyanya juga dianggap menyiratkan cinta platonis, tokoh yang pada akhirnya memilih untuk tidak menikah. Sampai pada suatu sore dalam sebuah obrolan, seorang teman mengutarakan proses tranformasi yang dialami dalam hal mencintai. Bermula ketika Ia mengenal ajaran Sufi (mistikus) . Ia menganggap bahwa meneladani para sufi telah membuatnya lebih memahami cinta yang serupa dengan cinta platonis. (Tiga dari tokoh Sufi yang terkenal, namanya diabadikan oleh musisi Ahmad Dhani sebagai nama putranya; Al Ghazali, El Jalaluddin Rumi,Abdul Qodir Jaelani) Intinya, definisi cinta menurut para Sufi adalah tentang cinta yang Ilahiah. Cinta yang terarah pada Sang Pemberi Cinta. Karena itu ketika kita bisa mencintai Tuhan “dengan benar” maka akan terbebas dari kelekatan atau penderitaan karena mencintai. Definisi cinta yang juga dikenalkan oleh Anthony De Mello (Mistikus Katolik) Transformasi yang Ia alami itu telah membawanya pada kebebasan karena ia telah mengalami kepenuhan cinta Tuhan. Ia meyakini bahwa mencintai tanpa kelekatan juga mampu membawanya pada pernikahan jika semesta menghendaki Mungkin tidak semua mampu memahami apalagi menyepakati jalan pikirannya. Seperti halnya tidak semua orang menyetujui ajaran para Sufi. Lingkungan juga kini kian mengarahkan pada jenis cinta yang butuh pengorbanan, diperjuangkan atau cinta yang membawa depresi bila tidak tersampaikan. Tapi toh pemahaman spiritual yang ia peroleh sudah membawanya pada kemerdekaan tanpa ada keinginan untuk dipahami atau kecemasan jika jalan pikirannya tidak dipahami orang lain. Dan kemerdekaan itu ia peroleh ketika ia memutuskan menjadi kekasih Tuhan,
Seperti yang pernah ditulis oleh Sujiwo Tejo
“Kamu pasti tahu dari buku-buku di perpustakaanmu bahwa orang kalau sudah beragama secara benar, menjadikan Tuhan sebagai kekasihnya, maka cintanya kepada kekasih di dunia ini hanya sekunder!!! Siang dan malam cuma ia ingin mencebur dalam Samudra Tuhan! Cintanya kepada sesama manusia cuma dalam rangka cintanya kepada Tuhan yang menciptakan manusia!”
agneslisdiani.tumblr.com
Cinta Platonis (?)
Love does not consist in gazing at each other but in looking outward together in the same direction. Istilah Plato tentang cinta platonis dalam naskah yang berjudul Symposium. Ternyata cinta ada bentuk dan definisinya juga ya? Hmmm.. aku kira cinta hanya butuh dirasakan tanpa ada teori atau jenisnya.
Mungkin itu kamu, tokoh utama dalam cinta platonisku.
Aku tak ingat kapan tepatnya kita pertama kali berbincang atau sekedar melempar sapa. Yang aku ingat pertama kali kau mengantarku pulang di bawah gerimis saat itu. Jas hujan merah hati. Aku selalu ingat ciri khasmu. Tubuhmu yang tegap, tutur katamu yang kelu tapi selalu terlihat pandai, sorot matamu yang tajam hingga gelak tawamu masih mengendap di pikiranku. Tentu saja aku jatuh cinta bukan karena fisikmu itu. Aku mengagumi caramu berpikir, caramu menanggapi dunia luar dan caramu berteman dengan sahabat-sahabatmu. Aku suka caramu berimajinasi. Aku suka mendengar kau menuturkan mimpi-mimpimu.
Hingga detik ini, aku lepaskan semuanya. Sudah ku latih diriku untuk membesarkan hati melepaskanmu untuk memilih dia yang kau puja. Setahun lebih berlalu. Aku memang tak pernah kau paksa berhenti mengagumimu, tapi aku cukup tahu diri untuk lebih realistis. Tapi kali ini biarkan aku mundur perlahan sebelum kau paksa aku menikam habis semua perasaan.
Yap, ternyata aku pernah merasakan cinta platonis itu. Hingga saat ini, mungkin kau satu-satunya orang yang mampu membuatku bertahan lama untuk mengagumi tanpa harus berkata-kata, tanpa harus berbincang lama. Kau membuatku selalu merasa gugup jika mendekat. Bahkan degupan itu telah jauh melesat sebelum kita saling dekat.
Ah kamu, terima kasih mengajarkanku mencintai dalam diam, mencintai dengan cara yang baik. Mencintaimu dari kejauhan, hanya mampu mendoakan. Sayang, aku harus berhenti sekarang. Setahun lalu telah ku kirimi kau surat. Mungkin saja dia telah sampai tapi tak kau hiraukan. Mungkin saja dia telah kau baca tapi kau anggap biasa.
Terima kasih, sungguh terima kasih. Mengagumimu dan mencintaimu seperti itu sungguh aku nikmati. Sekarang aku sudah cukup bisa untuk tersenyum lega melihat namamu disandingkan dengan dia. Setiap kita telah diberi porsi masing-masing untuk bahagia bukan? Selamat berbahagia, Tuan.
Ada Aamiin-ku dalam setiap do’a baik dan pengharapan yang kau panjatkan.
Sincerely, Aku yang pernah menjadikanmu cinta platonis
Cinta Platonis
"Kamu yakin mau ninggalin aku?" "Harus gimana lagi?" "Kamu udah gak sayang sama aku?" "Ah, itu pertanyaan retoris!" "Tapi kenapa kamu ninggalin aku?" Air mataku mulai deras mengalir di pipiku. Dimas menenangkanku dan memeluk erat tubuhku. Cukup lama kami terhanyut dalam pelukan yang diam. "Lex, ini mungkin terakhir kalinya aku bisa memeluk kamu. 3 hari lagi kamu dan Rama akan mengucap janji suci di altar pernikahan." "Kenapa harus berakhir seperti ini?" "Ikhlasin Lex, kita berbeda, kita gak bisa menyatu." "Bullshit! Kenapa baru sekarang, Mas? 3 tahun kita backstreet dan tetap berakhir sia-sia. Bukankah perbedaan Tuhan juga yang menciptakan?" "Maafkan aku, Lex. Tapi satu yang harus kamu tahu, sampai detik ini aku masih sayang banget sama kamu. Iya, seperti yang pernah kamu bilang. Mungkin benar, cinta kita ini cinta platonis. Kita gak bisa saling memiliki." 06.35 am "Assalamu'alaikum. Lexy, aku sayang kamu. Maaf aku harus pergi. Semoga kamu bahagia bersama Rama. Sekuat apapun kita bertahan, orang tua kamu tidak akan merestui hubungan kita. Keyakinan kita berbeda, Lex. I love you. Wassalam." Yang mencintaimu, Dimas Erlangga