Jujurlah;
kadang bukan kopinya yang dibutuhin, tapi alasan untuk bisa duduk tenang sepagi ini walau gak ngapa-ngapain..

seen from Australia

seen from China

seen from United States
seen from China
seen from Canada
seen from United States
seen from China
seen from South Korea
seen from New Zealand

seen from South Korea
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Spain

seen from United States
seen from Germany
seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from Italy

seen from United States
Jujurlah;
kadang bukan kopinya yang dibutuhin, tapi alasan untuk bisa duduk tenang sepagi ini walau gak ngapa-ngapain..
Keteladanan
Seorang anak akan melihat bagaimana ayah dan ibu menyelesaikan problemnya. Mengamati bagaimana diskusi keduanya. Mengamati bagaimana cara ibunya memandang ayahnya dan sebaliknya. Sang anak terus mengamati, terekam di memorinya, dan membentuk pemikiran baru di otaknya. Anak itu akan melakukan hal yang kurang lebih sama jika bertemu suatu kejadian sejenis. Itu keteladanan.
Seorang murid TK akan melihat gurunya ketika ada temannya yang menumpahkan minum di lantai. Dia mengamati bagaimana gurunya bersikap, mengamati bagaimana gurunya memandang teman yang menumpahkan air, mengamati gurunya yang memberikan nasehat lembut, mengamati tindakan gurunya yang meminta tolong temannya mengambilkan pel, mengamati gurunya yang membantu temannya mengepel, mengamati gurunya yang menjemur pel, mengamati gurunya yang tidak memarahi temannya. Itu keteladanan
Selepas makan siang, seorang murid sedang terkantuk kantuk di dalam kelas mendengarkan penjelasan gurunya. Ia alihkan pandangannya ke luar jendela yang berembun. Tanpa sengaja, bola matanya tertuju pada tukang yang hendak memangkas ranting pohon tak jauh dari kelasnya. Si tukang nampak memasang miring tangga kayu pada batang pohon. Si tukang tampak ragu-ragu untuk melangkah, namun akhirnya ia tetap naik dan memastikan satu persatu pijakan kakinya di anak tangga dengan penuh hati-hati. Setelah sampai atas, si tukang keluarkan gergajinya, namun tangannya tak cukup berani untuk menjangkau ranting karena khawatir tangga akan meleset dan ambruk. Tanpa disangka tak jauh dari lokasi, nampak satpam sekolah berlari kecil ke arah tangga tersebut. Si satpam langsung menggenggam tangga di kedua sisinya dengan erat. Si tukang melongok ke bawah. Ia tersenyum. Satpam pun tersenyum. Si tukang melanjutkan aktivitasnya. Si anak mengamati. Senyuman itu tertangkap netra anak. Anak pun ikut tersenyum. Itu keteladanan
Keteladanan baik berbuah baik, dan berlaku juga sebaliknya
@deafaa
Masih Tentangnya, dan inginku nanti.
Eyang Habibie tak pernah surut dari teladan dan inspirasi. Kepergiannya hanyalah roh dan raga, tapi kebermanfaatan, ilmu, teladan, inspirasi, dan cinta tidak ia bawa pergi. Masih ada tertinggal sebagai rekam jejak sejarah yang akan mengabadi.
Pagi ini saya masih berteman dengan magnet kasur. Memutar setiap video beliau dan ibu Ainun di youtube. Saya akhirnya menyimpulkan, energi terbesar beliau bukanlah ilmu tentang pesawat terbang atau teori crack, tapi cinta. Cintanya pada Tuhan, pada semesta, pada ibu Ainun, pada Indonesia, pada seluruh rakyat-rakyatnya. Ia tulus dan cinta itu yang membukakan pintu-pintu kebermanfaatan untuknya. Eyang Habibie berhasil meneladani Rasulullah yang berjuang karena cinta. Cinta pada Allah, cinta pada umat manusia seluruhnya, cinta pada Bunda Khadijah, dan cinta pada islam. Cerita akhir hayat Rasullullah adalah bukti, bahwa cinta yang telah menemani perjuangannya, cinta yang menutup akhir perjuangannya, dan cinta yang mengantarnya bertemu pemilik cinta dan orang-orang yang dicintainya.
