Dengan segenap cinta aku bertanya, bila rindu ini masih milikmu, ku hadirkan sebuah tanya untukmu, "harus berapa lama aku menunggumu?"
Dalam hati ku menunggu Dalam lelah ku menunggu Dalam tangis ku menunggu Dalam sepi ku menunggu

Kiana Khansmith
Sweet Seals For You, Always

Discoholic šŖ©
trying on a metaphor
Keni

Love Begins
DEAR READER
todays bird
YOU ARE THE REASON
Stranger Things

PR's Tumblrdome
Misplaced Lens Cap
Three Goblin Art
TVSTRANGERTHINGS

@theartofmadeline

ē„ę„ / Permanent Vacation

ā
Monterey Bay Aquarium

JVL

oozey mess
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Lithuania
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from Norway
seen from Chile

seen from Argentina
@wontexist
Dengan segenap cinta aku bertanya, bila rindu ini masih milikmu, ku hadirkan sebuah tanya untukmu, "harus berapa lama aku menunggumu?"
Dalam hati ku menunggu Dalam lelah ku menunggu Dalam tangis ku menunggu Dalam sepi ku menunggu
Do We Need Space?
Do we need space? Pertanyaan ini simpel, tapi kamu nggak bakalan bisa menjawabnya dengan sederhana sebab selalu ada ākenapaā setelah jawabanmu. But, i will answer āyes, we need spaceā. Space atau spasi atau jarak tercipta entah diciptakan bukan tanpa sebab. Ada jarak yang memang sengaja diciptakan pun ada jarak yang tidak sengaja tercipta.
Untuk apa jarak diciptakan? Mungkin kita butuh rehat sejenak dari intensitas pertemuan/pembicaraan atau apapun yang membuat kita berhubungan langsung dengan orang lain atau benda. Untuk apa jarak diciptakan? Mungkin agar kita paham apa itu rindu, apa itu merindu dan bagaimana menyikapi rindu itu. Untuk apa jarak diciptakan? Mungkin agar kita sama-sama memahami rindu bahwa kita ternyata memang saling butuh. Untuk apa jarak diciptakan? Agar kita mampu menghargai kebersamaan kita selama ini dan merasakan pahitnya jarak sehingga ketika waktu menakdirkan kita bertemu kembali kita bisa lebih terbuka, berpelukan hangat kemudian meluapkan segalanya āaku kangenā. Tenang, ini bukan hanya tentang sepasang kekasih, tapi juga tentang persahabatan dan bahkan tentang mahasiswa dengan skripsinya *eh.
Beberapa hari pertanyaan simpel ini menari-nari di benak. Pun juga beberapa hari ini merasa jauh dari orang-orang terdekat. Do i feel something mess when weāre apart? Sempat mikir āaku salah ya?ā ākok rasanya gini ya?ā āapa emang harus ada jarak?ā dan pertanyaan lainnya. Beberapa pertemuan akhirnya menjadi jawaban atas pertanyaan ādo we need space?ā. Kami saling berpelukan hangat, kemudian teriak āaak gue kangen kalian, gue pengen cerita banyakā.
Terkadang jarak diperlukan untuk kita meredam emosi. Kemudian kita saling introspeksi diri dan kembali berkomunikasi. Hanya untuk tahu bahwa kita memang tak bisa saling berjauhan dengan mereka-mereka yang kita sayangi. Jarak mengajarkan kita banyak hal walau kadang menyesakkan. Seperti halnya merindu.
Semoga Belum Terlambat
Selamat sore kangpos-ku kak Liony. Apa kabar kak? Sehat? Kakak lagi sibuk banget ya, sampe kemaren kak gembrit bantuin ngantar suratnya. Seharusnya surat ini aku kirimnya kemaren kak. Tapi, karena ada beberapa kendala dan hal yang harus diselesaikan, akhirnya baru bisa ngirim sekarang. Semoga belum terlambat ya kak :)
Kakak maaf, untuk hari-hari awal event #30HariMenulisSuratCinta nya. Aku rewelin kakak yang nggak nganterin surat aku, padahal aku udah nulisnya dari dini hari kak. But, thatās absolutely my fault, gegara akun aku di private. Maaf ya kak. Dimaafin kan? Hehehehe nanti aku traktir ngopi cantik deh (kalo ketemu, tapi kapan yaa? :D)
Untuk kak gembrit, kalo aku nggak salah nebak, kakak Bosse untuk tahun ini ya? Oiya, kemaren kakak sempat jadi kangpos aku waktu event sebelum ini. Daan kemaren kakak gantiin kak Liony buat nganter surat.
