Tiap orang memiliki jalannya masing-masing. Jika mereka semua sama, lantas bagaimana semua bisa seimbang?
Buat ngingetin diri aja sih
seen from China

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Russia

seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
seen from China

seen from Iraq

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Türkiye
seen from China

seen from Türkiye
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Netherlands
Tiap orang memiliki jalannya masing-masing. Jika mereka semua sama, lantas bagaimana semua bisa seimbang?
Buat ngingetin diri aja sih
"Kamu tau gak, apa yang bikin cepet mati?" "Kebiasaan saya ini, ngerokok, minum kopi, jarang tidur," "Bukan." "..." "Tapi, rindu yang menyiksa,"
Kemarin aku cerita-cerita sama Ibu, membahas salah seseorang yang agak aneh. Kenapa aku bilang aneh? Karena dia itu punya kepribadian yang menyebalkan dan kalo aku bisa bilang sih seperti muka dua gitu lah. Misalnya ya kalo lg ngomong sama suaminya kasaaaaar bgt parah lalu tiba-tiba dapet telepon bisa langsung berubah jadi baik dan ramah.
Kayak bisa secepet itu loh perubahan sikapnya sehingga yang orang diluar sana lihat adalah si orang ini memiliki kepribadian dan manner yang baik, padahal kalau dilihat ke belakanganya. Wih serem lah.
Nah lalu juga banyak anggota keluarga yang tahu pasti sifat dia itu buruk, tapi mereka diem aja dan membiarkan si orang ini untuk semaunya sendiri. Karena apa? Uang. Kayaknya “uang bukan segalanya” itu udah nggak berlaku di jaman sekarang karena Ibu saya bilang, sepinter-pinternya orang pun akan tetap kurang dihargai kalau nggak punya uang. Terus aku kayak, wah bener juga ya kadang aku lihat sarjana pun kalau dia nggak punya uang dan koneksi yang luas pasti susah cari kerja apalagi dihargain.. Yang ada malah orang bilang “sarjana kok nggak kerja, rugi”. Padahaaaaal suatu title juga tidak menjamin seseorang bisa mendapatkan pekerjaan dengan prospek yang bagus.
Kembali lagi ke orang yang aku bahas, fun fact pertama adalah dia itu seorang sarjana psikologi tapi dia bahkan tidak bisa mengontrol psikologi dirinya sendiri. Lucu ya? Aku tuh kadang sampe sebel, gimana ceritanya dia bisa memotivasi dan nasihatin orang lain tapi kelakuannya sendiri seperti itu. Eman-eman (sayang banget). Fun fact berikutnya, Ibu saya bilang kalau dari kecil kelakuannya memang sudah menyebalkan. Seperti misalnya, cengeng banget dan suka ngambek terus kalau ada orang mau pergi kemana-mana selalu rewel minta ikut. Dan aku sendiri pernah liat foto dia waktu masih SD, itu kalau difoto mukanya jutekkk parah serem banget lah kayak manusia yang dipenuhi amarah gitu. Fun fact terakhir, dia kalau ngomong nadanya nggak bisa biasa. Entah lagi marah atau enggak, sedih atau seneng, ngomongnya selalu kasar dan kenceng banget dan nyakitin hati. Padahal kan orang jawa yang katanya punya tutur kata lemah lembut.
Aku bukan tipe orang yang terlalu ngurusin hidup orang lain, tapi kalau memang orang itu membuat hidup aku nggak nyaman kan ya lama-lama gregetan juga. Apalagi dia kalau bicara sama suaminya itu kasar banget, padahal kan katanya nada bicara seorang istri itu harus lebih rendah dari suami. Dan hal terakhir yang paling bikin heran adalah itu si suami diem dan nurut aja mau dimarah-marahin atau dibentak sama istrinya sekalipun. Naudzubillah.
Padahal kalau aku bilang sih dia nggak kaya-kaya amat.. Belum kaya banget aja udah seperti itu apalagi kalau udah punya kapal pesiar ya?
Sudah menjadi balada harian mahasiswa yang menderita insomnia terlambat dikelas pagi. Kelas dimulai pukul 7 merupakan sebuah cerita yang menyeramkan
Dan bangun pagi sebelum jam 7 merupakan sebuah wacana