----------
Satu hal yang sampai sekarang menjadi kekhawatiran saya, "Nanti kalau saya sudah meninggal, adakah yang setia mendo'akan?". Saya hanya melihat dan menemukan, tatkala manusia kembali pada penciptaNya, kesedihan hanyalah penghantar, selanjutnya orang-orang kembali sibuk dengan rutinitasnya. Ahh, mungkin hanya saya yang tidak tahu, bahwa pasangan, anak-anak, dan kerabat mayit masih tulus dan setia mendoakan.
Tapi, kekhawatiran itu masih saja membayangi. Memang benar bahwa diri kita sendirilah yang harus menyiapkan sebaik-baik bekal untuk perjalanan pulang, tidak bisa berharap pada do'a-do'a orang lain. Tapi, Eyang Habibie berhasil menepis semua itu....
Eyang yang masih setia setiap jumat mengunjungi makam istrinya. Eyang yang selalu setia mendo'akan istrinya, setiap waktu, setiap saat. Eyang yang selalu menggunakan syal kesayangan istrinya, kemanapun bahkan setiap acara di televisi. Eyang yang ditengah kesibukannya, acara kenegaraan, segala fasilitas yang memanjakannya, tidak membuat kesetiaan eyang dalam mendo'a luntur. Eyang tetap setia, sepuluh tahun do'a dan cintanya tak berubah. Eyang yang selalu merasakan jantungnya bergetar setiap dekat ibu Ainun, seperti awal ia jatuh cinta, bahkan sampai ibu Ainun tiada, getaran itu masih ada.
Cinta adalah sesuatu tanpa batas. Eyang, diantara semua kebermanfaatannya membuktikan bahwa cinta adalah sumber utama. Sumber dari semua kecerdasannya. Cinta ilahi.
Eyang hanyalah representasi dari kisah Rasulullah. Hanya saja kita bertemu eyang di jaman sekarang. Kita tidak bisa melihat langsung bagaimana kisah Rasulullah dan Bunda Khadijah. Kisah yang mestinya jauh lebih dahsyat. Sekarang saya percaya, cinta abadi benar-benar ada. Cinta yang berawal dan bersumber dari cinta ilahi. Cinta yang akan membawa pemiliknya pada kesetiaan dan kebermanfaatan. Rasulullah dan Bunda Khadijah, Eyang Habibie dan Ibu Ainun, serta pasangan lain yang tidak terekspose kisahnya.
Saya meyakini, do'a-do'a setelah kepergian saya nanti akan tetap melambung tinggi mengetuk ArsyNya. Do'a yang penuh sungguh. Saya hanya perlu meneladani cinta dari Rasulullah dan eyang Habibie. Cinta yang dimiliki orang-orang yang penuh yakin dengan Penciptanya, Allah.
Semoga nanti, meski kisah kita tidak terekspose media. Kita dimampukan untuk meneladani cinta ilahi, cinta sejati. Kita yang bertemu dan dipisahkan karena cinta. Kita yang akan menjadi cerita selanjutnya, seperti Rasulullah dan Bunda Khadijah, Eyang Habibie dan Ibu Ainun. Cinta yang bukan hanya untuk kita, tapi membawa kebermanfaatan bagi seluruhnya umat manusia, tak peduli apapun agama, suku, ras, dan budayanya.
Terimakasih eyang, dirimu hanyalah cinta. Cinta yang membawa namamu melegenda hingga dunia. Eyang telah membuktikan bahwa cinta ilahi adalah sumber utama, yang membuat eyang akan terus dikenang.