Terima kasih ya kak(s). Entah untuk apapun itu. Untuk sabar dan selalu semangat buat nganterin-baca-retweet-seleksi-surat yang masuk di tengah kesibukan kakak masing-masing. No words can explain my greeting for you both.
Salam hangat penuh cinta, dari bocahe bosse di Padang :*
Jas Hujan Merah Hati
Hai, selamat sore kamu. Sudah makan? Aku baru aja kelar makannya. Aku lapar sih, jadi ya makan dulu. Ngehindarin makan malam sih sebenernya, biar nggak gendutan. Hahaha
Ah kamu, selalu mencuri perhatian dengan cara sederhana tapi ngena. Jas hujan merah hati mengingatkanku pada hari pertama kita diserbu gerimis. Kau masih ingat?
Seperti setianya seekor kucing kepada tuannya, pun begitu si jas hujan kepadamu. Atau apa karena kau yang terlalu mencintainya? Mudah saja mengetahui keberadaanmu jikalau hujan, dengan jas hujan merah hatimu, aku mampu menangkap radarmu. #Ciyyee
Beberapa bulan lalu, ada hal yang menuntun kita untuk di perjalanan lebih lama. Lagi-lagi, hujan bersekongkol mengerjai kita. Kita berhenti di beberapa tempat untuk meneduh. Dan untuk kali keduanya, kau menggigil, aku tak tega. Jas hujan merah hatimu sudah basah kuyup. Dia tak mampu lagi melindungimu, yang secara tidak langsung juga harus melindungiku yang duduk di belakangmu saat itu.
Jas hujan merah hatimu sudah tak sekuat dulu, tapi kau begitu sayang padanya. Dan ya, itulah yang membuatku selalu kagum padamu. Kau selalu mampu menghargai apa-apa yang kau punya. Bukan seperti kebanyakan orang yang berlomba untuk membeli ini-itu agar terlihat up to date.
Jas hujan merah hatimu tidak saja bermakna bagimu, tapi juga bagiku, bagaimana pun dialah petanda keberadaanmu. Untukku. Dulu.
Tetaplah sederhana, Tuan.
For The First Time
And we don't know how, How we got into this mad situation, Only doing things out of frustration
Setidaknya tiga larik lagu For The First Time milik The Script itu mewakili keadaan saat ini. Mad situation. Sebenar-benarnya tidak seorang pun yang ingin berada di situasi seperti itu bukan? Tapi apalah daya, kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk melakukan sesuatu atau menjadikan dia sesuatu bukan? Walaupun itu tujuannya baik, jikalau dari dirinya tidak menginginkan, tetap saja percuma kan?
Dan aku memilih berhenti sekarang.
Keraguan dan ketakutan akan situasi seperti ini sebenarnya sudah lama. Hanya saja mencoba menabahkan diri. Sampe pada suatu hari, aku dikagetkan dan merasa dibohongi teramat sangat. When you believe in someone, then he/she breaks it, will you feel the same? NO!
But, terima kasih Tuhan, setidaknya untuk berhenti sekarang belum terlambat. Terima kasih sudah memperingatkan jauh-jauh hari sebelum melangkah terlalu jauh, sebelum terjatuh terlalu dalam.
Dan kamu, terima kasih juga dan selamat. Semoga dia yang terbaik. Tapi jika aku boleh percaya diri, tak kan ada yang mampu mengingatkanmu sebaik aku.
UntukNYA
Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
Sebenarnya di hari pertama #30HariMenulisSuratCinta saya pengen ngirim surat buat Pencipta saya, tapi karena setelah lirik jadwal surat bertema, akhirnya saya tunda ngirim suratnya. Surat untuk Pencipta saya yang masih sangat teramat baik ngijinin saya napas sampe akhirnya surat ini saya kirimkan even thought He knows before i do this.