Semoga nanti kita, yang sama-sama dimampukan Allah untuk seutuhnya mencintaiNya. Semoga nanti kita, yang menjadi seperti kisah Rasulullah dan Khadijah, yang menjadi seperti kisah eyang Habibie dan Ainun, versi kita.
Semoga nanti kita, yang cintanya tak hanya antara aku dan kamu, tapi menyeluruh keseluruh semesta tanpa sibuk membeda-bedakan. Semoga nanti aku dan kamu, yang Allah satukan karena cintaNya, menjalani kisah dengan cintaNya, dipisahkan oleh cintaNya, dan dipertemukan kembali dalam keabadian dengan cintaNya.
Ajari aku memiliki cinta yang utuh dan tulus. Ajari aku menjadi perempuan seperti Bunda Khadijah dan Ibu Ainun. Ajari aku, biar aku izinkan kamu menjadi seperti Rasulullah dan eyang Habibie, untukku.
Cinta memang klise. Pembahasannya tak pernah usai, tapi cinta itu adalah perisai. Sumber utama dan energi terbesar dari setiap kebaikan dan kebermanfaatan. Cinta ilahi, kita hanya mesti belajar bagaimana memiliki cinta ilahi. Semoga kita dimampukanNya...
Kemarin tetap akan menjadi kemarin. Hal-hal yang telah terjadi kemarin mungkin tidak akan terjadi lagi hari ini. Jika kehidupan adalah sebuah drama, maka pagi adalah satu episode baru yang siap diputar. Hidup adalah sebuah episode tanpa buku skenario pada masing-masing tangan, maka manusia menjalaninya dengan penuh harapan dan kehati-hatian.
Ia bangun dari tidurnya pukul enam pagi. Mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan nyawa yang sempat terbang, memegangi kepala yang terasa sedikit berputar. Tidur jam berapa aku semalam? Gerutunya dalam hati. Tidak ada jawaban, ia tidak ingat. Sambil berdecak pelan, ia mengusap-usap tengkuknya dan menghela napas panjang. Hari apa ini? Ia kembali bertanya pada diri sendiri.
Matanya menyipit, melihat ke arah gorden yang terbuka sedikit. Ada celah matahari yang mengintip masuk ke dalam kamar. Sekali lagi, ia menghela napas panjang. Matahari sudah begitu berani naik ke langit di saat orang-orang sedang bersusah payah membuka mata. Matahari terkadang tidak tahu diri, menyilaukan ketika orang-orang sedang ingin terlelap lebih lama.
Sekali lagi, ia menghela napas panjang.
Beringsut dengan susah payah dari kasurnya yang nyaman, ia perlahan berdiri dan berjalan terseok mendekati gorden. Ia menyibakkan gorden berwarna abu-abu itu dengan satu kali gerakan, hingga terpampang dihadapannya satu pemandangan pagi yang… mendung. Rupanya matahari hanya muncul sesaat, seperti anak kecil yang bermain petak umpet. Sesaat yang lalu ia datang dan menyilaukan, sekarang ia bersembunyi di balik awan. Sebuah permainan.
Great. Bahkan oleh matahari pun, aku tertipu. Gerutunya lagi di dalam hati.
Kemudian ia kembali menghela napas panjang.
Omong-omong, sudah berapa kali manusia satu ini menghela napas panjang? Hidupnya terdengar begitu berat, ya?
Dari atas balkon terlihat jalanan masih cukup sepi. Salahnya sendiri semalam tidak menutup gorden dengan benar sehingga pagi ini matahari berhasil menemukannya dan mengajaknya untuk bangun. Lihatlah, orang-orang sepertinya masih begitu nyaman terlelap dalam jatah tidur panjangnya di Minggu pagi. Oh, ini hari Minggu!Akhirnya manusia satu ini menemukan jawabannya, lagi-lagi terjawab oleh dirinya sendiri.
Ia menguap satu kali kemudian merentangkan tangannya ke udara untuk merenggangkan otot-ototnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Paru-parunya seperti dibersihkan dari semua polusi jalanan tadi malam. Matanya mengerjap beberapa kali hingga akhirnya ia benar-benar bangun.
“Aku butuh sesuatu yang hangat.” Gumamnya lagi.
Ia beranjak dari balkon dan berjalan menuju kamar mandi. Mencuci muka dan menggosok gigi adalah satu hal yang wajib dilakukan sebelum mencicip segala jenis makanan atau minuman. Manusia ini adalah tipe orang yang suka kebersihan. Ia tidak akan makan dan minum jika belum memastikan bahwa mulutnya telah digosok menggunakan sikat dan pasta gigi. Setelahnya, barulah ia berjalan menuju dapur untuk membuat… tunggu, satu cangkir teh? secangkir kopi? satu gelas susu hangat? Ia bingung. Dua minggu yang lalu seseorang masih mengingatkannya untuk selalu minum air putih terlebih dahulu sebelum menyesap minuman manis apapun. Katanya, air putih bagus untuk mengeluarkan racun-racun yang terakulumasi sejak kemarin. Namun tepat dua minggu yang lalu pula, seseorang itu menghilang. Pesan paginya tak lagi masuk, kalimat sapaannya tak lagi terdengar, nomor teleponnya tak lagi muncul di layar ponsel. Orang itu menyisakan percakapan lama yang tidak ingin dibaca namun enggan dihapus.
Manusia ini sepertinya sedang tidak ingin ambil pusing perihal itu. Masa bodoh dengan apa fungsi air putih di pagi hari, akhirnya ia mengambil cangkir kecil dan mengisinya dengan kopi bubuk instan. Ia menyeduhnya dengan sedikit gula lalu mengaduknya perlahan. Setelahnya ia meninggalkan dapur dan kembali ke balkon. Masuk ke kamar, ia melihat ponselnya tergeletak begitu saja di lantai. Ia masih sulit untuk mengingat apa yang dilakukannya semalam sampai-sampai ponsel yang selalu digenggamnya sekarang dibiarkan seperti barang rongsokan yang tidak ada harganya. Lagipula sepertinya barang elektronik itu kehabisan baterai.
Duduk di kursi malas kesayangannya, manusia itu menyesap minuman berwarna hitam tersebut dengan perlahan. Kandungan gula yang menurutnya cukup rupanya tidak memberikan efek apapun, ketika masuk ke kengkorongan rasanya tetap pahit. Matahari masih bersembunyi di balik awan, namun entah pada gumpalan yang mana. Pagi ini awan terlihat kelabu, membantu matahari mengelabui manusia yang susah payah bangkit dari kasur dan siap menggerutu.
Manusia itu terdiam, mengumpulkan nyawa. Isi kepalanya sudah mulai bekerja untuk mengumpulkan memori satu malam yang lalu. Perihal apa yang terjadi kemarin, apa yang ia lakukan, siapa saja orang yang ia temui, dan hal-hal lainnya. Ia terdiam seperti patung selama lima belas menit penuh. Cangkir kopinya masih diatas pangkuan, kepulan asapnya sudah mulai menipis karena bersaing dengan udara pagi yang dingin. Kemudian manusia itu kembali menghela napas.
Ia bukan tipe orang yang menonton sebuah pertunjukkan dua kali. Oleh karena itu setelah isi kepalanya bekerja dengan baik mengumpulkan memori, ia berterima kasih. Sesapan kedua minuman kopinya mengalir masih dengan begitu pahit melewati kengkorongan, kali ini bercampur dengan semua hal yang ingin ia teriakkan dengan lantang. Nalarnya mulai bekerja, nuraninya mulai bangun. Namun ternyata nurani masih begitu lemah sehingga ia kalah oleh nalar. Maka semua kalimat yang sudah sampai di pangkal lidah ia telan kembali sesuai perintah nalar. Tidak peduli sepahit apa, yang penting semua kalimat berisi makian yang membingungkan, pertanyaan tanpa jawaban, penantian tanpa ujung, dan penyesalan yang begitu besar tidak serta merta keluar menjadi kalimat-kalimat yang menyakitkan. Nalarnya berkata bahwa luka hati akan lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik. Nalar menyuruhnya untuk menjaga hatinya serta hati seseorang yang lalu, dan nurani setuju akan hal tersebut.