Di penghujung Ā bulan ini, entah sudah berapa banyak nikmat yang Allah berikan buat saya-yang masih saja kadang suka lalai sama perintahNYA. Mulai dari nikmat kesehatan, kesempatan, kebahagiaan, kesedihan sampai hal-hal yang kadang di luar dugaan bisa datang gitu aja.
Kadang saya ngerasa munafik, seolah ingin lebih dekat sama Tuhan tetapi masih saja melalaikan perintahNYA. Tapi Allah emang Maha Baik kalau bisa sih tambah bangetnya deh. Gimana nggak coba? Pernah ngerasa kita down banget nggak atau tau deh sama tingkat kepatuhan kita sama Tuhan, tapi Tuhan masih kasih kita kesempatan hidup. Kali aja buat kita bisa introspeksi diri atau membaik dari hari ke hari. Yakan? Cuma ya gitu kitanya aja kurang sadar sama kurang bersyukur.
Di bulan lalu, saya genap berusia 22 tahun. Iya, 22 -_-. Buat sebagian orang yang seangkatan sama saya, itu jadi ledekan āciyyee yang udah tuaā. Tapi saya sih selow aja. Hahahaha. Alhamdulillah saya masih bisa ngumpul lengkap sama keluarga dan teman-teman terbaik. Dan Tuhan seperti ngijinin saya buat buka hati. Tapi saya takut nggak bisa hati-hati sama hati sendiri.
Tuhan, di hari ini jikalau boleh ijinkan hamba mu nan kecil ini memberikan sebuah surat dan puisi yang entah berantah untuk Mu.
Aku tahu Engkau tak suka hati yang terlalu berharap kepada selainMu, tapi maaf Tuhan, hambaMu nan mungil ini masih saja melakukannya Engkau selalu memberi waktu 24 jam yang sama untuk kami semua, tapi kadang kami sulit sekali untuk meluangkan waktu sejam full untuk bersamaMu. Kami bahkan bisa berpuisi dan bersajak untuk orang lain, tapi untukMu kami kelu, malah sering mengeluh. Kami seolah bisa menilai ini-itu baik atau buruk, padahal kami sendiri belum paham mana yang benar-benar baik menurutMu. Kami seolah sudah menunaikan amalan wajib, tapi nyatanya belum sempurna seperti yang Engkau anjurkan. Tuhan, terima kasih atas segala pemakluman dan penerimaanMu terhadap semua sikap hambaMu nan mungil ini. Terima kasih masih memberi kesempatan, kesehatan dan kehidupan. Terima kasih Tuhan, sungguh terima kasih. Benarlah kiranya, tiada cinta yang hakiki selain cintaMu.
Jika nanti aku keliru, tegur aku dengan caraMu nan lembut Tuhan, sebab hatiku masih belum kuat untuk menghadapi beban yang berat. Jika nanti aku datang padaMu dan mengeluh lebih lama dari biasanya, maka maklumilah dan maafkanlah. Karena hambaMu ini masih bandel. Tuhan, sungguh aku rindu dekapanMU di sepertiga malam. Bolehkah besok-besok atau nanti kita bertemu? Aku ingin bercengkrama panjang lebar denganMU seperti waktu itu, saat aku benar-benar merasa lapang.
Dari HambaMU nan mungil yang masih saja bandel.
Kepadamu, Ibu (Pertiwi)
Kepadamu, tanah tempat aku dilahirkan dan dibesarkan.
Aku tak bisa memilih dan meminta dilahirkan di kota atau negara mana pun bukan? Dan, kaulah yang dipilihkan Tuhan. Indonesia. Negara dengan peringkat 5 besar penduduk terpadat di dunia, yang memiliki gugusan pulau teramat banyak, suku serta bahasa yang beragam, dan keindahanmu yang tak kan pernah ternilai oleh apapun. Lalu apa yang harus dikeluhkan darimu wahai ibu pertiwiku?
Maafkan anakmu ini yang mungkin sedikit nakal dan lancang. Aku hanya ingin mengelurkan pendapatku, bolehkah aku duduk di pangkuanmu ibu (pertiwi)? Begini, sudah 22 tahun umurku sekarang, aku masih menopang penghidupan padamu. Airmu, tanahmu, sumber dayamu bahkan apapun yang keluar dari perutmu aku nikmati. Aku mencintaimu, bu. Dengan semua yang kau tawarkan dan berikan dengan cuma-cuma kepadaku dan kepada seluruh orang yang hidup di bumimu, bahkan oleh orang-orang yang tidak sedikitpun iba mengorek perutmu.
Ibu (pertiwi) ku, kau sudah 70 tahun lebih sekarang. Apakah kau merasa sakit-sakitan karena perutmu terus dikerok dan direcoki orang-orang tak tahu diri? Hah, mereka berdalih mencintaimu tapi malah menyakitimu. Itukah yang dinamakan cinta bu?
Aku sungguh mengakui kecantikan dan keelokanmu, bu. Bahkan aku belum sempurna menikmati dan melihat keindahanmu yang terbentang dari sabang hingga merauke. Aku bukan anak durhaka kan bu? Tentang air terjunmu, tentang hamparan sawahmu, gunung-gunung yang berdiri kokoh di atasmu, tentang langit jinggamu, pantaimu. Aaah ibu, kecantikanmu sungguh sempurna, jika boleh menggombalimu, akan ku katakan āmungkin Tuhan sedang teramat bersemangat menciptakanmuā
Ibu, bolehkah aku mengeluhkan tentang mereka yang mengaku sebagai pemimpin kami? Yang menciptakan banyak program dan kebijakan, malah mereka yang melanggar. Tentang mereka yang munafik, mengaku mencintaimu tapi menghabisimu secara perlahan. Aku benci orang-orang seperti itu, bu. Tapi kau tahu, aku hanya anak kecil yang ada di pojokan. Berteriak pun aku susah. Tak kan didengar.
Terima kasih telah menerimaku dan menyuguhkan segala keindahan yang ada padamu, bu. Aku bersyukur menjadi anak ibu pertiwi. Dimana keindahan dan keakayaan alam terkandung dalam perutmu dan takkan pernah bosan untuk ditelusuri. Ibu aku mencintai apapun yang ada padamu, tapi hanya satu yang tak aku suka darimu, mereka yang memimpin tanpa hati. Sekali lagi terima kasih bu.
Surat Cinta Untuk @yudhaspt
Hey you there, how's your feeling? Kaget pasti kan dapat surat cinta dari aing? Ciyyeee š Thank you for being either my friend or my enemy sometimes. Ya cuma sama ngana aing bisa curhat tanpa malu, jambak-jambak rambut, ngeluarin kata "nyet, mbing, babi, palak, eek" daan sama ngana kalo aing sebel bisa langsung bilang. Brasa terbuka dan kadang dinasehatin. Kita ketemu pertama kali kapan coba yud? Pas SMP di tempat les. Hahaha Btw, aing mau liat ngana pake baju itu. Ngana ih nggak mau pake -,- Tetap saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran ya yud. Tetap menyenangkan dan menyebalkan. Tetap jadi temen curhat aing, yang kadang nggak penting. Hahaha ššš
Semoga
Selamat hari Jumāat, hari di mana yang paling baik di antara hari lainnya.
Teruntuk kamu, aku, atau bahkan kita yang tengah berjuang dalam cita:
Semoga ketabahan selalu ada dalam hati, sehingga sesulit apapun rintangan kita akan tetap mampu melewati
Semoga keikhlasan selalu tepatri di diri, sehingga jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana dan keinginan, kita tetap mampu melihat dari sisi lain
Semoga perjuangan ini-sekalipun susah payah-akan menemukan titik akhir yang bahkan membuat kita takkan melupakan perjalanan perjuangan kita
Teruntuk kamu, aku, atau bahkan kita yang tengah berjuang dalam cinta:
Semoga kita paham, bahwa yang benar-benar kita butuhkan bukanlah dia yang rupawan dan hartawan, tapi dia yang mampu memberikan kenyamanan dan memiliki kesabaran pun penerimaan atas segala sikap kita
Semoga kita selalu mampu mengambil hikmah dari setiap yang pergi, bahwa dia mengantarkan kita pada sesuatu yang baru, yang disebut pertemuan
Semoga kita diberikan rasa ridho yang teramat atas segala apapun takdir Tuhan atas cinta kita. Sebab yang beriman akan yakin, bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya.