Sesapan ketiga, pahitnya masih sama.
Nalar memeluknya dengan erat pagi ini. Nalar berbisik bahwa setiap pagi ada satu kehidupan baru yang dimulai, dengan ada atau tidaknya skenario yang digenggam. Semalam yang lalu, biarlah ia anggap sebagai sebuah mimpi buruk. Seperti seorang nahkoda kapal, manusia ini sudah sepatutnya bersyukur karena berhasil melewati satu malam penuh badai dengan selamat. Terluka di sana-sini sudah menjadi hal yang biasa. Terluka adalah resiko dari sebuah perjalanan, bukan? Nalar berkata bahwa yang harus dilakukannya adalah menikmati ombak yang tenang karena pagi datang dengan damai. Manusia ini harus belajar untuk membuka diri pada pagi setelah selama empat belas hari penuh mengurung diri dalam gelapnya malam. Manusia ini harus belajar mencintai pagi, belajar membuat harapan baru dan menjadikan harapan yang lalu sebuah pelajaran.
Sesapan keempat, ternyata tidak terlalu pahit.
Benar apa yang dikatakan nalar. Semakin sering kau menelan pahit, perlahan-lahan pahit bukanlah apa-apa. Pahit hanya akan menjadi sebuah rasa yang berlalu begitu saja di kengkorongan. Setelahnya, kau akan baik-baik saja.
Langit mulai cerah, namun matahari belum terlihat. Mungkin ia masih takut akan dihujani sumpah serapah dari manusia jadi masih ingin bersembunyi. Manusia itu tersenyum kecil, berterima kasih kepada nalar yang membuat keadaannya jauh lebih baik dan memberikan pemakluman pada nurani yang harus mengalah dulu.
Tak apa, nurani. Kau tidak kalah, hanya saja kali ini nalar bergerak lebih cepat. Kau harus menunggu giliran. Ucap manusia itu dari dalam hati.
Sesapan kelima, ponselnya berdering. Oh, ternyata benda itu tidak kehabisan baterai. Manusia itu melirik sekilas, lalu bangkit menuju ponselnya. Ada telepon masuk, tertulis Ibu di sana.
“Halo, Bu.” Sapanya.
“Mas, sudah bangun?”
“Sudah, Bu. Sedang minum kopi.”
“Mas, sibuk tidak hari ini?” Tanya Ibunya di ujung telepon.
“Tidak, Bu. Ini kan hari Minggu, aku libur. Ada apa?”
“Hari ini Nenek ingin makan bersama, bisa ikut?”
Manusia itu tersenyum. “Bisa, Bu. Mas Pagi akan mandi sekarang.”
Setelah telepon ditutup, manusia itu bergegas untuk mandi. Ia menyambungkan ponselnya pada kabel pengisi baterai dan menghabiskan sisa kopi di cangkirnya. Nalar benar, setiap pagi adalah satu episode baru yang harus ia jalani dengan atau tanpa skenario di tangan. Barangkali keluar dari gelap malam memang harus dilakukan olehnya, karena pagi selalu punya rencana yang tak terbaca untuk mengubah hidup seseorang.
Kau harus tahu, manusia itu adalah seorang lelaki bernama Pagi. Hari ini Pagi berterima kasih pada matahari karena mempertemukannya dengan pagi. Hari ini, Pagi siap pergi.
Lalu kau sendiri, siap pergi atau tidak?
-FIN.
Pagi ini, tersaji sebuah hot mocha dengan satu potong banana cake menemaniku. Aku sengaja duduk disini sendiri menikmati setiap kenangan manis bersama kamu si pecinta kopi pahit. Dulu, aku bukanlah penikmat kopi. Tapi semenjak dibersamakan Tuhan denganmu setidaknya cappucino dan hot mocha menjadi favoritku. Aku ingat kamu pernah bilang bahwa kopi bisa setidaknya membuat harimu lebih baik. Emh kurasa kamu benar. Kopi selalu membantu hariku sedikit baik. Bahkan ketika kita sudah tak lagi menjadi Kita. Aku hanya ingin berterima kasih pernah membuat senja merah jambuku terlihat begitu indah. Terima kasih sudah membuat kopi pahitku terasa manis meski pada akhirnya aku tetap lebih menyukai kopi yang tak pahit. Lalu kurasa, jendela, kopi dan kenangan tentang kamu menjadi kolaborasi paling pas untukku pagi ini. #random #kopidankamu #ceritapagi #hanyatulisan #gambarbercerita #tumblr #novelisnova (di Noah's Barn)
Bubur dan Nasi Uduk
Hari ini jam setengah enam, aku menjalankan rutinitas pagiku. Membeli bubur di gang komplek sebelah untuk sarapan kami serumah. Biasanya aku naik sepeda, kadangkala aku berjalan kaki saja. Tapi kali ini aku naik motor, hehehe.
Waktu sedang menunggu bubur jadi, ada sebuah gerobak usang melintas. Selain barang-barang bekas, ada seorang anak laki-laki juga di dalamnya. Ibu dari anak itulah yang mendorong gerobaknya.
Aku tidak sengaja menguping pembicaraan mereka. Ibu dan anak itu.
“Ma, mau bubur… " kata si anak.
Si ibu kemudian memberhentikan gerobak sejenak. Posisinya terlewat sedikit dari gerobak bubur tempat aku berhenti.
” Eh Ma, mau nasi uduk aja deh Adek.. “ ” Lho jadinya bubur apa nasi uduk? “ ” Nasi uduk aja Ma.. “
Merekapun kembali melanjutkan perjalanan, tanpa ada percakapan. Tapi keduanya begitu tenang. Dan senang. Menghirup udara pagi yang sejuk, bersih, dan gratis itu dalam-dalam.
Di sebelahku, ternyata si Abang bubur juga memerhatikan Anak dan Ibu gerobak itu.
”Kasihan ya, pagi-pagi udah dorong gerobak bawa anak" Kata si Abang menggumam, sambil bermaksud bicara kepadaku.
“Tapi mereka sepertinya senang Bang” balasku singkat.
Seolah tersadar oleh ucapanku, si Abang kemudian tersenyum sambil sibuk memasukkan kacang, ayam, dan teman-temannya ke dalam kotak makan berwarna oranye milikku.
Akupun ikut tersenyum. Jika orang lain bisa berbahagia hanya dengan nasi uduk atau bubur, tidakkah satu penyakit di hati kita gugur? Lalu berganti dengan rasa syukur?
***
Dan pagi itu, ajaib, rasa bubur menjadi sangat lezat di lidahku. Hangat di hatiku.
Oh, bahagianya!
Kata seorang teman, "saat ini kita berada di zaman yang berbeda dengan zaman waktu kita kecil yah"
Begitulah adanya. Semuanya serba cepat, tontonan berubah, pengaplikasian nilai-nilai yang mulai berubah, tumbuh kembang yang berubah, cara pandang berubah, cara perolehan informasi pun juga berubah.
Perubahan juga terdapat pada hal bernama "belajar mengajar". Bahwa saat ini belajar mengajar tidak selamanya melalui jalan ceramah yang panjang, duduk berjam-jam, mendengarkan, dan akan menjadi hal yang sangat membosankan bagi anak zaman sekarang.