Dan semoga atas cita dan cinta yang tengah kita upayakan dan nantikan titik terangnya, selalu ada campur tangan Tuhan dan semesta yang teramat baik untuk kita. Dan kita selalu mampu memahami bahwa itulah yang terbaik untuk kita. Kita pun harus ridho dengan takdir Tuhan bukan? :)
Unknown
Kepada Tuan yang bahkan aku tidak pernah tahu namanya.
Itās more than one year. Dear you, tuan yang kumisan-berambut panjang-dan dengan motor trial.
Hai, tuan. Apa kabar? Sudah lama rasanya aku tidak mampir ya, padahal baru dua mingguan saja. Aku sering melihatmu duduk di sana, bahkan kau juga yang meracikkan kopinya. Dan aku tak pernah tahu persisi kapan aku pertama kali melihatmu. Kapan aku pertama kali merekam baik senyummu. Kapan aku pertama kali mengagumimu. Ya, sekedar kagum. Kamu yang dengan wajah sayau, senyum manis, kumis tipis, motor trial, rambut gondrong dan selalu mengupayakan shalat berjamaah.
Aah tuan, jika saja kau tau aku kadang sengaja mencuri-curi senyummu, seolah-olah bisa aku simpan dalam saku celana untuk kemudian aku lihat kembali sesampainya di rumah.
Aaah tuan, jika saja kau tahu aku selalu senang jika mendapatimu di warung kopi itu. Setiap sore kau selalu ada di sana bukan?
Sudah setahun lebih warung kopi itu buka, dan perjumpaan denganmu pun sudah terbilang sering, tapi kenapa aku tidak pernah tau namamu? Itulah yang menarik bagiku. Aku tidak (pernah) tahu namamu, sesering apapun aku ke warung kopi itu untuk menikmati kupi moka dingin. One day, iāll know your name.
Regards, Your secret admire
Jar Kecil
Jika yang kau dapati selama ini adalah jar kecil yang berisi bintang-bintang kecil atau impian-impian kebahagiaan, maka kali ini berbeda. Jar kecil ini (tak) sengaja aku siapkan. Bukan untuk menyimpan impian-impianku, tapi sebaliknya. Aku ingin menuliskan sekaligus meletakkan hal-hal yang membuatku sesak. Entah itu kehilangan, patah hati, kecewa akan diri sendiri dan beberapa hal lainnya yang menyesakkan.
Aku takkan membiarkan jar kecil itu menemaniku bukan? Aku aku melemparnya sejauh yang aku bisa. Jaaauuh, hingga dia terdampar di tempat entah berantah. Filosofi sederhana sebenernya, aku hanya ingin hal-hal itu menjauh dan aku lupakan.
Tapi sebenarnya, tak ada yang benar-benar bisa kita lupakan bukan? Setidaknya aku hanya ingin melepaskan.
Jar kecil, jika nanti kau kubiarkan berlabuh, pergilah ke tempat nan paling jauh. Hingga tak ku temukan lagi muaramu, tak ku temukan lagi bentukmu utuh, tak ku ingat lagi hal-hal yang membuatku sesak parah.
Ku titipkan segala keluh kesah dan hal-hal yang menyesakkan kepadamu. Semoga kau paham, aku bukan tak bisa menerimanya, hanya saja aku tak ingin larut berlama-lama di sana.
Sesak
Ku tatap sekeliling saat keluar rumah. Tak ada yang beda. Pagi hari (selalu) menampakkan kesibukkannya. Matahari yang mulai memancarkan sinarnya. Ayam-ayam yang tak bosannya berkokok mengingatkan bahwa pagi telah datang.Ā Orang-orang yang berpacu dengan waktu karena takut terlambat ke kantor atau sekolah.
Aku kira pemandangan itu hanya akan terlihat di kala pagi. Salah.
Sebalik dari kampus yang nota-bane dijutekin pembimbing dan sepulang les yang sebelumnya dihajar dengan beberapa pertanyaan. Ternyata sesakku tidak sampai di sana. Sore yang sangat amat teramat sesak. Setiap perempatan lampu merah, selalu ku dapati kendaraan-kendaraan yang tak sabaran, yang nyalip sekena jidatnya, yang mepet tak tahu diri, yang ngebut tak ingat orang lain. Macet parah. Orang-orang tak sabaran. Kendaraan nan semakin padat merayap.
Aaaaahhh, sesak sekali kotaku ini. Dimana kau yang dulu hijau? Yang polusi tak setebal kamus terjemahan bahasa inggris? Yang selalu ramah kepada siapapun. Kau begitu sesak. Kembali menjadi kau yang dulu yang selalu ramah dan nyaman.
I Have No Power
Kepadamu yang kini sedang dekat.
Selamat siang. Baru bangun kan? Hahaha aku seperti hafal jam bangun tidurmu tau.
Perihal perbincangan kita semalam, honestly i have no power to make you stand by me forever. I have no power to make you wait for me. If thereās someone out there who can give you the good love, i let you go. Karena perihal jodoh, kita tak punya kuasa apapun. Sekuat apapun menahanmu, jika kau bukan jodohku, tetap saja tak bisa bukan? Begitu pun sebaliknya.
Maaf, aku memang tak bisa menjanjikan status apapun selain yang dibenarkan agama kita. Benar, aku bukan orang yang alim, tapi untuk perkara itu aku sudah menjadikannya prinsip. Tak mungkin aku menghancurkan prinsip yang ku buat sendiri bukan?
Tapi, jika kau tak tahan lagi untuk hubungan seperti ini, pergilah. Aku minta kau pikirkan dari sekarang, sebab kepergian yang mendadak akan sangat menyakitkan. Sungguh, aku tak kan menahanmu jika kau tak mampu. Terima kasih sudah sangat baik dan manis hingga detik ini. You have a right to choose but i have no power to stop you.
Dear You, The Script
Dear you, The Script.
The warmest greeting comes from Indonesia. Iām the one of your #TheScriptFamily
Hey you there, tell me why are you so humble and hypnotized us? I may a dreamer cause send you this letter bravely. Iām hopeless youāll read this letter, but iām still write this, i want you to know that i love you are all! Do you ever counting how many your fans are here (Indonesia)?
I knew you since about 3 years ago. And that time i fell in love with your For The First Time song. I like that music, lyric and video clip. My favorite lyric of that is Weāre smiling but weāre close to tears even after all these years, we just knew got the feeling that weāre meeting for the first time.
May i ask you a question? Would you like to have a tour here? I couldnāt imagine how crowd it will be and how amazing that is.
I think itās enough. I wouldnāt make you bored with this letter *lol
Sincerely, Your #TheScriptFamily from Indonesia :)
Cinta Platonis (?)
Love does not consist in gazing at each other but in looking outward together in the same direction. Istilah Plato tentang cinta platonis dalam naskah yang berjudul Symposium. Ternyata cinta ada bentuk dan definisinya juga ya? Hmmm.. aku kira cinta hanya butuh dirasakan tanpa ada teori atau jenisnya.
Mungkin itu kamu, tokoh utama dalam cinta platonisku.
Aku tak ingat kapan tepatnya kita pertama kali berbincang atau sekedar melempar sapa. Yang aku ingat pertama kali kau mengantarku pulang di bawah gerimis saat itu. Jas hujan merah hati. Aku selalu ingat ciri khasmu. Tubuhmu yang tegap, tutur katamu yang kelu tapi selalu terlihat pandai, sorot matamu yang tajam hingga gelak tawamu masih mengendap di pikiranku. Tentu saja aku jatuh cinta bukan karena fisikmu itu. Aku mengagumi caramu berpikir, caramu menanggapi dunia luar dan caramu berteman dengan sahabat-sahabatmu. Aku suka caramu berimajinasi. Aku suka mendengar kau menuturkan mimpi-mimpimu.
Hingga detik ini, aku lepaskan semuanya. Sudah ku latih diriku untuk membesarkan hati melepaskanmu untuk memilih dia yang kau puja. Setahun lebih berlalu. Aku memang tak pernah kau paksa berhenti mengagumimu, tapi aku cukup tahu diri untuk lebih realistis. Tapi kali ini biarkan aku mundur perlahan sebelum kau paksa aku menikam habis semua perasaan.