Belajar mengajar bisa dilakukan dengan jalan "potret". Anak cenderung akan lebih mudah mengaplikasikan apa yang dilihat dan dirasa kepada dirinya lewat jalan ini. Apa yang dilihat dan dirasa anak, akan dia copy paste di peristiwa sejenis.
Hal itu disebut keteladanan
Tidak ada hal yang buruk, itu adalah netral
Sedikit refleksi di pagi hari:
Aku baru saja memikirkannya. Ketika hasilnya masih belum sesuai dengan harapan kita, kamu sebenarnya hanya memiliki dua pilihan:
Kamu merasa sudah terbiasa dengan hal itu, karena itu adalah hal yang sudah sering terjadi padamu. Sehingga kamu menggapnya seperti hari biasa dan melanjutkan hidup.
Kamu merasa kecewa dan gagal, yang berarti kamu merasa asing dengan perasaan gagal itu, yang berarti selama ini kamu sebenarnya lebih suksesnya, yang berarti kamu adalah hal yang hebat.
Iya, setelah aku sedikit memikirkannya lagi, sebenarnya banyak hal yang terjadi dalam hidup itu bukanlah baik atau buruk, kebanyakan itu adalah hal yang netral, dan bagaimana kita menganggapnya adalah yang terpenting.
Contonya, mendapatkan kerja dengan gaji yang besar. Itu sekilas tampak sebagai hal yang positif. Namun, kenyataannya itu adalah hal yang netral. Dari sisi lain, itu bisa saja itu akhirnya menambah masalah. Bisa saja itu malah membuat diri menjadi overwork, mendapat ekspektasi yang tinggi, tidak ada waktu dengan diri dan orang yang disayang, dll.
Lalu, masih menganggur. Sekilas itu tampak negatif, padahal itu netral. Melihat dari sisi lain, masih menganggur bisa memberi kita kesempatan untuk lebih banyak menghabiskan dengan diri, lebih banyak waktu melakukan hobi, lebih banyak waktu menghabiskan dengan orang yang kita cintai. Karena bukankah itu yang terpenting?
Makanya, sekarang aku sudah mulai belajar untuk tidak begitu khawatir dengan hidup. Karena hampir semua yang terjadi ya itu adalah hal yang netral, bukan positif, dan bukan negatif. Layaknya apel yang jatuh dari dahan pohon. Perspektif kita lah yang mengubah semuanya.
Beberapa contoh hal ekstrim yang dulu aku sering khawatirkan yang ternyata itu bukanlah hal negatif. Menjomblo dalam waktu yang lamaaa. Itu tampak seperti hal yang menyedihkan, tapi sebenarnya hal itu bisa jadi jalan bagi diriku untuk mengeksplor diri lebih jauh. Berjalan-jalan ke tempat baru, melakukan hobi baru, belajar bahasa baru, mengikuti berbagai komunitas.
Lalu, masalah karir dan tertinggal dari orang sekitar. Awalnya khawatir karena itu seperti hal yang sangat negatif, tapi sebenarnya itu hal yang netral. Dan dengan mudah kita melihatnya sebagai hal yang positif. Karir yang berada di belakang bagi standar orang-orang bisa saja membuat kita melihat perkerjaan dari sisi lain. Bisa saja itu menginspirasi kita untuk memulai bisnis, bisa saja justru itu membuat kita terdorong untuk melihat karir dari sisi lain. Mungkin saja itu akhirnya membuat kita mendapat kerja yang sangat kita senangi. Dll.
Ya, aku pikir kamu seharusnya sudah mendapatkan intinya.
Sekarang aku tantang kamu, coba bayangkan hal paling negatif yang paling membuatmu merasa khawatir. Aku jamin, dengan sedikit renungan, itu sebenarnya adalah hal yang netral. Dan sedikit perspektif dari sisi lain, itu bisa menjadi hal yang positif.
Jadi, apakah masih khawatir lagi?