Yap, ternyata aku pernah merasakan cinta platonis itu. Hingga saat ini, mungkin kau satu-satunya orang yang mampu membuatku bertahan lama untuk mengagumi tanpa harus berkata-kata, tanpa harus berbincang lama. Kau membuatku selalu merasa gugup jika mendekat. Bahkan degupan itu telah jauh melesat sebelum kita saling dekat.
Ah kamu, terima kasih mengajarkanku mencintai dalam diam, mencintai dengan cara yang baik. Mencintaimu dari kejauhan, hanya mampu mendoakan. Sayang, aku harus berhenti sekarang. Setahun lalu telah ku kirimi kau surat. Mungkin saja dia telah sampai tapi tak kau hiraukan. Mungkin saja dia telah kau baca tapi kau anggap biasa.
Terima kasih, sungguh terima kasih. Mengagumimu dan mencintaimu seperti itu sungguh aku nikmati. Sekarang aku sudah cukup bisa untuk tersenyum lega melihat namamu disandingkan dengan dia. Setiap kita telah diberi porsi masing-masing untuk bahagia bukan? Selamat berbahagia, Tuan.
Ada Aamiin-ku dalam setiap doāa baik dan pengharapan yang kau panjatkan.
Sincerely, Aku yang pernah menjadikanmu cinta platonis
Selamat Kalian
Hey, selamat kalian. Yang nanti bakal samaan āone step closerā.
Seharusnya sudah sedari dulu aku tau diri ya? Tuan, maaf mengagumimu cukup lama. Rasanya bak punduk merindukan bulan. Aku apalah dibandingkan puan itu kan Tuan? Aku hanya perempuan dengan body yang tidak proposional, kepintaran pun tidak sebanding dengan dia, masih suka tertawa terbahak, tidak setenang dia, tidak setinggi dia, tidak sepintar dia. Tapi tuan, aku boleh percaya diri, jika kemampuanku berkomunikasi mungkin lebih baik dari dia. Lalu dalam hal mendoakanmu, aku mungkin lebih sering dibanding dia.
Tapi Tuan, mengapa tak sedetik pun kau menoleh ke arahku? Tak memberiku kesempatan untuk mengisi ruang di sana. Aah Tuan kita sama-sama keras kepala. Engkau masih saja mengagumi dia yang hanya diam diri, sedangkan aku mengagumimu diam-diam berharap kau sempat menoleh.
Bolehkah aku menertawakan diriku sendiri, Tuan?
Rasanya aku pun ingin marah kepada semesta, kenapa sepertinya dia selalu memihak kepada kalian? Kenapa dia begitu apik sering mempertemukan kalian? Kenapa kalian harus berada di tempat yang sama di waktu bersamaan? Kenapa semuanya terasa menyesakkan?
Tapi apalah dayaku, Tuan. Menyalahkan semesta sama saja menyalahkan Tuhan Sang Pemilik Skenario Terbaik bukan? Menyalahkan semesta sama saja mengakui bahwa aku benar-benar tak sanggup bukan? Hah! Seharusnya sedari dulu aku menyadari semesta tak penah berpihak padaku untuk membersamaimu.
Tuan, selamat ya. Nanti kau akan mengenakan baju putih nan rapi. One step closer. Semoga apapun itu dilancarkan. Terima kasih, mengajarkanku mengagumi dengan cara baik, Tuan :)
Everything Has Time
Semuanya akan ada masanya. Semuanya akan terjadi tepat pada waktunya.
Lalu, apakah benar adanya sesuatu yang datang terlambat atau sesuatu yang datang terlalu cepat? Semuanya ada masanya. Perhitungan Tuhan tepat adanya. Bukankah begitu?
Jika dulu kita jatuh cinta, mungkin waktu akan memberikan pilihan seperti bertahan atau melepaskan atau bahkan yang lebih menyakitkan adalah patah hati. Lalu di bagian mana waktu memainkan perannya?
Maka berdamai dengan waktu adalah salah satu cara terbaik menghadapi kemungkinan yang diberikan waktu, entah kemungkinan terbaik atau terburuk. Tapi semua sudah pada perhitunganNYA bukan?
Sometimes it comes early than we think or later than we hope.